Browsing Category: "Manajemen"

JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 06

30th November 2011 Cat: Manajemen with Comments Off

JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 06 adalah salah satu contoh JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 06 kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 06 untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 06 full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 06 dalam bentuk PDF secara gratis.

PENGARUH SALURAN DISTRIBUSI DAN ADVERTISING GUNA MENINGKATKAN PENJUALAN PADA PERUSAHAAN LIMUN “SEGAR” JOMBANG 
(DOWNLOAD LANGSUNG DISINI!)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada hakekatnya setiap perusahaan di dalam menjalankan usahanya bertujuan untuk mendapatkan laba sesuai dengan tujuan pokok yang diharapkan. Diantaranya yaitu agar perusahaan dapat menjaga kelangsungan hidup serta kelancaran operasinya. Hal ini tentunya bisa tercapai dengan mengaktifkan dan mengefisienkan kerja perusahaan.
Sebagaimana kita ketahui, dunia usaha sekarang ini banyak menghadapi adanya persaingan. Persaingan antar perusahaan sejenis baik yang bersifat positif maupun bersifat negatif. Oleh karena itu perusahaan yang ingin hidup dan berkembang harus memperhatikan kemampuan perusahaan dalam memenuhi serta memuaskan kebutuhan konsumen, khususnya disini pelayanan. Dengan semakin ketatnya persaingan dan semakin selektifnya konsumen dalam memilih produk yang tersedia di pasar, perusahaan harus semakin bekerja keras untuk dapat meraih targetnya.
Dengan banyaknya pesaing, perusahaan dituntut untuk mendapatkan pangsa pasar dengan jalan menentukan dan memilih langkah-langkah yang tepat di dalam hal pemasaran. Dengan adanya persaingan seperti ini perusahaan-perusahaan harus mampu memilih strategi yang tepat untuk memasarkan hasil produknya, sehingga setiap perusahaan harus berkompetisi dalam menentukan kebijakan yang akan diambil dan dilakukan untuk memenangkan pasar. Untuk mencapai tujuan hal tersebut tidak terlepas dari kebijakan yang diambil oleh pihak manajemen baik dalam bidang produksi, keuangan maupun pemasaran. Karena suatu keputusan yang diambil oleh pihak perusahaan akan menentukan bagi jalannya suatu perusahaan. Keputusan yang tepat akan menunjang operasional dalam mencapai tujuan dan sebaliknya keputusan yang tidak tepat dapat menghambat tujuan perusahaan atau bahkan dapat menghancurkan perusahaan itu sendiri. Maka dengan melakukan saluran distribusi dan advertising yang efektif akan banyak memberikan pengaruh pada tingkat penjualan bagi perusahaan, dan tentunya membawa hasil yang optimal.
Dengan memiliki saluran distribusi yang baik dan memadai diharapkan penyalur barang akan berjalan dengan lancar sampai ke konsumen sehingga penjualan produk akan dapat terus ditingkatkan. Selain saluran distribusi, advertisng juga memegang peranan penting dalam menunjang kegiatan pemasaran perusahaan. Tujuan dari advertising adalah mempengaruhi konsumen baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan kata lain untuk menunjukan dan memperkenalkan produk kepada konsumen sehingga konsumen tertarik untuk membelinya sehingga volume penjualan dapat meningkat.
Perusahaan Limun “Segar” Jombang dihadapkan pada suatu kondisi persaingan yang ketat, dimana bermunculan perusahaan sejenis yang menawarkan produk-produk baru. Maka dengan mengetahui pengaruh saluran distribusi dan advertising terhadap volume penjualan, perusahaan dapat mengambil kebijaksanaan yang tepat yang menyangkut saluran distribusi dan advertising sehingga akan banyak membawa hasil dan peranan yang penting dalam menyampaikan produk perusahaan ke konsumen, karena bidang pemasaran khususnya saluran distribusi dan advertising merupakan hal yang terpenting dalam menentukan realisasi penjualan supaya target dalam penjualan dapat tercapai.
Untuk itu penulis tertarik untuk mengkaji lebih lanjut mengenai saluran distribusi dan advertisng suatu produk, khususnya produk minuman segar. Maka disini penulis mengambil judul “Pengaruh Saluran Distribusi dan Advertising Guna Meningkatkan Penjualan Pada Perusahaan Limun “Segar” Jombang.
B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka dirumuskan permasalahannya sebagai berikut::
1. Bagaimana Pengaruh Saluran distribusi dan advertising terhadap penjualan pada Perusahaan Limun “Segar” Jombang?
2. Diantara variabel saluran distribusi dan advertising manakah yang berpengaruh dominan terhadap penjualan produk minuman segar Perusahaan Limun “Segar” Jombang?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh bauran pemasaran yang terdiri dari Saluran distribusi dan advertising terhadap penjualan pada Perusahaan Limun “Segar” Jombang.
2. Untuk mengetahui variabel yang berpengaruh dominan terhadap penjualan produk minuman segar Perusahaan Limun “Segar” Jombang.

D. Kegunaan Penelitian

1. Bagi perusahaan
Dapat digunakan sebagai masukan bagi pimpinan dalam mengambil keputusan untuk mengatasi masalah yang timbul dan menentukan kebijaksanaan yang tepat di masa yang akan datang.
2. Bagi penulis
Sebagai kerangka dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan penulis.
3. Bagi pihak lain
Memberi informasi lebih lanjut sebagai input atau acuan bagi peneliti lain yang mengadakan penelitian serupa.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Teori Yang Melandasi Permasalahan
Dalam upaya untuk memberikan jalan keluar masalah yang dihadapi perusahaan, maka peneliti akan mengemukakan dasar-dasar teori berhubungan dengan masalah. Tujuannya adalah sebagai titik tolak untuk mencari kebenaran atau kaitannya dengan suatu masalah.
Adapun teori yang dikemukakan sesuai dengan permasalahan ini adalah sebagai berikut :
1. Pengertian pemasaran
Pemasaran mengandung arti yang luas karena membahas mengenai masalah yang terdapat dalam perusahaan dan hubungannya dengan perdagangan barang dan jasa.
Menurut Kotler (2007:9) yang diterjemahkan Ancellawati: “Pemasaran adalah suatu proses sosial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain”.
Proses pertukaran melibatkan kerja. Penjual harus mencari pembeli, mengenali kebutuhan mereka, merancang produk yang tepat, mempromosikan produk tersebut, menyimpan dan mengangkutnya, menetapkan harganya, memberikan layanan purna jual dan sebagainya. Kegiatan seperti pengembangan produk, penelitian, komunikasi, distribusi, penetapan harga dan layanan merupakan inti kegiatan pemasaran.
Lebih lanjut mengenai pengertian manajemen pemasaran didefinisikan oleh Kotler (2007:10): “Penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan program-program yang bertujuan menimbulkan pertukaran dengan pasar yang dituju dengan maksud untuk mencapai sasaran perusahaan”
Apabila kedua definisi di atas dibandingkan maka dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa pada dasarnya kegiatan manajemen pemasaran meliputi proses penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam hubungannya dengan produk barang dan jasa untuk memperoleh apa yang diinginkan.
2. Pengertian Bauran Pemasaran
Pada dasarnya bauran pemasaran merupakan variabel-variabel yang dipakai perusahaan dalam kegiatan pemasarannya. Banyak pendapat dari para ahli yang menegaskan hal tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh Kotler dan Amstrong (2006:18): “Bauran pemasaran adalah seperangkat alat taktis dan terkontrol yang dipadukan oleh perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkan pasar sasaran”.
Hal tersebut dijelaskan lebih lanjut oleh Saladin (2005:6): “Bauran pemasaran adalah kombinasi dari empat elemen pokok (product-price-place-promotion) yang terdapat dalam program pemasaran”
Jadi program pemasaran yang efektif memadukan seluruh elemen bauran pemasaran menjadi program yang rekoordinasi yang dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan pemasaran perusahaan. Bauran pemasaran memberlakukan sarana taktis perusahaan untuk membangun posisi yang kuat di dalam pasar sasaran.
Berdasarkan uraian-uraian di atas dapat dinyatakan bahwa variabel-variabel dalam bauran pemasaran merupakan sekelompok variabel yang terdiri dari produk, harga, saluran distribusi dan promosi yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam program pemasaran.
3. Tinjauan Tentang Saluran Distribusi (Place)
a. Pengertian saluran distribusi
Dalam proses kegiatan pemasaran dimana suatu perusahaan menyalurkan produknya kepada konsumen penting untuk diperhatikan tentang pola distribusi yang akan dilakukan, pemilihan perantara dan pemilihan saluran distribusi itu sendiri. Saluran distribusi menghubungkan pemasok dan produsen dengan pengguna akhir barang atau jasa.
Saluran distribusi yang efektif dan efisien memberikan keunggulan strategis yang penting bagi para anggota organisasi atau saluran-saluran pesaingnya. Strategi distribusi itu sendiri berkenaan dengan bagaimana sebuah perusahaan menjangkau pasar sasarannya. Sebagian produsen memasarkan produknya secara langsung kepada pengguna akhir barang dan jasa tersebut, sedangkan sebagian lagi memasarkan melalui satu atau lebih saluran distribusi.
Menurut Carvens (2003:28) saluran distribusi itu sendiri mempunyai arti: “Jaringan organisasi yang melakukan fungsi-fungsi yang menghubungkan produsen dengan pengguna akhir”.
Jadi saluran distribusi itu sendiri terdiri dari berbagai lembaga atau badan yang saling tergantung dan saling berhubungan yang berfungsi sebagai suatu sistem atau jaringan yang bersama-sama menghasilkan dan mendistribusikan sebuah produk kepada pengguna akhir.
b. Fungsi-fungsi Saluran Distribusi
Suatu perusahaan didalam menentukan pemilihan saluran distribusi haruslah memakai fungsi-fungsi tertentu yang dapat memberikan adanya manfaat bagi perusahaan. Menurut Basu Swastha (2006:60) fungsi saluran distribusi dikelompokkan menjadi 3 golongan: “1) Fungsi pertukaran, 2) Fungsi penyediaan fisik dan 3) Fungsi penunjang”.
Berikut akan diuraikan tentang fungsi saluran distrbusi di atas menurut Basu Swastha (2006:60):
1) Fungsi pertukaran
Beberapa fungsi pertukaran adalah:
a) Pembelian
Fungsi pembelian merupakan usaha memilih barang-barang yang dibeli untuk dijual lagi atau digunakan sendiri dengan harga layanan dari penjualan dan kualitas tertentu.
b) Penjualan
Penjualan dilakukan oleh pedagang besar sebagai alat pemasaran bagi produsennya, fungsi ini sangat penting karena bertujuan menjual barang atau jasa yang diperlukan sebagai sumber pendapatan.
c) Pengambilan resiko
Fungsi ini menghindari dan mengurangi resiko terhadap semua masalah dalam pemasaran, sehingga akan mengakibatkan fungsi lainnya.
2) Fungsi penyediaan fisik
Yaitu fungsi perpindahan barang-barang secara fisik dari produsen sampai ke konsumen termasuk didalamnya:
a) Fungsi pengumpulan
Sebagai alat penyaluran perantara melakukan fungsi pengumpulan barang-barang dari beberapa sumber atau beberapa macam barang dari sumber yang sama.
b) Fungsi penyampaian
Fungsi ini menciptakan faedah atau kegunaan waktu karena melakukan penyesuaian antara penawaran dan permintaan.
c) Fungsi pemilihan
Fungsi ini dilakukan oleh penyalur dengan cara menggolongkan, memeriksa dan menentukan jenis dan mutu dari barangnya, jenis barang konsumsi akan mempunyai saluran distribusi yang berbeda dengan barang distribusi.
d) Fungsi pengangkutan
Pengangkutan merupakan fungsi pemindahan barang dari perusahaan sampai ke konsumen. Pengangkutan yang baik memungkinkan perluasan pasar dan memungkinkan pula spesifikasi dalam industri yang akan berkaitan dengan produksi secara besar-besaran.
3) Fungsi penunjang
Fungsi ini bersifat membantu untuk menunjang terlaksananya fungsi-fungsi yang lain.
a) Pelayanan sesudah pembelian
Untuk barang tahan lama seperti mobil, gergaji listrik dan sebagainya memerlukan perawatan atau jaminan setelah barang tersebut dibeli.
b) Pembelanjaan
Untuk memiliki sebuah barang, apakah konsumen penyalur atau produsen diperlukan sejumlah dana.
c) Penyebaran informasi
Dengan sejumlah informasi dapat diukur seberapa jauh kepentingan pembeli, penjualan atau lembaga lainnya dalam saluran distribusi.
d) Koordinasi saluran
Koordinasi digunakan mengorganisir semua lembaga yang terlibat dengan saluran distribusi, fungsi koordinasi ini sangat berkaitan dengan fungsi penyebaran informasi dengan pengkoordinasian yang disertai penyediaan informasi akan memudahkan untuk melaksanakan mengembangkan pelaksanaan atau teknik dalam penyaluran.
c. Tingkat-tingkat saluran distribusi
Saluran distribusi digambarkan oleh jumlah tingkat saluran yang terlibat. Tingkat saluran menurut Kotler dan Amstrong (2006:7) adalah: “Merupakan setiap lapisan perantara pemasaran yang melaksanakan semacam tugas dalam membawa produk dan kepemilikan lebih dekat kepada pembeli akhir”.
Ada dua macam tingkat saluran yaitu:
1) Saluran pemasaran langsung
Yakni tidak mempunyai perantara. Saluran ini terdiri dari perusahaan yang menjual langsung kepada konsumen.
2) Saluran pemasaran tidak langsung
Yakni terdiri dari satu tingkat perantara. Saluran ini terdiri dari perusahaan yang menjual melalui perantara kepada konsumen.
Menurut Carvens (2003:29) terdapat dua tingkat saluran distribusi yang dipakai oleh produsen dalam kegiatan pendistribusiannya yaitu meliputi:
1) saluran distribusi untuk produk-produk konsumen
a) Produsen – Konsumen
Bentuk saluran distribusi yang paling sederhana adalah saluran distribusi dari produsen ke konsumen tanpa menggunakan perantara.
b) Produsen – Pengecer – konsumen
Pengecer besar langsung melakukan pembelian kepada produsen. Ada pula beberapa produsen yang mendirikan toko pengecer sehingga dapat secara langsung melayani konsumen.
c) Produsen – Pedagang Besar – Pengecer – Konsumen
Saluran distribusi semacam ini banyak digunakan oleh produsen dan dinamakan sebagai saluran distribusi tradisional. Produsen hanya melayani penjualan dalam jumlah besar kepada pedagang besar saja, tidak menjual kepada pengecer.
d) Produsen – Agen – Pedagang besar – Pengecer – Konsumen
Dalam saluran distribusi ini, produsen sering menggunakan agen sebagai perantara untuk menyalurkan barangnya kepada pedagang besar, yang selanjutnya menjualnya kepada toko-toko kecil. Agen yang terlibat dalam saluran distribusi ini , terutama agen penjualan.
e) Produsen – Agen – Pengecer – Konsumen
Dalam saluran distribusi ini produsen menggunakan agen penjualan sebagai perantara atau penyalur produksinya kepada pedagang besar yang kemudian menjualnya kepada toko-toko kecil atau pengecer kecil.
2) Saluran distribusi untuk produk-pruduk industri
a) Produsen – Pemakai produk industri
Saluran distribusi ini dari produsen ke pemakai industri, ini merupakan saluran yang paling pendek dan disebut sebagai saluran distribusi langsung. Biasanya saluran distribusi ini dipakai oleh produsen bilamana transaksi penjualan kepada pemakai industri relatif besar.
b) Produsen – Distributor produk industri (Dealer) – Pemakai produk industri
Produsen yang menggunakan saluran ini terutama untuk barang-barang jenis operating supples dan accessories equipment kecil dapat menggunakan distributor industri atau mencapai pasarnya.
c) Produsen – Agen – Pemakai Produk Industri
Biasanya saluran distribusi ini dipakai oleh perusahaan yang tidak mempunyai departemen pemasaran juga untuk perusahaan yang ingin memasuki daerah pemasaran baru.
d) Produsen – Agen – Distributor industri – Pemakai industri
Saluran distribusi semacam ini dapat dipakai oleh perusahaan dengan mempertimbangkan antara lain bahwa unit penjualannya terlalu kecil untuk dijual secara langsung atau mungkin memerlukan penyimpanan pada penyalur.

d. Jenis Perantara Dalam Pemasaran
Secara umum perantara terbagi atas merchant midleman dan agent midleman (Tjiptono 2007:185). Merchant middleman adalah perantara yang memiliki barang (dengan membeli dari produsen) untuk kemudian dijual kembali, sedangkan yang dimaksud dengan agent middlemant (broker) adalah perantara yang hanya mencarikan pembeli, menegosiasikan, dan melakukan transaksi atas nama produsen. Jadi ia tidak memiliki sendiri barang yang di negosiasikan, contohnya broker real estate dan sales agent.
Dua bentuk utama dari mercant midleman adalah:
1) Wholesaler (disebut juga distributor atau jober)
Yaitu perusahaan yang melakukan kegiatan wholesaling. Wholesaling adalah segala kegiatan produk dalam kuantitas besar kepada pembeli non-konsunen akhir untuk tujuan dijual kembali atau untuk pemakai bisnis.
2) Retailer (Dealer)
Adalah perusahaan yang fungsi utamanya menjual produk kepada konsumen akhir untuk pemakaian pribadi dan rumah tangga. Penekanan pada fungsi utama tertentu ini menunjukkan bahwa retailer merupakan lembaga yang dapat berdiri sendiri.
4. Tinjauan Tentang Advertising
a. Pengertian advertising
Pengertian advertising menurut Kotler dan AB. Susanto (2006:814) adalah: “Bentuk penyajian tidak personal dan promosi ide, barang atau jasa oleh seorang sponsor tertentu yang memerlukan bayaran”.
Pengertian advertising menurut Kotler dan Amstrong (2006:153) adalah: “Segala biaya yang harus dikeluarkan sponsor untuk melakukan presentasi dan promosi non pribadi dalam bentuk gagasan barang atau jasa”.
Pengertian advertising menurut E. Catur Rismiati dan Bondan Suratno (2006:225) adalah: “Bentuk presentasi dan promosi non pribadi tentang ide, barang dan jasa yang dibayar oleh sponsor tertentu”.
b. Tujuan Advertising
Tujuan advertising menurut Kotler dan AB. Susanto (2006:817) adalah:
1) Untuk menginformasikan
a) Memberikan pasar mengenai suatu produk baru
b) Mengusulkan kegunaan baru suatu produk
c) Memberitahukan pasar mengenai perubahan harga
d) Menjelaskan bagaimana cara kerja suatu produk
e) Menjelaskan pelayanan yang tersedia
f) Mengkoreksi kesan yang salah
g) Mengurangi kecemasan pembeli
h) Membangun citra perusahaan
2) Untuk membujuk
a) Membentuk preferensi merk
b) Mendorong pengalihan ke merk anda
c) Masalah persepsi pembeli mengenai atribut produk
d) Membujuk pembeli untuk membeli sekarang
e) Membujuk pembeli untuk menerima telepon penjualan
3) Untuk mengingatkan
a) Mengingatkan pembeli bahwa produk tersebut mungkin akan dibutuhkan kemudian
b) Mengingatkan pembeli dimana dapat membeli
c) Menjaga agar pembeli tetap ingat walaupun sedang tidak musimnya
d) Mempertahankan kesadaran produk

c. Fungsi-fungsi advertising

Fungsi-fungsi advertising menurut Basu Swastha (2006:246) adalah sebagai berikut:
1) Memberikan informasi
Periklanan dapat menambah nilai pada barang dengan memberikan informasi kepada konsumen. Iklan dapat memberikan informasi lebih banyak dari pada lainnya, baik tentang barangnya, harganya ataupun informasi lain.
2) Membujuk atau mempengaruhi
Periklanan tidak hanya bersifat memberitahu saja, tetapi juga bersifat membujuk terutama kepada pembeli-pembeli potensial, dengan menyatakan bahwa suatu produk adalah lebih baik daripada produk yang lain.
3) Menciptakan kesan (image)
Dengan sebuah iklan, orang akan mempunyai kesan tertentu tentang apa yang diiklankan. Dalam hal ini, pemasangan iklan selalu berusaha untuk menciptakan iklan yang sebaik-baiknya, misalnya dengan menggunakan warna, ilustrasi, bentuk, dan lay out yang menarik.
4) Memuaskan keinginan
Periklanan merupakan suatu alat yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan dan tujuan itu sendiri berupa pertukaran yang saling memuaskan.
Periklanan merupakan salah satu komunikasi yang sangat efisien bagi penjual. Mereka harus menggunakannya untuk melayani orang lain, masyarakat dan mereka sendiri. Dalam hal ini dapatlah dikatakan bahwa:
a) Periklanan merupakan alat pemasaran yang memudahkan komunikasi diantara pihak-pihak yang terlibat dalam pemasaran
b) Informasi dan persuasi merupakan aspek-aspek penting tentang berita periklanan yang efektif
c) Tujuan periklanan adalah menciptakan pertukaran yang efisien melalui komunikasi
d) Kesalahan dalam periklanan dapat mempengaruhi pertukaran yang saling memuaskan.
5) Periklanan merupakan alat komunikasi
Periklanan adalah suatu alat untuk membuka komunikasi dua arah antara penjual dan pembeli, sehingga keinginan mereka dapat terpenuhi dalam cara yang efisien dan efektif. Dalam hal ini komunikasi dapat menunjukkan cara-cara untuk mengadakan pertukaran yang saling memuaskan.

d. Peranan advertising

Peranan periklanan dalam pemasaran menurut Swastha (2006:192) adalah: “Usaha untuk membangun kesadaran akan produk, untuk menambah pengetahuan pelanggan akan produk, untuk membantu membujuk pelanggan supaya membeli dan untuk mendeferensiasikan jasa dari perusahaan-perusahaan yang lain”.
e. Macam-macam advertising
Menurut Basu Swastha (2006:294) beberapa macam cara dalam periklanan dapatlah digolongkan atas dasar penggunaannya oleh pimpinan, karena perbedaan tersebut tergantung pada tujuan perusahaan dalam program periklanan. Di sini, periklanan dibagi ke dalam:
1) Periklanan barang (product advertising)
Dalam periklanan produk, pemasang iklan menyatakan kepada pasar tentang produk yang ditawarkannya. Periklanan produk ini dapat dibagi lagi ke dalam:
a) Primary demand advertising
Merupakan periklanan yang berusaha mendorong permintaan untuk suatu jenis produk secara keseluruhan, tanpa menyebutkan mereka atau nama produsennya.
b) Selective demand advertising
Selective demand advertising ini hampir sama dengan primary demand advertising, hanya bedanya dalam selective demand advertising disebutkan merk barang yang ditawarkan
Selain primary demand advertising dan selective demand advertising periklanan produk ini juga dapat dikelompokkan ke dalam periklanan langsung dan periklanan tidak langsung
Dalam kegiatan periklanan yang langsung, penjual menginginkan adanya tanggapan yang cepat terhadap iklannya. Sedangkan kegiatan periklanan yang tidak langsung dibuat untuk mendorong permintaan dalam periode waktu yang lebih lama. Iklan ini dibuat untuk menyatakan kepada konsumen bahwa produk tersebut ada dan menguntungkan.
2) Periklanan kelembagaan (institusional advertising)
Periklanan kelembagaan atau disebut juga corporate image advertising, dilakukan untuk menimbulkan rasa simpati terhadap penjual dan ditujukan untuk menciptakan goodwil kepada perusahaan. Periklanan kelembagaan ini dapat dibagi menjadi tiga golongan yaitu:
a) Patronage institutional advertising
Dalam periklanan ini penjual berusaha memikat konsumen dengan menyatakan suatu motif membeli pada penjual tersebut dan bukannya motif membeli produk tertentu.
b) Public relations intitutional advertising
Disini periklanan dipakai untuk membuat pengertian yang baik tentang perusahaan kepada karyawan, pemilik perusahaan atau masyarakat umum.
c) Public service institutional
Periklanan ini menggambarkan tentang suatu dorongan kepada masyarakat untuk menggunakan kendaraan dengan hati-hati. Disini perusahaan asuransi jiwa dapat membantu dengan memberikan petunjuk kepada masyarakat dalam memilih kendaraan.
3) Periklanan Nasional, Regional dan Lokal
Periklanan juga dapat digolongkan menurut daerah geografis dimana kegiatan periklanan tersebut difokuskan.
a) Periklanan nasional
Periklanan nasional (nasional advertising), sering juga disebut general advertising, merupakan periklanan yang biasanya disponsori oleh produsen dengan distribusi secara nasional. Jadi pasar yang dituju sebagai sasaran adalah pasar nasional.
b) Periklanan regional
Periklanan regional (regional advertising), adalah periklanan yang hanya terbatas di daerah tertentu dari suatu negara.
c) Periklanan lokal
Periklanan lokal (local advertising ), disebut juga retail advertising, biasanya dilakukan oleh pengecer dan ditujukan kepada pasar lokal saja. Apabila periklanan ini dilakukan oleh produsen, maka lebih dipentingkan merk produknya. Tetapi kalau periklanan itu dilakukan oleh pengecer maka lebih dipentingkan nama tokonya. Oleh karena itu, periklanan lokal ini sering dilakukan secara bersama-sama antara produsen dan pengecernya.
4) Periklanan pasar
Penggolongan periklanan yang lain adalah penggolongan yang didasarkan pada jenis atau sifat pasarnya. Oleh karena itu, jenis iklannya tergantung pada sasaran yang dituju. Apakah konsumen, perantara dagang, atau pemakai industri. Jenis periklanan tersebut adalah:
a) Consumer advertising, ditujukan kepada konsumen
b) Trade advertising, ditujukan kepada perantara pedagang, terutama pengecer.
Industrial advertising, ditujukan kepada pemakai industri.
Langkah-langkah penyusunan advertising
Menurut Soehardi Sigit (2007:57), agar dapat efektif dan efisien, langkah-langkah yang perlu dipertimbangkan di dalam perancangan advertensi adalah sebagai berikut:
1) Rumuskanlah maksud dan tujuan advertensi
2) Tentukanlah siapa yang harus menggunakan atau memakai barang yang diadvertensikan
3) Tentukanlah kepada siapa ditujukan hal-hal yang akan dimuat dalam advertensi itu, tempat, jumlahnya, kebiasaannya dan sebagainya.
4) Tentukanlah dengan menggunakan apa atau bagaimana supaya menarik produknya, digunakan alasan-alasan yang menarik
5) Persiapkan kata-kata, gambar, layout. Dan ujilah apakah advertensi yang seperti itu dapat diterima.
6) Memilih media tempat advertensi itu akan dimuat
Tentukanlah biaya pemasangan itu. Harus ada keseimbangan antara biaya dan hasil yang akan dicapai.

5. Konsep Penjualan
Menurut Sigit (2007:55): “Penjualan adalah sasaran inti di antara kegiatan-kegiatan lainnya, sebab disini dilakukan perundingan persetujuan tentang serah terima barang serta pembayaran”.
“Konsep penjualan menyatakan bahwa konsumen jika diabaikan biasanya tidak akan membeli produk organisasi dalam jumlah cukup. Karena itu organisasi harus melakukan usaha penjualan dan promosi yang agresif.” (Kotler, 2002:16).
Konsep ini mengasumsikan bahwa konsumen malas atau enggan melakukan pembelian dan untuk itu harus didorong. Juga diasumsikan bahwa perusahaan memiliki cara penjualan dan peralatan promosi yang efektif untuk merangsang lebih banyak pembelian.
Kegiatan penjualan atau selling adalah merupakan kegiatan terakhir dari kegiatan-kegiatan pemasaran lainnya. Tetapi bagian terpenting dalam pemasaran bukanlah menjual. Menjual hanyalah puncak dari gunung es pemasaran. Seseorang dapat mengasumsikan bahwa penjualan selalu tetap dibutuhkan, namun tujuan pemasaran adalah membuat kegiatan menjual berjalan lancar. Dalam hal ini adalah mengetahui dan memahami para pelanggan dengan baik sehingga produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan cocok dengan mereka dan dapat terjual dengan sendirinya. Idealnya, pemasaran harus menghasilkan pelanggan yang siap untuk membeli sehingga yang tinggal hanyalah bagaimana membuat produk atau jasa tersebut tersedia.
6. Hubungan antara Saluran Distribusi dan advertising dengan volume Penjualan
Bauran pemasaran merupakan variabel-variabel yang dipakai oleh perusahaan dalam kegiatan pemasarannya, seperti yang diungkapkan oleh Kotler dan Amstrong (2006:18) “Bauran pemasaran adalah seperangkat alat taktis dan terkontrol yang dipadukan oleh perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkan pasar sasaran”.
Sedangkan konsep penjualan sendiri adalah bahwa konsumen jika diabaikan biasanya tidak akan membeli produk organisasi dalam jumlah cukup. Karena itu organisasi harus melakukan usaha penjualan dan promisi yang agresif.” (Kotler, 2007:16).
Dengan demikian hubungan antara bauran pemasaran yang berupa saluran distribusi dan advertising sangat berperan untuk kelangsungan penjualan perusahaan karena penjualan tanpa adanya bauran pemasaran tidak akan terjadi suatu penjualan.
B. Hipotesis
Hipotesis ini merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya masih harus diuji secara empiris.
Menurut Sugiyono (2006:57) : “Hipotesa adalah pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan masih perlu dibuktikan kenyataannya”. Dari pendapat tersebut, maka suatu hipotesis yang dikemukakan nantinya bukanlah suatu jawaban yang benar secara mutlak, tetapi dipakai sebagai jalan untuk mengatasi permasalahan yang ada, dan masih harus dibuktikan kebenarannya.
Dari perumusan masalah, tujuan penelitian, landasan teori dan telah dijelaskan di atas, maka dapat ditarik hipotesis sebagai berikut:
1. Diduga bahwa saluran distribusi dan advertising secara bersama-sama berpengaruh terhadap penjualan produk limun Perusahaan Limun “Segar” Jombang.
2. Diduga bahwa variabel saluran distribusi yang berpengaruh paling dominan terhadap penjualan produk limun Perusahaan Limun “Segar” Jombang.

BAB III METODE PENELITIAN…… dst

(MOHON MAAF!! TAMPILAN TABEL, GAMBAR, DAN RUMUS MENGGUNAKAN EQUATION KESULITAN UNTUK BISA DI UPLOAD)
KLIK DISINI UNTUK SYARAT MENDAPATKAN 100% GRATIS

PROPOSAL LENGKAP DALAM FORM PDF/WORD

JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 06 adalah salah satu contoh JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 06 kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 06 untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 06 full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 06 dalam bentuk PDF secara gratis.

alasan pemilihan judul skripsi, contoh skripsi manajemen penekanan biaya, judul dan jurnal skripsi pemasaran, jurnal skripsi manajemen pemasaran judul patronage, contoh skripsi pengujian hipotesis penelitian kanker payudara

JUDUL PEMASARAN 16

30th November 2011 Cat: Manajemen with Comments Off

JUDUL PEMASARAN 16 adalah salah satu contoh JUDUL PEMASARAN 16 kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online JUDUL PEMASARAN 16 untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload JUDUL PEMASARAN 16 full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan JUDUL PEMASARAN 16 dalam bentuk PDF secara gratis.

Analisis Pengaruh Faktor Psikologis Konsumen Terhadap Keputusan Pembelian Air Minum Isi Ulang. (Studi pada Mahasiswa FE xxx)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Penelitian
Dewasa ini persaingan bisnis di Indonesia semakin ketat dan semakin tajam baik dalam perusahaan industri manufaktur maupun perusahaan jasa. Untuk menghadapi hal ini maka setiap perusahaan harus terus menerus meningkatkan kualitas produk atau jasanya. Agar dapat bersaing dan dapat memiliki produk maupun jasa yang bermutu perusahaan harus mempunyai strategi-strategi khusus untuk memenangkan persaingan pasar.
Pemasaran merupakan salah satu ujung tombak bagi sebuah perusahaan dan yang biasanya menjadi tolak ukurnya adalah keberhasilan usaha. Dalam proses pemasaran, konsumen merupakan obyek yang dijadikan sasaran pasar, maka perusahaan harus dapat memahami konsumen. Banyak hal yang dapat dilakukan dalam memahami kondisi pasar, salah satunya yaitu dengan mengadakan penelitian (riset) pasar. Sehingga dapat menilai, mengukur kemampuan dan menginterpretasikan keinginan dan perilakunya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa air bersih merupakan kebutuhan utama dari manusia untuk kelangsungan hidupnya, kebutuhan air minum yang sehat dan layak dikonsumsi merupakan suatu peluang usaha bagi usaha pengisisan air minum bermineral di masa yang akan datang. Hal ini ditandai dengan makin banyaknya usaha sejenis yang bermunculan menunjukkan prospek yang cerah bagi perusahaan pengelola air ini untuk lebih maju dan berkembang. Karena dewasa ini hampir seluruh masyarakat terutama yang hidup di kota-kota besar mengkonsumsi produk air minum untuk memenuhi kebutuhannya akan minuman yang sehat dan bermineral. Akhir-akhir ini di masyarakat banyak terdapat depot air minum isi ulang yang menawarkan jasa pada konsumen untuk mengisi air mineral dalam galon. Harga yang ditawarkan oleh depot air minum isi ulang ini relatif murah jika dibandingkan dengan membeli air isi ulang di agen-agen resmi perusahaan air minum dalam kemasan. Untuk satu galon harga yang harus dibayar berkisar antara Rp. 2.000,- sampai dengan Rp. 2.500,- saja. Suatu perbandingan yang cukup besar jika harus mengisi di agen resmi perusahaan air minum dalam kemasan yang harga rata-rata untuk satu galonnya adalah Rp. 6.000,- sampai Rp. 9.000,- tergantung pada merek air minum yang dibeli. Alasan ini yang mendorong mahasiswa untuk lebih memilih mengisi ulang air minum di depot-depot isi ulang daripada harus membeli di agen resmi.
Dalam melakukan pembelian, perilaku konsumen dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya faktor budaya, sosial, pribadi dan psikologis. Maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menentukan keputusan konsumen dalam melakukan penggunaan jasa air minum isi ulang. Oleh karena itu penulis berusaha menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan penggunaan jasa air minum isi ulang terutama mengenai perilaku dari sisi psikologis yang terdiri dari motivasi, persepsi, pengalaman belajar, keyakinan dan sikap dalam keputusan penggunaan jasa pada depot isi ulang.
Air Minum isi ulang sebagaimana diketahui adalah salah satu usaha jasa pengisian air minum yang semakin lama semakin banyak dikenal. Demikian juga bagi kalangan mahasiswa yang sebagian besar adalah jauh dari orang tua dan tinggal dengan kondisi kost yang tidak memungkinkan untuk memasak air, sehingga air yang biasa dikonsumsi adalah air minum isi ulang karena praktis, higienis, harganya yang terjangkau, mudah didapatkan dan sifatnya yang tahan lama. Dengan semakin banyaknya usaha jasa pengisian air minum dalam kemasan yang ada di pasaran berarti memberikan keleluasaan bagi konsumen untuk memilih yang sesuai dengan keinginannya. Oleh karena itu perlu bagi pengusaha jasa untuk menganalisis perilaku konsumen produk air minum isi ulang untuk mengetahui pola pembeliannya.
Dari uraian tersebut di atas maka judul penelitian ini adalah: “Analisis Pengaruh Faktor Psikologis Konsumen Terhadap Keputusan Pembelian Air Minum Isi Ulang”. (Studi pada Mahasiswa FE Unmer Malang).

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan permasalahan dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Sejauhmana pengaruh faktor psikologis konsumen, yang terdiri dari motivasi, persepsi, pengetahuan, keyakinan dan sikap mempengaruhi keputusan pembelian Air Minum Isi Ulang?
2. Dari poin (1) tersebut, manakah yang berpengaruh dominan terhadap keputusan pembelian Jasa Air Minum Isi Ulang?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka dapat disusun tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh faktor psikologis konsumen, yang terdiri dari motivasi, persepsi, pengetahuan, keyakinan dan sikap terhadap keputusan pembelian Air Minum Isi Ulang.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis faktor psikologis konsumen yang dominan berpengaruh terhadap keputusan pembelian Air Minum Isi Ulang.

D. Manfaat dan Kegunaan Penelitian
1. Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan dalam bidang usaha yang terkait agar dapat mempertahankan kwalitas dan kepercayaan terhadap konsumen.
2. Akademis.
Hasil penelitian ini agar dapat menjadi landasan atau bahan informasi bagi peneliti lain yang akan melakukan penelitian yang sama dimasa yang akan datang.
3. Bagi Peneliti
Sebagai syarat menyelesaikan pendidikan, juga untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan bidang ilmu manajemen pemasaran, dan melatih penulis untuk dapat menerapkan teori-teori yang diperoleh dalam perkuliahan pada kenyataan yang ada di lapangan.

DOWNLOAD PDF/DOC BAB SELANJUTNYA DISINI!

JUDUL PEMASARAN 16 adalah salah satu contoh JUDUL PEMASARAN 16 kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online JUDUL PEMASARAN 16 untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload JUDUL PEMASARAN 16 full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan JUDUL PEMASARAN 16 dalam bentuk PDF secara gratis.

contoh makalah pemasaran depot, jurnal manajemen faktor-faktor psikologis terhadap keputusan pembelian, contoh makalah tentang faktor psikologis yang mempengaruhi keputusan pembelian, contoh makalah survey pasar air minum, contoh makalah observasi air isi ulang

JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 07

30th November 2011 Cat: Manajemen with Comments Off

JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 07 adalah salah satu contoh JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 07 kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 07 untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 07 full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 07 dalam bentuk PDF secara gratis.

ANALISIS PERILAKU KONSUMEN TELUR AYAM RAS SEBAGAI DASAR PENETAPAN STRATEGI PEMASARAN PADA PERUSAHAAN TELUR BIMA SAKTI MALANG
(DOWNLOAD LANGSUNG DISINI!)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Penelitian
Seiring dengan pertambahan penduduk yang diikuti meningkatnya kebutuhan akan produk barang maupun jasa. Produk barang khususnya kebutuhan pokok masyarakat seperti telur ayam ras. Telur ayam ras tidak pernah lepas dari pemenuhan kebutuhan gizi dan kesehatan masyarakat. Selain itu telur ayam juga digunakan untuk kebutuhan lain misalnya kosmetik dan obat-obatan.
Telur merupakan salah satu hasil dibidang industri perunggasan yang tampil sebagai potensi ekonomi yang mempunyai masa depan cerah guna menciptakan lapangan kerja guna meningkatkan pendapatan masyarakat. Di samping itu telur sebagai salah satu hasil dari industri perunggasan mempunyai peranan turut serta mencerdaskan kehidupan masyarakat. Hal ini dikarenakan telur memiliki kandungan protein dan zat-zat yang dibutuhkan oleh manusia.
Usaha dibidang peternakan ayam ras sangat berprospek di masa mendatang. Hal ini ditinjau dari peramalan mengenai jumlah penduduk Indonesia yang teurs meningkat, dan kesadaran akan pemenuhan kebutuhan gizi seiring dengan peningkatan semangat kemajuan di era globalisasi. Adanya perilaku konsumen masyarakat terutama untuk kalangan menengah ke atas memberikan pola hidup yang sangat konsumtif dengan berbagai macam tuntutan. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat akan mendorong mereka lebih selektif dalam pemenuhan konsumsi kebutuhan gizi. Potensi dari konsumen inilah yang seharusnya menjadi sasaran utama bagi produsen untuk meningkatkan kompetisi terhadap produk luar negeri maupun dari kalangan pesaing dalam negeri.
Tuntutan kompetisi antar produk sudah semakin mendesak, terutama dalam merebut pangsa pasar, tingkat kualitas produk yang sesuai dengan tuntutan pelayanan, terutama pada kalangan menengah ke atas harus terpenuhi. Derasnya arus informasi mempengaruhi perilaku konsumen terhadap suatu produk tertentu. Media massa cetak maupun elektronik mampu menghadirkan informasi terbaru dalam waktu singkat dan memberikan dampak bagi perilaku konsumen khususnya dalam tingkah laku konsumsi. Kita saat ini sudah membutuhkan analisis perilaku konsumen dalam konsep marketing untuk menghadapi era yang penuh dengan peluang dan tantangan.
Di dalam kompetisi usaha peternakan ayam petelur, perusahaan perlu memperhatikan selera konsumen yang bervariasi. Selera konsumen dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu : faktor internal atau faktor yang ada dalam diri konsumen tersebut dan faktor eksternal atau faktor yang mempengaruhi dari luar diri konsumen. Faktor eksternal ini merupakan faktor yang sulit untuk dikendalikan sehingga pihak manajemen khususnya marketing pada perusahaan telur Bima Sakti Malang harus mampu menganalisis situasi dan kondisi pasar dan keinginan serta kebutuhan konsumen. Dengan memperhatikan faktor tersebut diharapkan perusahaan tetap eksis di dalam menjalankan usahanya dan mampu bersaing dengan perusahaan yang sejenis.
Salah satu faktor utama bagi perusahaan agar mampu bersaing untuk menarik konsumen adalah dengan meningkatkan mutu pelayanannya dan kualitas telur yang diproduksi. Untuk dapat meningkatkan mutu pelayanan dan kualitas produknya maka seyogyanya perusahaan harus mengetahui perilaku konsumen secara mendalam, kecenderungan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya untuk selanjutnya perusahaan harus dapat mengantisipasi dan menindak lanjuti terhadap perubahan dari perilaku konsumen tersebut dan selanjutnya dapat menyusun strategi ke depan bagi perusahaan.

B. Permasalahan
Untuk dapat mencapai target, baik jangka pendek maupun jangka panjang dan untuk dapat menyusun strategi perusahaan ke depan agar dapat terus eksis di dalam menjalankan usahanya maka perusahaan harus mengadakan penelitian terhadap perubahan lingkungan baik secara langsung maupun tidak langsung yang dapat mempengaruhi kehidupan ekonomi serta perilaku masyarakat. Perubahan pada perilaku konsumen akan berpengaruh terhadap keputusan dalam pemilihan dan menentukan produk apa yang akan dikonsumsi, sehingga timbul masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana perilaku konsumen di dalam mengkonsumsi telur ayam ras pada perusahaan telur Bima Sakti Malang?
2. Apakah variabel kekuatan (X1), kelemahan (X2), peluang (X3), ancaman (X4), berpengaruh terhadap penetapan strategi pemasaran perusahaan (Y)?
3. Variabel apakah yang mempunyai pengaruh dominan terhadap penetapan strategi pemasaran perusahaan?

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui minat konsumen dalam memilih mengkonsumsi telur ayam ras pada perusahaan telur Bima Sakti Malang.
2. Untuk mengetahui pengaruh variabel kekuatan (X1), kelemahan (X2), peluang (X3), ancaman (X4) terhadap penetapan strategi pemasaran perusahaan (Y).
3. Untuk menganalisis variabel yang mempunyai pengaruh dominan terhadap penetapan strategi pemasaran perusahaan.

D. Kegunaan Penelitian
1. Bagi perusahaan
Sebagai sumbangan pemikiran bagi perusahaan perusahaan telur Bima Sakti Malang untuk lebih memahami perilaku konsumen dalam memilih dan mengkonsumsi produk telur yang diproduksi, serta sebagai dasar strategi pemasaran yang akan digunakan oleh perusahaan telur Bima Sakti Malang untuk memperluas pangsa pasarnya.
2. Bagi pengembangan ilmu pengetahuan
Penelitian ini merupakan kesempatan untuk menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang didapat dari bangku kuliah, serta untuk melatih berpikir secara logis dan mampu menulis serta mengintegrasikan teori-teori terutama strategi yang dapat diterapkan dalam penelitian.
3. Bagi peneliti lain
Sebagai bahan acuan bagi yang berniat untuk mengembangkan tentang kaitan strategi pemasaran dalam usaha ternak ayam petelur.


BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Perilaku Konsumen
Istilah perilaku konsumen seringkali digunakan atau dipakai untuk menjelaskan perilaku dari konsumen yang membeli dan menggunakan produk dan jasa. Sikap dan perilaku konsumen akan mempunyai peranan yang cukup besar dalam menentukan strategi pemasaran yang tepat.
Swastha dan Handoko (2007:10) mengatakan : “Perilaku konsumen (consumer behavior) dapat didefinisikan sebagai kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa, termasuk di dalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tertentu”.
Engel (2004:3) menyatakan : “Perilaku konsumen adalah sebagai tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusul tindakan ini”.
Menurut Tjiptono (2004:3) : “Perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dna menghabiskan produk atau jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusul tindakan itu”
Sedangkan menurut Assauri (2005:24) adalah sebagai berikut : “Perilaku konsumen merupakan tindakan seorang individu yang langsung menyangkut pencapaian dan penggunaan produk (barang atau jasa) termasuk proses yang mendahului dan menentukan tindakan tersebut”.
Dengan demikian berdasarkan pendapat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen merupakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan pembeli dan konsumen untuk mendapatkan dan mempergunakan barang dan jasa termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan. Perilaku konsumen menyangkut masalah keputusan yang diambil seseorang dalam persaingan dan penentuan untuk mendapatkan dan mempergunakan barang dan jasa.
B. Teori-teori Perilaku Konsumen
Untuk mengetahui dan memahami proses motivasi yang mendasari dan mengarahkan perilaku konsumen dalam melakukan pembelian, perlu dipelajari beberapa teori perilaku konsumen. Teori perilaku konsumen terdiri dari beberapa teori, yaitu :
1. Teori Ekonomi Mikro
Teori ekonomi mikro atau teori ekonomi mikro klasik ini mendasarkan pada suatu pengertian bahwa orang itu adalah ekonomis, rasional, dan pada setiap saat ia bertindak karena tertarik pada sesuatu.
Teori ini didasarkan pada beberapa asumsi, yaitu :
a. Bahwa konsumen selalu mencoba untuk memaksimumkan kepuasannya dalam batas-batas kemampuan finansialnya.
b. Bahwa ia mempunyai pengetahuan tentang beberapa alternatif sumber untuk memuaskan kebutuhannya.
c. Bahwa ia selalu bertindak dengan rasional.
2. Teori Psikhologis
Ada beberapa teori yang termasuk dalam teori psikologis ini, yaitu sebagai berikut :
a. Teori belajar (learning theory), dan
b. Teori psikhoanalitis (psychoanalitic theory) (Swastha, 2006:77).
Selanjutnya penjelasan dari masing-masing bagian tersebut adalah sebagai berikut :
a. Teori belajar
Teori belajar ini lebih menekankan pada tindakan penafsiran dan peramalan. Jadi, penafsiran dan peramalan terhadap proses belajar konsumen merupakan kunci untuk mengetahui tingkah laku pembeliannya.
b. Teori psikhoanalitis
Teori psikhoanalitis ini mengemukakan bahwa tingkah laku itu dipengaruhi oleh adanya keinginan yang terpaksa dan adanya motif yang tersembunyi. Jadi, teori yang dikemukakan menyangkut kepribadian seseorang. Tindakan seseorang yang tidak direncanakan akan mudah sekali menimbulkan akibat-akibat yang kurang baik. Namun tidak berarti bahwa akibat yang ditimbulkan selalu tidak baik, dapat pula terjadi sebaliknya.
3. Teori Sosiologis
Teori psikologis yang telah kita bahas di muka, ditujukan dan dipusatkan pada individu yang dikaitkan dengan tingkah laku mereka. Jadi, lebih mengutamakan perilaku kelompok, bukannya perilaku individu. Analisisnya diarahkan pada kegiatan-kegiatan kelompok, seperti keluarga, teman-teman sekerja, perkumpulan olah raga, dan sebagainya.
4. Teori Anthropologis
Seperti halnya pada teori sosiologis, teori anthropologis ini juga menekankan tingkah laku pembelian dari suatu kelompok masyarakat. Namun, kelompok-kelompok masyarakat yang lebih diutamakan dalam teori anthropologis ini bukannya kelompok kecil seperti keluarga, tetapi kelompok besar atau kelompok yang ruang lingkupnya sangat luas.
Termasuk dalam kelompok besar ini antara lain :
a. Kebudayaan (kelompok paling besar)
b. Subkultur (kebudayaan daerah), dan
c. Klas-klas sosial
Di sini, manajemen dapat menggunakan teori anthropologis dalam mempelajari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh faktor-faktor tersebut terhadap tingkah laku konsumen.
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam membuat keputusan pembeliannya. Faktor-faktor tersebut sebagian besar tidak dapat dikendalikan oleh pemasaran, tetapi harus diperhatikan.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen untuk mengambil keputusan adalah :
1. Faktor lingkungan eksternal, meliputi :
a. Kebudayaan dan kebudayaan khusus (culture dan subculture)
b. Kelas sosial (social class)
c. Kelompok sosial dan kelompok referensi
d. Keluarga (Swastha dan Handoko, 2007:58)
2. Faktor lingkungan internal, meliputi:
Motivasi, pengamatan, belajar, kepribadian dan konsep diri, dan sikap. (Swastha dan Handoko, 2007:77).
Penjelasan masing-masing faktor eksternal tersebut adalah sebagai berikut :
1. Kebudayaan dan kebudayaan khusus
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Kebudayaan adalah simbul dan fakta yang komplek, yang diciptakan oleh manusia, diturunkan dari generasi ke generasi sebagai penentu dan pengatur perilaku manusia dalam masyarakat yang ada. Simbul tersebut dapat bersifat tidak kentara (seperti: sikap, pendapat, kepercayaan, nilai, bahasa, agama) atau dapat pula bersifat kentara (seperti: alat-alat, perumahan, produk, karya seni dan sebagainya). Swastha, 2007:82).
Salah satu faktor penentu perilaku konsumen adalah budaya, dimana perilaku ini tercermin pada cara hidup, kebiasaan dan tradisi dalam permintaan akan bermacam-macam barang atau jasa.
2. Kelas sosial
Adanya lapisan-lapisan sosial dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat itu, tetapi ada pula yang dengan sengaja disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Pembentukan kelas sosial ini biasanya didasarkan pada kekayaan, kekuasaan, kehormatan dan ilmu pengetahuan.
Menurut Swastha (2006:82) pembentukan kelas sosial tersebut dibagi dalam tiga golongan yaitu :
a. Golongan atas
Yang termasuk dalam kelas ini antara lain : pengusaha-pengusaha kaya, pejabat-pejabat.
b. Golongan menengah
Yang termasuk dalam kelas ini antara lain : karyawan instansi pemerintah, pengusaha menengah.
c. Golongan rendah
Yang termasuk dalam kelas ini antara lain: buruh-buruh pabrik, pegawai rendah, tukang becak, dan pedagang kecil.
Pengertian kelas sosial menurut Alma (2005:56) merupakan : “Kelompok masyarakat yang mempunyai tingkat tertentu yang memiliki nilai dan sikap yang berbeda dari kelompok tingkatan lain”.
Sedangkan ciri-ciri kelas sosial menurut Kotler (2006:111) adalah sebagai berikut :
a. Orang-orang dalam kelas sosial tertentu cenderung bertingkah laku sama.
b. Menurut kelas sosial, orang-orang diperingkat untuk menempati kelas atas atau kelas bawah.
c. Kelas sosial tidak ditentukan oleh satu variabel nilai dan lain sebagainya.
d. Orang bisa naik ke kelas sosial yang lebih tinggi atau jatuh ke kelas sosial yang lebih rendah.
3. Kelompok sosial dan kelompok referensi
Reference group merupakan grup primer, sekunder atau pemberi aspirasi (Alma, 2005:57). Grup primer adalah para anggota yang saling berkomunikasi satu sama lain. Grup sekunder adalah organisasi yang tidak terlalu banyak berinteraksi tatap muka dengan individu, seperti organisasi berikat pekerja, organisasi keagamaan, organisasi profesi, dan sebagainya yang membuat aturan-aturan, kebiasaan-kebiasaan tertentu.
Dalam hal ini, manajer pemasaran perlu mengetahui siapa yang menjadi pelopor opini dari suatu kelompok, sebab pelopor opini ini dapat mempengaruhi para anggota kelompok bersangkutan.
4. Keluarga
Keluarga dibedakan menjadi “Keluarga inti, menunjukkan lingkup keluarga yang meliputi dari ayah, ibu dan anak-anak yang hidup bersama. Serta keluarga besar yaitu keluarga inti ditambah dengan orang-orang yang mempunyai ikatan saudara dengan keluarga tersebut, seperti kakek, nenek, paman, bibi dan menantu”. (Swastha dan Handoko, 2007:70).
Dalam pasar konsumen, maka keluargalah yang banyak melakukan pembelian. Peranan setiap anggota dalam membeli berbeda-beda menurut macam barang tertentu yang dibelinya. Oleh karena itu, manajer pemasaran perlu mengetahui sebenarnya siapa anggota keluarga yang bertindak sebagai pengambil inisiatip, penentu, pembeli atau siapa yang mempengaruhi suatu keputusan dalam membeli.
Sedangkan penjelasan faktor-faktor internal adalah sebagai berikut :
1. Motivasi
Perilaku manusia ditimbulkan atau dimulai dengan adanya motif atau motivasi. Motif adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai sesuatu tujuan. Motif yang ada pada seseorang akan mewujudkan suatu tingkah laku yang diarahkan pada tujuan mencapai sasaran kepuasan.
Menurut Swastha dan Handoko (2007:78) motif dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu :
a. Motif fisiologis, yang merupakan motif alamiah (biologis), seperti lapar, haus dan seks.
b. Motif psikologis: yang dapat dikelompokkan dalam tiga kategori dasar, yaitu:
1) Motif kasih sayang (affectional motive), motif untuk menciptakan dan memelihara kehangatan, keharmonisan dan kepuasan batiniah (emosional) dalam berhubungan dengan orang lain.
2) Motif mempertahankan diri (ego-defensive motive), motif untuk melindungi kepribadian, menghindari luka fisik atau psikologis, menghindari untuk tidak ditertawakan dan kehilangan muka, mempertahankan prestise, mendapatkan kebanggaan diri.
3) Motif memperkuat diri (ego-bolstering motive), motive untuk mengembangkan kepribadian, berprestasi, menaikan prestise dan pengakuan orang lain.
2. Pengamatan
Pengamatan adalah suatu proses dimana konsumen (manusia) menyadari dan menginterprestasikan aspek lingkungannya. Atau dapat dikatakan sebagai proses penerimaan dan adanya rangsangan (stimuli) di dalam lingkungan internal dan eksternal, sehingga pengamatan bersifat aktif. Pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan seseorang dalam bertingkah laku. Pengalaman dapat diperoleh dari semua perbuatannya di masa lampau atau dapat pula dipelajari.
3. Belajar
belajar didefinisikan sebagai “Perubahan-perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil akibat adanya pengalaman”. (Swastha dan Handoko, 2007:85).
Proses pembelian yang dilakukan oleh konsumen merupakan sebuah proses belajar, dimana hal ini sebagai bagian dari hidup konsumen. Proses
belajar pada suatu pembelian terjadi apabila konsumen ingin menanggapi dan memperoleh suatu kepuasan, atau sebaliknya, tidak terjadi apabila konsumen merasa dikecewakan oleh produk yang kurang baik.
4. Kepribadian dan konsepsi diri
“Kepribadian didefinisikan sebagai pola sifat individu yang dapat menentukan tanggapan untuk bertingkah laku. Sebenarnya, pengaruh sifat kepribadian konsumen terhadap pandangan dan perilaku pembelinya adalah sangat umum” (Swastha, 2006:85).
Unsur-unsur kepribadian individu menurut Swastha dan Handoko (2007:89) adalah :
a. Pengetahuan
Yaitu unsur-unsur yang mengisi akal dan alam jiwa seseorang manusia yang sadar, secara nyata terkandung dalam otaknya. Hal ini akan menimbulkan suatu gambaran, pengamatan (persepsi), apresiasi, konsep dan fantasi terhadap segala hal yang diterimanya dari lingkungan melalui pancainderanya.
b. Perasaan
Suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dinilainya sebagai keadaan positif dan negatif.
c. Dorongan naluri
Yaitu kemauan yang sudah merupakan naluri pada tiap makhluk manusia, yang sering disebut “drive”. Macam-macam dorongan naluri, antara lain dorongan untuk mempertahankan hidup, dorongan sex, dorongan untuk mencari makan, dorongan untuk berinteraksi dengan sesamanya.
5. Sikap
Sikap dan kepercayaan merupakan faktor yang ikut mempengaruhi pandangan dan perilaku pembelian konsumen. Sikap itu sendiri mempengaruhi kepercayaan, dan kepercayaan juga mempengaruhi sikap. Salah satu yang menonjol di sini adalah perasaan emosional baik positif maupun negatif.
D. Pengertian Strategis
Menurut pendapat Igor Ansoff (2005:15) strategi sebagai berikut:
Strategy management is a systematic approach to a major and increasingly important responsibility of general management to position and relate the firm to invorman in a way wich will assure it’s continued succes and make it secure from surprice.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manajemen strategi adalah suatu sistem pendekatan utama dan tanggapan yang berkembang menjadi penting, yaitu untuk menempatkan dan menghubungkan suatu perusahaan kepada lingkungan yang akan menjamin kesuksesan yang berkesinambungan dari perusahaan itu dan menghindarkannya dari hal-hal yang tidak diharapkan.
E. Pengertian Pemasaran
Menurut pendapat Kotler (2007:8) pemasaran sebagai berikut : “Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain”.
Dari definisi di atas dapat diketahui bahwa pemasaran merupakan interaksi di dalam proses sosial dan manajerial antara individu dan kelompok untuk memperoleh kebutuhan dan keinginan mereka. Sedangkan kegiatan yang ada di dalam pemasaran tersebut meliputi : menciptakan sesuatu, menawarkan sesuatu, serta menukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
F. Pengertian Strategi Pemasaran
Strategi pemasaran yang dikembangkan perusahaan harus dapat memberikan gambaran dalam memanfaatkan peluang peluang yang ada pada kegiatna pemasaran perusahaan.
Pengertian strategi pemasaran menurut Assauri (2005:154) adalah sebagai berikut :
“Strategi pemasaran merupakan suatu rencana yang menyeluruh, terpadu dan menyatu di bidang pemasaran yang memberikan panduan tentang kegiatan yang akan dijalankan untuk dapat tercapainya tujuan pemasaran suatu perusahaan”.
Definisi lainnya yang juga dikemukakan oleh Tjiptono (2007:6) adalah sebagai berikut :
“Suatu alat fundamental yang direncanakan untuk mencapai tujuan perusahaan dengan mengembangkan keunggulan bersaing yang berkesinambungan melalui pasar yang dimasuki dan program pemasaran yang digunakan untuk melayani pasar sasaran tersebut”
Definisi di atas menunjukkan betapa pentingnya menjaga keseimbangan antara kemampuan perusahaan dan peluang pemasaran.
G. Strategi Daur Usia Produk
Strategi pemasaran suatu produk secara berkala perlu ditinjau kembali, selama menjalani daur usianya. Konsep PLC besar faedahnya terutama sebagai kerangka untuk menyusun strategi pemasaran yang efektif pada berbagai tahap dalam daur usia suatu produk.
1. Tahap perkenalan
Tahap perkenalan dimulai pada saat produk baru mulai disediakan untuk dibeli oleh khalayak ramai di pasaran. Sebelum perkenalan itu suatu produk telah menempuh masa perkembangan yang cukup lama yang mungkin mencakup tahap pemasaran uji coba di beberapa kota, namun belum mengalami peluncuran secara besar-besaran. Perkenalan suatu produk secara nyata pada satu atau beberapa pasaran memakan waktu, dan pertumbuhan penjualannya lazimnya berjalan lamban.
2. Tahap pertumbuhan
Bila produk baru itu dapat memuaskan para pembeli, maka volume penjualan akan meningkat dengan pesat. Golongan inovator ini akan melanjutkan pembelian, dan sejumlah besar konsumen yang konvensional akan mengikuti teladan mereka, terutama bila ada cerita orang yang menguntungkan. Mereka akan memasuki ciri-ciri baru pada produknya dan akan memperluas pasarannya. Dengan bertambahnya jumlah pesaing, akan bertambah pula jalur penyalurannya, dan penjualan dari pabrik akan melonjak untuk memenuhkan pipa salurannya (channel of distribution). Harga-harga cenderung akan mantap atau akan turun sedikit, selama permintaan pasaran meningkat dengan pesat. Masing-masing perusahaan akan mempertahankan belanja promosi pada taraf yang sama atau hanya dinaikkan sedikit sekedar untuk menanggapi persaingan dan untuk memberi penyuluhan kepada pasaran. Volume penjualan meningkat dengan pesat, dan dengan demikian akan menurunkan perbandingan rasio promosi: penjualan.
3. Tahap kedewasaan
Pada suatu saat tertentu laju pertumbuhan penjualan akan menjadi lamban, dan produk akan memasuki tahap kedewasaan. Lazimnya tahap ini akan bertambah lebih lama daripada tahap-tahap sebelumnya, dan tahap ini merupakan tantangan yang paling hebat untuk pihak manajer pemasaran. Tahap kedewasaan itu dapat dibagi lagi dalam tiga fase. Fase pertama disebut kedewasaan pertumbuhan. Pada fase ini laju pertumbuhan volume penjualan mulai merosot, disebabkan oleh kejenuhan saluran distribusi. Tidak lagi tersedia saluran distribusi yang baru, namun masih ada juga kaum pembeli yang kesiangan yang memasuki pasaran. Yang kedua adalah fase kedewasaan yang mantap, yang pada saat itu volume penjualan mulai mendatar atas dasar perkapita, disebabkan oleh kejenuhan pasaran. Fase yang ketiga adalah kedewasaan yang mengusang. Dalam fase ini volume penjualan secara mutlak akan merosot, karena sebagian pelanggan mulai beralih kepada produk pengganti lainnya.
Dalam tahap kedewasaan ini terdapat tiga macam strategi dasar, yaitu :
a. Modifikasi pasaran
b. Modifikasi produk
c. Penyesuaian bauran pemasaran
4. Tahap kemerosotan
Sebagian terbesar dari bentuk dan merek dari suatu produk pada waktunya akan menginjak suatu tahap kemerosotan penjualan yang berkesinambungan. Dengan merosotnya volume penjualan dan jumlah laba, beberapa perusahaan akan mengundurkan diri untuk mengalihkan sumber daya kepada usaha yang lebih menguntungkan. Maka perusahaan yang masih tersisa mengurangkan jumlah penawaran produknya. Mereka beralih kepada segmen-segmen pasaran yang lebih kecil dan kepada saluran niaga yang marjinal. Anggaran promosinya dikurangi. Bahkan harga penjualan akan diturunkan pula untuk menahan kemerosotan permintaan pasaran. Setiap perusahaan menghadapi berbagai tugas dan pengambilan keputusan untuk menjamin penganggaran produk-produknya yang usang secara mantap. Tugas-tugas tersebut antara lain:
a. Mengidentifikasi produk pemasaran
b. Menentukan strategi pemasaran
c. Keputusan melepaskan produk
H. Pengertian Analisis SWOT
Menurut Freddy Rangkuti (2007:19) : “SWOT adalah singkatan dari lingkungan internal strengths dan weaknesses serta lingkungan eksternal opportunities dan threts yang dihadapi dunia bisnis”.
Sedangkan menurut Freddy Rangkuti (2007:18) : “Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan”.
Analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal peluang (ooprtunities) dan ancaman (threats) dengan faktor internal kekuatan (strenghts) dan kelemahan (weaknesses).
Analisis SWOT merupakan identifikasi yang sistematis dari faktor-faktor ini dan dari strategi yang menggambarkan pedoman yang terikat antara mereka yakni untuk mengetahui posisi perusahaan pada saat ini dan mendatang atau dengan kata lain diperlukan untuk menentukan strategi dan taktik perusahaan agar mawas diri dan tahu diri dalam memasuki dunia usaha yang bersaing.
Faktor dasar dari analisis SWOT yakni mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan internal. Ini dapat didefinisikan sebagai berikut :
1. Kekuatan (strenghts)
Kekuatan adalah sumber daya, ketrampilan dan keunggulan lain relatif terhadap pesaing dan pasar yang dimiliki suatu perusahaan.
Karena kekuatan merupakan suatu kompetensi yang berbeda dan memberikan perusahaan suatu keunggulan komperatif dalam pasar. Kekuatan berkaitan dengan sumber daya keuangan, citra, kepemimpinan pasar hubungan pembeli/pemasok dan faktor-faktor lain.
2. Kelemahan (weaknesses)
Kelemahan merupakan keterbatasan/kekurangan dalam sumber daya, ketrampilan dan kemampuan yang secara serius menghalangi kinerja efektif suatu perusahaan.
3. Peluang (opportunities)
Suatu peluang merupakan situasi utama yang menguntungkan dalam lingkungan eksternal perusahaan. Kecenderungan-kecenderungan utama merupakan salah satu dari peluang dapat berupa identifikasi dari segmen pasar yang sebelumnya terlewatkan, perubahan-perubahan dalam keadaan bersaing akan peraturan perubahan teknologi dan hubungan pembeli dan pemasok yang diperbaikkan dapat menunjukkan peluang bagi peruahaan.
4. Ancaman (threats)
Suatu ancaman adalah situasi utama yang tidak menguntungkan dalam lingkungan suatu perusahaan. Ancaman adalah rintangan-rintangan utama bagi posisi sekarang atau yang diinginkan oleh perusahaan. Masuknya pesaing baru, pertumbuhan pasar yang lambat, daya tawar pembeli dan pemasok utama yang meningkat, perubahan teknologi dan peraturan yang baru atau yang divisi dapat merupakan ancaman bagi keberhasilan suatu perusahaan.
Menurut William F Glueck dan Lawrance R. Jauch (2004:208) sebagai berikut:
Dengan membandingkan ETOP dan SAP anda akan menemukan petunjuk tentang alternatif strategi untuk menutupi kesenjangan. Jika terdapat peluang lingkungan yang besar dengan kemampuan internal untuk mendapatkan manfaat daripadanya, maka alternatif ekspansi mungkin dilakukan. Kalau ancaman lingkungan kelihatannya merupakan tekanan terberat, maka mungkin cara untuk meningkatkan potensi harga ialah dengan penciutan. Kalau tidak terdapat kesenjangan (atau kesenjangan tidak penting, atau yakin bahwa kesenjangan itu masih dapat dikendalikan) memungkinkan untuk mengejar pendekatan yang mantap (stabilitas)
Gambar 1
Analisis SWOT
  • T

    S

    W

    Internal
    elur merupakan kebutuhan pokok yang selalu dikonsumsi masyarakat.

  • Heiginis karena yang dikonsumsi hanya putih dan kuning telur.
  • Merupakan salah satu sumber nutri yang murah.
  • Praktis dan fleksibel karena gampang disajikan, mudah disimpan serta mudah diolah dengan bahan lain.
  • Telur tidak bisa disimpan terlalu lama.
  • Mudah pecah sehingga dalam proses pengiriman barang harus hati-hati.
  • Kerugian akan timbul apabila telur yang telah sampai ditangan konsumen rusak.
  • Sulitnya memenuhi selera konsumen karena telur dihasilkan oleh ayam dan bukan mesin produksi.
  • S

    Eksternal

    O
    egment pasar yang luas bawah-menengah-atas.

  • Permintaan selalu bertambah seiring pertambahan jumlah penduduk.
  • Telur tidak mempunyai produk life cycle.
  • Konsumen mudah membeli karena tersedia di banyak tempat.
  • Harga pasar yang fluktuatif.
  • Adanya sumber nutrisi yang lain: ikan dan ayam.
  • Adanya alergi pada sebagian orang yang mengkonsumsi telur ayam ras.
  • Susah membedakan tingkat kualitas telur dengan harga yang relatif sama.
T

I. Strategi Bersaing Porter
1. Peningkatan kapasitas produksi
Menurut Porter (2005:285) : “Perusahaan biasanya mempunyai sejumlah pilihan untuk menambah kapasitas yang harus diperbandingkan. Selain itu, untuk menentukan arus kas masuk yang akan datang dari kapasitas baru perusahaan pada ukuran serta saat pengambilan keputusn mengenai kapasitas yang diambil oleh setiap pesaing, selain juga pada sejumlah faktor lain. Biasanya juga ada ketidakpastian mengenai kecenderungan masa depan dalam teknologi, di samping juga bagaimana keadaan permintaan masa depan”.
Dari pernyataan di atas dapat diambil kesimpulan bahwasannya di dalam pengambilan keputusan untuk menambah kapasitas perlu memperhatikan beberapa faktor yaitu :
a. Menentukan arus kas yang akan datang
b. Meramalkan laba yang akan datang
c. Kapasitas yang diambil oleh pesaing
d. Kecenderungan perubahan teknologi di masa depan
e. Keadaan permintaan masa depan
2. Informasi pelayanan purna jual
Menurut Porter (2005:276) : “Menyediakan pelayanan (service) untuk suatu produk di samping menjual produk itu sendiri memungkinkan perusahaan untuk mendiferensiasikan dirinya sendiri, meskipun produknya tidak lebih unggul dibandingkan produk pesaing”. Dari definisi di atas maka perusahaan dapat merancang strateginya akan produk yang mereka pasarkan dikenal konsumen dan konsumen dapat mengetahui karakteristik produk yang diproduksi oleh perusahaan.
3. Perbaikan saluran distribusi dari produsen ke konsumen
Menurut Porter (2005:276) : “Integrasi maju memecahkan masalah jalur masuk ke saluran distribusi dan menghilangkan tawar menawar yang dimiliki oleh saluran”.
Dari pernyataan di atas menunjukkan betapa pentingnya masalah saluran distribusi. Karena dengan adanya saluran distribusi yang baik dari produsen ke konsumen, produk akan sampai pada konsumen akan lebih cepat dan produk yang diterima konsumen akan lebih murah. Karena tawar-menawar yang dimiliki oleh saluran dapat dikurangi.
4. Antisipasi perusahaan untuk mengatasi harga yang fluktuatif
Menurut Porter (2005:272) : “Karena penjualan dari bisnis hulu diturunkan dari penjualan bisnis hilir, faktor-faktor yang menyebabkan fluktuasi di keseluruhan rangkaian. Fluktuasi dapat disebabkan oleh siklus bisnis, oleh perkembangan persaingan atau pasar dan sebagainya”.
Untuk dapat mengatasi harga yang fluktuatif perusahaan memperhatikan faktor pemasok bahan baku, saluran distribusi, pesaing serta penawaran dan permintaan pasar akan produk yang dihasilkan perusahaan.
J. Hipotesis Penelitian
Sehubungan dengan teori yang diuraikan, maka dapat dikemukakan mengenai kerangka pikir konspetual dan kerangka hipotesis.
Gambar 2
Kerangka Pikir Konsep
Dari kerangka pikir konsep di atas, dapat diketahui kerangka hipotesis sebagai berikut :
Gambar 3
Kerangka Hipotesis
Dari model di atas, dapat disusun hipotesis statistik sebagai berikut :
H1 = Diduga variabel-variabel kekuatan (X1), kelemahan (X2), peluang (X3), ancaman (X4) secara bersama-sama mempunyai hubungan bermakna terhadap penetapan strategi pemasaran perusahaan.
H2 = Diduga peluang (X3) merupakan variabel yang mempunyai pengaruh dominan terhadap penetapan strategi pemasaran perusahaan.
BAB III METODE PENELITIAN…… dst

(MOHON MAAF!! TAMPILAN TABEL, GAMBAR, DAN RUMUS MENGGUNAKAN EQUATION KESULITAN UNTUK BISA DI UPLOAD)
KLIK DISINI UNTUK SYARAT MENDAPATKAN 100% GRATIS

PROPOSAL LENGKAP DALAM FORM PDF/WORD

JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 07 adalah salah satu contoh JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 07 kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 07 untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 07 full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 07 dalam bentuk PDF secara gratis.

makalah menulis proposal, kumpulan judul skripsi fisiologi tumbuhan, contoh distribution list, makalah metode pengembangan keberagamaan di lingkungan masyarakat, artikel pengaruh manajemen laba 2011

JUDUL PEMASARAN 17

30th November 2011 Cat: Manajemen with Comments Off

JUDUL PEMASARAN 17 adalah salah satu contoh JUDUL PEMASARAN 17 kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online JUDUL PEMASARAN 17 untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload JUDUL PEMASARAN 17 full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan JUDUL PEMASARAN 17 dalam bentuk PDF secara gratis.

PENGARUH BAURAN PROMOSI TERHADAP PENINGKATAN PENJUALAN PADA PERUSAHAAN ROKOK SEKAR ARUM BLITAR

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Di era globalisasi seperti sekarang ini, dunia bisnis semakin lama semakin memerlukan perhatian yang lebih terutama dalam menghadapi kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang semakin maju sesuai dengan kemajuan zaman.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi ini di sisi lain membawa dampak positif, tetapi tidak menutup kemungkinan permasalahan yang dihadapi juga semakin rumit. Hal ini terlihat dengan banyaknya persaingan yang timbul, dimana setiap perusahaan ingin menjadi pemenang di bidangnya masing-masing atau hanya untuk sekedar mempertahankan posisinya. Dengan adanya persaingan yang ketat antar perusahaan, mereka dituntut untuk menjual produk maupun jasanya ke konsumen. Oleh karena itu, perusahaan harus lebih giat dalam memperkenalkan ataupun memasarkan produk maupun jasanya ke konsumen yaitu dengan cara promosi.
Promosi dilakukan perusahaan dengan tujuan memberikan informasi, mempengaruhi, membujuk serta mendorong konsumen agar mau melakukan pembelian terhadap barang atau jasa yang dipasarkan. Dengan adanya promosi, perusahaan berharap dapat meningkatkan penjualan sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Untuk itu diperlukan adanya suatu strategi pemasaran yaitu dengan menerapkan bauran promosi yang tepat agar tujuan perusahaan dapat tercapai.

Pelaksanaan kegiatan bauran promosi (promotional mix) yang ada di perusahaan rokok Sekar Arum Blitar masih bersifat terbatas dan dapat dikatakan kurang karena hanya tergantung pada media tertentu saja. Sedangkan perusahaan-perusahaan pesaing menggunakan media yang lebih bervariasi dan lebih luas jangkauannya, sehingga produknya lebih dikenal oleh masyarakat luas.
Penerapan bauran promosi yang tepat perlu dilakukan mengingat PR. Sekar Arum Blitar telah berkembang, oleh karena itu perusahaan dituntut untuk dapat menentukan kegiatan promosi mana yang yang tepat dan dapat dilakukan secara kontinu. Promosi yang tepat ini diharapkan mampu berperan penting dalam memelihara loyalitas konsumen terhadap produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan, sehingga perusahaan mampu bersaing dalam menguasai pasar. Seperti diketahui dewasa ini, masing-masing perusahaan harus mampu menonjolkan apa yang menarik dari produknya agar konsumen tertarik untuk membeli produk tersebut.
Disamping itu perusahaan dituntut untuk bisa meninjau kembali bauran promosi yang digunakan agar dapat menarik konsumen, sehingga produknya dapat dikenal oleh masyarakat luas.Oleh karena itu bauran promosi merupakan alat komunikasi yang sangat penting bagi perusahaan, karena dengan melaksanakan bauran promosi dapat membantu dalam memperluas pengenalan suatu produk atau jasa ke konsumen.
Dengan cepat berkembangnya keadaan perekonomian ini sangat dirasakan bahwa promosi merupakan salah satu bagian dari marketing mix untuk meningkatkan volume penjualan. Prospek pemasaran perusahaan rokok di Indonesia dewasa ini cukup menjanjikan, hal ini disebabkan karena rokok merupakan salah satu komoditi yang sangat diminati oleh masyarakat baik masyarakat perkotaan maupun masyarakat pedesaan, namun dalam pemasarannya sangat tergantung pada promosi yang dilakukan perusahaan dimana bauran promosi yang dilaksanakan dapat menimbulkan umpan balik bagi perusahaan.
Faktor-faktor yang terkandung dalam bauran promosi antara lain : advertising, personal selling, sales promotion, dan publisitas merupakan hal yang sangat penting dan perlu dipertimbangkan dalam rangka strategi pencapaian tujuan perusahaan.
Advertising merupakan cara penyajian non personal dan promosi ide, barang/jasa oleh suatu sponsor tertentu yang memerlukan pembayaran. Sales promotion adalah bentuk persuasi langsung melalui berbagai insentif yang dapat diukur untuk merangsang pembelian produk dengan segera atau meningkatkan jumlah barang/jasa yang dibeli pelanggan. Personal selling adalah komunikasi langsung/tatap muka antara penjual dan calon konsumen untuk mempertahankan suatu produk kepada calon konsumen. Publisitas merupakan fungsi pemasaran yang menilai sikap publik, menentukan kebijaksanaan seseorang, organisasi, serta merencanakan dan melakukan program kegiatan untuk meraih pengertian dan dukungan publik.
Di samping itu perusahaan dituntut untuk bisa meninjau kembali bauran promosi yang dipergunakan dan selalu dapat menarik konsumen dan dapat dikenal masyarakat luas, maka bauran promosi sebagai alat komunikasi sangat penting bagi suatu perusahaan karena dengan bauran promosi dapat membantu dalam memperluas pengenalan produk suatu barang perusahaan terhadap konsumen. Dengan mengenal produk yang ditawarkan diharapkan konsumen akan mengkonsumsi produk ini sehingga secara langsung akan meningkatkan penjualan produk pada perusahaan. Berdasarkan dari latar belakang tersebut diatas, maka diajukan judul “Pengaruh Bauran Promosi Terhadap Peningkatan Penjualan pada PR. Sekar Arum Blitar”.
B. Perumusan Masalah
Setiap lembaga atau organisasi baik sosial maupun komersial tentu mempunyai masalah dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Adapun perumusan masalahnya sebagai berikut :
1. Apakah variabel bauran promosi yang terdiri dari advertising, personal selling dan sales promotion berpengaruh terhadap penjualan pada PR. Sekar Arum Blitar?

2. Dari beberapa variabel bauran promosi yang terdiri dari advertising, personal selling dan sales promotion, manakah yang berpengaruh dominan terhadap volume penjualan pada PR. Sekar Arum Blitar?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk:
1. Untuk mengetahui pengaruh variabel bauran promosi yang terdiri dari advertising, personal selling dan sales promotion terhadap penjualan pada perusahaan rokok PR. Sekar Arum Blitar
2. Untuk mengetahui variabel bauran promosi yang berpengaruh dominan terhadap penjualan pada PR. Sekar Arum Blitar

D. Kegunaan Penelitian
1. Bagi perusahaan
Digunakan sebagai bahan masukan perusahaan, dalam merencanakan dan melaksanakan program bauran promosi, sehingga pada akhirnya perusahaan dapat meningkatkan volume penjualan dimasa akan datang.
2. Bagi Pihak Lain
Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi sumber informasi yang selanjutnya dapat dijadikan dasar masukan bagi penelitian selanjutnya.
3. Bagi Peneliti
Digunakan sebagai langkah awal bagi peneliti untuk menerapkan pengetahuan berupa teori-teori di bidang pemasaran yang didapat di bangku perkuliahan khususnya berkaitan dengan masalah yang menjadi obyek penelitian dan penerapannya di lapangan.

DOWNLOAD PDF/DOC BAB SELANJUTNYA DISINI

JUDUL PEMASARAN 17 adalah salah satu contoh JUDUL PEMASARAN 17 kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online JUDUL PEMASARAN 17 untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload JUDUL PEMASARAN 17 full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan JUDUL PEMASARAN 17 dalam bentuk PDF secara gratis.

contoh proposal manajemen pemasaran tentang accu, contoh identifikasi masalah bauran pemasaran, proposal penelitian pemasaran bauran promosi, pengaruh promosi terhadap pendapatan perusahaan, makalah bauran promosi (mix promotion)

JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 08

30th November 2011 Cat: Manajemen with Comments Off

JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 08 adalah salah satu contoh JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 08 kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 08 untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 08 full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 08 dalam bentuk PDF secara gratis.

PENGARUH KEBIJAKAN HARGA DAN PERIKLANAN TERHADAP VOLUME PENJUALAN PADA PERUSAHAAN RAKET ABADI MALANG
(DOWNLOAD LANGSUNG DISINI!)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Penelitian

Mengingat semakin pesatnya pertumbuhan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh konsumen, semakin bertambah banyak, baik dalam jumlah maupun jenisnya. Hal ini mendorong perusahaan-perusahaan saling berpacu agar dapat memuaskan kebutuhan konsumen dengan cara menghasilkan barang dan jasa sesuai dengan keinginan konsumen. Keadaan ini mengakibatkan terciptanya persaingan sesama perusahaan yang menghasilkan barang dan jasa yang sejenis.
Untuk menghadapi persaingan ini memaksa perusahaan untuk berorientasi pada kegiatan pemasaran. Kegiatan yang dilakukan perusahaan harus dapat memberikan kepuasan kepada konsumen. Sehingga dapat dikatakan bahwa pemasaran memegang peranan penting dalam menunjang kegiatan perusahaan di dalam meningkatkan penjualan.
Agar tujuan perusahaan untuk meningkatkan hasil penjualan tercapai maka perusahaan harus mempunyai cara-cara atau metode-metode yang digunakan sebagai pedoman terutama dalam bidang pemasaran. Strategi pemasaran adalah cara yang paling tepat dalam upaya meningkatkan penjualan, caranya ialah dengan menetapkan harga, promosi serta saluran distribusi, terhadap barang dan jasa yang bisa memberikan kepuasan kepada konsumen.
Dari beberapa strategi pemasaran tersebut di atas, harga dan promosi dalam hal ini periklanan merupakan bagian yang penting serta berpengaruh terhadap peningkatan hasil penjualan. Pada penjualan Perusahaan Raket Abadi Malang yang bergerak dalam bidang industri alat olahraga, meningkatnya volume penjualan tidak hanya tergantung pada promosi yang dilakukan perusahaan tetapi juga tergantung dari layanan kebijakan harga yang diberikan. Oleh karena itu perusahaan dituntut untuk mengikuti perkembangan jaman dan situasi pasar sekarang.
Dengan adanya promosi dalam bentuk kebijakan harga dan periklanan yang dilaksanakan perusahaan diharapkan penjualan akan dapat ditingkatkan. Agar perusahaan dapat menggunakan periklanan dan harga secara efektif, maka sebelum mengadakan kegiatan tersebut hendaknya diadakan suatu perencanaan yang baik dengan memperhatikan segala faktor yang berkaitan dengan kebijakan harga dan periklanan sehingga apa yang dilaksanakan dapat berhasil dengan baik. Tentu saja hal ini harus disesuaikan dengan maksud dari periklanan yang dapat menarik konsumen yang nantinya membuat minat konsumen untuk membeli produk yang ditawarkan perusahaan.
Pengetahuan akan bauran pemasaran yang baik dalam upaya pelaksanaan kegiatan pemasaran secara intensif menjadi faktor penting yang harus diketahui perusahaan dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan dan menjangkau konsumen sebanyak-banyaknya. Dengan adanya penelitian tentang bauran pemasaran diharapkan bisa membantu untuk mewujudkan suatu tujuan perusahaan.
Berdasarkan alasan tersebut di atas maka penulis tertarik untuk mengambil judul skrispi tentang: “PENGARUH KEBIJAKAN HARGA DAN PERIKLANAN TERHADAP VOLUME PENJUALAN PADA PERUSAHAAN RAKET ABADI MALANG”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka dirumuskan permasalahannya sebagai berikut:
1. Sejauhmana pengaruh kebijakan harga dan periklanan terhadap Volume Penjualan Pada Perusahaan Raket Abadi Malang?
2. Variabel bauran pemasaran (yang terdiri dari kebijakan harga dan periklanan) manakah yang berpengaruh dominan terhadap Volume Penjualan Pada Perusahaan Raket Abadi Malang?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh kebijakan harga dan periklanan terhadap Volume Penjualan Pada Perusahaan Raket Abadi Malang
2. Untuk mengetahui pengaruh yang dominan antara harga dan periklanan terhadap Volume Penjualan Pada Perusahaan Raket Abadi Malang
D. Kegunaan Penelitian
Dengan adanya penelitian ini diharapkan bisa memberikan masukan bagi pihak-pihak berikut:
1. Bagi penulis
Untuk menerapkan teori-teori dan pengetahuan yang didapat di bangku kuliah ke dalam masalah yang sebenarnya terjadi pada suatu perusahaan khususnya mengenai bauran pemasaran yang dilaksanakan pada suatu perusahaan.
2. Bagi Perusahaan
Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan masukan bagi perusahaan terutama sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan tujuan jangka pendek ataupun jangka panjang perusahaan khususnya dalam hal pemasaran.
3. Bagi pihak lain
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi maupun sebagai acuan khususnya bagi yang berminat pada permasalahan bauran pemasaran.

BAB II
LANDASAN TEORI

Dalam upaya untuk memberikan jalan keluar masalah yang dihadapi perusahaan, maka peneliti akan mengemukakan dasar-dasar teori berhubungan dengan masalah. Tujuannya adalah sebagai titik tolak untuk mencari kebenaran atau kaitannya dengan suatu masalah.
Adapun teori yang dikemukakan sesuai dengan permasalahan ini adalah sebagai berikut :
A. Pengertian pemasaran
Pemasaran mengandung arti yang luas karena membahas mengenai masalah yang terdapat dalam perusahaan dan hubungannya dengan perdagangan barang dan jasa.
Menurut Kotler (2002:9) yang diterjemahkan Ancellawati: “Pemasaran adalah suatu proses sosial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain”.
Proses pertukaran melibatkan kerja. Penjual harus mencari pembeli, mengenali kebutuhan mereka, merancang produk yang tepat, mempromosikan produk tersebut, menyimpan dan mengangkutnya, menetapkan harganya, memberikan layanan purna jual dan sebagainya. Kegiatan seperti pengembangan produk, penelitian, komunikasi, distribusi, penetapan harga dan layanan merupakan inti kegiatan pemasaran.
Lebih lanjut mengenai pengertian manajemen pemasaran didefinisikan oleh Kotler (2002:10): “Penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan program-program yang bertujuan menimbulkan pertukaran dengan pasar yang dituju dengan maksud untuk mencapai sasaran perusahaan”
Apabila kedua definisi di atas dibandingkan maka dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa pada dasarnya kegiatan manajemen pemasaran meliputi proses penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam hubungannya dengan produk barang dan jasa untuk memperoleh apa yang diinginkan.
B. Pengertian Bauran Pemasaran
Pada dasarnya bauran pemasaran merupakan variabel-variabel yang dipakai perusahaan dalam kegiatan pemasarannya. Banyak pendapat dari para ahli yang menegaskan hal tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh Kotler dan Amstrong (2001:18): “Bauran pemasaran adalah seperangkat alat taktis dan terkontrol yang dipadukan oleh perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkan pasar sasaran”.
Hal tersebut dijelaskan lebih lanjut oleh Saladin (2005:6): “Bauran pemasaran adalah kombinasi dari empat elemen pokok (product-price-place-promotion) yang terdapat dalam program pemasaran”
Jadi program pemasaran yang efektif memadukan seluruh elemen bauran pemasaran menjadi program yang rekoordinasi yang dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan pemasaran perusahaan. Bauran pemasaran memberlakukan sarana taktis perusahaan untuk membangun posisi yang kuat di dalam pasar sasaran.
Berdasarkan uraian-uraian di atas dapat dinyatakan bahwa variabel-variabel dalam bauran pemasaran merupakan sekelompok variabel yang terdiri dari produk, harga, saluran distribusi dan promosi yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam program pemasaran.
C. Tinjauan Tentang Kebijakan Harga
1. Pengertian Harga dan Kebijakan Harga
Harga memegang peranan penting dalam pemasaran baik itu bagi penjual maupun pembeli. Untuk lebih jelasnya dibawah ini akan dikemukakan pengertian tentang harga yang dikemukakan oleh para ahli:
Menurut Kotler (2002:114) mengatakan bahwa: “Harga yaitu jumlah uang yang harus dibayar pelanggan untuk produk itu”.
Menurut Swastha (2002:211) pengertian harga adalah: “Sejumlah uang (ditambah beberapa barang kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi barang beserta pelayanannya”.
Sedangkan menurut Kotler (2002:442); “Harga adalah sejumlah uang yang dibebankan atas suatu produk atau jasa. Secara lebih luas lagi harga adalah jumlah yang memiliki atau nilai yang dinyatakan produk atau jasa tersebut”.
Menurut Irawan (2006:110) pengertian harga adalah: “Pencerminan nilai yang dinyatakan dengan rupiah”.
Menurut Saladin (2005:69) pengertian harga adalah: “Nilai yang disebutkan dalam dollar ($ ) atau sen, atau medium moneter lainnya sebagai alat tukar”.
Menurut Alma (2005:79) bahwa: “Harga adalah nilai suatu barang yang dinyatakan dengan uang”.
Berdasarkan pendapat dari para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa harga adalah merupakan alat tukar untuk mengukur suatu nilai uang yang terkandung dalam suatu barang atau jasa, sedangkan yang dipakai sebagai alat pengukur adalah uang.
Dari pengertian di atas, timbullah pengertian tentang kebijakan harga, dimana dalam pelaksanaannya akan diikuti oleh kebijakan harga tertentu yang sebelumnya diputuskan oleh perusahaan. Kebijakan harga tersebut dimaksudkan dengan langkah guna mendukung dan mengarahkan harga agar tercipta suatu hubungan antara produsen dan konsumen.
Untuk memperjelas tentang kebijakan harga harga, disini akan dikemukakan pendapat menurut Effendi (2007:197), yaitu:
Syarat-syarat ketetapan harga terpisah dan berbeda dari penentuan tingkat harga, karena kebijakan harga yang ada dapat sama untuk harga yang berlainan dan perbedaan kebijakan merupakan suatu perhatian sebagai keputusan rutin mereka membantu sebagai jalan bagi pimpinan perusahaan dalam mengikuti penentuan keputusan harga.

Menurut Moekijat (2003:441) mengenai: “Kebijakan harga adalah suatu keputusan-keputusan mengenai harga-harga yang akan diikuti untuk suatu jangka tertentu”.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan harga yang ditetapkan oleh perusahaan, biasanya kebijakan harga tersebut berlaku untuk sementara waktu saja selama masa menguntungkan perusahaan. Oleh karena itu perusahaan harus mengikuti perkembangan harga dan situasi pasar. Unsur harga tersebut dalam waktu tertentu dirubah atau tidak. Apabila selama batas waktu tertentu keadaan menguntungkan, maka kebijakan harga harga tersebut ditinjau kembali apabila situasi dan kondisi perusahaan mengalami perubahan, sehingga tidak mungkin lagi untuk dipertahankan agar produsen maupun konsumen tidak saling dirugikan.
2. Tujuan Kebijakan harga
Pada umumnya perusahaan dalam mengadakan kebijakan harga mempunyai beberapa tujuan. Tujuan kebijakan harga tersebut dikemukakan sebagai berikut:
Menurut Lamarto (2006:314), yaitu:
a. Berorientasi pada laba, untuk:
1) Mencapai target laba investasi atau laba penjualan bersih
2) Memaksimalkan laba
b. Berorientasi pada penjualan untuk:
1) Meningkatkan penjualan
2) Mempertahankan atau meningkatkan pangsa pasar
c. Berorientasi pada status quo, untuk:
1) Menstabilkan harga
2) Menangkal persaingan

Selanjutnya akan diuraikan mengenai tujuan kebijakan harga sebagai berikut:
a. Berorientasi pada laba
1) Mencapai target laba investasi atau laba penjualan bersih:
Perusahaan menetapkan harga produknya atau jasa yang diberikan atas dasar sasaran pencapaian prosentase tertentu untuk pengembalian investasi atau laba penjualan bersih. Sasaran seperti ini menjadi kacau baik bagi perusahaan maupun pialangnya.
2) Memaksimalkan laba
Sasaran penetapan harga atau dasar menghasilkan uang sebanyak-banyaknya mungkin merupakan sasaran yang paling banyak dianut oleh perusahaan. Dalam teori ekonomi atau praktek bisnis, tidak ada yang salah dengan sasaran seperti ini. Secara teoritis apabila laba menjadi terlalu besar karena penawaran lebih kecil dibandingkan permintaan, modal baru akan tertanam dalam bidang usaha ini. Dengan sendirinya hal ini akan mengurangi laba sampai setingkat normal.
b. Berorientasi pada penjualan
1) Meningkatkan volume penjualan
Sasaran penetapan harga biasanya dinyatakan dalam prosentase kenaikan volume penjualan selama periode tertentu. Katakanlah satu tahun atau tiga tahun. Para pengecer mendayagunakan sasaran semacam ini. Sewaktu mereka berusaha meningkatkan penjualan tahun lalu dengan prosentase tertentu. Namun untuk meningkatkan volume penjualan mungkin bisa atau tidak bisa taat dengan konsep pemasaran yang dianut volume penjualan yang menguntungkan. Di satu pihak, sasaran perusahaan bisa meningkatkan volume penjualan tetapi dengan tetap mempertahankan tingkat labanya. Disegi lain, manajemen bisa memutuskan dan meningkatkan volume penjualannnya melalui strategi penetapan harga yang agresif dengan kerugian. Dalam hal ini manajemen bisa memutuskan untuk pendek dengan perhitungan bahwa melalui peningkatan volume penjualan dapat menancapkan kakinya dalam pasar.
2) Mempertahankan atau meningkatkan pangsa pasar
Perusahaan yang mempunyai sasaran penetapan harga tipe ini memutuskan perhatian pada upaya mempertahankan atau meningkatkan pangsa pasar. Satu sektor yang membuat sasaran ini tercapai adalah perusahaan biasanya dapat menentukan pangsa pasar apa yang diinginkan. Dalam beberapa hal, pangsa pasar merupakan indikator kondisi perusahaan yang lebih baik dibandingkan dengan target laba investasi artinya, sasaran penetapan harganya yang lebih baik. Hal ini bisa terjadi terutama pada waktu pasar total sedang berkembang dan perusahaan bisa memperoleh laba yang bisa diharapkan. Akan tetapi jika manajemen tidak mengetahui bahwa pasar sedang berkembang, akibatnya pangsa pasar perusahaan bisa mengalami kemunduran.
c. Berorientasi pada status quo
1) Menstabilkan harga
Stabilitas harga sering menjadi sasaran industri-industri yang mempunyai pemimpin harga (price leader)
2) Menangkal persaingan
Banyak perusahaan, tidak tergantung dari besar kecilnya, secara sadar memberi harga produknya untuk memenangkan persaingan. Meskipun perusahaan sudah besar, hanya mempunyai peranan yang kecil dalam menentukan harga pasar.
Dari pendapat yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan ditetapkannya kebijakan harga, maka tujuan yang hendak dicapai adalah:
a. Mencapai target laba atau laba tertentu
b. Memaksimalkan laba
c. Meningkatkan penjualan
d. Mempertahankan dan meningkatkan pangsa pasar
e. Mentabilkan harga
f. Menangkal persaingan.
3. Macam-Macam Kebijakan Harga
Kebijakan harga dapat dibedakan menjadi beberapa macam, seperti yang dikemukakan oleh Lamarto (2006:350), yaitu:
a. Potongan dan kelonggaran (discount and allowance)
b. Strategi penetapan-penetapan harga geografis
c. Strategi harga tanggal lawan strategi harga variabel
d. Penetapan harga unit (unit pricing)
e. Strategi lini harga (price lining)
f. Sarana pengendalian harga eceran
g. Penetapan harga pelopor dan undang-undang
h. Penetapan harga psikologis
i. Penetapan harga dimasa inflasi
j. Persaingan harga lawan persaingan non harga

Berikut ini merupakan penjelasan dari macam-macam kebijakan harga harga tersebut di atas:
a. Potongan dan kelonggaran (discount and allowance)
Potongan dan kelonggaran adalah hasil pengurangan dari harga dasar atau harga tercatat atau harga terdaftar (list prices)
b. Strategi penetapan-penetapan harga geografis
Dalam menetapkan harga produk, seorang penjual harus mempertimbangkan pula biaya angkutan dari pabrik sampai ke pembeli. Faktor ini menjadi bertambah penting, karena biaya angkutan sekarang dimasukkan ke dalam biaya variabel total. Kebijakan harga penetapan harga bisa mencakup tiga variasi: pembeli menanggung seluruh biaya angkutan, atau penjual menanggung seluruh biaya angkutan atau dapat juga ditanggung kedua belah pihak.
Strategi apa yang dapat dipilih bisa sangat mempengaruhi:
1) Batas tempat fasilitas produksi
2) Lokasi tempat produksi
3) Sumber bahan baku produksi
4) Daya saing dalam berbagai pasar
c. Strategi harga tanggal lawan strategi harga variabel
Sebelum menentukan strategi penetapan harga apa yang dianut oleh perusahaan, manajemen perlu terlebih dahulu mengkaji dengan cermat dua pilihan, strategi tunggal atau strategi harga variabel.
Menganut strategi yang satu bukan berarti membuang jauh-jauh strategi yang lain, meskipun biasanya penentuan strategi apa yang akan didayagunakan bersifat mengikat. Dengan strategi harga tunggal, perusahaan menetapkan harga sama atau harga ke seluruh pelanggan yang membeli produk dalam kualitas sama. Di bawah strategi harga variabel, perusahaan akan dapat menjual produk dengan harga yang berlainan meskipun transaksi dilakukan dalam kuantitas sama dengan pembeli yang sama. Kebijakan harga tunggal bisa membina kepercayaan konsumen kepada penjual tingkat eceran, grosir atau pabrik. Pembeli yang kurang pandai menawar tidak perlu kuatir akan tertipu. Kebijakan harga variabel juga mempunyai kelebihan, misalnya penjual bisa membeli konsensi harga kepada pembeli agar penjual bisa memberi harga khusus pada pembeli yang mempunyai potensi menjadi pelanggan besar.
d. Penetapan harga unit (unit pricing)
Penetapan harga unit adalah strategi pelaporan informasi tentang harga eceran yang sampai sekarang tetap didayagunakan secara luas oleh rangkaian pasar raya atau super market. Walaupun demikian, metode penetapan harga tipe ini bisa diadaptasikan ke berbagai tipe toko dan produk lainnya. Sebagai strategi ia merupakan reaksi bisnis terhadap proses-proses konsumen mengenai pemakaian ukuran kemasan.
Praktek-praktek yang ada membuat konsumen sukar membandingkan harga produk-produk serupa. Latar belakang pemakaian strategi ini didasarkan atas harapan bahwa konsumen diharapkan makin sadar dan memahami strategi ini. Biaya yang dikeluarkan untuk mempraktekkan strategi ini diimbangi oleh manfaat yang dapat dipetik dari masyarakat.
e. Strategi lini harga (price lining)
Penetapan lini harga banyak didayagunakan oleh para pengecer pakaian jadi. Pada intinya strategi ini menyeleksi harga yang terbatas jumlahnya yang akan dicapai untuk setiap lini barang dagangan, misalnya sebuah toko sepatu menjual lini produk yang terdiri dari beberapa model sepatu seharga Rp. 15.000,- sepasang, lini model lain seharga Rp. 20.000,- dan lini termahal dengan harga Rp. 30.000,- sepasang. Bagi konsumen, keuntungan utama dari penetapan lini harga adalah penyederhanaan keputusan beli. Dari sudut pengecer strategi ini juga menguntungkan karena membantu perencanaan dan membelanjakan di toko. Kendala yang mungkin dihadapi oleh strategi lini, perubahan lini harga yang harus selalu dilakukan setiap kali biaya naik sehingga pengecer akan bingung. Keseringan merubah lini harga akan merusak citra toko. Apabila situasi harga tetap, margin laba ditekan serendah mungkin, pengecer bisa selalu mencari harga produk yang tidak terlalu tinggi. Pihak produsen juga bisa menolong para pengecer melalui penyederhanaan kemasan atau kualitas produk (berarti biaya lebih murah) pengecer bisa mempertahankan harga pada tingkat yang tetap.
f. Sarana pengendalian harga eceran
Beberapa pabrik ingin mengendalikan harga eceran produknya, ada yang mencantumkan pedoman harga-harga eceran yang diajukan oleh produknya, ada juga yang secara tegas mencantumkan harga eceran tinggi, mereka yang melanggar bisa dicabut hak menjual produknya. Kebijakan yang memperbolehkan pengecer menambah atau mengurangi dengan potongan harga. Kebijakan yang kedua harga bisa jalan untuk produk yang laku.
g. Penetapan harga pelopor dan undang-undang
Gagasan yang mendasari adalah pelanggan ke toko membeli produk dengan harga pelopor dan kemudian tertarik untuk membeli produk lain dengan harga biasa. Hasil diharapkan bisa berupa laba total dan volume penjualan total. Tujuan umum dari undang-undang ini baik, yaitu mencegah praktek penurunan harga seenaknya sendiri. Namun demikian undang-undang ini masih mengijinkan praktek banting harga sebagai strategi promosi dan strategi harga. Lagi pula tujuan daripada bisnis adalah menghasilkan laba dari operasi total tidak perlu dari setiap penjualan masing-masing produk.
h. Penetapan harga psikologis
Ditingkat penjualan eceran, strategi bagi penetapan harga psikologis adalah memberi harga dengan gasal seperti misalnya permen coklat seharga Rp. 5.995,- dan buku seharga Rp. 6.000,-. Beberapa studi lapangan kurang mendorong keyakinan di atas, harga gasal kurang disenangi toko-toko yang eksekutif.
i. Penetapan harga dimasa inflasi
Infalsi yang melanda ekonomi sebagian besar melanda negara di dunia selama beberapa tahun ini belum terlihat tanda-tanda akan mereda. Bagi eksekutif pemasaran terutama dalam penetapan harga inflasi memaksa mereka untuk mengembangkan strategi penetapan harga yang kreatif dan inovatif.
j. Persaingan harga lawan persaingan non harga
Di dalam upaya mengembangkan program pemasaran manajemen mempunyai pilihan antara penekanan persaingan harga atau persaingan non harga. Pilihan dapat mempengaruhi bagian-bagian lain dari sistem pemasaran perusahaan. Dengan harga yang rendah biasanya pelayanan yang ditawarkan juga menjadi berkurang. Dahulu rangkaian toko dan pusat-pusat penjualan dengan potongan harga selalu bersaing dengan cara seperti ini. Dari sebuah perusahaan juga mendayagunakan harga dalam persaingan melalui:
1) Perubahan harga
2) Reaksi terhadap perubahan harga yang dilakukan oleh para pesaingnya.
Persaingan non harga makin banyak digunakan dalam program pemasaran paling tidak ingin menentukan jalannya sendiri. Dalam persaingan non harga, dasar pandangan seperti ini bisa terjadi karena posisi perubahan sebagai penjual tidak terlalu berubah, meskipun pesaing mulai banting harga. Juga kesetiaan pembeli terhadap produk akan tetap terjaga, karena harga bukan satu-satunya ciri pembeda perusahaan. Dengan strategi persaingan harga pembeli akan setia pada perusahaan selama perusahaan dapat menawarkan produk dengan harga rendah.
Dua metode utama persaingan non harga adalah promosi dan pembeda produk. Selain itu juga perusahaan yang akan menekan keragaman dan kualitas pelayanan perusahaan pada pelanggan. Salah satu bentuk persaingan non harga (diluar promosi dan pembedaan produk) adalah kartu dagang atau kartu yang dapat ditukarkan dengan uang atau hadiah-hadiah lain.
4. Jenis-Jenis Potongan
Untuk memperoleh gambaran secara lebih jelas mengenai teori di atas maka sesuai dengan pemecahan masalah yang ada, dibawah ini akan diuraikan tentang maam-macam atau jenis-jenis potongan (discount) menurut Lamarto (2006:350) sebagai berikut:
a. Potongan kuantitas (quality discount)
b. Potongan dagang (rate discount)
c. Potongan atau rabat kontan (cash discount)
d. Potongan musiman (seasonal discount)
e. Pencatatan maju (forward discount)
f. Kelonggaran promosi (Promotional discount)

Berikut ini akan dijelaskan jenis-jenis potongan harga sebagai berikut:
a. Potongan kuantitas (quality discount)
Potongan kuantitas adalah pengurangan dari harga tercatat yang ditawarkan oleh seorang penjual untuk menarik seorang pelanggan membeli dalam jumlah yang lebih besar dari biasanya. Potongan berdasarkan pada jumlah pembelian dalam rupiah atau dalam unit. Potongan kuantitas dapat dilakukan dengan menggunakan dua cara yaitu:
1) Potongan non kumulatif
2) Potongan kumulatif
b. Potongan dagang (trade discount)
Potongan dagang kadang-kadang disebut potongan fungsional, merupakan potongan dari harga tercatat (daftar harga) yang ditawarkan ke pembeli yang diharapkan akan mempunyai fungsi pemasaran. Contohnya produsen memberikan potongan kepada agen 15 % dengan syarat yang 10% diberikan kepada pengecer.
c. Potongan atau rabat kontan (cash discount)
Potongan kontan merupakan potongan harga yang diberikan kepada pembeli karena membayar kontan atau membayar dalam jadwal pelunasan yang telah ditetapkan sebelumnya. Potongan dihitung dari nilai sisa setelah dikurangi potongan kuantitas dan potongan dagang dari harga dasar.
Setiap potongan kontan mencakup tiga unsur:
1) Potongan prosentase
2) Jadwal pembayaran untuk memperoleh potongan
3) Batas akhir waktu pelunasan hutang
Setiap industri biasanya menerapkan sendiri ketiga unsur tersebut diatas.
d. Potongan musiman (seasonal discount)
Potongan musiman merupakan korting yang biasa dipakai oleh para produsen musiman seperti payung hujan. Misalnya pembeli yang memesan sejumlah payung hujan di musim panas akan menerima potongan sebesar 5%, 10% dan 15%. Pesanan-pesanan yang tiba diluar musim (off season) membantu pabrik tetap mendayagunakan produknya.
e. Pencatatan maju (forward discount)
Potongan tipe ini merupakan kombinasi antara potongan kontan dengan potongan musiman. Misalnya pabrik peralatan memancing mencari pesanan daripada grosir dan pengecer selama musim salju. Tetapi tagihan akan diberikan tanggal 1 April tahun depan, kondisinya 2/10 dan n/30. Pesanan yang diberikan dalam musim dingin ini (Desember/Januari) membantu effisiensi operasi produksi perusahaan. Tagihan yang diberi catatan maju (tagihan mundur) memungkinkan pengecer menunggu membayar hutangnya setelah musim salju tiba dan beberapa barang mulai laku.
f. Kelonggaran promosi (promotional allowances)
Kelonggaran promosi merupakan potongan harga yang diberikan oleh penjual sebagai imbalan promosi yang dilakukan oleh pembeli. Misalnya pabrik alat-alat besar bangunan membeli beberapa jenis barang gratis untuk para penyalur sebagai imbalan pemeragaan produk eceran teratur. Atau pabrik akan menanggung 50% biaya iklan toko pengecer yang mengiklankan produknya.
Dari uraian di atas disimpulkan bahwa jenis potongan harga dapat digunakan sesuai dengan jenis perusahaan dalam memilih jenis potongan harga.
5. Tujuan Penetapan Harga
Tujuan penetapan harga perlu ditentukan terlebih dahulu, karena tujuan perusahaan dapat tercapai. Hal ini penting karena tujuan perusahaan merupakan dasar atau pedoman bagi perusahaan dalam menjalankan kegiatan pemasaran termasuk kebijakan penetapan harga. Tujuan ini berasal dari perusahaan itu sendiri yang selalu berusaha menetapkan harga barang dan jasa setepat mungkin.
Adapun dari penetapan harga menurut Assauri (2004:204):
a. Memperoleh laba yang maksimum
b. Mendapatkan share pasar tertentu
c. Memerah pasar (market skimming)
d. Mencapai tingkat hasil penerimaan penjualan maksimum pada waktu itu.
e. Mencapai keuntungan yang ditargetkan
f. Memproduksikan produknya.

6. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Harga

Dalam kenyataan, tingkat harga yang terjadi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Swastha (2002:242) antara lain:
a. Keadaan perekonomian
b. Penawaran dan permintaan
c. Elastisitas permintaan
d. Persaingan
e. Biaya
f. Tujuan perusahaan
g. Pengawasan pemerintah

D. Tinjauan Tentang Periklanan
1. Pengertian periklanan
Di dalam dunia periklanan yang semakin modern, tingkat persaingan antar perusahaan saling berlomba untuk menjual hasil produksi sebanyak-banyaknya. Dengan demikian perusahaan dituntut untuk meningkatkan pemasaran. Adapun alat pemasaran yang sering digunakan adalah periklanan, karena periklanan merupakan kegiatan penawaran kepada suatu kelompok masyarakat baik secara lisan atau dengan penglihatan (berupa berita) tentang suatu produk, jasa atau ide.
Menurut Ranupandojo, (2006:44), pengertian periklanan adalah:
Periklanan adalah penyebaran atau pemberitaan secara terbuka baik secara tergambar atau secara tertulis/lisan melalui tempat/ruang/ waktu/lain-lain alat penghubung (media) untuk pengenalan, pemberitahuan, membujuk untuk berbuat atau percaya pada satu hal.

Menurut pendapat Swastha (2002:35) adalah:
Periklanan adalah suatu pesan yang sengaja tertentu dan disampaikan melalui beberapa media komunikasi massa. Periklanan adalah komunikasi persuasif, periklanan tidak netral; periklanan tidak bias; periklanan mengatakan, “saya akan menjual kepada anda sebuah produk atau gagasan”. Dalam banyak hal, periklanan merupakan bentuk propaganda yang paling jujur dan terus terang.

Dari uraian di atas dapat diringkas sebagai berikut: periklanan adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mempengaruhi konsumen dan tujuan dari periklanan adalah untuk meningkatkan volume penjualan.
2. Tujuan periklanan dan fungsi periklanan
Tujuan periklanan yang nyata adalah mengadakan komunikasi secara efektif, yang menjadi sasaran dalam periklanan adalah masyarakat atau pasar, jadi bukannya seorang individu. Dengan adanya periklanan yang baik maka masyarakat yang menerima berita atau iklan tersebut akan dapat terpengaruh dan ingin merubah sikap atau tingkah laku mereka.
Adapun tujuan periklanan menurut Swastha (2002:223) adalah sebagai berikut:
a. Mendukung program personal selling dan kegiatan promosi yang lain.
b. Mencapai orang-orang yang tidak dapat dicapai oleh salesman dalam jangka waktu tertentu.
c. Mengadakan hubungan dengan para penyalur
d. Memasuki daerah pemasaran baru

Menurut Swastha, (2002:369) tujuan periklanan bagi suatu barang akan sangat tergantung pada tahapan yang ada pada siklus kehidupan produk (product life cycle), biasanya periklanan produk ini dilakukan untuk:
“a. Memberi kesadaran pada pembeli tentang adanya produk baru
b. Mendorong distribusi merk baru
c. Menunjukkan kepada pembeli dengan suatu alasan bagi produk tersebut.”

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari periklanan adalah untuk meningkatkan permintaan bagi produk. Permintaan dapat ditingkatkan dengan cara: menaikkan jumlah pembeli atau menaikkan penggunaan barang diantara pembeli yang ada:
Beberapa fungsi periklanan di dalam pemasaran produk perusahaan menurut Swastha, (2002:246), antara lain adalah:
a. Memberikan informasi
b. Membujuk atau mempengaruhi
c. Menciptakan kesan (image)
d. Memuaskan keinginan
e. Periklanan merupakan alat komunikasi

Untuk lebih jelasnya fungsi-fungsi periklanan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Memberikan informasi

Periklanan dapat memberikan informasi yang lebih banyak, baik tentang harganya atau informasi lainnya yang mempunyai kegunaan bagi konsumen. Nilai yang diciptakan oleh periklanan tersebut dinamakan faedah informasi pada orang yang tidak mengetahui banyak tentang suatu barang. Kadang-kadang dijumpai bahwa pembeli memasang iklan untuk mencari barang yang mereka butuhkan dan penjual memasang iklan untuk berusaha menjual barangnya. Dengan demikian periklanan menyediakan suatu alat bagi penjual juga pembeli memberitahukan kepada pihak lain tentang kebutuhan dan keinginan mereka. Sehingga kebutuhan dan keinginan tersebut dapat dipenuhi dengan mengadakan pertukaran yang memuaskan.
b. Membujuk atau mempengaruhi

Periklanan tidak hanya bersifat memberitahu saja, tetapi juga membujuk terutama kepada pembeli-pembeli potensial dengan menyatakan bahwa suatu produk yang lain. Dalam hal ini, periklanan yang bersifat membujuk lebih baik dipasang pada media seperti televisi atau majalah. Umumnya orang tidak ingin atau didorong untuk membeli produk yang sudah ada, namun jelas sangat memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka. Tetapi apabila ada dua produk yang sejenis, penjual akan mengeluarkan lebih banyak waktu dan tenaga untuk membujuk agar orang percaya bahwa produknya lebih baik dari produk lain.
c. Menciptakan kesan (image)

Dengan memasang iklan, orang akan mempunyai kesan tertentu tentang apa yang diiklankan. Dalam hal ini pemasang iklan selalu berusaha untuk menciptakan iklan yang sebaik-baiknya, misalnya dengan menggunakan warna, ilustrasi, bentuk dan tampilan yang menarik. Kadang-kadang pembelian suatu barang lebih terdorong untuk mempertahankan atau meningkatkan gengsi seperti pembelian mobil, rokok, rumah yang megah dan sebagainya. Dari segi lain, periklanan juga dapat menciptakan kesan pada masyarakat untuk melakukan pembelian secara rasional dan ekonomis.
d. Memuaskan keinginan

Sebelum memilih dan membeli produk, kadang-kadang orang ingin diberitahu terlebih dahulu misalnya tentang gizi, vitamin, dan harga pada sebuah makanan yang paling baik untuk keluarga. Periklanan adalah suatu alat untuk membuka suatu komunikasi dua arah antara penjual dan pembeli, sehingga keinginan mereka dapat terpenuhi dengan cara efisien dan efektif. Dalam hal ini komunikasi dapat menunjukkan cara-cara untuk mengadakan hubungan yang saling memuaskan.
e. Periklanan merupakan alat komunikasi
Periklanan adalah suatu alat untuk membuka komunikasi dua arah antara penjual dan pembeli, sehingga keinginan mereka dapat terpenuhi dengan cara yang efisien dan efektif. Dalam hal ini komunikasi dapat menunjukkan cara-cara untuk mengadakan pertukaran yang saling memuaskan misalnya untuk mencari pekerjaan, mencari barang yang hilang, mengemukakan keluhan-keluhan karena tidak sesuai barang tersebut dengan apa yang sebenarnya dan sebagainya. Dengan iklan semacam ini dapat memberikan kemungkinan kepada orang lain untuk menghubungi yang bersangkutan, sehingga akan terjadi pembicaraan dua pihak.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa kelima fungsi periklanan tersebut sangat penting di dalam memasarkan produk perusahaan, karena berhasil tidaknya suatu produk juga sangat tergantung kepada iklan yang dibuat.
3. Macam-Macam Periklanan
Beberapa macam cara dalam periklanan dapat digolongkan atas dasar penggunaannya oleh pimpinan, karena perbedaan tersebut tergantung pada tujuan perusahaan dalam program periklanan. Menurut Swatha (2002:249) ada 4 macam periklanan yaitu:
a. Periklanan barang
1) Primary demand advertising
2) Selektif demand advertising
b. Periklanan kelembagaan
1) Patronage institutional advertising
2) Publik relation institutional advertising
c. Periklanan nasional, regional dan lokal
1) Periklanan nasional
2) Periklanan regional
3) Periklanan lokal
d. Periklanan pasar
1) Consumer Advertising
2) Trade Advertising
3) Industrial Advertising

Untuk lebih jelasnya macam periklanan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Periklanan barang (product advertising)
Dalam advertising barang, pemasangannya dinyatakan kepada pasar tentang produk yang ditawarkan. Advertising ini dibagi menjadi dua bagian yaitu :
1) Primary demand advertising
Merupakan periklanan yang berusaha mendorong permintaan untuk jenis produk secara keseluruhan tanpa menyebutkan merk atau nama produsen.
2) Selektif demand advertising
Cara ini sama dengan primari demand advertising hanya perbedaannya dalam selektif demand. Periklanan menyebutkan nama merk barang yang ditawarkan.
b. Periklanan kelembagaan
Hal ini dilakukan untuk menimbulkan rasa simpati terhadap penjual dan ditujukan untuk menciptakan goodwill kepada perusahaan.
Sedang periklanan kelembagaan perusahaan ini digolongkan menjadi :
1) Patronage institutional advertising
Dalam advertising ini penjual berusaha untuk mengikat konsumen dengan menyatukan suatu motif membeli kepada penjual dan bukannya motif produk tertentu.
2) Public relation institutional advertising
Cara ini dipakai untuk membuat pengertian yang baik tentang perusahaan kepada karyawan, pemilik perusahaan atau masyarakat.
3) Public service institusional advertising
Periklanan ini menggambarkan tentang suatu dorongan kepada masyarakat untuk menggunakan kendaraan dengan hati-hati. Disini perusahaan asuransi jiwa dapat membantu dengan memberikan petunjuk kepada masyarakat dalam memilih kendaraan.
c. Periklanan nasional, regional dan lokal
1) Periklanan nasional
Merupakan advertising yang biasanya disponsori oleh produsen dengan distribusi nasional.
2) Periklanan regional
Adalah advertising yang terbatas di daerah tertentu dari sebuah negara.
3) Periklanan lokal
Biasanya dilakukan pengecer dan ditujukan kepada pasar lokasi saja.
4) Periklanan pasar
Periklanan yang didasarkan pada jenis atau sifat pasar. Jadi yang dilakukan di sini tergantung pada sasaran yang dituju, apakah konsumen peranan pedagang atau pemakai industri di mana jenis advertising ini adalah :
a) Consumer Advertising
Yaitu jenis periklanan yang langsung ditujukan kepada konsumen
b) Trade Advertising
Yaitu jenis periklanan yang ditujukan kepada perantara pedagang terutama pengecer.
c) Industrial Advertising
Yaitu jenis periklanan yang ditujukan kepada pemakai industri
4. Pemilihan Media Periklanan
Di dalam usaha mempromosikan barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan, dapat dilakukan dengan suatu media periklanan. Dimana pihak manajemen dihadapkan pada masalah pemilihan media yang akan dipakai. Masalah ini sangat penting karena tidak semua media dapat digunakan. Namun ada juga media yang sesuai untuk dipakai untuk mengiklankan hampir semua barang yaitu surat kabar.
Menurut Swatha (2002:253), faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pemilihan media yang akan digunakan untuk periklanan adalah:
a. Tujuan periklanan
b. Sirkulasi media
c. Keperluan berita
d. Waktu dan lokasi di mana keputusan membeli dibutuhkan
e. Biaya advertising
f. Kerjasama dan bantuan promosi yang ditawarkan oleh media
g. Karakteristik media
h. Kebaikan dan keburukan media

Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut:
a. Tujuan periklanan
Dari beberapa tujuan periklanan yang ada misalnya perusahaan mengutamakan kecepatan sampainya berita kepada masyarakat atau pasar di luar waktu yang relatif pendek, satu atau dua hari. Untuk mencapai tujuan tersebut akan lebih tepat apabila perusahaan radio atau surat kabar sebagai media periklanan.
b. Sirkulasi media
Sirkulasi media yang akan dipakai harus sesuai atau seluas pola distribusi produksinya, apabila distribusi produknya hanya meliputi daerah lokal saja, maka iklan yang diperlukan cukup dipasang pada media yang memiliki sirkulasi daerah lokal tersebut. Dari segi lain untuk produk-produk yang dipasarkan pada segmen pasar tertentu, misalnya produk untuk wanita dapat diiklankan melalui majalah kewanitaan.
c. Keperluan berita
Ada beberapa produk yang dalam periklanannya perlu disertai dengan gambar tidak hanya tulisan saja. Jadi berita yang harus disampaikan ditangani dengan gambar. Misalnya iklan untuk kursi, meja, lemari dan rumah dan sebagainya.
d. Waktu dan lokasi
Dimana keputusan membeli dibuat faktor waktu dan tempat dimana keputusan membeli dibuat juga memberikan pengaruh dalam pemilihan media yang akan digunakan. Sering terjadi bahwa setelah seseorang melihat sebuah iklan. Kemudian dalam jangka waktu yang pendek mengambil keputusan untuk membeli. Perlu pula diperhatikan bahwa keputusan yang diambil tidak selalu terjadi di rumah. Tetapi dapat terjadi di jalan, di kantor atau tempat lain, misalnya untuk film iklan, manajemen dapat memilih surat kabar sebagai media periklanannya karena mudah sekali dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan melihat iklan film di surat kabar yang dipasang di tepi jalan seseorang yang ingin melihat film akan cepat mengambil keputusan tentang film mana yang akan dilihat.
e. Biaya advertising
Pertimbangan biaya ini dihubungkan dengan jumlah dana yang tersedia dan sirkulasi media yang akan digunakan. Makin luas sirkulasi media tersebut, makin tinggi pula biaya pemasangan iklan. Namun tingginya biaya tersebut diimbangi dengan makin banyaknya jumlah pembaca atau pendengar yang dapat dicapai diharapkan jumlah pembelinya akan semakin besar.
f. Kerjasama dan bantuan promosi yang ditawarkan oleh media
Pada umumnya manajemen lebih condong untuk memilih media yang tersedia mengadakan kerjasama yang baik dan memberikan bantuan promosi yang lebih besar, kerjasama tersebut dapat dilakukan secara terus menerus dengan memberikan kesempatan pembayaran biaya advertensi kepada perusahaan dalam jangka waktu yang lebih lama.
g. Karakteristik media
Untuk mengambil keputusan tentang media yang akan dipilih, perlu dipertimbangkan karakteristiknya. Misalnya radio yang merupakan media yang menimbulkan keinginan, melalui telinga, sedangkan surat kabar merupakan media yang dapat menimbulkan keinginan melalui mata. Apabila iklan yang disiarkan memerlukan pendengaran seperti iklan lagu-lagu, maka media yang lebih cepat adalah radio atau televisi atau slide di bioskop. Adapun karakteristik lainnya adalah fleksibel, keawetan dan mutu produksinya.
h. Kebaikan dan keburukan media
Faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan media ini adalah faktor kebaikan dan keburukan dari media yang akan digunakan. Adapun kebaikan-kebaikan serta beberapa keburukan media-media yang ada adalah sebagai berikut:
1) Surat kabar
Kebaikan
a. Biayanya relatif tidak mahal
b. Sangat fleksibel
c. Dapat dinikmati lebih lama
Keburukan:
a. Mudah diabaikan
b. Cepat basi
2) Majalah
Kebaikan:
a) Dapat dinikmati lebih lama
b) Pembacanya lebih selektif
c) Dapat mengemukakan gambar yang menarik
Keburukan:
a) Biayanya relatif tinggi
b) Fleksibilitasnya rendah
3) Televisi
Kebaikan:
a) Dapat dinikmati oleh siapa saja
b) Waktu dan acara siarannya sudah tertentu
c) Dapat memberikan kombinasi antara suara dengan gambar yang menarik.
Keburukan:
a) Biayanya relatif tinggi
b) Hanya dapat dinikmati sebentar
c) Kurang fleksibel
4) Radio
Kebaikan:
a) Biayanya relatif rendah
b) Dapat diterima oleh siapa saja
c) Dapat menjangkau daerah yang luas
Keburukan:
a) Waktu yang terbatas
b) Tidak dapat mengemukakan gambar
c) Pendengar sering kurang mendengarkan secara penuh karena sambil melakukan pekerjaan lain
5) Masih banyak lagi media-media periklanan yang lain seperti : direct mail (kartu pos), buku kecil, surat edaran dan Sut door (spanduk, papan reklame dan lain sebagainya).
Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut telah jelaslah faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan periklanan dan pada kesimpulannya adalah sebagai berikut:
a) Bagaimana cara periklanan yang dilakukan dapat menjadi sasaran calon konsumen.
b) Sampai dimana sasaran yang dapat dicapai oleh aktivitas perusahaan.
c) Sampai seberapa jauh efektivitas dari masing-masing media tersebut, terdapat produk yang terserap dari periklanan tersebut terhadap sasarannya yaitu berita yang disajikan dan strategi bersaing dalam periklanan.
d) Biaya-biaya media yang ditempuh tergantung dari media yang dipakai dengan memakai frekuensi yang tinggi, berarti biaya yang dipergunakan besar.
E. Konsep Penjualan
Menurut Sigit (2005:55): “Penjualan adalah sasaran inti di antara kegiatan-kegiatan lainnya, sebab disini dilakukan perundingan persetujuan tentang serah terima barang serta pembayaran”.
Menurut Kotler, (2002:16): “Konsep penjualan menyatakan bahwa konsumen jika diabaikan biasanya tidak akan membeli produk organisasi dalam jumlah cukup. Karena itu organisasi harus melakukan usaha penjualan dan promosi yang agresif.”
Konsep ini mengasumsikan bahwa konsumen malas atau enggan melakukan pembelian dan untuk itu harus didorong. Juga diasumsikan bahwa perusahaan memiliki cara penjualan dan peralatan promosi yang efektif untuk merangsang lebih banyak pembelian.
F. Hubungan kebijakan harga dan periklanan dengan tingkat Volume Penjualan
Sedangkan konsep penjualan sendiri adalah bahwa konsumen jika diabaikan biasanya tidak akan membeli produk organisasi dalam jumlah cukup. Karena itu organisasi harus melakukan usaha penjualan dan promosi yang agresif.” (Kotler, 2000:16).
Dengan demikian hubungan antara bauran pemasaran dengan penjualan jelas bahwa varibel harga dalam hal ini adalah potongan harga yang diberikan dan promosi dalam hal ini periklanan yang dilakukan sangat berperan untuk kelangsungan penjualan perusahaan karena penjualan tanpa adanya bauran pemasaran tidak akan terjadi suatu penjualan.
Seperti halnya hukum permintaan apabila harga produk atau barang naik maka permintaan akan produk atau barang akan menurun. Demikian pula sebaliknya apabila harga produk atau barang turun dalam hal perusahaan memberikan potongan harga maka permintaan akan bertambah banyak. Begitu pula pada bauran pemasaran apabila variabel bauran pemasaran (periklanan dan kebijakan harga) tidak dilakukan dengan baik maka penjualan akan turun begitu pula sebaliknya.
G. Hipotesis
Hipotesis ini merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya masih harus diuji secara empiris.
Menurut Sugiyono (2004:57) : “Hipotesa adalah pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan masih perlu dibuktikan kenyataannya”. Dari pendapat tersebut, maka suatu hipotesis yang dikemukakan nantinya bukanlah suatu jawaban yang benar secara mutlak, tetapi dipakai sebagai jalan untuk mengatasi permasalahan yang ada, dan masih harus dibuktikan kebenarannya.
Dari perumusan masalah, tujuan penelitian, landasan teori dan telah dijelaskan di atas, maka dapat ditarik hipotesis sebagai berikut:
1.Diduga bahwa bauran pemasaran kebijakan harga dan periklanan berpengaruh signifikan terhadap Volume Penjualan Pada Perusahaan Raket Abadi Malang
2.Diduga bahwa variabel kebijakan harga mempunyai pengaruh dominan terhadap Volume Penjualan Pada Perusahaan Raket Abadi Malang
BAB III METODE PENELITIAN…… dst

BAB III METODE PENELITIAN…… dst

(MOHON MAAF!! TAMPILAN TABEL, GAMBAR, DAN RUMUS MENGGUNAKAN EQUATION KESULITAN UNTUK BISA DI UPLOAD)
KLIK DISINI UNTUK SYARAT MENDAPATKAN 100% GRATIS

PROPOSAL LENGKAP DALAM FORM PDF/WORD

JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 08 adalah salah satu contoh JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 08 kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 08 untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 08 full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 08 dalam bentuk PDF secara gratis.

jurnal masalah penglihatan, jurnal manajemen olahraga, jurnal skripis gizi ikan lele, judul skripsi pengenalan pola, proposal kerja sama distribusi