Browsing Category: "Skripsi"

Liber Abaci dan Sistem Angka Arab

18th December 2012 Cat: Skripsi with Comments Off

Liber Abaci dan Sistem Angka Arab adalah salah satu contoh Liber Abaci dan Sistem Angka Arab kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Liber Abaci dan Sistem Angka Arab untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload Liber Abaci dan Sistem Angka Arab full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan Liber Abaci dan Sistem Angka Arab dalam bentuk PDF secara gratis.


Judulnya Liber Abaci. Buku ini demikian terkenal, khususnya di bidang matematika. Penulisnya adalah ahli matematika asal Italia, Leonardo of Pisa — yang kemudian lebih dikenal dengan julukan Fibonacci.

Sejarah mencatat, karya yang dibuat tahun 1202 ini merupakan salah satu yang paling fenomenal dan berpengaruh dalam kajian ilmu aritmatika. Di sini, Fibonacci memperkenalkan kepada Eropa metode penghitungan angka Arab yang dia pelajari di Bejaja (Bougie), Afrika Utara. Akan tetapi sesungguhnya Liber Abaci bukanlah buku Barat pertama yang mengungkap tentang ilmu hitung Arab. Namun dengan menekankan pada fungsi praktis untuk bidang perdagangan — dari sekadar tinjauan akademik — maka buku itu dapat dengan cepat meyakinkan publik akan pentingnya sebuah sistem baru.

Yang perlu dicatat, dari zaman dahulu hingga awal masa modern, sistem angka Arab hanya digunakan oleh para ahli matematika. Ilmuwan Muslim menggunakan sistem angka Babilonia, serta kalangan pedagang memakai sistem angka Yunani dan juga Yahudi. Namun setelah kemunculan buku Fibonacci, sistem angka dan penghitungan Arab pun dipakai secara luas.

Padahal, Fibonacci hanya menjadi ‘penyambung lidah’ Mohammad bin Musa al-Khawarizmi, filsuf asal Khawarizm, Iran, yang juga dikenal sebagai ahli matematika, astronomi, dan geografi pada zamannya. Sistem notasi desimal yang dikembangkannya inilah yang digunakan oleh Fibonacci untuk menyususn karya monumentalnya itu.

Setidaknya ada empat bagian penting dalam buku Liber Abaci. Bagian pertama yakni pengenalan sistem angka Arab. Bagian kedua menyajikan contoh-contoh bidang perniagaan, seperti pertukaran mata uang serta penghitungan rugi laba. Bagian ketiga berisi diskusi menyangkut persoalan matematika. Dan bagian terakhir berupa sistem taksiran, baik dari urutan angka maupun geometri. Tak hanya itu, buku ini juga memasukkan metode geometri Euclidea serta persamaan linear simultan.

Angka Arab sudah lama dipergunakan sebagai simbolisasi penomoran atau penghitungan. Sistem ini terdiri dari 10 angka dengan bentuk yang berbeda-beda. Angka yang berada di sisi paling kiri punya nilai paling tinggi. Pada perkembangan selanjutnya, sistem angka Arab ini memakai pula tanda desimal serta tanda pengkalian dua. Al-Khawarizmi lah salah seorang penggagasnya. Dari waktu ke waktu, variasi juga kian bertambah. Pada bentuk yang lebih modern, sistem angka Arab dapat merepresentasi setiap angka rasional dengan 13 tanda (10 digit, tanda desimal, tanda bagi, tanda strip di depan untuk menandakan angka negatif dan sebagainya).

Penting pula dicatat, seperti halnya sistem angka yang lain, angka 1,2 dan 3 ditunjukkan dengan penandaan sederhana. 1 ditandai dengan satu garis, 2 dengan dua garis (sekarang dihubungan dengan diagonal) dan 3 dengan tiga garis (dihubungkan dengan dua garis vertikal). Setelah ketiganya, maka angka berikut memakai simbol yang lebih kompleks. Para ahli memperkirakan, hal ini dikarenakan semakin sulit untuk menghitung objek lebih dari tiga.

Secara keseluruhan, sistem angka Arab terbagi atas dua kelompok angka yakni sistem angka Arab Barat (west Arabic numerals) dan sistem angka Arab Timur (east Arabic numerals). Sistem angka Arab Timur banyak dipergunakan di wilayah negara Irak — dalam tabel dicantumkam pada Arabic-Indic. Arab-Indic Timur merupakan variasi lebih lanjut dari angka Arab Timur. Sementara angka Arab Barat dipakai di Andalusia (Spanyol) dan kawasan Maghribi — contoh angka dalam tabel pada bagian Eropa.

Di negara Jepang, angka Arab dan angka Romawi keduanya dipakai pada sistem yang bernama romaji. Jadi, jika nomor ditulis dalam angka Arab, mereka mengatakan “ini ditulis dengan romaji” (tidak sama dengan angka Jepang). Itu kemudian diterjemahkan sebagai ‘karakter Romawi’ sehingga agak membingungkan bagi mereka yang mengenal angka Romawi.

Sistem angka Arab diakui sebagai salah satu paling berpengaruh pada bidang matematika. Para ahli sejarah sepakat bahwa angka tersebut berawal dari India. Terlebih setelah orang Arab sendiri menyebut angka yang mereka gunakan sebagai ‘angka India’ atau arqam hindiyyah. Itu kemudian ditransfomasikan di dunia Islam sebelum tersebar melalui Afrika Utara, Spanyol, dan akhirnya sampai ke Eropa.

Bukti sejarah mengemukakan angka 0 sudah dipergunakan pula di India sejak tahun 400 masehi. Kode angka Aryabhata telah menerangkan secara lengkap mengenai simbol angka 0. Juga pada masa pemerintahan Bhaskara I (abad 7 masehi) dasar sistem 10 angka sudah dipergunakan secara luas di negara tersebut serta pengenalan konsep angka 0.

Sistem angka tersebut sampai ke Timur Tengah pada tahun 670. Ketika itu para ahli matematika Muslim yang banyak berkiprah di Irak, semisal al-Khawarizmi, sudah mengenal sistem angka Babilonia yang juga memakai 0 digit, hingga pengenalan sistem dari India tersebut tidak perlu memakan waktu terlalu lama. Lantas pada abad 10, ilmuwan Arab meningkatkan sistem angka desimal berikut pecahan, seperti tercatat dalam karya Abu’l-Hasan al-Uqlidisi tahun 952-953.

( yus/berbagai sumber )

Sumber: Republika Online

Liber Abaci dan Sistem Angka Arab adalah salah satu contoh Liber Abaci dan Sistem Angka Arab kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Liber Abaci dan Sistem Angka Arab untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload Liber Abaci dan Sistem Angka Arab full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan Liber Abaci dan Sistem Angka Arab dalam bentuk PDF secara gratis.

contoh tesis perniagaan, contoh pengenalan tesis sejarah, contoh judul skripsi budaya jepang UPI, Karya ilmiah remaja tentang upacara ngaben di Bali, contoh presentasi tesis

”Meramal” Masa Depan dengan Matematika

18th December 2012 Cat: Skripsi with Comments Off

”Meramal” Masa Depan dengan Matematika adalah salah satu contoh ”Meramal” Masa Depan dengan Matematika kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online ”Meramal” Masa Depan dengan Matematika untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload ”Meramal” Masa Depan dengan Matematika full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan ”Meramal” Masa Depan dengan Matematika dalam bentuk PDF secara gratis.

MATEMATIKA? Bidang studi yang satu ini hingga kini masih dianggap hantu yang menakutkan bagi anak-anak, bahkan orang dewasa sekalipun, kendati tanpa alasan yang jelas. Kondisi ini diperparah dengan sosok guru yang tidak bersahabat dengan mereka. Maka tidaklah berlebihan manakala ujian tiba hasilnya kurang memuaskan jika kita tidak mau mengatakan gagal total.

Di lain pihak, matematika dianggap bidang studi yang sangat diperlukan bagi kelangsungan hidup. Matematika adalah dasar segala dasar untuk memudahkan belajar bidang studi lain. Memang demikian keadaannya, seseorang yang telah menguasai matematika akan mudah mempelajari hal lainnya. Akan tetapi selalu saja anak atau peserta didik merasa tidak nyaman.

Melihat gelagat demikian tentunya kita tidak boleh diam, solusi apa yang dapat memberikan angin kesegaran bagi peserta didik. Paling tidak membuat anak-anak kita tetap berkutat dengan bidang studi yang satu ini. Toh dari dulu hingga sekarang belajar adalah “mainan” yang menyenangkan bagi anak-anak. Belajar adalah gula-gula yang setiap saat didambakan. Belajar adalah pengalaman yang menakjubkan bagi semua orang.

Anak akan terus beranggapan demikian, kecuali jika orang dewasa berhasil meyakinkan bahwa belajar adalah racun bagi kehidupan. Tentu ini tidak diinginkan bukan? Yang jelas kondisi ini akan tetap menyenangkan mana kala peserta didik terlibat di dalamnya. Toh belajar bukanlah satu arah, di mana anak harus dicekoki dengan berbagai macam teori atau rumusan. Tetapi belajar adalah permainan yang menggairahkan, belajar adalah saripati kehidupan di mana dan kapan pun berada.

Kita sebagai orang tua tentunya akan sependapat seperti itu. Yang jelas formula apa yang dapat membangkitkan anak-anak kita mampu keranjingan dengan matematika. Toh berbagai macam metode maupun jurus sudah dikerahkan, tetapi tetap saja peserta didik menganggap pelajaran ini penghambat kemajuan.

Meramal masa depan

Belakangan ini penulis sering diminta memberikan formula “jitu” bagaimana caranya menumbuhkembangkan anak-anak agar mencintai matematika. Tentu permintaan ini tidak berlebihan setelah mereka, khususnya orangtua peserta didik merasakan anaknya tidak lagi mengeluh ataupun takut. Malahan mereka hampir setiap melakukan kegiatan dihubung-hubungkan dengan matematika. Salah satunya tatkala penulis memberikan permainan yang mampu membuat mereka berkutat dan tersenyum gembira dengan pelajaran ini.

Yang lebih mengesan lagi laporan dari orang tua, bahwa anak-anak mereka hampir setiap orang yang ada di rumah ataupun yang dikenal dengan pasti akan diramal dengan matematika. Pendek kata, mereka tidak lagi alergi dengan pelajaran yang satu ini.

Ada pun yang penulis sodorkan kepada peserta didik ketika itu dengan memberikan permainan yang diberi judul “Meramal masa depan”. Memang bisa kita meramal dengan matematika? Pertanyaan ini sering dilontarkan oleh anak-anak ketika penulis mengawali pelajaran ini. Dengan senyum penulis katakan, kenapa tidak? Tidak percaya, mari kita buktikan apa ramalan yang dimaksud.

Pertama-tama kita membuat tabel seperti di bawah ini:

Setelah membut tabel tersebut barulah kita meramal. Caranya? Misalnya begini, nama penulis Drajat. Kemudian, huruf-hurufnya kita beri nilai sesuai dengan tabel. D=4, R=18, A=1, J=10, A=1, T=20. Selanjutnya, angka itu dijumlahkan secara berurut, 4+18+1+10+1+20= 54. Angka hasil adalah 54 merupakan kunci ramalannya. Kemudian, kita lihat angka 54 ini berada di posisi profesi mana. Ternyata angka 54 menduduki posisi sebagai penulis.

Contoh ramalan lainnya misalkan Nabila Az-Zahra. N=14, A=1, B=2, I=9, L=12, A=1, A=1, Z=26, Z=26, A=1, H=8, R=18, A=1. Jumlahnya, 14+1+2+9+12+1+1+26+26+1+8+18+1=120. Angka 120 menduduki profesi ilmuwan.

Mudah, bukan? Supaya lebih seru lagi dalam permainan ramalan ini kita dapat mempraktikkannya dengan mimik muka yang serius. Perlihatkanlah bahwa kita benar-benar seorang peramal masa depan. Sebagai catatan, jika dalam tabel tersebut hanya sampai bilangan 208, kita dapat meneruskannya sampai tak terhingga. Ini bergantung pada kita, sampai angka berapa yang dikehendaki.

Dari uraian di atas semakin jelaslah bahwa dengan memberikan stimulus semacam begitu ternyata mampu memberikan angin kesegaran, kegembiraan, kenyamanan dan setumpuk motivasi lainnya bagi peserta didik. Tak percaya? Silakan praktikkan pengalaman penulis tersebut.

Sebagai catatan terakhir, penulis yakin masih banyak cara menuju keberhasilan. Sayang bukan, jika bidang studi yang terus digembar-gemborkan ini harus dibiarkan begitu saja. Ya, boleh dibilang matematikaku sayang matematikaku malang. Yang jelas adakah niat baik dari semua pihak untuk kembali bertanggung jawab terhadap anak didik kita? Sekecil apa pun yang kita berikan adalah mutiara terbaik. Insya-Allah, Tuhan akan mencatatnya sebagai amalan yang tidak ada bandingnya. Amin.***

Oleh: Drajat, penggagas petualangan matematika, pengarang buku “Matematika yang Menajubkan” dan salah satu penulis terbaik “Buku Matematika SD” Pusbuk 2003

Sumber: Republika Online

”Meramal” Masa Depan dengan Matematika adalah salah satu contoh ”Meramal” Masa Depan dengan Matematika kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online ”Meramal” Masa Depan dengan Matematika untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload ”Meramal” Masa Depan dengan Matematika full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan ”Meramal” Masa Depan dengan Matematika dalam bentuk PDF secara gratis.

john maspupu, pengertian Periode tentative, skripsi teori permainan, jurnal profesionalisme kepolisian republik indonesia, tugas makalah desain s2

Sastra Madura & Kekerasan

17th December 2012 Cat: Skripsi with Comments Off

Sastra Madura & Kekerasan adalah salah satu contoh Sastra Madura & Kekerasan kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Sastra Madura & Kekerasan untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload Sastra Madura & Kekerasan full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan Sastra Madura & Kekerasan dalam bentuk PDF secara gratis.

Sastra Madura yang penuh dengan pesan, kesan, kritik dan ajaran-ajaran sempat lenyap dari permukaan , di masa lampau sastra lisan madura sangat diminati oleh masyarakat dari kalangan grass root (rakyat jelata) sampai kalangan elit (kraton), karena dengan sastra tersebut rakyat madura dapat mengeskpresiankan diri, menyampaikan pesan moral, gejolak hati, ajaran agama. Orang Madura yang terkenal keras menghadapi hidup, maju menentang arus, masih sempat untuk mendendangkan sastra –sastra, dengan kondisi geokrafis yang panas, ombak lautan yang garang, maka sastra-satranya penuh dengan motifasi, pesan ajaran yang ketat.

Di antara sastra Madura yang sangat di gemari antara lain, dongeng, lok-olok, syi’ir, tembang, puisi mainan anak-anak. Dungeng madure adalah cerita atau kisah yang di ambil dari cerita-cerita rakyat madura, yang mengandung beberapa pesan, dan harapan. Dongeng ini sering di dendangkan dalam pengajian, perkumpulan-perkumpulan. Sehingga hal tersebut di anggap primer dalam menumbuhkan kembangkan tradisi-tradisi yang ada dipulau madura. Dan dongeng tersebut merupakan cermin kehidupan pada masa lampau. Sedangkan Syi’ir merupakan untaian kata-kata indah, dengan susunan kalimat-kalimat yang terpadu. Biasanya syi’ir ini di baca di pesantren-pesanten, majlis ta’lim, dan walimatul urs. Tembeng tidak jauh berbeda dengan syi’ir, biasanya tembang di baca ketika punya hajat atau akan mengawinkan anaknya, yang di baca oleh dua orang atau lebih sepanjang malam.

Sastra Madura yang akhir-akhir ini, disinyalir semakin melemah karena publik kurang memperhatikan sebagai mana diungkapkan oleh Prof Dr Suripan sadi Hotomo “Sastra Madura (modern) telah mati, sebab sastra ini tak lagi mempunyai majalah BM (Berbahasa Madura-Red). Buku-buku BM pun tak laku jual. Dan, sastra Madura tak lagi mempunyai kader-kader penulis muda, sebab yang muda-muda umumnya menulis dalam bahasa Indonesia” Meskipun demikian dewasa ini sedikit, bahkan dapat dikatakan tidak ada, yang berminat menulis sastra dalam bahasa Madura. Bahkan tokoh-tokoh sastrawan Madura, seperti Abdul Hadi WM, Moh. Fudoli, dan lain-lain lebih suka menulis dalam bahasa Indonesia. Sedangkan nama-nama penerjemah sastra Madura yang terkenal seperti SP Sastramihardja, R.Sosrodanoekoesoemo, R. Wongsosewojo kini telah tiada dan belum ada penggantinya. Mungkin hal ini merupakan sebuah proses sastra Madura sedang mengindonesiakan diri. Namun, meskipun demikian sastra Madura tidaklah lenyap dari peredaran tampa menyisakan bekas sedikitpun

Meskipun ada pendapat modern yang menyatakan bahwa sastra tidak harus menjadi cermin masyarakat, tidak dapat di buat rujukan terhadap fenomena yang berkembang dalam masyarkat tersebut, dan juga sastra bukanlah merupakan gambaran dari kehidupan yang ada pada masyarkat tersebut, namun berbeda dengan sastra Madura yang justru menjadi cermin dari kesanggupan menghadapi kehidupan; alam yang keras, panas yang menyengat, lautan yang garang, dan berbatu cadas, disinilah sastra Madura menjadi cermin kehidupan di samping sikap terhadap Tuhan yang menciptakan alam semesta.

Selama ini orang Madura yang terkenal dengan kekerasaanya, baik watak, sikap, kemauan, berpendapat, dan segala bentuk kekerasan ditujukan pada orang Madura. Sehingga image tentang Madura dihadapan publik buruk dan jauh dari sikap santun dan damai. Sastra Madura dalam hal ini sangat memberikan kesan dan peran , bahwa anggapan publik selama ini tentang kekerasan yang sering diidentikkan dengan jahat, marah, amoral, kasar, tidak bersahabat tidaklah benar. Kekerasan berbeda dengan keras, keras memang merupakan watak kebanyakan orang Madura, yang memang kondisi cultural dan geografisnya panas, ombak lautan yang garang, gunung-gunung yang terjal, bebatuan yang kokoh, menjadikan watak orang medura keras. Keras dalam hal ini, dalam kemauan, memegang prinsip, aqidah, dan keras terhadap ajaran-ajaran agama. maka sastra-satranya penuh dengan motifasi, pesan ajaran yang ketat, menentang kema’siatan, keras terhadap musuh-musuh yang mencoba menghancurkan aqidahnya. Sastra Madura (syair) , yang kebanyakan lewat pesatren dapat membuktikan bahwa isi dan kandunganya mengadung ajaran yang ketat.

Sosok Zawawi dengan celurit emasnya, mampu mengubah persepsi di hadapan publik bahwa celurit sebagai alat pembunuh menjadi alat yang bermamfaat bagi kehidupan orang Madura, yang memang menjadi ciri khas orang Madura. Yang jelas Sastra Madura mampu meluluhkan hati dan gejolak masyarakat Madura, dan menghilangkan kesan terhadap anggapan-anggapan bahwa orang Madura kasar, jahat dan amoral. Sastra yang selalu diindentikan dengan halus, indah maka demikian juga sastra Madura yang penuh dengan mutiara-mutiara kata, rangkain kalimat yang indah dan penuh dengan nuansa regilius.

Potena mata tak bisa ngobe karep
Biruna omba’ abernai kasab
Pangeran mareksane ngolapah ateh
Gelinah betoh, tebeleh bumi tak kobesa
Ngobe ngagelinah Pangeran


Halimi Zuhdi LS, Peneliti sastra, cerpenis dan Mahasiswa Pasca Sarjana PBA UIN Malang, Alumni Fakultas Humaniora Budaya, Jurusan sastra Arab UIN Malang, dan kini Ketua Linguistic and literature Malang

Sumber: Penulislepas.com

Sastra Madura & Kekerasan adalah salah satu contoh Sastra Madura & Kekerasan kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Sastra Madura & Kekerasan untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload Sastra Madura & Kekerasan full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan Sastra Madura & Kekerasan dalam bentuk PDF secara gratis.

kumpulan makalah humaniora, tesis humaniora, contoh skripsi bahasa dan sastra indonesia usu, contoh kritik jurnal, contoh skripsi tentang kantor akuntan publik 2012

Isu Kemerdekaan dalam Kesusastraan

17th December 2012 Cat: Skripsi with Comments Off

Isu Kemerdekaan dalam Kesusastraan adalah salah satu contoh Isu Kemerdekaan dalam Kesusastraan kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Isu Kemerdekaan dalam Kesusastraan untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload Isu Kemerdekaan dalam Kesusastraan full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan Isu Kemerdekaan dalam Kesusastraan dalam bentuk PDF secara gratis.

Isu kemerdekaan acapkali didengungkan di dalam sejumlah karya sastra besar sebagai pondasi cita-cita, meski imajiner. Adalah hak asasi manusia yang paling krusial, kemerdekaan diidentikkan dengan istilah kebebasan, otonomi, serta kedaulatan. Karenanya, isu ini secara luarbiasa menganut interpretasi individualistik yang menyita banyak perhatian dan pemahaman. Telah banyak kajian atas karya-karya sastra bertaraf nasional maupun internasional yang menggusung tema-tema perjuangan personal atau komunal dalam upaya memperoleh kemerdekaan bersikap, bertutur, berpikir, maupun berkeyakinan. Wilayah kajiannya secara universal mengupas tuntas dari A sampai Z tentang latar belakang sosio-historis dan kultur si penulis dan/atau si karakter untuk mendalami lebih jauh problematika keduanya dalam menegaskan ke-ada-annya (being). Subjek-subjek seperti penduduk asli benua Amerika, Kulit Hitam, dan kaum perempuan merupakan sasaran empuk untuk menandai esensialitas isu kemerdekaan dalam kesusastraan Amerika, khususnya.

Mengkaji kesusastraan Amerika takkan pernah lepas dari sejarah “berdirinya” Amerika yang hingga kini disebut-sebut sebagai kiblatnya sudut pandang dunia (world point of view). Selama ekspansi Barat pada pertengahan dan akhir 1800-an, kemerdekaan penduduk asli benua Amerika—Indian—dirampas. Sebagai peletak batu pertama di benua Amerika, orang-orang Indian meyakini bahwa Amerika adalah tanah leluhur mereka tempat kedaulatan atas segala hal yang menyangkut hidup-mati mereka ada sepenuhnya di tangan mereka. Namun, dengan kedatangan kapal-kapal Kulit Putih dan kroni-kroninya, hidup mereka tidak lagi mengabdi untuk mewujudkan harapan mereka dan melestarikan kebudayaan leluhur mereka, alih-alih mereka menjadi budak Barat. Asumsi Eropasentris, bahwa penduduk kulit berwarna adalah komunitas yang tidak beradab dan kaum barbar, dijadikan sebagai senjata ampuh untuk menjajah hak asasi mereka. Karya-karya sastra(wan) Native American seperti Almanac of the Dead-nya Leslie Marmon Silko, Power-nya Linda Hogan, dan Dark River-nya Louis Owens mendemonstrasikan kesewenang-wenangan Kulit Putih atas ketakberdayaan Kulit Berwarna.

Lebih jauh lagi, setelah benua Amerika berevolusi menjadi sebuah benua impian, serangkaian perjuangan untuk mencecap manisnya kemerdekaan diwariskan kepada para imigran yang ingin mengadu nasib mereka di Amerika. Iming-iming akan kesejahteraan, kesetaraan, dan kesempurnaan hidup “mengundang” para imigran ke Amerika untuk berduyun-duyun mengubah status dan imej sosial mereka. Hingga lahirlah generasi-generasi peranakan Afrika-Amerika, misalnya, yang diharapkan mampu merealisasikan iming-iming tersebut. Sayangnya, sejarah berkata lain. Sekali lagi, kedaulatan personal diruntuhkan oleh penghakiman berbasis rasial.

Sejarah masa lalu Kulit Hitam sebagai “generasi budak” menjadi suatu penghalang dalam upaya menyejajarkan kemerdekaan mereka dengan kemerdekaan Kulit Putih di segala aspek kehidupan. Booker T. Washington, dalam bukunya Up from Slavery yang mengisahkan pengalaman pribadinya sebagai seorang budak yang selalu dipandang sebelah mata oleh Kulit Putih, menegaskan bahwa Kulit Hitam saat ini harus bertekad kuat memperjuangkan kemerdekaan mereka. Kemudian, dalam kesempatan lain, Langston Hughes juga mencoba menunjukkan betapa kesetaraan kesempatan dan hak Kulit Hitam masih dicurangi pada zaman modern ini, meski tak dapat dipungkiri bahwa mereka juga ikut berjasa dalam keberhasilan Amerika menyandang predikat sebagai negara adikuasa. Puisinya yang berasa optimistik, “I, Too”, menggembor-gemborkan bagaimana Kulit Hitam suatu saat akan mampu duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan kolega-kolega Kulit Putihnya:

Tomorrow, I’ll sit at the table
When company comes
I too, am America.

Tak kalah radikalnya, Zora Neale Hurston, penulis wanita Afrika-Amerika, dalam salah satu karyanya yang masyhur—How It Feels to Be Colored Me—menyuarakan eksistensinya sebagai suatu fragmen dalam “Satu Jiwa Besar”, negaranya, yang akan selalu ikut andil dalam setiap gerak pembangunan. Benar atau salah, Amerika adalah tetap tanah airnya.

Tidak seperti penjajahan secara fisik yang dirasakan oleh Indian dan Kulit Putih, kaum perempuan adalah korban penjajahan secara emosional. Dalam kitab suci atau norma-norma sosial, kaum perempuan dieksekusi kebebasannya dengan tidak memberikan kesempatan bagi mereka untuk berkarya dan bersuara. Kalaupun ada yang memberanikan diri untuk mengemuka, ia dinilai sebagai pemberontak. Penulis besar seperti Kate Chopin merefleksikan isu kemerdekaan perempuan itu dalam karyanya The Awakening. Lewat karakternya, Edna, ia berusaha untuk menumbangkan seluruh ekspektasi sosial kaum perempuan dalam ruang hidupnya. Edna ingin merasa merdeka atas keluarganya, tanggung jawabnya, dan kehidupan yang ia jalani.

Secara bersamaan, peta Indonesia yang menganut pluralisme juga tak ayal bersinggungan tanpa lelah dengan isu kemerdekaan yang menjadi subject matter dalam pembahasan konflik multikultur dan masalah gender. Sejumlah penulis kondang Indonesia seperti Toety Heraty, Putu Wijaya, Remi Sylado, dan Pramoedya Ananta Toer tak putus-putusnya mengangkat esensi kemerdekaan ke permukaan. Yang terakhir, tetralogi novel yang dipublikasikannya sangatlah kental aroma postkolonialnya. Setting masa peperangan melawan penjajah, emansipasi wanita, dan perjuangan komunitas nonpribumi untuk survive di iklim kedaerahan Indonesia yang telah mengurat-akar, kesemuanya dijadikan sebagai ujung pena dalam menuliskan makna “‘tinggi” kemerdekaan lewat karya sastra.

Isu kemerdekaan dalam kesusastraan tidak akan pernah hanya mengantongi satu arti, sebab penulis—sebagai makhluk individual—memiliki keyakinan personal yang membentuk kepribadian dan kematangan dirinya. Di lain sisi, sebagai makhluk sosial, ia mau tidak mau harus berkubang dalam norma-norma yang mengelilinginya. Meski tak sehati, norma-norma itu menjejakkan pemahaman dan pengertian khusus dalam pembacaan mata-sosialnya. Intisari individualitas kemerdekaan yang dituangkan dalam buah karya setiap penulis merupakan reaksi emosinal dari pembacaan kontemplatif menyangkut lelakon hidup mereka dan realitas di sekeliling mereka.


*) Fati Soewandi, penyair dan esais, tinggal di Surabaya

Sumber: Cybersastra

Isu Kemerdekaan dalam Kesusastraan adalah salah satu contoh Isu Kemerdekaan dalam Kesusastraan kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Isu Kemerdekaan dalam Kesusastraan untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload Isu Kemerdekaan dalam Kesusastraan full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan Isu Kemerdekaan dalam Kesusastraan dalam bentuk PDF secara gratis.

makalah tentang gender dan pembangunan, jurnal tesis upn, contoh makalah tentang ekuitas, contoh cyberpower, contoh makalah uni eropa

Adakah Krisis Moralitas dalam Kesusastraan Indonesia?

16th December 2012 Cat: Skripsi with Comments Off

Adakah Krisis Moralitas dalam Kesusastraan Indonesia? adalah salah satu contoh Adakah Krisis Moralitas dalam Kesusastraan Indonesia? kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Adakah Krisis Moralitas dalam Kesusastraan Indonesia? untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload Adakah Krisis Moralitas dalam Kesusastraan Indonesia? full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan Adakah Krisis Moralitas dalam Kesusastraan Indonesia? dalam bentuk PDF secara gratis.

SELAIN bahasa yang sering disebut-sebut sebagai salah satu biang yang mengakibatkan krisis sastra masa kini di Indonesia, moralitas juga sekarang menjadi fokus para penulis senior ataupun para akademisi. Saya merasa sangat terusik untuk membahas soal krisis moral dalam sastra Indonesia yang konon oleh beberapa penulis senior ibarat tubuh yang sudah kehilangan kepala. Yang dimaksud penulis-penulis ini tentu saja adalah sastra modern seakan-akan sangat terjerumus dalam persoalan eros dan erotisisme ketimbang moralitas.

Pergunjingan soal moralitas muncul dalam kesusastraan dan kebudayaan pada awal agama mulai tersebar luas dalam peradaban. Sebelumnya moralitas dalam karya-karya drama ataupun mitos Yunani terasa sangat terbuka dan sifatnya tidak mengkhotbah, tetapi lebih sering merupakan sebuah ungkapan dari kehidupan, atau lebih tepatnya seperti disebut oleh Nietzsche, The Gay Science, yang intinya adalah bahwa moralitas pun merupakan suatu aspek ringan atau komedi dalam kehidupan kita. Moralitas menjadi momok yang sering dipergunakan oleh para wali keagamaan untuk menindas para pemikir dan pekerja kesenian selama berabad-abad. Walaupun demikian, dari masa ke masa, dari peralihan zaman pencerahan hingga ke era Victoria hingga masa kini, moralitas tidak hentinya digempur oleh para penulis dan seniman di mana pun.

Adalah suatu pemikiran yang sangat kolot dan antimodernisme untuk meneropong sastra Indonesia saat ini bagaikan seorang moralis yang merasa jijik melihat kenyataan bahwa dunia yang bajik dan sangat sempurna yang dihuni mereka sudah berubah begitu dahsyatnya. Keberatan mereka seharusnya ditujukan pada persoalan kehidupan masa kini yang memang sejak perang dunia kedua telah usang, daripada menekan para penulis sastra masa kini yang ingin membawakan berbagai kompleksitas kehidupan masa kini dalam karya-karya mereka. Keberanian dari para penulis ini, menurut saya patut kita puji, karena penulis-penulis ini telah beranjak jauh dari zaman di mana sastra masih ditindas oleh kekangan masyarakat ataupun agama, seperti pada masa Flaubert, yang karyanya Madame Bovary dihujat sebagai amoral, dan zaman DH Lawrence, yang karyanya Lady Chatterly’s Lover dianggap mesum, dan James Joyce dengan karyanya Ulysses yang terpaksa harus diterbitkan di Perancis, karena dianggap porno! Tetapi sebelum para penulis berani ini, mereka sudah punya kolega yang tidak kalah beraninya: Daniel Dafoe di abad ke-18, dengan karya yang berani Moll Flanders tentang pelacuran, di abad ke-16, Rabelais dengan karya Gargantua and Pantagruel yang heboh karena keberaniannya mencatat kebobrokan manusia dalam detail-detail yang berani, dan Chaucer, di abad ke-14 bahkan sebelum Shakespeare, dengan karyanya Canterbury’s Tales, melukiskan keanekaragaman karakter manusia dari yang munafik hingga yang seronok.

Di masanya, penulis-penulis ini dianggap sangat kontroversial dan sering ditindas oleh para wali agama ataupun penguasa, tetapi hari ini mereka kita anggap sebagai pahlawan-pahlawan sastra yang karyanya dipelajari oleh siswa-siswa di sekolah di segala penjuru dunia.

Penafsiran pada suatu karya sastra menurut saya menjadi problematika kalau tolok ukurnya adalah moralitas. Penulis sastra tidak bertanggung jawab pada suatu masyarakat ataupun pembaca akan keabsahan moralitas mereka dalam karya-karya yang ditampilkannya. Seorang seniman menciptakan sebuah karya tidak berdasarkan suatu konsensus massa ataupun masa, tujuan akhir dari sebuah karya bukanlah betapa tingginya nilai moralitas yang dicapai tetapi seberapa jauhnya estetika ataupun moralitas yang dianut sekelompok masyarakat dapat digeserkan. Karena melalui tiap pergeseran ini, yang sebenarnya juga merupakan cerminan dari masyarakat itu sendiri, maka terciptalah karya-karya terobosan besar. Persoalan menjadi semakin runyam ketika penulis-penulis yang berani menulis karya-karya yang berani dikaitkan dengan kebobrokan pribadi mereka. Atau mereka dianggap pengaruh negatif yang merusak serat moralitas masyarakat.

Di sini letak kemunafikan suatu komunitas. Karena di satu sisi para seniman diminta untuk melakukan terobosan dengan berani dalam karya-karya mereka, di sisi lain mereka juga diberikan batas-batas kelayakan yang dianggap merupakan konsensus umum yang perlu dipertahankan. Alasan mereka selalu adalah bila tidak pilar-pilar kesusilaan sipil akan roboh. Apakah kehebatan suatu masyarakat dan kemandiriannya bisa dirobohkan oleh karya-karya seni? Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana suatu karya seni bisa melakukan terobosan dengan batas-batas seperti ditetapkan oleh para petinggi moralitas itu? Saya kira pertanyaan balasan yang tepat adalah kenapa pula kita perlu takut dengan karya-karya berani ini? Kalau kita tidak ingin anak-anak kita membaca karya-karya tertentu, atau pemikiran kita bahwa mereka masih belum siap membaca karya-karya tertentu, kita bisa melarang mereka untuk tidak membaca karya-karya itu. Jadi batas-batas kelayakan pada karya sastra tidak perlu kita pergunjingkan sebagai persoalan publik tetapi membataskannya menjadi suatu persoalan individu. Seperti juga bagaimana kita menyambut dengan gembira buku-buku berbobot moralitas tinggi, kita seharusnya juga bisa menyambut dengan toleransi yang tinggi buku-buku yang berani menerobos ’batas-batas’ kelayakan itu. Keberatan kita dan ketakutan kita menerima karya-karya tersebut hanya mencerminkan keangkuhan supremasi moralitas kita atau memberikan kesan seakan batas zona keamanan pribadi sedang terancam.

Di sini kita perlu bedakan antara erotisisme dan pornografi, karena kedua hal sering disalahtafsirkan, atau menjadi tercampuraduk dalam pembahasan soal kelayakan dalam satu karya seni. Eros dan erotisisme oleh Octavio Paz digambarkan sebagai kecenderungan yang normal bagi manusia yang punya imajinasi dan budi pekerti. Berbeda dengan hewan yang dalam tindakan seksualnya hanya untuk mereproduksi, menurut Octavio Paz, manusia mempunyai kapasitas untuk merasakan kenikmatan dan punya daya imajinasi yang tinggi untuk menambah nilai kenikmatan itu dalam hubungan seksual. Dengan demikian, erotisisme adalah bagian yang wajar dari fakultas manusiawi, sedangkan pornografi adalah suatu penghasutan indera yang tidak mempunyai nilai imajinasi. Repetisi imaji yang ditampilkan untuk menggugah berahi terlihat jelas sangat mekanis dan tidak mempunyai nilai-nilai estetika ataupun tujuan lain selain menggugah insting-insting purba dalam diri kita.

Berbicara tentang estetika dan etika, perlu juga kita bahas apakah sebuah karya perlu ada sebuah tujuan etika yang konkret. Perlukah sebuah karya punya misi moralitas? Inilah antara lain hal yang sering dipersoalkan dalam pembahasan krisis moral dalam kesusastraan kita. Persoalan ini menurut saya akan sangat sulit diselesaikan karena kalau kita serapkan apa yang ditulis oleh Nietzsche dalam karyanya The Genealogy of Morals, maka sangat jelas sekali bahwa seharusnya kita menanggapi pergeseran moralitas dalam karya seni dengan keringanan jiwa. Karena persoalan moralitas akan sangat relatif. Bagaimana seseorang mengukur batas-batas etika yang seharusnya ataupun seharusnya tidak dilanggar dalam sebuah karya? Apakah karya-karya seni harus merujuk pada suatu pakam moralitas suatu kepercayaan ataupun suatu konsensus massa? Bila demikian halnya, saya kira karya-karya yang diciptakan tidak lagi bisa dikategorikan sebagai karya seni, tetapi lebih mendekati karya-karya hymna bagi suatu kepercayaan.

Tuntutan pada seorang seniman menjadi seorang panutan moralitas tinggi menurut saya adalah penafsiran yang salah pada fungsi seorang seniman. Penafsiran ini seakan menempatkan seorang seniman pada posisi seorang pengkhotbah ataupun seorang wali terhormat dari suatu masyarakat. Pemikiran demikian sangat bertolak belakang dengan kenyataan posisi seorang seniman. Seniman di bidang mana pun senantiasa akan tetap merupakan manusia marjinal. Posisi mereka, bila bukan karena dalam realitas mereka memang terpojok ke pinggiran kehidupan, adalah pilihan mereka sendiri dalam menempatkan diri di pinggiran sehingga mereka dapat menyaksikan ataupun meneropong dunia dari dekat, yang kemudian, melalui kepedihan hasil pergelutan kehidupan mereka dengan dunia ataupun kejeliannya dalam mengupas kehidupan di hadapan mata mereka, akan menjelma menjadi keoriginalitas karya-karya seniman itu.

Lihat dalam sejarah kesusastraan dunia dan Anda akan menemukan nama-nama besar seperti Rimbaud, penyair muda yang berhenti menulis syair pada saat dia berumur 20 tahun, yang mempunyai metode khusus mengakses keaslian jiwanya dengan membius otaknya dengan rangsangan alkohol dalam kuantitas yang tinggi. Pelbagai penggunaan obat terlarang juga dilakukan oleh penulis-penulis besar, seperti dengan opium oleh Graham Greene, LSD oleh semua penulis generasi Beatnik dari Allen Ginsberg hingga Jack Keruac, dan di era 80-an, kokain oleh Jay McInnerny, dan alkohol, pilihan Bacchus favorit rata-rata semua penulis, dari William Faulkner hingga Dylan Thomas. Mereka ini manusia besar dalam kesusastraan yang gagal dalam ketertiban kehidupan sehari-hari. Mereka jauh dari manusia sempurna yang didambakan banyak orang. Karya-karya mereka diciptakan juga bukan untuk diukur dari segi bobot moralitas pribadi mereka, tetapi dari kedalaman jiwa mereka yang lahir dari pergesekan mereka dengan dunia.

Sampai di sini, saya mendengar keluhan sang moralis yang menanyakan, “Jadi apa fungsi sastra sebenarnya?” Sastra menurut saya adalah muntahan balik dari seorang penulis kepada masyarakatnya. Keberaniannya dan ketulusannya dalam berkarya adalah keoriginalitas suaranya. Perkembangan sastra sudah lama bergeser dari karya-karya sastra yang gentil. Karya-karya penuh bobot moralitas Jane Austen hingga Nathaniel Hawthorn sudah tergeser oleh karya-karya pembangkang seperti Flaubert, James Joyce, DH Lawrence, Baudelaire, dan pada era modern oleh hampir semua penulis berani dari Jean Genet, Allen Ginsberg, Bukowski, John Fante hingga oleh pemenang Nobel tahun 2004 Elfriede Jelinek. Hampir semua tabu dalam kehidupan sudah dilabrak oleh penulis-penulis ini. Adalah sangat egois bagi para petinggi moralitas di negara kita menuntut bahwa penulis-penulis kita kembali ke zaman abad pertengahan dan mengabadikan karya-karya mereka pada kebesaran moralitas dengan huruf M besar, sedangkan perkembangan sastra dunia sudah berlaju demikian maju dan sudah lama meninggalkan rambu-rambu moralitas yang masih dipersoalkan kita. Karena selain tidak mungkin memutarbalikkan perkembangan masa, saya rasa tuntutan para petinggi moralitas ini sangat mengganjal perkembangan sastra di negeri ini. Persoalan moralitas seharusnya dibahas dalam konteks di luar kesenian seperti dalam forum kebatinan ataupun dalam kajian sosiologi. Karena persoalan moralitas sangat berseberangan dengan penciptaan karya seni. Seniman tidak kenal rambu-rambu moralitas dalam penciptaan mereka. Yang disasarkan dalam setiap karya seni bukan lagi capaian moralitas, tetapi capaian originalitas dalam suara, visi ataupun estetika. Sastra dunia sudah mencapai titik capaian yang begitu maju sehingga ia tidak lagi mencoba mengupas moralitas manusia tetapi lebih pada bagaimana menangkap dilema ataupun paradoks manusia dalam sekeping kehidupannya. Kadang bahkan tanpa suatu tujuan ataupun subyek yang jelas, selain potret-portret kecil suatu kehidupan seperti yang ditampilkan dalam cerita-cerita penulis Sicilia Giovanni Verga.

Menutup penulisan ini saya ingin mengutip Oscar Wilde, juga salah satu spirit pembangkang dalam kesusastraan yang ditindas oleh para petinggi moralitas masyarakatnya pada masanya. Dia mengatakan bahwa kebenaran tidak lagi benar bila ia diterima oleh semua pihak. Semangat setiap pekerja kreatif adalah bagaimana berbagi kebenaran individunya dengan dunia di mana dia bercokol. Persembahan mereka yang diperoleh dari tetes-tetes darah jiwa mereka merupakan ungkapan kecintaan ataupun ketulusan mereka pada dunia. Penindasan, penghujatan, pendakwahan negatif pada karya-karya seni sudah bukan hal baru lagi bagi mereka, dan tidak pernah berhasil menghalangi mereka, bahkan malah mengobarkan semangat mereka, untuk tetap menampilkan tiap karya mereka dengan keberanian dan ketulusan yang tidak dapat dikompromikan. *

Richard Oh Direktur Toko Buku QB

Sumber: Kompas Cyber Media

Adakah Krisis Moralitas dalam Kesusastraan Indonesia? adalah salah satu contoh Adakah Krisis Moralitas dalam Kesusastraan Indonesia? kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Adakah Krisis Moralitas dalam Kesusastraan Indonesia? untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload Adakah Krisis Moralitas dalam Kesusastraan Indonesia? full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan Adakah Krisis Moralitas dalam Kesusastraan Indonesia? dalam bentuk PDF secara gratis.

contoh karya ilmiah kemandirian, contoh tugas akhir tentang selai, kumpulan jurnal tentang bahasa tabu, contoh dasar pemikiran makalah, skripsi selai