ANALISIS PERILAKU KONSUMEN TELUR AYAM RAS SEBAGAI DASAR PENETAPAN STRATEGI PEMASARAN PADA PERUSAHAAN TELUR BIMA SAKTI MALANG

30th November 2011 Cat: Skripsi with Comments Off

ANALISIS PERILAKU KONSUMEN TELUR AYAM RAS SEBAGAI DASAR PENETAPAN STRATEGI PEMASARAN PADA PERUSAHAAN TELUR BIMA SAKTI MALANG adalah salah satu contoh ANALISIS PERILAKU KONSUMEN TELUR AYAM RAS SEBAGAI DASAR PENETAPAN STRATEGI PEMASARAN PADA PERUSAHAAN TELUR BIMA SAKTI MALANG kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online ANALISIS PERILAKU KONSUMEN TELUR AYAM RAS SEBAGAI DASAR PENETAPAN STRATEGI PEMASARAN PADA PERUSAHAAN TELUR BIMA SAKTI MALANG untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload ANALISIS PERILAKU KONSUMEN TELUR AYAM RAS SEBAGAI DASAR PENETAPAN STRATEGI PEMASARAN PADA PERUSAHAAN TELUR BIMA SAKTI MALANG full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan ANALISIS PERILAKU KONSUMEN TELUR AYAM RAS SEBAGAI DASAR PENETAPAN STRATEGI PEMASARAN PADA PERUSAHAAN TELUR BIMA SAKTI MALANG dalam bentuk PDF secara gratis.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Penelitian
Seiring dengan pertambahan penduduk yang diikuti meningkatnya kebutuhan akan produk barang maupun jasa. Produk barang khususnya kebutuhan pokok masyarakat seperti telur ayam ras. Telur ayam ras tidak pernah lepas dari pemenuhan kebutuhan gizi dan kesehatan masyarakat. Selain itu telur ayam juga digunakan untuk kebutuhan lain misalnya kosmetik dan obat-obatan.
Telur merupakan salah satu hasil dibidang industri perunggasan yang tampil sebagai potensi ekonomi yang mempunyai masa depan cerah guna menciptakan lapangan kerja guna meningkatkan pendapatan masyarakat. Di samping itu telur sebagai salah satu hasil dari industri perunggasan mempunyai peranan turut serta mencerdaskan kehidupan masyarakat. Hal ini dikarenakan telur memiliki kandungan protein dan zat-zat yang dibutuhkan oleh manusia.
Usaha dibidang peternakan ayam ras sangat berprospek di masa mendatang. Hal ini ditinjau dari peramalan mengenai jumlah penduduk Indonesia yang teurs meningkat, dan kesadaran akan pemenuhan kebutuhan gizi seiring dengan peningkatan semangat kemajuan di era globalisasi. Adanya perilaku konsumen masyarakat terutama untuk kalangan menengah ke atas memberikan pola hidup yang sangat konsumtif dengan berbagai macam tuntutan. Semakin tinggi tingkat pendidikan masyarakat akan mendorong mereka lebih selektif dalam pemenuhan konsumsi kebutuhan gizi. Potensi dari konsumen inilah yang seharusnya menjadi sasaran utama bagi produsen untuk meningkatkan kompetisi terhadap produk luar negeri maupun dari kalangan pesaing dalam negeri.
Tuntutan kompetisi antar produk sudah semakin mendesak, terutama dalam merebut pangsa pasar, tingkat kualitas produk yang sesuai dengan tuntutan pelayanan, terutama pada kalangan menengah ke atas harus terpenuhi. Derasnya arus informasi mempengaruhi perilaku konsumen terhadap suatu produk tertentu. Media massa cetak maupun elektronik mampu menghadirkan informasi terbaru dalam waktu singkat dan memberikan dampak bagi perilaku konsumen khususnya dalam tingkah laku konsumsi. Kita saat ini sudah membutuhkan analisis perilaku konsumen dalam konsep marketing untuk menghadapi era yang penuh dengan peluang dan tantangan.
Di dalam kompetisi usaha peternakan ayam petelur, perusahaan perlu memperhatikan selera konsumen yang bervariasi. Selera konsumen dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu : faktor internal atau faktor yang ada dalam diri konsumen tersebut dan faktor eksternal atau faktor yang mempengaruhi dari luar diri konsumen. Faktor eksternal ini merupakan faktor yang sulit untuk dikendalikan sehingga pihak manajemen khususnya marketing pada perusahaan telur Bima Sakti Malang harus mampu menganalisis situasi dan kondisi pasar dan keinginan serta kebutuhan konsumen. Dengan memperhatikan faktor tersebut diharapkan perusahaan tetap eksis di dalam menjalankan usahanya dan mampu bersaing dengan perusahaan yang sejenis.
Salah satu faktor utama bagi perusahaan agar mampu bersaing untuk menarik konsumen adalah dengan meningkatkan mutu pelayanannya dan kualitas telur yang diproduksi. Untuk dapat meningkatkan mutu pelayanan dan kualitas produknya maka seyogyanya perusahaan harus mengetahui perilaku konsumen secara mendalam, kecenderungan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya untuk selanjutnya perusahaan harus dapat mengantisipasi dan menindak lanjuti terhadap perubahan dari perilaku konsumen tersebut dan selanjutnya dapat menyusun strategi ke depan bagi perusahaan.

B. Permasalahan
Untuk dapat mencapai target, baik jangka pendek maupun jangka panjang dan untuk dapat menyusun strategi perusahaan ke depan agar dapat terus eksis di dalam menjalankan usahanya maka perusahaan harus mengadakan penelitian terhadap perubahan lingkungan baik secara langsung maupun tidak langsung yang dapat mempengaruhi kehidupan ekonomi serta perilaku masyarakat. Perubahan pada perilaku konsumen akan berpengaruh terhadap keputusan dalam pemilihan dan menentukan produk apa yang akan dikonsumsi, sehingga timbul masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana perilaku konsumen di dalam mengkonsumsi telur ayam ras pada perusahaan telur Bima Sakti Malang?
2. Apakah variabel kekuatan (X1), kelemahan (X2), peluang (X3), ancaman (X4), berpengaruh terhadap penetapan strategi pemasaran perusahaan (Y)?
3. Variabel apakah yang mempunyai pengaruh dominan terhadap penetapan strategi pemasaran perusahaan?

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui minat konsumen dalam memilih mengkonsumsi telur ayam ras pada perusahaan telur Bima Sakti Malang.
2. Untuk mengetahui pengaruh variabel kekuatan (X1), kelemahan (X2), peluang (X3), ancaman (X4) terhadap penetapan strategi pemasaran perusahaan (Y).
3. Untuk menganalisis variabel yang mempunyai pengaruh dominan terhadap penetapan strategi pemasaran perusahaan.

D. Kegunaan Penelitian
1. Bagi perusahaan
Sebagai sumbangan pemikiran bagi perusahaan perusahaan telur Bima Sakti Malang untuk lebih memahami perilaku konsumen dalam memilih dan mengkonsumsi produk telur yang diproduksi, serta sebagai dasar strategi pemasaran yang akan digunakan oleh perusahaan telur Bima Sakti Malang untuk memperluas pangsa pasarnya.
2. Bagi pengembangan ilmu pengetahuan
Penelitian ini merupakan kesempatan untuk menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang didapat dari bangku kuliah, serta untuk melatih berpikir secara logis dan mampu menulis serta mengintegrasikan teori-teori terutama strategi yang dapat diterapkan dalam penelitian.
3. Bagi peneliti lain
Sebagai bahan acuan bagi yang berniat untuk mengembangkan tentang kaitan strategi pemasaran dalam usaha ternak ayam petelur.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Perilaku Konsumen
Istilah perilaku konsumen seringkali digunakan atau dipakai untuk menjelaskan perilaku dari konsumen yang membeli dan menggunakan produk dan jasa. Sikap dan perilaku konsumen akan mempunyai peranan yang cukup besar dalam menentukan strategi pemasaran yang tepat.
Swastha dan Handoko (2007:10) mengatakan : “Perilaku konsumen (consumer behavior) dapat didefinisikan sebagai kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa, termasuk di dalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tertentu”.
Engel (2004:3) menyatakan : “Perilaku konsumen adalah sebagai tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusul tindakan ini”.
Menurut Tjiptono (2004:3) : “Perilaku konsumen adalah tindakan-tindakan yang langsung terlibat dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dna menghabiskan produk atau jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului dan menyusul tindakan itu”
Sedangkan menurut Assauri (2005:24) adalah sebagai berikut : “Perilaku konsumen merupakan tindakan seorang individu yang langsung menyangkut pencapaian dan penggunaan produk (barang atau jasa) termasuk proses yang mendahului dan menentukan tindakan tersebut”.
Dengan demikian berdasarkan pendapat tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa perilaku konsumen merupakan kegiatan-kegiatan yang dilakukan pembeli dan konsumen untuk mendapatkan dan mempergunakan barang dan jasa termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan. Perilaku konsumen menyangkut masalah keputusan yang diambil seseorang dalam persaingan dan penentuan untuk mendapatkan dan mempergunakan barang dan jasa.
B. Teori-teori Perilaku Konsumen
Untuk mengetahui dan memahami proses motivasi yang mendasari dan mengarahkan perilaku konsumen dalam melakukan pembelian, perlu dipelajari beberapa teori perilaku konsumen. Teori perilaku konsumen terdiri dari beberapa teori, yaitu :
1. Teori Ekonomi Mikro
Teori ekonomi mikro atau teori ekonomi mikro klasik ini mendasarkan pada suatu pengertian bahwa orang itu adalah ekonomis, rasional, dan pada setiap saat ia bertindak karena tertarik pada sesuatu.
Teori ini didasarkan pada beberapa asumsi, yaitu :
a. Bahwa konsumen selalu mencoba untuk memaksimumkan kepuasannya dalam batas-batas kemampuan finansialnya.
b. Bahwa ia mempunyai pengetahuan tentang beberapa alternatif sumber untuk memuaskan kebutuhannya.
c. Bahwa ia selalu bertindak dengan rasional.
2. Teori Psikhologis
Ada beberapa teori yang termasuk dalam teori psikologis ini, yaitu sebagai berikut :
a. Teori belajar (learning theory), dan
b. Teori psikhoanalitis (psychoanalitic theory) (Swastha, 2006:77).
Selanjutnya penjelasan dari masing-masing bagian tersebut adalah sebagai berikut :
a. Teori belajar
Teori belajar ini lebih menekankan pada tindakan penafsiran dan peramalan. Jadi, penafsiran dan peramalan terhadap proses belajar konsumen merupakan kunci untuk mengetahui tingkah laku pembeliannya.
b. Teori psikhoanalitis
Teori psikhoanalitis ini mengemukakan bahwa tingkah laku itu dipengaruhi oleh adanya keinginan yang terpaksa dan adanya motif yang tersembunyi. Jadi, teori yang dikemukakan menyangkut kepribadian seseorang. Tindakan seseorang yang tidak direncanakan akan mudah sekali menimbulkan akibat-akibat yang kurang baik. Namun tidak berarti bahwa akibat yang ditimbulkan selalu tidak baik, dapat pula terjadi sebaliknya.
3. Teori Sosiologis
Teori psikologis yang telah kita bahas di muka, ditujukan dan dipusatkan pada individu yang dikaitkan dengan tingkah laku mereka. Jadi, lebih mengutamakan perilaku kelompok, bukannya perilaku individu. Analisisnya diarahkan pada kegiatan-kegiatan kelompok, seperti keluarga, teman-teman sekerja, perkumpulan olah raga, dan sebagainya.
4. Teori Anthropologis
Seperti halnya pada teori sosiologis, teori anthropologis ini juga menekankan tingkah laku pembelian dari suatu kelompok masyarakat. Namun, kelompok-kelompok masyarakat yang lebih diutamakan dalam teori anthropologis ini bukannya kelompok kecil seperti keluarga, tetapi kelompok besar atau kelompok yang ruang lingkupnya sangat luas.
Termasuk dalam kelompok besar ini antara lain :
a. Kebudayaan (kelompok paling besar)
b. Subkultur (kebudayaan daerah), dan
c. Klas-klas sosial
Di sini, manajemen dapat menggunakan teori anthropologis dalam mempelajari akibat-akibat yang ditimbulkan oleh faktor-faktor tersebut terhadap tingkah laku konsumen.
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen
Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen dalam membuat keputusan pembeliannya. Faktor-faktor tersebut sebagian besar tidak dapat dikendalikan oleh pemasaran, tetapi harus diperhatikan.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen untuk mengambil keputusan adalah :
1. Faktor lingkungan eksternal, meliputi :
a. Kebudayaan dan kebudayaan khusus (culture dan subculture)
b. Kelas sosial (social class)
c. Kelompok sosial dan kelompok referensi
d. Keluarga (Swastha dan Handoko, 2007:58)
2. Faktor lingkungan internal, meliputi:
Motivasi, pengamatan, belajar, kepribadian dan konsep diri, dan sikap. (Swastha dan Handoko, 2007:77).
Penjelasan masing-masing faktor eksternal tersebut adalah sebagai berikut :
1. Kebudayaan dan kebudayaan khusus
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Kebudayaan adalah simbul dan fakta yang komplek, yang diciptakan oleh manusia, diturunkan dari generasi ke generasi sebagai penentu dan pengatur perilaku manusia dalam masyarakat yang ada. Simbul tersebut dapat bersifat tidak kentara (seperti: sikap, pendapat, kepercayaan, nilai, bahasa, agama) atau dapat pula bersifat kentara (seperti: alat-alat, perumahan, produk, karya seni dan sebagainya). Swastha, 2007:82).
Salah satu faktor penentu perilaku konsumen adalah budaya, dimana perilaku ini tercermin pada cara hidup, kebiasaan dan tradisi dalam permintaan akan bermacam-macam barang atau jasa.
2. Kelas sosial
Adanya lapisan-lapisan sosial dalam masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat itu, tetapi ada pula yang dengan sengaja disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Pembentukan kelas sosial ini biasanya didasarkan pada kekayaan, kekuasaan, kehormatan dan ilmu pengetahuan.
Menurut Swastha (2006:82) pembentukan kelas sosial tersebut dibagi dalam tiga golongan yaitu :
a. Golongan atas
Yang termasuk dalam kelas ini antara lain : pengusaha-pengusaha kaya, pejabat-pejabat.
b. Golongan menengah
Yang termasuk dalam kelas ini antara lain : karyawan instansi pemerintah, pengusaha menengah.
c. Golongan rendah
Yang termasuk dalam kelas ini antara lain: buruh-buruh pabrik, pegawai rendah, tukang becak, dan pedagang kecil.
Pengertian kelas sosial menurut Alma (2005:56) merupakan : “Kelompok masyarakat yang mempunyai tingkat tertentu yang memiliki nilai dan sikap yang berbeda dari kelompok tingkatan lain”.
Sedangkan ciri-ciri kelas sosial menurut Kotler (2006:111) adalah sebagai berikut :
a. Orang-orang dalam kelas sosial tertentu cenderung bertingkah laku sama.
b. Menurut kelas sosial, orang-orang diperingkat untuk menempati kelas atas atau kelas bawah.
c. Kelas sosial tidak ditentukan oleh satu variabel nilai dan lain sebagainya.
d. Orang bisa naik ke kelas sosial yang lebih tinggi atau jatuh ke kelas sosial yang lebih rendah.
3. Kelompok sosial dan kelompok referensi
Reference group merupakan grup primer, sekunder atau pemberi aspirasi (Alma, 2005:57). Grup primer adalah para anggota yang saling berkomunikasi satu sama lain. Grup sekunder adalah organisasi yang tidak terlalu banyak berinteraksi tatap muka dengan individu, seperti organisasi berikat pekerja, organisasi keagamaan, organisasi profesi, dan sebagainya yang membuat aturan-aturan, kebiasaan-kebiasaan tertentu.
Dalam hal ini, manajer pemasaran perlu mengetahui siapa yang menjadi pelopor opini dari suatu kelompok, sebab pelopor opini ini dapat mempengaruhi para anggota kelompok bersangkutan.
4. Keluarga
Keluarga dibedakan menjadi “Keluarga inti, menunjukkan lingkup keluarga yang meliputi dari ayah, ibu dan anak-anak yang hidup bersama. Serta keluarga besar yaitu keluarga inti ditambah dengan orang-orang yang mempunyai ikatan saudara dengan keluarga tersebut, seperti kakek, nenek, paman, bibi dan menantu”. (Swastha dan Handoko, 2007:70).
Dalam pasar konsumen, maka keluargalah yang banyak melakukan pembelian. Peranan setiap anggota dalam membeli berbeda-beda menurut macam barang tertentu yang dibelinya. Oleh karena itu, manajer pemasaran perlu mengetahui sebenarnya siapa anggota keluarga yang bertindak sebagai pengambil inisiatip, penentu, pembeli atau siapa yang mempengaruhi suatu keputusan dalam membeli.
Sedangkan penjelasan faktor-faktor internal adalah sebagai berikut :
1. Motivasi
Perilaku manusia ditimbulkan atau dimulai dengan adanya motif atau motivasi. Motif adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan tertentu guna mencapai sesuatu tujuan. Motif yang ada pada seseorang akan mewujudkan suatu tingkah laku yang diarahkan pada tujuan mencapai sasaran kepuasan.
Menurut Swastha dan Handoko (2007:78) motif dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu :
a. Motif fisiologis, yang merupakan motif alamiah (biologis), seperti lapar, haus dan seks.
b. Motif psikologis: yang dapat dikelompokkan dalam tiga kategori dasar, yaitu:
1) Motif kasih sayang (affectional motive), motif untuk menciptakan dan memelihara kehangatan, keharmonisan dan kepuasan batiniah (emosional) dalam berhubungan dengan orang lain.
2) Motif mempertahankan diri (ego-defensive motive), motif untuk melindungi kepribadian, menghindari luka fisik atau psikologis, menghindari untuk tidak ditertawakan dan kehilangan muka, mempertahankan prestise, mendapatkan kebanggaan diri.
3) Motif memperkuat diri (ego-bolstering motive), motive untuk mengembangkan kepribadian, berprestasi, menaikan prestise dan pengakuan orang lain.
2. Pengamatan
Pengamatan adalah suatu proses dimana konsumen (manusia) menyadari dan menginterprestasikan aspek lingkungannya. Atau dapat dikatakan sebagai proses penerimaan dan adanya rangsangan (stimuli) di dalam lingkungan internal dan eksternal, sehingga pengamatan bersifat aktif. Pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan seseorang dalam bertingkah laku. Pengalaman dapat diperoleh dari semua perbuatannya di masa lampau atau dapat pula dipelajari.
3. Belajar
belajar didefinisikan sebagai “Perubahan-perubahan perilaku yang terjadi sebagai hasil akibat adanya pengalaman”. (Swastha dan Handoko, 2007:85).
Proses pembelian yang dilakukan oleh konsumen merupakan sebuah proses belajar, dimana hal ini sebagai bagian dari hidup konsumen. Proses
belajar pada suatu pembelian terjadi apabila konsumen ingin menanggapi dan memperoleh suatu kepuasan, atau sebaliknya, tidak terjadi apabila konsumen merasa dikecewakan oleh produk yang kurang baik.
4. Kepribadian dan konsepsi diri
“Kepribadian didefinisikan sebagai pola sifat individu yang dapat menentukan tanggapan untuk bertingkah laku. Sebenarnya, pengaruh sifat kepribadian konsumen terhadap pandangan dan perilaku pembelinya adalah sangat umum” (Swastha, 2006:85).
Unsur-unsur kepribadian individu menurut Swastha dan Handoko (2007:89) adalah :
a. Pengetahuan
Yaitu unsur-unsur yang mengisi akal dan alam jiwa seseorang manusia yang sadar, secara nyata terkandung dalam otaknya. Hal ini akan menimbulkan suatu gambaran, pengamatan (persepsi), apresiasi, konsep dan fantasi terhadap segala hal yang diterimanya dari lingkungan melalui pancainderanya.
b. Perasaan
Suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena pengaruh pengetahuannya dinilainya sebagai keadaan positif dan negatif.
c. Dorongan naluri
Yaitu kemauan yang sudah merupakan naluri pada tiap makhluk manusia, yang sering disebut “drive”. Macam-macam dorongan naluri, antara lain dorongan untuk mempertahankan hidup, dorongan sex, dorongan untuk mencari makan, dorongan untuk berinteraksi dengan sesamanya.
5. Sikap
Sikap dan kepercayaan merupakan faktor yang ikut mempengaruhi pandangan dan perilaku pembelian konsumen. Sikap itu sendiri mempengaruhi kepercayaan, dan kepercayaan juga mempengaruhi sikap. Salah satu yang menonjol di sini adalah perasaan emosional baik positif maupun negatif.
D. Pengertian Strategis
Menurut pendapat Igor Ansoff (2005:15) strategi sebagai berikut:
Strategy management is a systematic approach to a major and increasingly important responsibility of general management to position and relate the firm to invorman in a way wich will assure it’s continued succes and make it secure from surprice.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manajemen strategi adalah suatu sistem pendekatan utama dan tanggapan yang berkembang menjadi penting, yaitu untuk menempatkan dan menghubungkan suatu perusahaan kepada lingkungan yang akan menjamin kesuksesan yang berkesinambungan dari perusahaan itu dan menghindarkannya dari hal-hal yang tidak diharapkan.
E. Pengertian Pemasaran
Menurut pendapat Kotler (2007:8) pemasaran sebagai berikut : “Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manajerial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain”.
Dari definisi di atas dapat diketahui bahwa pemasaran merupakan interaksi di dalam proses sosial dan manajerial antara individu dan kelompok untuk memperoleh kebutuhan dan keinginan mereka. Sedangkan kegiatan yang ada di dalam pemasaran tersebut meliputi : menciptakan sesuatu, menawarkan sesuatu, serta menukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
F. Pengertian Strategi Pemasaran
Strategi pemasaran yang dikembangkan perusahaan harus dapat memberikan gambaran dalam memanfaatkan peluang peluang yang ada pada kegiatna pemasaran perusahaan.
Pengertian strategi pemasaran menurut Assauri (2005:154) adalah sebagai berikut :
“Strategi pemasaran merupakan suatu rencana yang menyeluruh, terpadu dan menyatu di bidang pemasaran yang memberikan panduan tentang kegiatan yang akan dijalankan untuk dapat tercapainya tujuan pemasaran suatu perusahaan”.
Definisi lainnya yang juga dikemukakan oleh Tjiptono (2007:6) adalah sebagai berikut :
“Suatu alat fundamental yang direncanakan untuk mencapai tujuan perusahaan dengan mengembangkan keunggulan bersaing yang berkesinambungan melalui pasar yang dimasuki dan program pemasaran yang digunakan untuk melayani pasar sasaran tersebut”
Definisi di atas menunjukkan betapa pentingnya menjaga keseimbangan antara kemampuan perusahaan dan peluang pemasaran.
G. Strategi Daur Usia Produk
Strategi pemasaran suatu produk secara berkala perlu ditinjau kembali, selama menjalani daur usianya. Konsep PLC besar faedahnya terutama sebagai kerangka untuk menyusun strategi pemasaran yang efektif pada berbagai tahap dalam daur usia suatu produk.
1. Tahap perkenalan
Tahap perkenalan dimulai pada saat produk baru mulai disediakan untuk dibeli oleh khalayak ramai di pasaran. Sebelum perkenalan itu suatu produk telah menempuh masa perkembangan yang cukup lama yang mungkin mencakup tahap pemasaran uji coba di beberapa kota, namun belum mengalami peluncuran secara besar-besaran. Perkenalan suatu produk secara nyata pada satu atau beberapa pasaran memakan waktu, dan pertumbuhan penjualannya lazimnya berjalan lamban.
2. Tahap pertumbuhan
Bila produk baru itu dapat memuaskan para pembeli, maka volume penjualan akan meningkat dengan pesat. Golongan inovator ini akan melanjutkan pembelian, dan sejumlah besar konsumen yang konvensional akan mengikuti teladan mereka, terutama bila ada cerita orang yang menguntungkan. Mereka akan memasuki ciri-ciri baru pada produknya dan akan memperluas pasarannya. Dengan bertambahnya jumlah pesaing, akan bertambah pula jalur penyalurannya, dan penjualan dari pabrik akan melonjak untuk memenuhkan pipa salurannya (channel of distribution). Harga-harga cenderung akan mantap atau akan turun sedikit, selama permintaan pasaran meningkat dengan pesat. Masing-masing perusahaan akan mempertahankan belanja promosi pada taraf yang sama atau hanya dinaikkan sedikit sekedar untuk menanggapi persaingan dan untuk memberi penyuluhan kepada pasaran. Volume penjualan meningkat dengan pesat, dan dengan demikian akan menurunkan perbandingan rasio promosi: penjualan.
3. Tahap kedewasaan
Pada suatu saat tertentu laju pertumbuhan penjualan akan menjadi lamban, dan produk akan memasuki tahap kedewasaan. Lazimnya tahap ini akan bertambah lebih lama daripada tahap-tahap sebelumnya, dan tahap ini merupakan tantangan yang paling hebat untuk pihak manajer pemasaran. Tahap kedewasaan itu dapat dibagi lagi dalam tiga fase. Fase pertama disebut kedewasaan pertumbuhan. Pada fase ini laju pertumbuhan volume penjualan mulai merosot, disebabkan oleh kejenuhan saluran distribusi. Tidak lagi tersedia saluran distribusi yang baru, namun masih ada juga kaum pembeli yang kesiangan yang memasuki pasaran. Yang kedua adalah fase kedewasaan yang mantap, yang pada saat itu volume penjualan mulai mendatar atas dasar perkapita, disebabkan oleh kejenuhan pasaran. Fase yang ketiga adalah kedewasaan yang mengusang. Dalam fase ini volume penjualan secara mutlak akan merosot, karena sebagian pelanggan mulai beralih kepada produk pengganti lainnya.
Dalam tahap kedewasaan ini terdapat tiga macam strategi dasar, yaitu :
a. Modifikasi pasaran
b. Modifikasi produk
c. Penyesuaian bauran pemasaran
4. Tahap kemerosotan
Sebagian terbesar dari bentuk dan merek dari suatu produk pada waktunya akan menginjak suatu tahap kemerosotan penjualan yang berkesinambungan. Dengan merosotnya volume penjualan dan jumlah laba, beberapa perusahaan akan mengundurkan diri untuk mengalihkan sumber daya kepada usaha yang lebih menguntungkan. Maka perusahaan yang masih tersisa mengurangkan jumlah penawaran produknya. Mereka beralih kepada segmen-segmen pasaran yang lebih kecil dan kepada saluran niaga yang marjinal. Anggaran promosinya dikurangi. Bahkan harga penjualan akan diturunkan pula untuk menahan kemerosotan permintaan pasaran. Setiap perusahaan menghadapi berbagai tugas dan pengambilan keputusan untuk menjamin penganggaran produk-produknya yang usang secara mantap. Tugas-tugas tersebut antara lain:
a. Mengidentifikasi produk pemasaran
b. Menentukan strategi pemasaran
c. Keputusan melepaskan produk
H. Pengertian Analisis SWOT
Menurut Freddy Rangkuti (2007:19) : “SWOT adalah singkatan dari lingkungan internal strengths dan weaknesses serta lingkungan eksternal opportunities dan threts yang dihadapi dunia bisnis”.
Sedangkan menurut Freddy Rangkuti (2007:18) : “Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan”.
Analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal peluang (ooprtunities) dan ancaman (threats) dengan faktor internal kekuatan (strenghts) dan kelemahan (weaknesses).
Analisis SWOT merupakan identifikasi yang sistematis dari faktor-faktor ini dan dari strategi yang menggambarkan pedoman yang terikat antara mereka yakni untuk mengetahui posisi perusahaan pada saat ini dan mendatang atau dengan kata lain diperlukan untuk menentukan strategi dan taktik perusahaan agar mawas diri dan tahu diri dalam memasuki dunia usaha yang bersaing.
Faktor dasar dari analisis SWOT yakni mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan internal. Ini dapat didefinisikan sebagai berikut :
1. Kekuatan (strenghts)
Kekuatan adalah sumber daya, ketrampilan dan keunggulan lain relatif terhadap pesaing dan pasar yang dimiliki suatu perusahaan.
Karena kekuatan merupakan suatu kompetensi yang berbeda dan memberikan perusahaan suatu keunggulan komperatif dalam pasar. Kekuatan berkaitan dengan sumber daya keuangan, citra, kepemimpinan pasar hubungan pembeli/pemasok dan faktor-faktor lain.
2. Kelemahan (weaknesses)
Kelemahan merupakan keterbatasan/kekurangan dalam sumber daya, ketrampilan dan kemampuan yang secara serius menghalangi kinerja efektif suatu perusahaan.
3. Peluang (opportunities)
Suatu peluang merupakan situasi utama yang menguntungkan dalam lingkungan eksternal perusahaan. Kecenderungan-kecenderungan utama merupakan salah satu dari peluang dapat berupa identifikasi dari segmen pasar yang sebelumnya terlewatkan, perubahan-perubahan dalam keadaan bersaing akan peraturan perubahan teknologi dan hubungan pembeli dan pemasok yang diperbaikkan dapat menunjukkan peluang bagi peruahaan.
4. Ancaman (threats)
Suatu ancaman adalah situasi utama yang tidak menguntungkan dalam lingkungan suatu perusahaan. Ancaman adalah rintangan-rintangan utama bagi posisi sekarang atau yang diinginkan oleh perusahaan. Masuknya pesaing baru, pertumbuhan pasar yang lambat, daya tawar pembeli dan pemasok utama yang meningkat, perubahan teknologi dan peraturan yang baru atau yang divisi dapat merupakan ancaman bagi keberhasilan suatu perusahaan.
Menurut William F Glueck dan Lawrance R. Jauch (2004:208) sebagai berikut:
Dengan membandingkan ETOP dan SAP anda akan menemukan petunjuk tentang alternatif strategi untuk menutupi kesenjangan. Jika terdapat peluang lingkungan yang besar dengan kemampuan internal untuk mendapatkan manfaat daripadanya, maka alternatif ekspansi mungkin dilakukan. Kalau ancaman lingkungan kelihatannya merupakan tekanan terberat, maka mungkin cara untuk meningkatkan potensi harga ialah dengan penciutan. Kalau tidak terdapat kesenjangan (atau kesenjangan tidak penting, atau yakin bahwa kesenjangan itu masih dapat dikendalikan) memungkinkan untuk mengejar pendekatan yang mantap (stabilitas)
Gambar 1
Analisis SWOT
  • T

    S

    W

    Internal
    elur merupakan kebutuhan pokok yang selalu dikonsumsi masyarakat.

  • Heiginis karena yang dikonsumsi hanya putih dan kuning telur.
  • Merupakan salah satu sumber nutri yang murah.
  • Praktis dan fleksibel karena gampang disajikan, mudah disimpan serta mudah diolah dengan bahan lain.
  • Telur tidak bisa disimpan terlalu lama.
  • Mudah pecah sehingga dalam proses pengiriman barang harus hati-hati.
  • Kerugian akan timbul apabila telur yang telah sampai ditangan konsumen rusak.
  • Sulitnya memenuhi selera konsumen karena telur dihasilkan oleh ayam dan bukan mesin produksi.
  • S

    Eksternal

    O
    egment pasar yang luas bawah-menengah-atas.

  • Permintaan selalu bertambah seiring pertambahan jumlah penduduk.
  • Telur tidak mempunyai produk life cycle.
  • Konsumen mudah membeli karena tersedia di banyak tempat.
  • Harga pasar yang fluktuatif.
  • Adanya sumber nutrisi yang lain: ikan dan ayam.
  • Adanya alergi pada sebagian orang yang mengkonsumsi telur ayam ras.
  • Susah membedakan tingkat kualitas telur dengan harga yang relatif sama.
T

I. Strategi Bersaing Porter
1. Peningkatan kapasitas produksi
Menurut Porter (2005:285) : “Perusahaan biasanya mempunyai sejumlah pilihan untuk menambah kapasitas yang harus diperbandingkan. Selain itu, untuk menentukan arus kas masuk yang akan datang dari kapasitas baru perusahaan pada ukuran serta saat pengambilan keputusn mengenai kapasitas yang diambil oleh setiap pesaing, selain juga pada sejumlah faktor lain. Biasanya juga ada ketidakpastian mengenai kecenderungan masa depan dalam teknologi, di samping juga bagaimana keadaan permintaan masa depan”.
Dari pernyataan di atas dapat diambil kesimpulan bahwasannya di dalam pengambilan keputusan untuk menambah kapasitas perlu memperhatikan beberapa faktor yaitu :
a. Menentukan arus kas yang akan datang
b. Meramalkan laba yang akan datang
c. Kapasitas yang diambil oleh pesaing
d. Kecenderungan perubahan teknologi di masa depan
e. Keadaan permintaan masa depan
2. Informasi pelayanan purna jual
Menurut Porter (2005:276) : “Menyediakan pelayanan (service) untuk suatu produk di samping menjual produk itu sendiri memungkinkan perusahaan untuk mendiferensiasikan dirinya sendiri, meskipun produknya tidak lebih unggul dibandingkan produk pesaing”. Dari definisi di atas maka perusahaan dapat merancang strateginya akan produk yang mereka pasarkan dikenal konsumen dan konsumen dapat mengetahui karakteristik produk yang diproduksi oleh perusahaan.
3. Perbaikan saluran distribusi dari produsen ke konsumen
Menurut Porter (2005:276) : “Integrasi maju memecahkan masalah jalur masuk ke saluran distribusi dan menghilangkan tawar menawar yang dimiliki oleh saluran”.
Dari pernyataan di atas menunjukkan betapa pentingnya masalah saluran distribusi. Karena dengan adanya saluran distribusi yang baik dari produsen ke konsumen, produk akan sampai pada konsumen akan lebih cepat dan produk yang diterima konsumen akan lebih murah. Karena tawar-menawar yang dimiliki oleh saluran dapat dikurangi.
4. Antisipasi perusahaan untuk mengatasi harga yang fluktuatif
Menurut Porter (2005:272) : “Karena penjualan dari bisnis hulu diturunkan dari penjualan bisnis hilir, faktor-faktor yang menyebabkan fluktuasi di keseluruhan rangkaian. Fluktuasi dapat disebabkan oleh siklus bisnis, oleh perkembangan persaingan atau pasar dan sebagainya”.
Untuk dapat mengatasi harga yang fluktuatif perusahaan memperhatikan faktor pemasok bahan baku, saluran distribusi, pesaing serta penawaran dan permintaan pasar akan produk yang dihasilkan perusahaan.
J. Hipotesis Penelitian
Sehubungan dengan teori yang diuraikan, maka dapat dikemukakan mengenai kerangka pikir konspetual dan kerangka hipotesis.
Gambar 2
Kerangka Pikir Konsep
Dari kerangka pikir konsep di atas, dapat diketahui kerangka hipotesis sebagai berikut :
Gambar 3
Kerangka Hipotesis
Dari model di atas, dapat disusun hipotesis statistik sebagai berikut :
H1 = Diduga variabel-variabel kekuatan (X1), kelemahan (X2), peluang (X3), ancaman (X4) secara bersama-sama mempunyai hubungan bermakna terhadap penetapan strategi pemasaran perusahaan.
H2 = Diduga peluang (X3) merupakan variabel yang mempunyai pengaruh dominan terhadap penetapan strategi pemasaran perusahaan.
BAB III METODE PENELITIAN…… dst
(MOHON MAAF!! TAMPILAN TABEL, GAMBAR, DAN RUMUS MENGGUNAKAN EQUATION KESULITAN UNTUK BISA DI UPLOAD) 
 
Sumber : http://judul-pemasaran.blogspot.com/

ANALISIS PERILAKU KONSUMEN TELUR AYAM RAS SEBAGAI DASAR PENETAPAN STRATEGI PEMASARAN PADA PERUSAHAAN TELUR BIMA SAKTI MALANG adalah salah satu contoh ANALISIS PERILAKU KONSUMEN TELUR AYAM RAS SEBAGAI DASAR PENETAPAN STRATEGI PEMASARAN PADA PERUSAHAAN TELUR BIMA SAKTI MALANG kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online ANALISIS PERILAKU KONSUMEN TELUR AYAM RAS SEBAGAI DASAR PENETAPAN STRATEGI PEMASARAN PADA PERUSAHAAN TELUR BIMA SAKTI MALANG untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload ANALISIS PERILAKU KONSUMEN TELUR AYAM RAS SEBAGAI DASAR PENETAPAN STRATEGI PEMASARAN PADA PERUSAHAAN TELUR BIMA SAKTI MALANG full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan ANALISIS PERILAKU KONSUMEN TELUR AYAM RAS SEBAGAI DASAR PENETAPAN STRATEGI PEMASARAN PADA PERUSAHAAN TELUR BIMA SAKTI MALANG dalam bentuk PDF secara gratis.

contoh makalah tentang kesenjangan pendapatan regional, jurnal anggaran penjualan, contoh skripsi anggaran penjualan, contoh makalah anggaran penjualan, contoh skripsi peramalan

PENGARUH BAURAN PEMASARAN (7P) TERHADAP KEPUTUSAN KONSUMEN UNTUK MENGGUNAKAN JASA DI HOTEL GRAND PALACE MALANG

30th November 2011 Cat: Skripsi with Comments Off

PENGARUH BAURAN PEMASARAN (7P) TERHADAP KEPUTUSAN KONSUMEN UNTUK MENGGUNAKAN JASA DI HOTEL GRAND PALACE MALANG adalah salah satu contoh PENGARUH BAURAN PEMASARAN (7P) TERHADAP KEPUTUSAN KONSUMEN UNTUK MENGGUNAKAN JASA DI HOTEL GRAND PALACE MALANG kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online PENGARUH BAURAN PEMASARAN (7P) TERHADAP KEPUTUSAN KONSUMEN UNTUK MENGGUNAKAN JASA DI HOTEL GRAND PALACE MALANG untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload PENGARUH BAURAN PEMASARAN (7P) TERHADAP KEPUTUSAN KONSUMEN UNTUK MENGGUNAKAN JASA DI HOTEL GRAND PALACE MALANG full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan PENGARUH BAURAN PEMASARAN (7P) TERHADAP KEPUTUSAN KONSUMEN UNTUK MENGGUNAKAN JASA DI HOTEL GRAND PALACE MALANG dalam bentuk PDF secara gratis.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah Penelitian

 
Pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran. Pemasaran telah menjadi subyek yang sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari sejalan dengan semakin berkembangnya perekonomian.
Aktivitas pemasaran menjadi tanggung jawab pokok seorang manajer pemasaran adalah melakukan analisis pasar, merencanakan dan melaksanakan program-program pemasaran, melakukan pengawasan dan evaluasi untuk mempengaruhi tingkat, saat dan sifat permintaan yang akan membantu perusahaan mencapai tujuannya. Pada sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa kegiatan pemasaran intinya adalah memberikan jasa dengan kualitas yang lebih dari pesaing secara konsisten dengan tujuan akhir memenuhi atau melebihi harapan pelanggan sasaran.
Demikian juga halnya dengan usaha perhotelan, dimana kegiatan pemasaran saat ini menjadi sangat penting bagi usaha perhotelan, karena perhotelan merupakan salah satu usaha jasa pelayanan yang tidak mudah pengelolaannya dalam menyediakan berbagai fasilitas yang dapat digunakan oleh tamu-tamunya. Disamping itu, usaha perhotelan juga dapat menunjang kegiatan para usahawan yang sedang melakukan perjalanan usaha atau para wisatawan yang melakukan perjalanan untuk mengunjungi daerah-daerah tujuan wisata, membutuhkan tempat untuk menginap, makan dan minum serta hiburan. Oleh karena itu, hotel merupakan salah satu bentuk usaha bidang jasa yang mengutamakan kualitas pelayanan bagi para tamu khususnya pelanggan.
Semakin tinggi tingkat persaingan dalam usaha jasa akomodasi ini yang ditandai dengan makin banyaknya hotel-hotel yang menawarkan jasa sejenis serta tamu yang semakin kritis akan pasar, para tamu ini sebelum menjatuhkan pilihan pada jasa yang ditawarkan para tamu akan mempertimbangan dengan matang, untuk dapat memilih jasa yang sesuai dengan harapan mereka. Hal ini mengakibatkan kegiatan pemasaran pada dunia bisnis perhotelan perlu dikelola secara profesional dan agresif.
Pemasaran telah menjadi subyek yang sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari sejalan dengan semakin berkembangnya perekonomian. Pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran. Tanggung jawab pokok seorang manajer pemasaran adalah melakukan analisis pasar, merencanakan dan melaksanakan program-program pemasaran, melakukan pengawasan dan evaluasi untuk mempengaruhi tingkat, saat dan sifat permintaan yang akan membantu perusahaan mencapai tujuannya. Salah satu upaya agar jasa yang dihasilkan dapat diterima konsumen adalah dengan melaksanakan pemasaran secara tepat dan terpadu sesuai dengan situasi dan kondisi perusahaan itu sendiri.
Kecepatan perkembangan perekonomian ini sangat dirasakan bahwa bauran pemasaran merupakan salah satu ujung tombak untuk meningkatkan penjualan. Pada penjualan jasa akomodasi yaitu perhotelan, meningkatnya penjualan jasa kamar sangat tergantung pada bauran pemasaran yang dilakukan perusahaan dimana bauran pemasaran yang dilaksanakan dapat menimbulkan umpan balik bagi perusahaan.
Keberhasilan suatu perusahaan ditentukan oleh kemampuan manajemen perusahaan itu dalam memanfaatkan peluang yang terdapat di masyarakat dan mengelola bauran pemasaran yang ada. Dalam perusahaan jasa bauran pemasaran menurut Nirwana (2004:48) berupa: “Produk, harga, promosi, distribusi/tempat, proses, orang/partisipan dan janji merupakan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dan mendorong seorang konsumen untuk mengkonsumsi jasa yang ditawarkan”. Kebutuhan pengetahuan terhadap faktor-faktor bauran pemasaran semakin diakui oleh para pengusaha karena dengan strategi bauran pemasaran yang jitu suatu perusahaan dapat mencapai tujuannya.
Hotel Grand Palace Malang dalam melakukan pemasarannya pada saat ini telah melengkapi ketersediaan akomodasi jasa kamar yang ditawarkan kepada pengguna jasanya, menetapkan harga yang bersaing, melakukan promosi melalui berbagai media, selain itu letak hotel di dekat pusat kota ini juga memudahkan bagi masyarakat yang menginginkan pelayanan hotel, proses check in maupun check out yang cepat, karyawan hotel yang ramah serta berharap selalu dapat memenuhi apa yang dijanjikan hotel kepada konsumennya. Strategi bauran pemasaran jasa yang dilakukan suatu perusahaan juga akan diharapkan akan berpengaruh terhadap tingkat hunian kamar hotel. Suatu bidang usaha perhotelan jika mampu menciptakan kepuasan pelanggan, maka kepuasan pelanggan dapat memberikan manfaat diantaranya hubungan antara perusahaan dan pelanggannya menjadi harmonis, memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang dan terciptanya loyalitas pelanggan, serta membentuk suatu rekomendasi dari mulut ke mulut (word of mouth) yang menguntungkan bagi perusahaan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang: “Pengaruh bauran pemasaran jasa (7P) terhadap Keputusan Konsumen Untuk Menggunakan Jasa di Hotel Grand Palace Malang”.
  1. Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan pada latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
  1. Apakah variabel bauran pemasaran jasa yang terdiri dari: produk, kebijakan harga, promosi, lokasi pelayanan, partisipan/orang, pendukung fisik dan proses secara bersama-sama berpengaruh terhadap keputusan konsumen untuk menggunakan jasa pada Hotel Grand Palace Malang?
  2. Diantara variabel bauran pemasaran jasa, yang terdiri dari produk, kebijakan harga, promosi, lokasi pelayanan, partisipan/orang, pendukung fisik dan proses, manakah yang berpengaruh dominan terhadap keputusan konsumen untuk menggunakan jasa pada Hotel Grand Palace Malang?

Tujuan Penelitian

Agar peneliti mempunyai arah yang jelas, maka ditetapkan tujuan penelitian sebagai berikut:
  1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh variabel bauran pemasaran jasa yang terdiri dari produk, kebijakan harga, promosi, lokasi pelayanan, partisipan/orang, pendukung fisik dan proses secara bersama-sama terhadap keputusan konsumen untuk menggunakan jasa pada Hotel Grand Palace Malang
  2. Untuk mengetahui dan menganalisis variabel bauran pemasaran jasa yang dominan berpengaruh terhadap keputusan konsumen untuk menggunakan jasa pada Hotel Grand Palace Malang.
    1. Kegunaan Penelitian
        1. Kegunaan Praktis
Sebagai bahan pertimbangan dalam rangka menentukan bauran pemasaran jasa yang dilakukan oleh Hotel Grand Palace Malang khususnya, sehingga tidak terjadi penurunan penggunaan jasa.
  1. Kegunaan Teoritis
Penelitian ini dapat berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya pada bidang kajian manajemen pemasaran jasa serta melengkapi kajian teori yang berkaitan dengan bauran pemasaran jasa serta keputusan penggunaan jasa.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Pengertian Pemasaran
Menurut Kotler dalam Ancellawati (2000:9) mendefinisikan pemasaran adalah: “Suatu proses sosial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain”.
Menurut Kotler dan Amstrong dalam Hendra (2001:10) pemasaran adalah: “Fungsi bisnis yang mengidentifikasikan kebutuhan dan keinginan pelanggan (costumer), menentukan pasar sasaran yang paling dapat dilayani dengan baik oleh perusahaan, dan merancang produk, jasa dan program yang tepat untuk melayani pasar tersebut”.
Selanjutnya menurut Swastha (2002:10) pengertian pemasaran adalah sebagai berikut: “Pemasaran adalah keseluruhan dari kegiatan-kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial”.
Menurut Payne alih bahasa Tjiptono, (2000: 27) mengemukakan bahwa “pemasaran jasa merupakan suatu proses mempersepsikan, memahami, menstimulasi dan memenuhi kebutuhan pasar sasaran yang dipilih secara khusus dengan menyalurkan sumber-sumber sebuah organisasi untuk memenuhi kebutuhan tersebut”.

2. Pengertian Jasa dan Pemasaran Jasa
Adapun definisi pemasaran jasa, yaitu “Setiap kegiatan atau manfaat yang ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak yang lain dan merupakan barang tidak berwujud (intangible) serta tidak berakibat pada kepemilikan akan sesuatu”. Rismiati (2001:270)
Pemikiran pemasaran pada mulanya berkembang dari penjualan produk fisik. Sementara itu pertumbuhan jasa yang luar biasa terjadi semenjak tahun 1969-an ketika keadaan pasar semakin menurun dan meningkatnya pergolakan lingkungan, sehingga pemasaran jasa menjadi salah satu megatren utama. Akan tetapi pada era berikutnya terjadi konsolidasi dan peperangan perebutan pasar, karena adanya over expansion of supply di tiap-tiap bidang sektor jasa seperti hotel, penerbangan, broker, keuangan, surat kabar hingga bisnis eceran. Hal ini mendorong tumbuhnya perhatian khusus dalam masalah pemasaran jasa.
Salah satu cara membedakan sebuah perusahaan adalah memberikan jasa dengan kualitas yang lebih dari pesaing secara konsisten. Kuncinya adalah memenuhi atau melebihi harapan pelanggan sasaran mengenai kualitas jasa yang diberikan oleh penyedia jasa.
Stanton dalam Swastha (2002:5) menyatakan definisi pemasaran adalah :
Suatu sistem keseluruhan dari kegiatan-kegiatan bisnis yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang memuaskan kebutuhan baik kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial.

Sedangkan Menurut Kotler dalam Swastha (2002:7) pengertian manajemen pemasaran adalah sebagai berikut:
Penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan program-program yang ditujukan untuk mengadakan pertukaran dengan pasar yang dituju dengan maksud untuk mencapai tujuan organisasi. Hal ini sangat tergantung pada penawaran organisasi dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan pasar tersebut serta menentukan harga, mengadakan komunikasi, dan distribusi yang efektif untuk memberitahu, mendorong, serta melayani pasar.

Menurut Kotler dalam Hendra (2001:602), definisi jasa adalah :
Setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Produksinya dapat dikaitkan atau tidak dikaitkan pada satu produk fisik.

Menurut pendapat Lupiyoadi (2001:5), jasa adalah :

Semua aktivitas ekonomi yang hasilnya tidak berupa produk dalam bentuk fisik atau kontruksi, yang biasanya dikonsumsi pada saat yang sama dengan waktu yang dihasilkan dan memberikan nilai tambah (seperti misalnya kenyamanan, hiburan, kesenangan, kesehatan) atau pemecahan atas masalah yang dihadapi konsumen.

Jasa atau pelayanan merupakan suatu kinerja penampilan tidak berwujud dan cepat hilang, lebih dapat dirasakan daripada dimiliki, serta konsumen lebih dapat berpartisipasi aktif dalam proses mengkonsumsi jasa tersebut. Kondisi dan cepat lambatnya pertumbuhan jasa sangat bergantung pada penilaian pelanggan terhadap kinerja yang ditawarkan dan diberikan oleh pihak penyedia jasa, untuk menghasilkan kepuasan pelanggan.
3. Karakteristik Jasa
Produk jasa memiliki karakteristik yang berbeda dengan barang (produk fisik). Berikut adalah pendapat Griffin (dalam Lupiyoadi, 2001:6) mengenai berbagai karakteristik jasa:
a. Intangibility (tidak berwujud). Jasa tidak dapat dilihat, dirasa, diraba, didengar atau dicium sebelum jasa tersebut dibeli. Nilai penting dari hal ini adalah nilai tidak berwujud yang dialami oleh konsumen dalam bentuk kenikmatan, kepuasan atau rasa aman.
b. Unstorability. Jasa tidak mengenal persediaan atau penyimpanan dari produk yang telah dihasilkan, karakteristik ini disebut juga tidak dapat dipisahkan (inseparability) mengingat pada umumnya jasa dihasilkan dan dikonsumsi secara bersama-sama.
c. Customization. Jasa juga sering kali didesain khusus untuk kebutuhan pelanggan, sebagaimana jasa asuransi dan kesehatan.

Selanjutnya menurut Kotler dalam Hendra (2001:603), karakteristik jasa adalah sebagai berikut:
a. Tidak berwujud. Jasa merupakan sesuatu yang tidak berwujud, tidak dapat didengar, tidak dapat diraba, tidak dapat dirasa, tidak dapat dicium sebelum jasa itu dibeli.
b. Tidak dapat dipisahkan. Umumnya jasa yang dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan. Jika jasa itu dilakukan oleh orang, maka penyedianya adalah bagian dari jasa.
c. Variabilitas, jasa sangat bervariasi karena tergantung pada siapa yang menyediakan dan kapan serta dimana jasa itu dilakukan.
d. Tidak tahan lama. Jasa tidak dapat disimpan dan tidak tahan lamanya jasa tidak menjadi masalah bila permintaan tetap karena mudah mengatur staf atau karyawan untuk melakukan jasa itu lebih dahulu. Namun jika permintaan berfluktuasi, perusahaan jasa menghadapi masalah yang rumit (misal, perusahaan jasa transportasi mikrolet).

Selain itu karakteristik jasa menurut Mursid (2002:116) adalah:

a. Maya atau tidak teraba (intangibility). Karena jasa tidak teraba, maka pelanggan tidak dapat mengambil contohnya seperti mencicipi, merasakan, melihat, mendengar atau mencium sebelum pelanggan membelinya. Oleh karena itu dalam memasarkannya harus menonjolkan jasa itu sendiri. Misalnya perusahaan telepon menguraikan bagaimana pelanggan dapat menghemat biaya pengeluaran melalui pembicaraan telepon.
b. Tak terpisahkan (inseparability). Jasa tidak terpisahkan dengan pribadi penjual. Untuk jasa tertentu diciptakan dan dipergunakan habis pada saat yang bersamaan.
c. Heterogenitas. Output dari jasa tidak ada standarisasinya. Setiap unit jasa agak berbeda dengan unit jasa lain yang sama. Misalnya order reparasi seorang montir mobil tidak sama kualitasnya antara satu order dengan order lain. Oleh sebab itu perusahaan jasa harus memperhatikan kualitasnya.
d. Cepat hilang (perishability) dan permintaan yang berfluktuasi. Jasa cepat hilang dan tidak dapat disimpan. Pasaran jasa selalu berubah menurut waktu. Misalnya montir menganggur pada hari kemarin, tidak dapat diganti pada hari ini dan merupakan kerugian selamanya.
4. Variabel-Variabel Dalam Bauran Pemasaran Jasa
Menurut Hurriyati (2005:49): “untuk bauran pemasaran jasa mengacu pada konsep bauran pemasaran tradisional yang terdiri dari 4P, yaitu produk, harga, tempat/lokasi dan promosi yang diperluas dengan penambahan unsur non tradisional yaitu orang, fasilitas fisik dan proses sehingga menjadi tujuh unsur (7P)”.
Adapun masing-masing unsur bauran pemasaran jasa di atas dapat di jelaskan sebagai berikut:
a. Produk (product) jasa
1) Pengertian produk
Menurut Kotler dalam Hendra (2000:428) Produk Jasa merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan produsen untuk diperhatikan, diminta, dicari, dibeli, digunakan.
Kotler et.al dalam Hendra (2000:212) mengemukakan bahwa produk adalah: “Segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk menarik perhatian, dimiliki, digunakan atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan”.
2) Penggolongan produk
Produk tidak hanya diciptakan menurut definisi produk itu saja. Perusahaan di dalam menghasilkan produk juga harus memperhatikan penggolongan produk itu sendiri yang dapat digolongkan menjadi beberapa bagian menurut tujuan pemakaiannya. Penggolongan produk menurut Kotler et.al dalam Ancellawati (2000:215-218) dibagi menjadi:
a) Klasifikasi Barang Konsumen (Consumer Goods)
Barang konsumen dapat dikelompokkan berdasarkan kebiasaan berbelanja konsumen menjadi:
(1) Barang konvenien (convenience goods)
Adalah barang yang biasanya sering dibeli oleh pelanggan tanpa membutuhkan banyak pertimbangan dan hanya membutuhkan sedikit usaha.
(2) Barang shopping (shopping goods)
Adalah barang yang selama proses pemilihan dan pembelian, pelanggan biasanya melakukan pembandingan berdasarkan beberapa kriteria seperti kesesuaian, kualitas, harga dan gaya.
(3) Barang spesial (Speciality Goods)
Adalah barang yang memiliki karekteristik unik atau pengenalan merk sehingga untuk itu sekelompok pembeli terbiasa untuk melakukan upaya pembelian khusus.
(4) Barang yang tidak dicari (Unsought Goods)
Adalah barang yang tidak diketahui oleh konsumen atau kalau diketahui biasanya tidak terpikirkan untuk dibeli.
b) Klasifikasi Barang Industri (Industrial Goods)
Barang industri dapat dikelompokkan berdasarkan bagaimana mereka memasuki proses dan kemahalan relatifnya.
Menurut Payne dalam Tjiptono (2000 :135):

Produk jasa merupakan rangkaian pemuasan nilai yang kompleks. Orang membeli jasa membeli jasa untuk memecahkan masalah dan mereka melekatkan nilai pada jasa-jasa dalam kaitannya dengan kemampuan jasa yang dipersepsikan untuk memecahkan masalah tersebut”
Untuk penawaran suatu produk menurut Payne dalam Tjiptono (2000 :134) disarankan bahwa penawaran produk dapat dilihat dari beberapa level yaitu:
1) Produk inti atau generik.
Ini terdiri dari produk jasa dasar, misalnya tempat tidur di kamar hotel untuk malam hari
2) Produk yang diharapkan
Ini terdiri dari produk generik bersama dengan pembelian minimal yang perlu dipenuhi.
3) Produk yang diperluas (augmented product).
Ini merupakan bidang yang memungkinkan suatu produk dibedakan dari yang lain.
4) Produk potensial
Ini terdiri dari seluruh sifat dan manfaat tambahan potensial yang memang atau mungkin merupakan utilitas bagi pembeli.

b. Tarif Harga (price)
1) Pengertian Harga
Harga menjadi faktor penentu dalam pembelian dan menjadi salah satu unsur penting dalam menentukan bagian pasar dan tingkat keuntungan perusahaan. Definisi harga menurut Tjiptono (2002:151) menyatakan: “Harga merupakan satuan moneter atau ukuran lainnya (termasuk barang dan jasa lainnya) yang ditukarkan agar memperoleh hak kepemilikan atau penggunaan suatu barang atau jasa”.
Dari pengertian harga di atas dapat diketahui bahwa harga merupakan unsur bauran yang bersifat fleksibel, artinya dapat diubah dengan cepat. Berbeda dengan karakteristik produk atau komitmen terhadap saluran distribusi kedua hal tersebut tidak dapat diubah/ disesuaikan dengan mudah dan cepat karena biasanya menyangkut keputusan jangka panjang.
2) Tujuan Penetapan Harga
Perusahaan di dalam menetapkan harga sebaiknya mengadakan pendekatan terhadap penentuan harga berdasarkan tujuan yang hendak dicapainya. Menurut Tjiptono (2002: 152-153) ada lima jenis tujuan penetapan harga, yaitu:
a) Tujuan berorientasi pada laba
Tujuan ini dipakai oleh perusahaan yang menggunakan pendekatan target laba yaitu tingkat laba yang diharapkan sebagai sasaran laba. Ada dua jenis target laba yang biasanya digunakan yakni target margin dan target ROI.
b) Tujuan berorientasi pada volume
Harga yang ditetapkan sedemikian rupa agar dapat mencapai target volume penjualan, nilai penjualan rupiah, atau target pangsa pasar (absolut maupun relatif).
c) Tujuan berorientasi pada citra
Citra (image) suatu perusahaan dapat dibentuk melalui strategi penetapan harga. Harga tinggi dapat membentuk atau mempertahankan citra prestisius, sementara itu harga rendah dapat digunakan untuk membentuk citra nilai tertentu (image of value). Misalnya dengan memberikan jaminan bahwa harganya merupakan harga yang terendah di suatu wilayah tertentu.
d) Tujuan stabilisasi harga
Stabilisasi dilakukan dengan jalan menetapkan harga untuk mempertahankan hubungan yang stabil antara harga suatu perusahaan dengan harga pemimpin industri.
e) Tujuan-tujuan lainnya
Harga dapat pula ditetapkan dengan tujuan mencegah masuknya pesaing, mempertahankan loyalitas pelanggan, mendukung penjualan ulang, atau menghindari campur tangan pemerintah.

3) Metode penetapan harga
Dengan memperhatikan tiga hal yakni skedul permintaan pelangan, fungsi biaya, dan harga pesaing perusahaan siap untuk menentukan harga. Ada tiga pertimbangan utama dalam penentuan harga yaitu biaya menentukan batas bawah untuk harga tersebut, harga pesaing dan harga barang subtitusi. Menurut Kotler et.al dalam Ancellawati (2000: 311-320) perusahaan memecahkan persoalan penetapan harga dengan memilih sebuah metode penetapan harga yang memasukkan satu atau lebih dari ketiga pertimbangan tersebut.
Ada beberapa metode penetapan harga yang dapat dipakai oleh perusahaan dengan mempertimbangkan tiga pertimbangan utama di atas, metode penetapan harga tersebut antara lain:
a) Mark up pricing
Metode penetapan harga yang paling sederhana adalah dengan menambahkan sejumlah kenaikan (mark up) baku pada biaya produk. Penetapan harga mark up dipakai untuk sejumlah alasan. Pertama penjual lebih memiliki kepastian mengenai biaya daripada mengenai permintaan. Kedua bila semua perusahaan dalam suatu industri menggunakan metode penetapan harga ini harga mereka cenderung sama oleh karena itu, persaingan harga dapat diminimalkan. Ketiga banyak orang merasakan bahwa penetapan harga plus tersebut lebih adil baik bagi pembeli maupun penjual.
b) Target-return Pricing
Pendekatan penetapan harga lainnya yang menggunakan basis biaya adalah penetapan harga berdasarkan keuntungan sasaran (target return-pricing). Perusahaan menentukan harga yang akan menghasilkan tingkat keuntungan investasi (return on investment atau disingkat ROI).
c) Receive value pricing
Perusahaan yang mendasarkan harga mereka pada nilai yang dirasakan (preceived value) dari produk. Mereka melihat persepsi nilai pembeli, bukan biaya penjual, sebagai kunci penetapan harga. Mereka menggunakan variabel non harga untuk membangun nilai yang dirasakan dalam benak pembeli. Harga ditetapkan untuk mencerminkan nilai yang dirasakan tersebut.
d) Value pricing
Perusahaan mengadopsi penetapan harga berdasarkan nilai (value pricing) dimana mereka menetapkan harga rendah bagi penawaran berkualitas. Filosofi yang digunakan untuk penetapan harga ini adalah “Barang lebih baik harga lebih murah (more for less)”.
e) Going rate pricing
Dalam penetapan harga berdasarkan tarif yang berlaku (going-rate-pricing) suatu perusahaan mendasarkan harganya terutama pada pesaing dengan sedikit memperhatikan biaya atau permintaannya sendiri. Perusahaan tersebut mungkin menetapkan harga yang sama, lebih besar atau lebih kecil daripada pesaing utamanya.
Going rate pricing cukup populer. Bilamana biaya sulit diukur atau respon persaingan bersifat tidak pasti, perusahaan merasakan bahwa harga yang berlaku (going price) memberikan solusi yang baik. Harga tersebut dipandang mampu mencerminkan kebijaksanaan kolektif industri tentang harga yang akan memberikan keuntungan yang wajar dan tidak membahayakan keselarasan industrial.
f) Sealed- Bid Pricing
Penetapan harga yang berorientasi pada persaingan umum diterapkan bilamana perusahaan mengajukan penawaran untuk memperebutkan suatu pekerjaan. Perusahaan mendasarkan harganya pada pengharapan tentang bagaimana pesaing akan menghargai tawarannya daripada hubungan yang kaku dengan biaya atau permintaan tersebut. Tetapi perusahaan tidak dapat menetapkan harganya di bawah tingkat tertentu (biaya perolehan) dengan tanpa mengganggu atau memperburuk posisinya. Sebaliknya, semakin tinggi ia menetapkan harganya di atas biayanya peluangnya untuk mendapatkan kontrak akan semakin kecil.
4) Kebijakan Harga
Harga memegang peranan penting dalam pemasaran baik itu bagi penjual maupun pembeli. Untuk lebih jelasnya dibawah ini akan dikemukakan pengertian tentang harga yang dikemukakan oleh para ahli:
Menurut Kotler dalam Ancellawati (2000:114) mengatakan bahwa: “Harga yaitu jumlah uang yang harus dibayar pelanggan untuk produk itu”.
Menurut Alma (2000:79) bahwa: “Harga adalah nilai suatu barang yang dinyatakan dengan uang”.
Berdasarkan pendapat dari para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa harga adalah merupakan alat tukar untuk mengukur suatu nilai uang yang terkandung dalam suatu barang atau jasa, sedangkan yang dipakai sebagai alat pengukur adalah uang.
Dari pengertian di atas, timbullah pengertian tentang kebijakan harga, dimana dalam pelaksanaannya akan diikuti oleh kebijakan harga tertentu yang sebelumnya diputuskan oleh perusahaan. Kebijakan harga tersebut dimaksudkan dengan langkah guna mendukung dan mengarahkan harga agar tercipta suatu hubungan antara produsen dan konsumen.
Untuk memperjelas tentang kebijakan harga harga, disini akan dikemukakan pendapat menurut Effendi (2001:197), yaitu:
Syarat-syarat ketetapan harga terpisah dan berbeda dari penentuan tingkat harga, karena kebijakan harga yang ada dapat sama untuk harga yang berlainan dan perbedaan kebijakan merupakan suatu perhatian sebagai keputusan rutin mereka membantu sebagai jalan bagi pimpinan perusahaan dalam mengikuti penentuan keputusan harga.
Metode atau taktik mana yang akan dipilih perusahaan dalam penentuan harga jasa sangat tergantung dari banyak hal, karena memang tidak ada satu pun metode yang tepat untuk semua kondisi. Hal hal tersebut menurut Lupiyoadi (2006:207) diantaranya:

1) Besarnya anggaran iklan/promosi yang diinginkan
Jika anggaran promosi rendah mungkin karena harga barang / jasa rendah. Untuk meningkatkan promosi harga harus ditingkatkan.
2) Jenis produk
Harga produk sebaiknya kompetitif
3) Sasaran pangsa pasar
Pangsa pasar dan harga biasanya berbanding terbalik. Jika ingin pangsa pasar tinggi maka harga harus rendah, begitu juga sebaliknya.
4) Saluran pemasaran atau distribusi
Semakin banyak tingkatan saluran pemasaran, maka harga yang ditetapkan semakin tinggi
5) Pandangan tentang laba
Jika perusahaan ingin menutup biaya maka harga awal hendaknya tinggi, sementara untuk memelihara penjualan janga panjang maka harga hendaknya ditetapkan rendah
6) Keragaman atau keunikan produk
Produk yang mempunyai banyak fungsi dapat dikenakan harga yang tinggi daripada produk dengan satu fungsi.
7) Ada atau tidaknya jasa tambahan
Dalam produk ada kalanya kita menemukan jasa tambahan. Contoh: instalasi dan pelatihan.
8) Siklus hidup penggunaan produk
produk yang tahan lama akan dapat dikenakan harga yang lebih tinggi daripada produk sekali pakai
9) Ancaman pesaing baru
Jika ancaman persaingan muncul, sebaiknya menetapkan harga rendah. Jika tidak ada ancaman gunakan penentuan harga skimming.
.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan harga yang ditetapkan oleh perusahaan, biasanya kebijakan harga tersebut berlaku untuk sementara waktu saja selama masa menguntungkan perusahaan. Oleh karena itu perusahaan harus mengikuti perkembangan harga dan situasi pasar. Unsur harga tersebut dalam waktu tertentu dirubah atau tidak. Apabila selama batas waktu tertentu keadaan menguntungkan, maka kebijakan harga harga tersebut ditinjau kembali apabila situasi dan kondisi perusahaan mengalami perubahan, sehingga tidak mungkin lagi untuk dipertahankan agar produsen maupun konsumen tidak saling dirugikan.
5) Potongan Harga
Menurut Saladin, (1996:231).Potongan harga adalah potongan yang diberikan oleh penjual dalam bentuk pengurangan harga jual yang harus dibayar oleh para pembeli.
Selanjutnya menurut Kotler (2001:124),
Potongan harga adalah pengurangan dari apa yang tercantum dalam daftar harga, serta diberikan kepada pembeli yang bersedia melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh perusahaan. Sesuatu tersebut dapat berupa pembayaran barang dalam jangka waktu ditentukan, pembelian dalam jumlah tertentu, ataupun memperdagangkan barang atau jasa. Pemberian potongan harga tersebut dapat berwujud uang atau imbalan barang dan jasa
6) Macam-Macam Potongan Harga

Menurut Tjiptono (2002:168), ada bentuk lain dari potongan harga, yaitu allowance yang merupakan pengurangan dari harga menurut daftar (price list) kepada pembeli karena adanya aktifitas-aktifitas tertentu yang dilakukan oleh pembeli.
Ada tiga bentuk allowance, Tjiptono (2002:169)yaitu:
a) Trade-in allowance, yaitu potongan yang diberikan dalam sistem tukar tambah.
b) Promotional allowance, yaitu potongan yang diberikan pada setiap penjualdalam jaringan distribusi perusahaan yang melakukan aktifitas periklanan atau penjualan tertentu yang dapat mempromosikan produk produsen.
c) Product allowance, yaitu potongan yang diberikan kepada pembeli yang bersedia membeli barang dalam kondisi yang tidak normal.

7) Tujuan Pemberian Potongan Harga
Sedangkan Kotler dalam Ancellawati (2000:151), terdapat beberapa keadaan atau peristiwa yang menjadi alasan suatu perusahaan untuk memberikan potongan harga, yaitu :
a) Apakah perusahaan mempunyai suatu kelebihan kapasitas, maka memerlukan tambahan pendapatan dan hal tersebut dapat diperoleh dengan meningkatkan usaha-usaha penjualan, menyempurnakan produk atau yang lainnya.
b) Suatu keadaan yang mendorong perusahaan memberikan potongan harga disebabkan merosotnya pangsa pasar sebagai akibat makin ketatnya tingkat persaingan.
c) Perusahaan akan memprakarsai potongan harga dalam usahanya mengungguli pesaing melalui struktur biaya yang lebih rendah. Perusahaan dapat mulai dengan biaya lebih rendah dari pada yang dimiliki para pesaingnya, atau memprakarsai potongan harga dengan maksud meraih pasar yang lebih besar sehingga diharapkan akan mengarah pada turunnya biaya.

c. Tempat/Lokasi Pelayanan (Place)
1) Pengertian Tempat/Lokasi Pelayanan
Menurut Hurriyati (2005:55): “Untuk produk industri manufaktur place diartikan sebagai saluran distribusi, sedangkan untuk produk industri jasa, place diartikan sebagai tempat pelayanan jasa”
Menurut Carvens (1998:28) saluran distribusi itu sendiri mempunyai arti: “Jaringan organisasi yang melakukan fungsi-fungsi yang menghubungkan produsen dengan pengguna akhir”.
Jadi saluran distribusi itu sendiri terdiri dari berbagai lembaga atau badan yang saling tergantung dan saling berhubungan yang berfungsi sebagai suatu sistem atau jaringan yang bersama-sama menghasilkan dan mendistribusikan sebuah produk kepada pengguna akhir.
2) Tingkat-tingkat saluran distribusi
Saluran distribusi digambarkan oleh jumlah tingkat saluran yang terlibat. Tingkat saluran menurut Kotler dan Amstrong dalam Hendra (2001:17) adalah: “Merupakan setiap lapisan perantara pemasaran yang melaksanakan semacam tugas dalam membawa produk dan kepemilikan lebih dekat kepada pembeli akhir”.
Tingkat saluran menurut Kotler dan Amstrong dalam Hendra (2001:17) dua macam tingkat saluran yaitu:
a) Saluran pemasaran langsung
Yakni tidak mempunyai perantara. Saluran ini terdiri dari perusahaan yang menjual langsung kepada konsumen.
b) Saluran pemasaran tidak langsung
Yakni terdiri dari satu tingkat perantara. Saluran ini terdiri dari perusahaan yang menjual melalui perantara kepada konsumen.

2) Jenis Perantara Dalam Pemasaran
Menurut Tjiptono (2002:185) Secara umum perantara terbagi atas:
Merchant middleman adalah perantara yang memiliki barang (dengan membeli dari produsen) untuk kemudian dijual kembali, sedangkan yang dimaksud dengan agent middlemant (broker) adalah perantara yang hanya mencarikan pembeli, menegosiasikan, dan melakukan transaksi atas nama produsen. Jadi ia tidak memiliki sendiri barang yang di negosiasikan, contohnya broker real estate dan sales agent travel/Hotel.
Dua bentuk utama dari mercant midleman adalah:
a) Wholesaler (disebut juga distributor atau jober)
Yaitu perusahaan yang melakukan kegiatan wholesaling. Wholesaling adalah segala kegiatan produk dalam kuantitas besar kepada pembeli non-konsunen akhir untuk tujuan dijual kembali atau untuk pemakai bisnis.
b) Retailer (Dealer)
Adalah perusahaan yang fungsi utamanya menjual produk kepada konsumen akhir untuk pemakaian pribadi dan rumah tangga. Penekanan pada fungsi utama tertentu ini menunjukkan bahwa retailer merupakan lembaga yang dapat berdiri sendiri.

d. Promosi (Promotion)
1) Pengertian promosi
Promosi merupakan salah satu variabel dalam bauran pemasaran yang penting untuk dilaksanakan oleh perusahaan dalam memasarkan barang dan jasa. Kegiatan promosi bukan hanya berfungsi sebagai alat untuk mempengaruhi konsumen, melainkan juga sebagai alat untuk mempengaruhi konsumen dalam kegiatan pemasaran.
Promosi digunakan untuk menginformasikan kepada orang mengenai produk-produk dan meyakinkan para pembeli dalam pasar sasaran suatu perusahaan, organisasi saluran, dan masyarakat umum untuk membeli barangnya. Alma (2000:135) mengatakan bahwa: “Promosi adalah sejenis komunikasi yang memberi penjelasan yang meyakinkan calon konsumen tentang barang dan jasa”.
Tujuan promosi adalah memperoleh perhatian, mendidik, mengingatkan dan meyakinkan calon konsumen.
Suatu kegiatan promosi jika dilaksanakan dengan baik dapat mempengaruhi konsumen mengenai dimana dan bagaimana konsumen membelanjakan pendapatannya. Keuntungan bagi produsen adalah promosi dapat menghindarkan persaingan berdasarkan harga, karena konsumen membeli barang lebih dikarenakan tertarik dengan merknya.
2) Variabel-variabel promosi
Perangkat promosi yang kita kenal atau biasanya disebut promotional mix menurut Carvens alih bahasa salim (1998:77) “adalah terdiri dari periklanan, personal selling, sales promotion, public relation, publisitas, dan direct marketing”. Model dari variabel-variabel itu antara lain:
a) Periklanan (Advertising)
Adalah “setiap bentuk presentasi dan promosi ide, barang atau jasa oleh sponsor tertentu”. (Carvens 1998:77)
Iklan biasanya bertanggung jawab untuk menciptakan kesadaran akan suatu produk baru.
Peranan periklanan pada pemasaran jasa adalah untuk membangun kesadaran (awareness) terhadap keberadaan jasa yang ditawarkan, untuk menambah pengetahuan konsumen tentang jasa yang ditawarkan, untuk membujuk calon konsumen untuk membeli atau menggunakan jasa tersebut, dan untuk membedakan diri perusahaan satu dengan yang lain (differentiate service) yang mendukung positioning jasa. (Lupiyoadi 2001:108).


b) Penjualan langsung (Personal Selling)
“Penjualan adalah presentasi langsung dalam suatu percakapan dengan satu atau lebih pembeli, dengan maksud, untuk mendapatkan penjualan”. (Carvens 1998:77).
Sifat personal selling bisa dikatakan lebih luwes karena tenaga penjual dapat secara langsung menyesuaikan penawaran penjualan dengan kebutuhan dan perilaku masing-masing calon pembeli. Selain itu, tenaga penjual juga dapat segera mengetahui reaksi calon pembeli terhadap penawaran penjualan sehingga dapat mengadakan penyesuaian-penyesuaian di tempat itu juga.
Keunggulan dari personal selling ini (Chandra 2002:176) adalah:
(1) Personal confrontation, artinya terjadi relasi langsung dan interaktif antara dua pihak atau lebih dimana masing-masing pihak dapat saling mengamati reaksi masing-masing.
(2) Cultivation, artinya memungkinkan terjadinya hubungan yang akrab antara wiraniaga dengan pembeli.
(3) Response, yaitu situasi yang seolah-olah mengharuskan pembeli untuk mendengar, memperhatikan, atau menanggapi presentasi wiraniaga.

c) Promosi penjualan (Sales promotion)
Adalah “semua kegiatan yang dimaksudkan untuk meningkatkan arus barang dan jasa dari produsen sampai pada akhirnya”. (Lupiyoadi 2001:109).
Promosi penjualan terdiri dari berbagai kegiatan promosi antara lain peragaan penjualan, kontes, pemberian sampel, display titik pembelian, pemberian insentif, dan kupon. Ada tiga manfaat pokok yang ditawarkan promosi penjualan (Chandra 2002:176):
(1) Komunikasi, yaitu memberikan informasi yang dapat menarik perhatian konsumen agar tertarik untuk membeli produk.
(2) Insentif, berupa kontribusi, konsesi, atau dorongan yang dapat bernilai tambah bagi pelanggan.
(3) Invitasi, yang mengharapkan agar konsumen segera melakukan transaksi pembelian.
d) Public Relation
“Merupakan kiat pemasaran penting lainnya dimana perusahaan itu harus berhubungan hanya dengan pelanggan, pemasok dan penyalur, tetapi ia juga harus berhubungan dengan kumpulan kepentingan publik yang lebih besar” (Lupiyoadi 2001:110).
e. Partisipan/Orang
Menurut Ratih (2005:62) menyatakan: “adalah semua pelaku yang memainkan peranan dalam penyajian jasa sehingga dapat mempengaruhi pembeli”. Elemen-elemen dari people adalah pegawai perusahaan, konsumen dan konsumen lain dalam lingkungan jasa.
Menurut Ratih (2005:63) elemen people ini memiliki 2 aspek, yaitu:
a. Service People
Untuk organisasi jasa, service people biasanya memegang jabatan ganda, yaitu mengadakan jasa dan menjual jasa tersebut. Melalui pelayanan yang baik, cepat, ramah, teliti dan akurat dapat menciptakan kepuasan dan kesetiaan pelanggan terhadap perusahaan yang akhirnya akan meningkatkan nama baik perusahaan.
b. Customer
Faktor lain yang mempengaruhi adalah hubungan yang ada diantara para pelanggan.

f. Pendukung Fisik
Menurut Nirwana (2004:47) “fasilitas pendukung merupakan bagian dari pemasaran jasa yang memiliki peranan cukup penting. Karena jasa yang disampaikan kepada pelanggan tidak jarang memerlukan fasilitas pendukung di dalam penyampaian”.
Hal ini akan semakin memperkuat keberadaan dari jasa tersebut. Karena dengan adanya fasilitas pendukung secara fisik, maka jasa tersebut akan dipahami oleh pelanggan.
Menurut Zeithaml dalam Yamit(2001:231) bukti fisik yaitu: Tangibles (bukti langsung), yaitu meliputi fasilitas fisik, perlengkapan, pegawai, dan sarana komunikasi.
Menurut Tandjung (2004:109) para pemasar dalam menciptakan layanan berkualitas perlu memperhatikan elemen layanan fisik sebagai berikut : “Prasarana yang berkaitan dengan layanan pelanggan juga harus diperhatikan oleh manajemen perusahaan. Gedung yang megah dengan fasilitas pendingin, alat telekomunikasi yang canggih atau perabot kantor yang berkualitas dan lain-lain menjadi pertimbangan pelanggan dalam memilih suatu produk/jasa.
Lovelock dalam Hurriyati (2002:248) mengemukakan bahwa perusahaan melalui tenaga pemasarnya menggunakan tiga cara dalam mengelola bukti fisik yang strategis yaitu:

1) An attention-creating medium. Perusahaan jasa melakukan diferensiasi dengan pesaing dan membuat sarana fisik semenarik mungkin untuk menjaring pelanggan dari target pasarnya
2) As a massage-creating medium. Menggunakan simbol atau isarat untuk mengkomunikasikan secara instensif kepada audiens mengenai kekhususan kualitas dan produk jasa.
3) An effect-creating medium. Baju seragam yang berwarna, bercorak, suara dan desain untuk menciptakan sesuatu yang lain dari produk jasa yang ditawarkan.

g. Proses (process)

Proses menurut Zeitmal dalam Hurriyati (2005:64): “adalah semua prosedur aktual, mekanisme, dan aliran aktivitas yang digunakan untuk menyampaikan jasa”.
Proses dalam jasa merupakan faktor utama dalam bauran pemasaran jasa seperti pelanggan jasa akan sering merasakan sistem penyerahan jasa sebagai bagian dari jasa itu sendiri. Selain itu keputusan dalam manajemen operasi adalah sangat penting untuk suksesnya pemasaran jasa.
Menurut Hurriyati (2005:65)
Seluruh aktivitas kerja adalah proses, proses melibatkan prosedur-prosedur, tugas-tugas, jadwal-jadwal, mekanisme-mekanisme, aktivitas-aktivitas dan rutinitas-rutinitas dengan apa produk atau jasa disalurkan ke pelanggan. Identifikasi manajemen proses sebagai aktifitas terpisah adalah prasyarat bagi perbaikan jasa. Pentingnya elemen proses ini khususnya dalam bisnis jasa disebabkan oleh persediaan jasa yang tidak dapat disimpan.



5. Konsep Penjualan
Menurut Sigit (1999:55): “Penjualan adalah sasaran inti di antara kegiatan-kegiatan lainnya, sebab disini dilakukan perundingan persetujuan tentang serah terima barang serta pembayaran”.
Menurut Kotler (2000:16) “Konsep penjualan menyatakan bahwa konsumen jika diabaikan biasanya tidak akan membeli produk organisasi dalam jumlah cukup. Karena itu organisasi harus melakukan usaha penjualan dan promisi yang agresif.
Konsep ini mengasumsikan bahwa konsumen malas atau enggan melakukan pembelian dan untuk itu harus didorong. Juga diasumsikan bahwa perusahaan memiliki cara penjualan dan peralatan promosi yang efektif untuk merangsang lebih banyak pembelian.
Kegiatan penjualan atau selling adalah merupakan kegiatan terakhir dari kegiatan-kegiatan pemasaran lainnya. Tetapi bagian terpenting dalam pemasaran bukanlah menjual. Menjual hanyalah puncak dari gunung es pemasaran. Seseorang dapat mengasumsikan bahwa penjualan selalu tetap dibutuhkan, namun tujuan pemasaran adalah membuat kegiatan menjual berjalan lancar. Dalam hal ini adalah mengetahui dan memahami para pelanggan dengan baik sehingga produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan cocok dengan mereka dan dapat terjual dengan sendirinya. Idealnya, pemasaran harus menghasilkan pelanggan yang siap untuk membeli sehingga yang tinggal hanyalah bagaimana membuat produk atau jasa tersebut tersedia.
6. Keputusan pembelian
Menurut Engel et. Al (1999:31) Budiono Keputusan pembelian adalah proses merumuskan berbagai alternatif tindakan guna menjatuhkan pilihan pada salah satu alternatif tertentu untuk melakukan pembelian.
Pemasar perlu mengetahui siapa yang terlibat dalam keputusan membeli dan peran apa yang dimainkan oleh setiap orang untuk banyak produk, cukup mudah untuk mengenali siapa yang mengambil keputusan.
Menurut Engel et. Al dalam Budiono (1999:31) orang mungkin memainkan beberapa peran dalam keputusan membeli:
a. Pemrakarsa orang yang pertama menyarankan atau mencetuskan gagasan membeli produk atau jasa tertentu.
b. Pemberi pengaruh: orang yang pandangan atau sarannya mempengaruhi keputusan membeli.
c. Pengambil keputusan : orang yang akhirnya membuat keputusan membeli atau sebagian dari itu, apakah akan membeli, apa yang dibeli, bagaimana membelinya atau di mana membeli.
d. Pembeli : orang yang benar-benar melakukan pembelian
e. Pengguna : orang yang mengkonsumsi atau menggunakan produk atau jasa.

Mengetahui peserta utama proses pembelian dan peran yang mereka mainkan membantu pemasar untuk menyesuaikan program pemasaran.
 

7. Jenis-jenis tingkah laku keputusan pembelian

Semakin kompleks keputusan yang harus diambil biasanya semakin banyak pertimbangannya untuk membeli. Adapun jenis-jenis tingkah laku membeli konsumen berdasarkan pada derajat keterlibatan dan tingkat perbedaan antara merek menurut Kotler dalam Hendra (2001:160), yaitu:
a. tingkah laku membeli yang komplek
b. tingkah laku membeli yang mengurangi ketidakcocokan.
c. tingkah laku membeli yang mencari variasi
d. tingkah laku membeli yang menjadi kebiasaan.
Penjelasan jenis-jenis tingkah laku tersebut adalah sebagai berikut:
a. Tingkah laku membeli yang kompleks
Tingkah laku membeli konsumen dalam situasi yang bercirikan keterlibatan tinggi konsumen dalam pembelian dan perbedaan besar yang dirasakan diantara merek.
Pembeli ini akan melewati proses pembelajaran, pertama mengembangkan keyakinan mengenai produk, kemudian sikap, dan selanjutnya membuat pilihan membeli yang dipikirkan masak-masak. Pemasar dari produk yang banyak melibatkan peserta harus memahami tingkah laku pengumpulan informasi dan evaluasi dari konsumen yang amat terlibat. Mereka perlu membantu pembeli belajar mengenai atribut kelas produk dan kepentingan relatif masing-masing, dan mengenai apa yang ditawarkan merk tertentu, mungkin dengan menguraikan panjang lebar keunggulan mereka lewat media cetak.
b. Tingkah laku membeli yang mengurangi ketidakcocokan
Tingkah laku membeli konsumen dalam situasi yang bercirikan keterlibatan konsumen yang tinggi tetapi sedikit perbedaan yang dirasakan diantara merek. Tingkah laku membeli yang mengurangi ketidakcocokan terjadi ketika konsumen amat terlibat dalam pembelian barang yang mahal, jarang dibeli dan beresiko tetapi melihat sedikit perbedaan diantara merek.
c. Tingkah laku membeli yang merupakan kebiasaan
Tingkah laku membeli yang menjadi kebiasaan terjadi di bawah kondisi keterlibatan konsumen yang rendah dan perbedaan merek yang dirasakan besar.
Konsumen tampaknya mempunyai keterlibatan yang rendah dengan kebanyakan produk yang mempunyai harga murah dan sering dibeli.
Dalam hal ini, tingkah laku konsumen tidak diteruskan lewat urutan keyakinan – sikap – tingkah laku yang biasa. Konsumen tidak mencari informasi secara ekstensif mengenai merek mana yang akan dibeli. Sebaliknya, mereka secara pasif menerima informasi ketika menonton televisi atau membaca majalah. Pengulangan iklan menciptakan pengenalan akan merek bukan keyakinan pada merek. Konsumen tidak membentuk sikap yang kuat terhadap suatu merek; mereka memilih merek karena sudah dikenal. Karena keterlibatan mereka dengan produk tidak tinggi, konsumen mungkin tidak mengevaluasi pilihan bahkan setelah membeli. Jadi, proses membeli melibatkan keyakinan merek yang terbentuk oleh pembelajaran pasif, diikuti dengan tingkah laku membeli, yang mungkin diikuti atau tidak dengan evaluasi.
Karena pembeli tidak memberikan komitmen yang kuat pada suatu merek, pemasar produk yang kurang terlibat pada beberapa perbedaan merek seringkali seringkali menggunakan harga dan promosi penjualan untuk merangsang konsumen agar mau mencoba produk.
d. Tingkah laku membeli yang mencari variasi
Konsumen menjalani tingkah laku membeli yang mencari variasi dalam situasi yang ditandai oleh keterlibatan konsumen rendah, tetapi perbedaan merk dianggap berarti.
Dalam kategori produk seperti ini, strategi pemasaran mungkin berbeda untuk merk yang menjadi pemimpin pasar dan untuk merk yang kurang ternama. Perusahaan akan mendorong pencarian variasi dengan menawarkan harga rendah, penawaran khusus, kupon, sampel gratis, dan iklan yang menunjukkan alasan untuk mencoba sesuatu yang baru.
8. Proses Keputusan Membeli
Menurut Kotler dalam Hendra (2001:162) tahap-tahap yang dilewati pembeli untuk mencapai keputusan membeli melewati lima tahap, yaitu:
a. Pengenalan kebutuhan
b. Pencarian Informasi
c. Evaluasi alternatif
d. Keputusan Membeli
e. Tingkah laku pasca pembelian.

Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
a. Pengenalan kebutuhan
Proses membeli dimulai dengan pengenalan kebutuhan dimana pembeli mengenali adanya masalah atau kebutuhan. Pembeli merasakan perbedaan antara keadaan nyata dan keadaan yang diinginkan.
b. Pencarian informasi
Seorang konsumen yang sudah terkait mungkin mencari lebih banyak informasi tetapi mungkin juga tidak. Bila dorongan konsumen kuat dan produk yang dapat memuaskan ada dalam jangkauan, konsumen kemungkinan akan membelinya. Bila tidak, konsumen dapat menyimpan kebutuhan dalam ingatan atau melakukan pencarian informasi yang berhubungan dengan kebutuhan tersebut.
Menurut Kotler dalam Hendra (2001:162) kosumen dapat memperoleh informasi dari beberapa sumber. Sumber ini termasuk:
1) Sumber pribadi : keluarga, teman, tetangga, kenalan
2) Sumber komersial : iklan, wiraniaga, agen, kemasan, pajangan.
3) Sumber publik: media massa, organisasi penilai konsumen
4) Sumber pengalaman : penanganan, pemeriksaan, menggunakan produk.
Pengaruh relatif dari sumber informasi ini bervariasi menurut produk dan pembeli. Pada umumnya, konsumen menerima sebagian besar informasi mengenai suatu produk dari sumber komersial, yang dikendalikan oleh pemasar. Akan tetapi, sumber paling efektif cenderung sumber pribadi. Sumber pribadi tampaknya bahkan lebih penting dalam mempengaruhi pembelian jasa. Sumber komersial biasanya memberitahu pembeli, tetapi sumber pribadi membenarkan atau mengevaluasi produk bagi pembeli. Misalnya, dokter pada umumnya belajar mengenai obat baru cari sumber komersial, tetapi bertanya kepada dokter lain untuk informasi yang evaluatif.
c. Evaluasi alternatif
Tahap dari proses keputusan membeli, yaitu ketika konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi merk alternatif dalam perangkat pilihan. Konsep dasar tertentu membantu menjelaskan proses evaluasi konsumen. Pertama, kita menganggap bahwa setiap konsumen melihat produk sebagai kumpulan atribut produk. Kedua, konsumen akan memberikan tingkat arti penting berbeda terhadap atribut berbeda menurut kebutuhan dan keinginan unik masing-masing. Ketiga, konsumen mungkin akan mengembangkan satu himpunan keyakinan merek mengenai dimana posisi setiap merek pada setiap atribut. Keempat, harapan kepuasan produk total konsumen akan bervariasi pada tingkat atribut yang berbeda. Kelima, konsumen sampai pada sikap terhadap merek berbeda lewat beberapa prosedur evaluasi. Ada konsumen yang menggunakan lebih dari satu prosedur evaluasi, tergantung pada konsumen dan keputusan pembelian.
Bagaimana konsumen mengevaluasi alternatif barang yang akan dibeli tergantung pada masing-masing individu dan situasi membeli spesifik. Dalam beberapa keadaan, konsumen menggunakan perhitungan dengan cermat dan pemikiran logis. Pada waktu lain, konsumen yang sama hanya sedikit mengevaluasi atau tidak sama sekali; mereka membeli berdasarkan dorongan sesaat atau tergantung pada intuisi. Kadang-kadang konsumen mengambil keputusan membeli sendiri; kadang-kadang mereka bertanya pada teman, petunjuk bagi konsumen, atau wiraniaga untuk memberi saran pembelian.
Pemasar harus mempelajari pembeli untuk mengetahui bagaimana sebenarnya mereka mengevaluasi alternatif merek. Bila mereka mengetahui proses evaluasi apa yang sedang terjadi, pemasar dapat membuat langkah-langkah untuk mempengaruhi keputusan membeli.
d. Keputusan membeli
Dalam tahap evaluasi, konsumen membuat peringkat merek dan membentuk niat untuk membeli. Pada umumnya, keputusan membeli konsumen adalah membeli merek yang paling disukai, tetapi dua faktor dapat muncul antara niat untuk membeli dan keputusan untuk membeli. Faktor pertama adalah sikap orang lain, yaitu pendapat dari orang lain mengenai harga, merek yang akan dipilih konsumen. Faktor kedua adalah faktor situasi yang tidak diharapkan, harga yang diharapkan dan manfaat produk yang diharapkan. Akan tetapi peristiwa-peristiwa yang tak diharapkan bisa menambah niat pembelian.
e. Tingkah laku pasca pembelian
Tahap dari proses keputusan pembeli, yaitu konsumen mengambil tindakan lebih lanjut setelah membeli berdasarkan pada rasa puas atau tidak puas. Yang menentukan pembeli merasa puas atau tidak puas dengan suatu pembelian terletak pada hubungan antara harapan konsumen dengan prestasi yang diterima dari produk. Bila produk tidak memenuhi harapan, konsumen merasa tidak puas, bila memenuhi harapan konsumen merasa puas, bila melebihi harapan konsumen akan merasa puas.
Konsumen mendasarkan harapan mereka pada informasi yang mereka terima dari penjual, teman dan sumber-sumber yang lain. Bila penjual melebih-lebihkan prestasi produknya, harapan konsumen tidak akan terpenuhi dan hasilnya ketidakpuasan. Semakin besar antara kesenjangan antara harapan dan prestasi, semakin besar ketidakpuasan kosumen. Hal ini menunjukkan bahwa pembeli harus membuat pernyataan yang jujur mengenai prestasi produknya sehingga pembeli akan puas.


9. Pengaruh Bauran Pemasaran terhadap Keputusan Pembelian
Merupakan suatu tantangan bagi perusahaan dan perlu untuk direspon dengan merancang strategi pemasaran yang tepat. Perusahaan dituntut lebih memperhatikan kebutuhan dan keinginan konsumen, selanjutnya perlu diketahui harapannya dan kemudian berusaha untuk memenuhinya, sehingga perusahaan dapat eksis dalam persaingan.
Bauran Pemasaran merupakan bagian yang paling penting dari kegiatan pemasaran jasa. Bauran pemasaran jasa yang baik akan sangat membantu dalam mempertahankan konsumen, karena biaya yang diperlukan untuk mempertahankan kemauan pelanggan akan lebih sedikit jika dibandingkan biaya untuk merebut kembali pelanggan yang telah hilang atau untuk menarik konsumen yang baru yang biasanya lebih besar.
Pengaruh antara bauran pemasaran dengan keputusan konsumen ini diungkapkan oleh Tjiptono (2002:68) sebagai berikut:
Bauran pemasaran dan keputusan konsumen berkaitan sangat erat. Bauran pemasaran memberikan suatu dorongan kepada konsumen untuk menjalin ikatan hubungan yang kuat dengan perusahaan. Dalam jangka panjang ikatan seperti ini memungkinkan perusahaan untuk memahami dengan seksama harapan konsumen serta kebutuhan mereka. Dengan demikian perusahaan dapat meningkatkan keputusan pelanggan dimana perusahaan memaksimumkan pengalaman yang menyenangkan dan meminimumkan atau meniadakan pengalaman konsumen yang kurang menyenangkan. Pada gilirannya kepuasan konsumen dapat menciptakan kesetiaan atau loyalitas pelanggan kepada perusahaan.
 
B. Hasil Penelitian Terdahulu yang relevan
Hasil penelitian Sucahyo (2006) dari Universitas merdeka Malang yang berjudul Analisis Pengaruh Kebijakan Harga, Promosi Dan Fasilitas Pendukung Terhadap Kepuasan Pelanggan Di Hotel Grand Palace Malang, penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pengaruh variabel bauran pemasaran jasa yang terdiri dari kebijakan harga, promosi, dan pendukung fisik secara bersama-sama terhadap kepuasan pelanggan pada Hotel Grand Palace Malang dan mengetahui dan menganalisis variabel bauran pemasaran jasa yang dominan berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan pada Hotel Grand Palace Malang.
Dengan menggunakan analisis regresi linier berganda dan uji hipotesis dengan uji F dan uji t didapatkan hasil hasil uji F di peroleh F hitung sebesar 58,923 > dari F tabel 2,89 yang berarti bahwa variabel kebijakan harga (X1), Promosi (X2), dan Bukti fisik (X3) secara simultan/bersama-sama mempunyai pengaruh signifikan (bermakna) terhadap Kepuasan pelanggan (Y), hasil koefisien regresi setelah uji t diketahui variabel kebijakan harga (X1) mempunyai nilai yang paling besar jika dibandingkan dengan koefisien regresi variabel lainnya. Sehingga hipotesis kedua yang menyatakan bahwa variabel kebijakan harga adalah variabel yang berpengaruh dominan terhadap kepuasan pelanggan pada Hotel Grand Palace teruji secara statistik.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Sucahyo (2006) terdapat persamaan antara variabel-variabel bebas yang merupakan variabel kebijakan harga dan promosi, dan fasiltas pendukung sedangkan perbedaannya adalah pada penelitian terdahulu tidak menggunakan variabel bebas partisipan/orang, proses dan produk, dan variabel terikatnya dimana dalam penelitian yang dilakukan menggunakan variabel terikat keputusan, sedang pada penelitian yang dilakukan oleh Sucahyo (2005) menggunakan variabel terikat tingkat kepuasan pengguna jasa hotel.



C. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap perumusan masalah penelitian, oleh sebab itu perumusan masalah penelitian biasanya disusun dalam bentuk kalimat atau pertanyaan (Sugiono, 2000:51). Berdasarkan permasalahan yang diteliti, maka ditarik suatu hipotesis sebagai berikut:
1. Diduga variabel bauran pemasaran jasa yang terdiri dari: produk, kebijakan harga, promosi, lokasi pelayanan, partisipan/orang, pendukung fisik dan proses secara bersama-sama berpengaruh terhadap keputusan konsumen untuk menggunakan jasa pada Hotel Grand Palace Malang.
2. Diduga variabel harga adalah variabel yang berpengaruh dominan terhadap keputusan konsumen untuk menggunakan jasa pada Hotel Grand Palace Malang.

BAB III METODE PENELITIAN…… dst
(MOHON MAAF!! TAMPILAN TABEL, GAMBAR, DAN RUMUS MENGGUNAKAN EQUATION KESULITAN UNTUK BISA DI UPLOAD) 
 
Sumber : http://judul-pemasaran.blogspot.com

PENGARUH BAURAN PEMASARAN (7P) TERHADAP KEPUTUSAN KONSUMEN UNTUK MENGGUNAKAN JASA DI HOTEL GRAND PALACE MALANG adalah salah satu contoh PENGARUH BAURAN PEMASARAN (7P) TERHADAP KEPUTUSAN KONSUMEN UNTUK MENGGUNAKAN JASA DI HOTEL GRAND PALACE MALANG kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online PENGARUH BAURAN PEMASARAN (7P) TERHADAP KEPUTUSAN KONSUMEN UNTUK MENGGUNAKAN JASA DI HOTEL GRAND PALACE MALANG untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload PENGARUH BAURAN PEMASARAN (7P) TERHADAP KEPUTUSAN KONSUMEN UNTUK MENGGUNAKAN JASA DI HOTEL GRAND PALACE MALANG full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan PENGARUH BAURAN PEMASARAN (7P) TERHADAP KEPUTUSAN KONSUMEN UNTUK MENGGUNAKAN JASA DI HOTEL GRAND PALACE MALANG dalam bentuk PDF secara gratis.

yhs-002, jurnal bauran pemasaran 7p, contoh makalah customer service, bauran pemasaran 7p pdf, pengertian kalimat tesis

E 161: Analisis Pengaruh Harga, Kualitas, Aroma Dan Daya Tahan Terhadap Keputusan Konsumen Dalam Menggunakan Obat Nyamuk Bakar Baygon

30th November 2011 Cat: Skripsi with Comments Off

E 161: Analisis Pengaruh Harga, Kualitas, Aroma Dan Daya Tahan Terhadap Keputusan Konsumen Dalam Menggunakan Obat Nyamuk Bakar Baygon adalah salah satu contoh E 161: Analisis Pengaruh Harga, Kualitas, Aroma Dan Daya Tahan Terhadap Keputusan Konsumen Dalam Menggunakan Obat Nyamuk Bakar Baygon kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online E 161: Analisis Pengaruh Harga, Kualitas, Aroma Dan Daya Tahan Terhadap Keputusan Konsumen Dalam Menggunakan Obat Nyamuk Bakar Baygon untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload E 161: Analisis Pengaruh Harga, Kualitas, Aroma Dan Daya Tahan Terhadap Keputusan Konsumen Dalam Menggunakan Obat Nyamuk Bakar Baygon full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan E 161: Analisis Pengaruh Harga, Kualitas, Aroma Dan Daya Tahan Terhadap Keputusan Konsumen Dalam Menggunakan Obat Nyamuk Bakar Baygon dalam bentuk PDF secara gratis.

Analisis Pengaruh Harga, Kualitas, Aroma Dan Daya Tahan Terhadap Keputusan Konsumen Dalam Menggunakan Obat Nyamuk Bakar Baygon Di Desa Randusari Kecamatan Teras Kabupaten Boyolali

ABSTRAK

Keinginan yang tinggi dari masyarakat akan kesehatan akan membuat mereka berusaha untuk mencari produk yang dapat menjaga kesehatannya, salah satunya adalah obat nyamuk tujuan penelitian yang hendak dicapal melalui penelitian di sini adalah untuk mengetahui signifikansi pengaruh harga, kualitas, aroma dan daya tahan terhadap keputusan konsumen dalam menggunakan obat nyamuk bakar Baygon.
penelitian ini merupakan penelitian survey yang dilakukan di Desa Randusari Kecamatan Teras Kabupaten Boyolali. Jenis data yang diperlukan yaitu tanggapan responden tentang harga, kualitas, aroma, daya tahan, keputusan untuk menggunakan obat nyamuk bakar Baygon, jumlah penduduk, jumlah pembeli. Sumber data yaitu data primer dan data sekunder. Teknik pengambilan sampel dengan metode quoto sampling dimana pemillhan sampel dalam penelitian ini dibatasi hanya sebanyak 25 ibu rumah tangga karena populasinya bersifat homogin atau sama. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner, interview dan observasi. Teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif, analisis regresi linier berganda uji t uji F dan koefisien determinasi
Dari basil analisis dapat diperoleh persamaan regresi linear berganda adalah Y = -0-13081- -0.201X1 + 0.479X2 + 0.304X3 + 0-419X4 + e. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa variabel kualitas obat nyamuk bakar Baygon merupakan variabel yang paling dominan pengaruhnya terhadap keputusan konsumen untuk membeli obat nyamuk bakar Bavgon karena nilai koefisien regresinya paling besar yaitu 0.479. Uji t pengaruh variabel harga (X1) terhadap keputusan konsumen (Y) diperoleh nilai nilai

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2003, Peraturan Umum dan Pedoman Pemusiman Skripsi, FE Unisri, Surakarta
Basu Swastha DH dan Irawan, 1990, Manajemen Pemasaran Modern, Edisi Kedua, Cetakan Keempat, Liberty, Yogyakarta. gyakarta.
Basu Swasta DH dan T. Hani Handoko, 1997, Manajemen Pemasaran, Analisis Perilaku Konsumen, Liberty, Yogyakarta
Basu Swasta DH, 1999, Azas-azas Marketing, Edisi 3, Liberty, Yogyakarta
Djanvanto Ps dan Pangestu Subagyo, 1994, Statistik lnduktif, Edisi 4, BPFE-UGM, Yogyakarta
Engel F Jefnes, dkk, 1994, Perilaku Konsumen, Terjemahan F.X. Budiyono, Binarupa Aksara Jakarta.
Kamisa, 1997, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Kartika, Surabaya
Kotler Philip, 1995, Dasar-dasar Pemasaran, Alih Bahasa Jaka Wasana MSM lntermedia, Jakarta.
Suharsimi Ankunto, 1997, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta
T. Hani Handoko, 1999, Dasar-dasar Manajemen Produksi dan Operasi Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Winarno Surachmad, 1994, Pengantar Penelitian Ilmiah, Tarsito, Bandung
Zainal Mustafa, 1995, Pengantar Statistik Untuk Ekonomi Terapan, BPFE-UII, Yogyakarta M

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word), hubungi : 08572 8000 963

E 161: Analisis Pengaruh Harga, Kualitas, Aroma Dan Daya Tahan Terhadap Keputusan Konsumen Dalam Menggunakan Obat Nyamuk Bakar Baygon adalah salah satu contoh E 161: Analisis Pengaruh Harga, Kualitas, Aroma Dan Daya Tahan Terhadap Keputusan Konsumen Dalam Menggunakan Obat Nyamuk Bakar Baygon kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online E 161: Analisis Pengaruh Harga, Kualitas, Aroma Dan Daya Tahan Terhadap Keputusan Konsumen Dalam Menggunakan Obat Nyamuk Bakar Baygon untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload E 161: Analisis Pengaruh Harga, Kualitas, Aroma Dan Daya Tahan Terhadap Keputusan Konsumen Dalam Menggunakan Obat Nyamuk Bakar Baygon full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan E 161: Analisis Pengaruh Harga, Kualitas, Aroma Dan Daya Tahan Terhadap Keputusan Konsumen Dalam Menggunakan Obat Nyamuk Bakar Baygon dalam bentuk PDF secara gratis.

contoh surat pengantar kuesioner, contoh surat pengantar angket, contoh kata pengantar kuesioner, contoh pengantar kuesioner skripsi, contoh pengantar kuesioner

E-167 : Pengaruh Bahasa Iklan Ramah Lingkungan Dan Bukan Ramah Lingkungan Terhadap Minat Beli Konsumen

30th November 2011 Cat: Skripsi with Comments Off

E-167 : Pengaruh Bahasa Iklan Ramah Lingkungan Dan Bukan Ramah Lingkungan Terhadap Minat Beli Konsumen adalah salah satu contoh E-167 : Pengaruh Bahasa Iklan Ramah Lingkungan Dan Bukan Ramah Lingkungan Terhadap Minat Beli Konsumen kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online E-167 : Pengaruh Bahasa Iklan Ramah Lingkungan Dan Bukan Ramah Lingkungan Terhadap Minat Beli Konsumen untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload E-167 : Pengaruh Bahasa Iklan Ramah Lingkungan Dan Bukan Ramah Lingkungan Terhadap Minat Beli Konsumen full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan E-167 : Pengaruh Bahasa Iklan Ramah Lingkungan Dan Bukan Ramah Lingkungan Terhadap Minat Beli Konsumen dalam bentuk PDF secara gratis.

Pengaruh Bahasa Iklan Ramah Lingkungan Dan Bukan Ramah Lingkungan Terhadap Minat Beli Konsumen Untuk Produk Lemari Es Toshiba Di Daerah Istimewa Yogyakarta

INTISARI

Penelitian ini dilakukan untuk menguji perbedaaan bahasa iklan ramah lingkungan dan bahasa iklan finasial dalam mempengaurhi sikap terhadap iklan dan minat untuk memberi produk lemari es “Thosiba” serta menguji responden dukungan dan penolakan yang diberikan terhadap produk lemari es “Thosiba”.
Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling yaitu pengambil sampel dengan tujuan tertentu namun tetap representative. Sampel diambil dari daerah istimewa Yogyakarta yang berjumlah 120 responden. Data dikumpukan dengan menggunakan teknik penyebaran kusioner. Metode analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji t dan analisis varians (ANOVA).
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah bahwa ada perbedaan yang signifikan (Sig. t = 0,019) antara bahas aiklan yang ramah lingkungan dan bahas aiklan finasial dalam mempengaruhi minat beli produk ramah lingkungan bagi konsumen yang mempunyai perhatian tinggi terhadap lingkungan. Tidak ada perbedaaan yang signifikan (Sig. t = 0,455) antara bahasa iklan yang ramah lingkungan dan bahasa iklan financial dalam mempengaruhi sikap terhadap iklan produk ramah lingkungan bagi konsumen yang mempunyai perhatian tinggi terhadap lingkungan. Tidak ada perbedaan (Sig. t = 0,680) yang signifikan antara bahasa iklan yang ramah lingkungan dan bahasa iklan finasial dalam bagi konsumen yang mempunyai perhatian tinggi terhadap lingkungan. Bahasa iklan yang ramah lingkungan mempengaruhi lebih tinggi minat beli dan sikap terhadap iklan produk ramah lingkungan bagi konsumen yang mempunyai perhatian rendah terhadap lingkungan dibandingkan dengan pengaruh yang diberikan oleh bahasa iklan financial. Bahasa iklan yang ramah lingkungan memberikan responden dukungan dan respon penolakan lebih kecil dibandingkan bahasa iklan finasial bagi konsumen yang mempunyai perhatian rendah terhadap lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

Djayakusumah, Tams. 1982. Periklanan. Bandung : Armico
Eladi, Sutrisno. (1988). Metodologi Research. Yogyakarta : Andi Offset.
Kasali, Rhenald. 1992. Manajemen Periklanan Konsep dun Aplikasinya di Indonesia. Jakarta : Pustaka Utama Grafiti.
Kotler, Philip. 1991. Manajemen Pemasaran Analisis, Perencanaan dan Pengendalian. Jilid l. Jakarta.: Erlangga.
Kotler, Philip & Armstrong, Gary. 1996. Dasar-dasar pemasaran. Jilid 2. New Jersey : Simon & Schuster Pte. Ltd
Melody E. Schuhwerk & Roxanne Lefkoff-Haigus. 1995. Green or Non-Green? Does Type of Appeal Matter When Advertising a Green Product?. Journal of Advertising, Volume XXIV, Number 2.
Ogilvy, David. 1987. Pengakuan Orang Iklan. Jakarta : Pustaka Tangga.
P. Guiltinan, Joseph & W. Paul, Gordon. 1987. Strategi dan Program Manajemen Pemasaran. Jakarta: Erlangga.
Santoso, Singgih. 2000. SPSS Mengolah Data Statistik Secara Profesional. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Santoso, Singgih & Tjiptono, Fandy. 2001. Riset Pemasaran Konsep dan Aplikasi dengan SPSS. Jakarta : Elex Media Komputindo.
Winardi. 1992. Promosi dun Reklame. Bandung : Mandar Maju

Untuk mendapatkan file skripsi / Thesis / PTK / PTS lengkap (Ms.Word), hubungi : 08572 8000 963

E-167 : Pengaruh Bahasa Iklan Ramah Lingkungan Dan Bukan Ramah Lingkungan Terhadap Minat Beli Konsumen adalah salah satu contoh E-167 : Pengaruh Bahasa Iklan Ramah Lingkungan Dan Bukan Ramah Lingkungan Terhadap Minat Beli Konsumen kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online E-167 : Pengaruh Bahasa Iklan Ramah Lingkungan Dan Bukan Ramah Lingkungan Terhadap Minat Beli Konsumen untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload E-167 : Pengaruh Bahasa Iklan Ramah Lingkungan Dan Bukan Ramah Lingkungan Terhadap Minat Beli Konsumen full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan E-167 : Pengaruh Bahasa Iklan Ramah Lingkungan Dan Bukan Ramah Lingkungan Terhadap Minat Beli Konsumen dalam bentuk PDF secara gratis.

makalah one way anova, makalah tentang anova, contoh skripsi simple present tense, contoh makalah anova, artikel kesehatan one way anova