SKRIPSI PTK PENERAPAN METODE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI PADA KOMPETENSI DASAR MENGANALISIS HIDROSFER DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN DI MUKA BUMI

2nd January 2012 Cat: Tesis with Comments Off

SKRIPSI PTK PENERAPAN METODE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI PADA KOMPETENSI DASAR MENGANALISIS HIDROSFER DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN DI MUKA BUMI adalah salah satu contoh SKRIPSI PTK PENERAPAN METODE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI PADA KOMPETENSI DASAR MENGANALISIS HIDROSFER DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN DI MUKA BUMI kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online SKRIPSI PTK PENERAPAN METODE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI PADA KOMPETENSI DASAR MENGANALISIS HIDROSFER DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN DI MUKA BUMI untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload SKRIPSI PTK PENERAPAN METODE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI PADA KOMPETENSI DASAR MENGANALISIS HIDROSFER DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN DI MUKA BUMI full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan SKRIPSI PTK PENERAPAN METODE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI PADA KOMPETENSI DASAR MENGANALISIS HIDROSFER DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN DI MUKA BUMI dalam bentuk PDF secara gratis.

(KODE PTK-0055) : SKRIPSI PTK PENERAPAN METODE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI PADA KOMPETENSI DASAR MENGANALISIS HIDROSFER DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN DI MUKA BUMI (MATA PELAJARAN : GEOGRAFI) – (SMA KELAS X)



BAB I
PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan bagian yang sangat penting dan tidak dapat dipisahkan dari pembangunan nasional. Oleh karena itu pembangunan di bidang pendidikan merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan sumberdaya manusia agar mampu bersaing dalam menghadapi perkembangan zaman. Karena pentingnya bidang pendidikan tersebut maka komponen yang terkait dalam dunia pendidikan baik keluarga, masyarakat, dan juga pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Meningkatkan kualitas pembelajaran merupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam suatu proses belajar mengajar untuk meningkatkan mutu pendidikan. Hal ini merupakan tugas bagi masing-masing sekolah dan yang paling utama adalah bagi guru sebagai tenaga pengajar. Guru harus selalu kreatif dan inovatif dalam melakukan pembelajaran agar siswa lebih mudah memahami materi yang disampaikan dan antusias dalam mengikuti proses belajar mengajar, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan berkualitas dan prestasi yang dicapai siswa memuaskan. Metode pembelajaran yang dipilih harus sesuai dengan materi pelajaran yang akan disampaikan, karena pemilihan metode pembelajaran yang tepat akan membantu tercapainya tujuan pembelajaran.
Seiring dengan diterapkannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mulai tahun 2006 lalu, guru tidak bisa lagi mempertahankan paradigma lama yaitu guru merupakan pusat kegiatan belajar di kelas (teacher center). Hal ini nampaknya masih banyak diterapkan di ruang-ruang kelas dengan alasan pembelajaran seperti ini merupakan pembelajaran yang paling praktis dan tidak menyita waktu. Hal ini menyebabkan siswa cenderung jenuh, bosan dan akhirnya kurang tertarik terhadap pembelajaran yang berlangsung. Hal ini berpengaruh terhadap capaian hasil belajar siswa.
Secara umum keberhasilan proses belajar mengajar dapat ditinjau dari dua faktor, yaitu:
1. Faktor guru
a. Penggunaan metode mengajar yang sesuai dengan materi yang diajarkan
b. Penguasaan guru terhadap materi yang disampaikan
c. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan.
2. Faktor siswa
a. Seberapa besar minat dan kemampuan siswa dalam belajar
b. Kemampuan siswa untuk mempelajari buku-buku bacaan sebagai sumber belajar
Berdasarkan pengamatan dan observasi yang telah dilakukan di SMAN X, pembelajaran geografi yang dilakukan guru masih menggunakan metode pembelajaran konvensional ceramah dan pembelajaran berpusat pada guru. Guru geografi tidak menyadari bahwa metode pembelajaran konvensional yang dilakukan monoton dan membosankan sehingga para siswa menjadi kurang antusias, cenderung pasif, dan kurang tertarik dalam kegiatan belajar mengajar. Selain itu dalam pembelajaran guru juga tidak menggunakan media yang menarik. Hal inilah yang menyebabkan hasil belajar yang dicapai siswa cenderung rendah. Kenyataannya di lapangan, guru merasa kesulitan dalam menerapkan metode pembelajaran yang tepat untuk mata pelajaran geografi karena guru sudah terbiasa dengan metode ceramah yang dirasa paling mudah dilaksanakan.
Selain dari faktor guru, rendahnya hasil belajar siswa juga dapat disebabkan karena faktor dari siswa, salah satunya yaitu minat belajar. Pada saat pelajaran geografi berlangsung siswa cenderung pasif di dalam kelas, hanya beberapa siswa yang terlihat mencatat penjelasan guru, sedikit yang mempunyai buku literatur, dan sedikit siswa yang bertanya. Hal ini menunjukkankan bahwa siswa kurang berminat dalam mengikuti pelajaran geografi. Kurangnya minat siswa terhadap pelajaran geografi dapat menyebabkan hasil belajar siswa kurang maksimal dan ketidaktertarikan siswa terhadap pelajaran yang bersangkutan. Hal ini sesuai dengan pendapat Slameto (2003: 57) yang mengemukakan:
“Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Minat besar pengaruhnya terhadap belajar karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan sebaik-baiknya karena tidak ada daya tarik baginya. Ia segan-segan untuk belajar, ia tidak memperoleh kepuasan dari pelajaran itu.”
Reber dalam Syah (1995:136) menyatakan bahwa minat banyak bergantung pada faktor-faktor internal seperti: pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan. Minat mempengaruhi kualitas pencapaian hasil belajar dalam bidang-bidang studi tertentu. Misalnya seorang siswa menaruh perhatian besar terhadap mata pelajaran geografi akan memusatkan perhatiannya lebih banyak daripada siswa lainnya. Kemudian karena pemusatan perhatiannya lebih intensif terhadap materi itulah yang memungkinkan siswa tadi untuk belajar lebih giat, dan akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka perlu diadakan perbaikan terhadap strategi pembelajaran yang berkaitan dengan model pembelajaran yang digunakan guru, yaitu dengan menerapkan pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu dari banyak model pembelajaran yang dapat dipilih untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif lebih melibatkan siswa secara langsung untuk aktif dalam pembelajaran. Jadi dengan diterapkannya model pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan minat dan hasil belajar siswa terhadap pelajaran geografi.
Berdasarkan informasi dari guru, siswa menganggap bahwa materi pada Kompetensi Dasar Menganalisis Hidrosfer dan Dampaknya terhadap Kehidupan di Muka Bumi merupakan materi yang sulit untuk dipelajari dan dipahami. Guru juga merasa kesulitan dalam menyampaikan materi karena keterbatasan waktu dan banyaknya materi yang tercakup dalam KD tersebut yang meliputi siklus hidrologi, berbagai macam perairan darat, dan perairan laut. Luasnya cakupan materi tersebut dengan hanya diterapkan metode ceramah saja menjadikan siswa sangat sulit memahami materi tersebut. Hal ini ditunjukkan pula dengan perolehan nilai siswa pada Kompetensi Dasar Menganalisis Hidrosfer dan Dampaknya terhadap Kehidupan di Muka Bumi yang cenderung rendah dari tahun ke tahun dan lebih rendah pula dibandingkan dengan KD lain pada semester genap.
Apabila dibandingkan dengan Kompetensi Dasar lain pada semester genap, nilai rata-rata siswa pada Kompetensi Dasar Menganalisis Hidrosfer dan Dampaknya terhadap Kehidupan di Muka Bumi juga lebih rendah pada tahun XXXX.
Dari data tersebut menunjukkan masih rendahnya hasil belajar siswa SMAN X pada Kompetensi Dasar Menganalisis Hidrosfer dan Dampaknya terhadap Kehidupan di Muka Bumi. Oleh karena itu perlu diadakan suatu penerapan metode pembelajaran baru untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada Kompetensi Dasar tersebut.
Berdasarkan nilai ulangan pada mid semester genap tersebut menunjukkan bahwa kelas X mempunyai nilai rata-rata kelas yang paling rendah dibanding dengan kelas lain. Oleh karena itu penelitian ini dilaksanakan pada kelas X.
Di dalam pembelajaran kooperatif dikenal berbagai metode pembelajaran salah satunya adalah metode Numbered Heads Together (NHT). NHT merupakan pendekatan struktur informal dalam cooperative learning. NHT merupakan struktur sederhana dan terdiri atas 4 tahap yaitu Penomoran (numbering), Mengajukan Pertanyaan (Questioning), Berpikir Bersama (Heads Together), dan Menjawab (Answering) yang digunakan untuk mereview fakta-fakta dan informasi dasar yang berfungsi untuk mengatur interaksi para siswa.
Prinsipnya metode ini membagi siswa menjadi beberapa kelompok kecil, dan setiap siswa dalam kelompok akan mendapatkan nomor, nomor inilah yang digunakan sebagai patokan guru dalam menunjuk siswa untuk mengerjakan tugasnya. Selain itu pembagian kelompok juga dimaksudkan agar setiap siswa dapat bertukar pikiran dalam menyelesaikan semua permasalahan yang ditugaskan oleh guru secara bersama-sama sehingga diharapkan setiap siswa akan aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Metode ini berupaya meningkatkan aktivitas siswa untuk aktif dalam belajar secara kelompok, sehingga akan menimbulkan minat dan motivasi yang tinggi dalam belajar baik secara individu maupun kelompok.
Penerapan metode NHT ini sesuai dengan karakteristik pada KD Menganalisis Hidrosfer dan Dampaknya terhadap Kehidupan di Muka Bumi karena dengan melakukan diskusi siswa dapat bertukar pikiran mengenai materi yang dipelajari, sehingga siswa tidak diibaratkan sebagai botol kosong yang kemudian diisi oleh guru. Dengan metode ini semua siswa mempunyai kesempatan yang sama untuk melaporkan hasil diskusi, sehingga semua anggota kelompok dituntut untuk memahami materi yang dipelajari. Metode NHT menuntut siswa untuk berdiskusi dengan sungguh-sungguh, tidak hanya mengandalkan pada siswa yang pandai, sehingga memungkinkan siswa untuk memahami materi dan hasil belajar siswa meningkat.
Dalam upaya peningkatan minat dan hasil belajar siswa tersebut, maka perlu dilaksanakan tindakan perbaikan berkaitan dengan penggunaan metode pembelajaran geografi, khususnya pada Kompetensi Dasar Menganalisis Hidrosfer dan Dampaknya terhadap Kehidupan di Muka Bumi. Dengan perumusan judul penelitian sebagai berikut: “Penerapan Metode Numbered Heads Together (NHT) untuk Meningkatkan Minat dan Hasil Belajar Geografi pada Kompetensi Dasar Menganalisis Hidrosfer dan Dampaknya terhadap Kehidupan di Muka Bumi Siswa Kelas X SMAN X Tahun XXXX/XXXX”

B. Perumusan Masalah
Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Apakah penerapan Metode Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan minat belajar geografi pada Kompetensi Dasar Menganalisis Hidrosfer dan Dampaknya terhadap Kehidupan di Muka Bumi Siswa Kelas X SMAN X tahun ajaran XXXX/XXXX?
2. Apakah penerapan Metode Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar geografi pada Kompetensi Dasar Menganalisis Hidrosfer dan Dampaknya terhadap Kehidupan di Muka Bumi Siswa Kelas X SMAN X tahun ajaran XXXX/XXXX?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui peningkatan minat belajar Geografi dengan menerapkan Metode Numbered Heads Together (NHT) pada Kompetensi Dasar Menganalisis Hidrosfer dan Dampaknya terhadap Kehidupan di Muka Bumi Siswa Kelas X SMAN X Tahun XXXX/XXXX.
2. Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Geografi dengan menerapkan Metode Numbered Heads Together (NHT) pada Kompetensi Dasar Menganalisis Hidrosfer dan Dampaknya terhadap Kehidupan di Muka Bumi Siswa Kelas X SMAN X Tahun XXXX/XXXX.

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Teoretis
a. Memberikan kontribusi keilmuan yang bermanfaat dalam dunia pendidikan mengenai penerapan pembelajaran kooperatif dengan Metode Numbered Heads Together (NHT) untuk peningkatan minat dan hasil belajar siswa mata pelajaran geografi terutama pada Kompetensi Dasar Menganalisis Hidrosfer dan Dampaknya terhadap Kehidupan di Muka Bumi.
b. Sebagai acuan pembelajaran yang inovatif dan mendukung teori pembelajaran kooperatif.
c. Menjadi bahan pembanding, pertimbangan, dan pengembangan bagi peneliti di masa yang akan datang di bidang dan permasalahan yang sejenis atau bersangkutan.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Siswa
1) Mendapatkan kemudahan dalam belajar dan lebih mudah memahami materi geografi yang disampaikan oleh guru.
2) Meningkatkan minat dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran geografi.
b. Bagi Guru
1) Sebagai masukan bagi guru geografi dalam menentukan metode mengajar yang tepat sesuai dengan materi yang bersangkutan, dalam rangka peningkatan minat dan hasil belajar siswa.
2) Meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan pembelajaran.
3) Mengatasi kendala yang dihadapi guru dalam pembelajaran geografi.
c. Bagi Peneliti
1) Menerapkan ilmu yang telah diterima di bangku kuliah khususnya yang bersangkutan dengan pendidikan.
2) Mendapatkan pengalaman langsung dalam penerapan metode Metode Numbered Heads Together (NHT) khususnya pada kompetensi dasar menganalisis hidrosfer dan dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi.
3) Mendapat bekal tambahan sebagai mahasiswa dan calon guru geografi sehingga siap melaksanakan tugas di lapangan.

SKRIPSI PTK PENERAPAN METODE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI PADA KOMPETENSI DASAR MENGANALISIS HIDROSFER DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN DI MUKA BUMI adalah salah satu contoh SKRIPSI PTK PENERAPAN METODE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI PADA KOMPETENSI DASAR MENGANALISIS HIDROSFER DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN DI MUKA BUMI kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online SKRIPSI PTK PENERAPAN METODE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI PADA KOMPETENSI DASAR MENGANALISIS HIDROSFER DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN DI MUKA BUMI untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload SKRIPSI PTK PENERAPAN METODE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI PADA KOMPETENSI DASAR MENGANALISIS HIDROSFER DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN DI MUKA BUMI full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan SKRIPSI PTK PENERAPAN METODE NUMBERED HEADS TOGETHER (NHT) UNTUK MENINGKATKAN MINAT DAN HASIL BELAJAR GEOGRAFI PADA KOMPETENSI DASAR MENGANALISIS HIDROSFER DAN DAMPAKNYA TERHADAP KEHIDUPAN DI MUKA BUMI dalam bentuk PDF secara gratis.

kumpulan jurnal internasional, jurnal skripsi hukum, contoh jurnal kuantitatif, contoh jurnal deskriptif, kontribusi uny untuk pendidikan karakter

SKRIPSI PTK PENINGKATKAN PENGUASAAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA MELALUI METODE BERMAIN PERAN PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DI SLB X

31st December 2011 Cat: Tesis with Comments Off

SKRIPSI PTK PENINGKATKAN PENGUASAAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA MELALUI METODE BERMAIN PERAN PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DI SLB X adalah salah satu contoh SKRIPSI PTK PENINGKATKAN PENGUASAAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA MELALUI METODE BERMAIN PERAN PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DI SLB X kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online SKRIPSI PTK PENINGKATKAN PENGUASAAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA MELALUI METODE BERMAIN PERAN PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DI SLB X untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload SKRIPSI PTK PENINGKATKAN PENGUASAAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA MELALUI METODE BERMAIN PERAN PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DI SLB X full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan SKRIPSI PTK PENINGKATKAN PENGUASAAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA MELALUI METODE BERMAIN PERAN PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DI SLB X dalam bentuk PDF secara gratis.

(KODE PTK-0057) : SKRIPSI PTK PENINGKATKAN PENGUASAAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA MELALUI METODE BERMAIN PERAN PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DI SLB X (MATA PELAJARAN : BAHASA INDONESIA) – (SDLB KELAS III)



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Bahasa dalam kehidupan sehari-hari sangat memegang peranan penting terutama dalam pengungkapan pikiran seseorang atau merupakan sarana untuk berflkir, menalar dan menghayati kehidupan. Dalam kehidupan sehari-hari tidak ada seorangpun yang dapat meninggalkan bahasa karena selain sebagai sarana berflkir bahasa juga digunakan sebagai alat komunikasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Gorys Keraf (Husain Junus,1996:14) menyatakan bahwa “Bahasa adalah alat komunikasi antar anggota masyarakat yang berupa bunyi suara atau tanda atau lambang yang dikeluarkan oleh manusia untuk menyampaikan isi hatinya kepada manusia lainnya”. Dalam hal ini yang dimaksud dengan bahasa sebagai alat komunikasi antar anggota masyarakat adalah Bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia yang digunakan sebagai alat komunikasi antar anggota masyarakat ini tidak lepas dari penguasaan kosakata, karena dengan penguasaan kosakata yang cukup akan memperlancar siswa dalam berkomunikasi dan mempermudah siswa untuk memahami bahasa yang terdapat dalam buku-buku pelajaran. Seperti diungkapkan oleh Burhan Nurgiantoro (1988:154) “untuk dapat melakukan kegiatan komunikasi dengan bahasa diperlukan penguasaan kosakata dalam jumlah yang cukup atau memadai”. Penguasaan kosakata yang lebih banyak memungkinkan kita untuk menerima dan menyampaikan informasi yang lebih luas dan kompleks”. Lebih lanjut Burhan Nurgiantoro (1988:196) mengatakan “Kosakata merupakan alat utama yang harus dimiliki seseorang yang akan belajar bahasa, sebab kosakata berfungsi untuk membentuk kalimat dan mengutarakan isi pikiran serta perasaan dengan sempurna baik secara lisan maupun tulisan”.
Penguasaan kosakata pada usia sekolah dasar sangatlah penting dan merupakan dasar yang kuat untuk penguasaan kosakata pada usia selanjutnya. Anak pada saat itu diisi dan dibimbing dengan teratur dan sistematik dalam proses menyadari dunia dan alam sekitarnya, bahkan keluar dunia alam sekitarnya yang disebut proses belajar. Sesuai dengan tujuan pembelajaran yang termuat dalam kurikulum Bahasa Indonesia tahun 2004 menyatakan bahwa pengajaran Bahasa Indonesia ditujukan pada pengembangan kemampuan berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia meliputi ketrampilan membaca, menyimak, berbicara, dan menulis secara seimbang. Tujuan sebagaimana diatas pada hakikatnya disesuaikan dengan kebutuhan saat ini.
Seiring dengan tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia, maka siswa pada tingkat dasar diharapkan mampu atau dapat menguasai keempat ketrampilan bahasa secara aktif dan integratif dengan menggunakan komponen bahasa yang komunikatif dan benar, sehingga secara tidak langsung kemampuan dan penguasaan bahasa ini dapat menjawab tantangan di era globalisasi ini. Siswa dituntut mampu untuk mengikuti perkembangan teknologi setaraf dengan kemampuannya yang disesuaikan dengan tingkat usia dan tingkat perkembangan mental anak. Pendidikan bahasa sebagai alat komunikasi sangatlah penting dan harus dipahami oleh siswa pada umumnya dan anak tunagrahita pada khususnya. Bagi anak tunagrahita itu sendiri bahasa yang dimiliki belum cukup untuk berkomunikasi secara lancar, itu semua disebabkan karena kondisi ketunaan yang disandangnya.
Kondisi anak tunagrahita seperti yang diungkapkan oleh Moh Amin (1995:11) yaitu:
“Anak tunagrahita adalah mereka yang kecerdasannya jelas berada dibawah rata-rata. Di samping itu mereka mengalami keterbelakangan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Mereka kurang cakap dalam memikirkan hal-hal yang abstrak, yang sulit-sulit dan yang berbelit-belit. Mereka kurang atau terbelakang atau tidak berhasil bukan untuk sehari dua hari atau sebulan atau dua bulan, tetapi untuk selama-lamanya, dan bukan hanya dalam satu dua hal tetapi hampir segala-galanya, lebih-lebih dalam pelajaran seperti: mengarang, menyimpulkan isi bacaan, menggunakan simbol-simbol, berhitung, dan dalam semua pelajaran yang bersifat teoritis. Dan juga mereka kurang atau terhambat dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan”.
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa hasil pembelajaran Bahasa Indonesia pada anak tunagrahita umumnya masih rendah, khususnya kemampuan dalam penguasaan kosakata. Pernyataan ini diperkuat oleh seorang guru kelas III di SLB Negeri X bahwa sebagian besar siswa kelas III di SLB Negeri X Kabupaten X mempunyai sebuah permasalahan yang serius, yaitu belum terciptanya kebiasaan berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia. Siswa pada umumnya lebih suka menggunakan bahasa ibu (Bahasa Jawa) atau bahasa dialog dalam berkomunikasi baik dengan teman sekolah maupun dengan gurunya. Beberapa pedoman yang harus diperhatikan dalam penggunaan bahasa pengantar yang termuat dalam Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang Sitem Pendidikan Nasional sebagai berikut:
1. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara menjadi Bahasa pengantar dalam pendidikan nasional.
2. Bahasa daerah dapat digunakan sebagai bahasa pengantar dalam tahap awal pendidikan bila diperlukan dalam penyampaian pengetahuan dan/atau ketrampilan tertentu.
Terkait dengan peristiwa tersebut, beberapa faktor yang menjadi penyebab belum tercapainya tujuan yang diharapkan guru dengan kondisi siswa tunagrahita sebagai berikut:
1. Guru belum dapat menyajikan model pembelajaran Bahasa Indonesia secara aktif, kreatif dan integratif sesuai dengan kondisi anak dilapangan.
2. Pembelajaran yang dilakukan oleh guru kurang bervariasi, sehingga siswa tunagrahita kurang termotivasi untuk menerapkan apa yang telah disampaikan.
3. Kurangnya kosakata yang dimiliki oleh siswa tunagrahita.
4. Buku pelajaran kurang porposional artinya belum mempunyai porsi yang cukup untuk mengembangkan ketrampilan salah satunya berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar.
Berbagai faktor penyebab di atas dapat diatasi dengan menggunakan suatu metode pembelajaran baru. Pembelajaran yang dimaksud adalah dengan pelaksanaan bermain peran (roleplay). Bermain peran adalah pentas pertunjukan yang dimainkan sejumlah orang. Saat bermain peran (role play) dibuatkan pembagian peran dan deskripsi setiap peran, selebihnya para pemain melakukan improvisasi untuk mengembangkan perannya masing-masing. Selesai permainan, kemudian fasilitator mengajak peserta menarik kesimpulan dari permainan. Bermain peran ini dapat menambah kosakata yang dimiliki anak lewat peran yang dimainkannya. Di samping anak akan menyukai peran yang akan dimainkan, anak akan berusaha untuk menjiwai setiap perannya. Melalui peran yang dimainkannya, dapat menambah perbendaharaan kosakata, selain itu bermain peran tidak terikat pada jadwal, mengingat anak-anak sering mogok tidak mematuhi rencana dikelas. Sutratinah Tirtonegoro (1987:17) mengemukakan bahwa:
“Mengajar di SLB harus fleksibel secara informal dramatisasi menarik perhatian anak, dan tidak boleh terikat pada jadwal mengingat anak-anak tersebut sering mogok tidak mematuhi rencana dikelas. Sehingga dengan demikian aspek-aspek kejiwaan anak akan terangsang begitu pula daya visual auditif motorik anak tertarik. Akibat dari stimulasi dan asosiasi yang berturut-turut dan terus menerus akan menumbuhkan mental yang tinggi”.
Bermain peran adalah salah satu metode pembelajaran yang menyajikan hal-hal yang konkret dan melatih anak dalam penguasaan kosakata lewat peran yang dimainkannya. Melihat kondisi dilapangan bahwa anak tunagrahita lemah dalam berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia maka metode bermain peran ini perlu untuk diterapkan. Berdasarkan kenyataan dan permasalahan sebagaimana di atas, maka peneliti mencoba mengadakan penelitian tindakan kelas yang setidaknya mampu mendapatkan formula baru dalam mengatasi permasalahan yang selama ini dihadapi, khususnya dalam ketrampilan berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia melalui peningkatan penguasaan kosakata yang dimiliki anak. Oleh karena itu peneliti mengajukan penelitian tindakan kelas sebagai berikut “Peningkatkan Penguasaan Kosakata Bahasa Indonesia melalui Metode Bermain Peran pada Anak Tunagrahita Ringan di SLB Negeri X”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah tersebut diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Seberapa besar peningkatan metode bermain peran dalam meningkatkan penguasaan kosakata Bahasa Indonesia pada anak tunagrahita ringan yang berlangsung di SLB Negeri X”.

C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan penguasaan kosakata Bahasa Indonesia dengan menggunakan metode bermain peran pada anak tunagrahita ringan yang berlangsung di SLB Negeri X.

D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:
1. Manfaat Teoritis
Mengetahui peranan penggunaan metode bermain peran untuk meningkatkan penguasaan kosakata Bahasa Indonesia pada anak tunagrahita ringan kelas III SLB Negeri X tahun pelajaran XXXX/XXXX.
2. Manfaat Praktis
a. Menemukan alternatif untuk meningkatkan kemampuan penguasaan kosakata Bahasa Indonesia
b. Mencari solusi permasalahan yang dialami siswa yang mengalami kesulitan dalam penguasaan kosakata dalam Bahasa Indonesia

SKRIPSI PTK PENINGKATKAN PENGUASAAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA MELALUI METODE BERMAIN PERAN PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DI SLB X adalah salah satu contoh SKRIPSI PTK PENINGKATKAN PENGUASAAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA MELALUI METODE BERMAIN PERAN PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DI SLB X kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online SKRIPSI PTK PENINGKATKAN PENGUASAAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA MELALUI METODE BERMAIN PERAN PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DI SLB X untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload SKRIPSI PTK PENINGKATKAN PENGUASAAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA MELALUI METODE BERMAIN PERAN PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DI SLB X full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan SKRIPSI PTK PENINGKATKAN PENGUASAAN KOSAKATA BAHASA INDONESIA MELALUI METODE BERMAIN PERAN PADA ANAK TUNAGRAHITA RINGAN DI SLB X dalam bentuk PDF secara gratis.

ptk slb tunagrahita, skripsi audit lingkungan, tesis audit lingkungan, makalah audit lingkungan, jurnal tentang audit lingkungan

Silabus Metode Kuantitatif

30th November 2011 Cat: Tesis with Comments Off

Silabus Metode Kuantitatif adalah salah satu contoh Silabus Metode Kuantitatif kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Silabus Metode Kuantitatif untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload Silabus Metode Kuantitatif full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan Silabus Metode Kuantitatif dalam bentuk PDF secara gratis.

Silabus Metode Kuantitatif

DOSEN PENGAMPU : Drs. YONG DIRGIATMO, M.Sc.
HARI PERKULIAHAN : SENIN
JAM PERKULIAHAN : 18.30 – 21.00 (SWADANA TRANSFER A)
RUANG KULIAH : 206

DESKRIPSI MATA KULIAH:
Metode Kuantitatif merupakan mata kuliah interdisipliner yang mempelajari berbagai teknik manajemen kuantitatif yang mencakup pendekatan logis, konsisten, dan sistematis terhadap pemecahan masalah. Tujuan pembelajaran mata kuliah ini adalah untuk memberikan kerangka dasar pemahaman tentang logika dan filosofi pemecahan masalah manajemen yang diselesaikan melalui pendekatan kuantitatif. Setelah mengikuti mata kuliah ini mahasiswa diharapkan mampu memahami, menjelaskan dan menggunakan berbagai metode dan teknik manajemen kuantitatif untuk membantu dalam pengambilan keputusan maupun pemecahan masalah manajerial.

METODE KULIAH:
Kuliah diberikan dalam bentuk ceramah, diskusi dan penugasan terstruktur. Meskipun demikian dalam diskusi baik perorangan maupun kelompok (kasus), partisipasi mahasiswa sangat diharapkan.

SISTEM PENILAIAN:
Nilai akhir semester ditentukan dengan memperhatikan komponen sebagai berikut:
Ujian Tengah semester : 30%
Ujian Akhir semester : 30%
Tugas terstruktur : 20%
Partisipasi kelas : 10%
Presensi : 10%

Mahasiswa wajib memenuhi seluruh komponen penilaian. Jika salah satu dari komponen tak terpenuhi, maka dinyatakan tidak lulus. Nilai akhir semester dikonversikan dengan ketentuan sebagai berikut:

Nilai Konversi
80 – 100 A (4,0)
70 – 79 B (3,0)
60 – 69 C (2,0)
40 – 59 D (1,0)
0 – 39 E (0,0)

BACAAN WAJIB:
Taylor III, Bernard W, ”Introduction to Management Science”, 8th edition, Prentice Hall International, Inc., Upper Saddle, NJ, 2005 (Kode: BWT)

BACAAN ANJURAN:
1. Sri Mulyono, “Riset Operasi”, edisi revisi, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 2007 (Kode: SM)
2. Bacaan lain yang relevan dengan permasalahan Metode Kuantitatif.

RENCANA PERKULIAHAN:
Pertemuan ke POKOK BAHASAN/MATERI Chapter/Bab Tugas
BWT SM
1 Silabus dan pengenalan materi 1 1 -
2 Linear Programming 2 2 -
3 Simplex Method – 3 -
4 Sensitivity Analysis and computer program 3,4 3 2 buah dari Bab 2,3,4
5 Transportation Problem 6 – -
6 Transshipment and Assignment 6 5 2 buah dari Bab 5,6
UJIAN TENGAH SEMESTER
7 Network Modeling 7 – -
8 Project Management 8 – 2 buah dari Bab 7,8
9 Decision Theory 9 11 -
10 Game Theory – 12 2 buah dari Bab 9,11,12
11 Queuing Analysis 13 14 -
12 Forecasting 15 – 2 buah dari Bab 13,14,15
UJIAN AKHIR SEMESTER

Silabus Metode Kuantitatif adalah salah satu contoh Silabus Metode Kuantitatif kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Silabus Metode Kuantitatif untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload Silabus Metode Kuantitatif full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan Silabus Metode Kuantitatif dalam bentuk PDF secara gratis.

tesis metode small project, contoh project assignment, pengertian decision analysis, makalah metode simplex, contoh silabus assignment

PERAWATAN METODE KANGURU (PMK) PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH

30th November 2011 Cat: Tesis with Comments Off

PERAWATAN METODE KANGURU (PMK) PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH adalah salah satu contoh PERAWATAN METODE KANGURU (PMK) PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online PERAWATAN METODE KANGURU (PMK) PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload PERAWATAN METODE KANGURU (PMK) PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan PERAWATAN METODE KANGURU (PMK) PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH dalam bentuk PDF secara gratis.

Setiap tahun, diperkirakan sekitar 20 juta bayi lahir dengan berat lahir rendah (BBLR). Sebagian besar penyebab BBLR di negara berkembang adalah gangguan pertumbuhan intrauterin. Intervensi yang efektif masih sangat terbatas akibat terbatasnya jumlah fasilitas dan tenaga yang terampil. Akibatnya angka morbiditas dan mortalitas bayi BBLR menjadi tinggi.

Perawatan dengan metode kanguru (PMK) merupakan salah satu cara yang sederhana dan terbukti efektif untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan dasar bayi, antara lain kehangatan, ASI, perlindungan infeksi, dan stimulasi.

PMK adalah perawatan untuk bayi prematur dengan melakukan kontak langsung antara kulit bayi dengan kulit ibu (skin-to-skin contact).

Hal yang penting dalam upaya melakukan PMK adalah:
– Kontak badan langsung antara ibu dan bayi secara berkelanjutan.
– Pemberian ASI eksklusif.
– Dimulai dilakukan di rumah sakit dan dilanjutkan di rumah.
– Bayi kecil dapat dipulangkan lebih dini.
– Setelah di rumah, ibu perlu dukungan dan tindak lanjut yang memadai.
– Metode ini merupakan metode yang sederhana dan manusiawi, namun efektif untuk menghindari bayi prematur

Dari banyak penelitian mengenai PMK, disimpulkan bahwa:
- PMK minimal setara dengan perawat konvensional menggunakan inkubator dalam hal keamanan dan perlindungan terhadap suhu bayi.
- PMK memfasilitasi pemberian ASI, terutama pada kasus dengan morbiditas serius.
- PMK lebih manusiawi dan meningkatkan kontak psikis antara ibu dan bayinya.
- PMK dapat diterapkan dimana saja.

PENELITIAN PMK:
- Morbiditas dan Mortalitas: Setelah bayi stabil, tidak ada perbedaan pada angka kelangsungan hidup antara PMK dengan perawatan konvensional yang baik.
- Pemberian ASI: Semakin dini kontak langsung antara ibu dan bayi dilakukan, maka semakin besar pengaruhnya terhadap pemberian ASI.
- Pertumbuhan: Secara keseluruhan tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara pertumbuhan bayi prematur dengan PMK dibandingkan dengan kelompok kontrol.
- Pengaturan Suhu: PMK dapat memberikan perlindungan bayi dari risiko terjadinya hipotermia.

Persyaratan:
Lokasi:
- Rumah Bersalin
- Rumah Sakit Rujukan
Petugas: Dokter dan perawat harus memiliki pelatihan dasar tentang pemberian ASI dan pelatihan yang memadai di semua aspek PMK

Fasilitas, Peralatan, dan Perlengkapan
- Kebutuhan Ibu (ruangan, tempat tidur, keperluan mandi)
- Pakaian Untuk Ibu (Semua bahan yang dapat memberikan kenyamanan dan hangat)
- Support Binder (ikatan/pembalut penahan bayi agar dapat terus berada di posisi PMK
- Kebutuhan Bayi dan pakaian bayi
- Peralatan dan Keperluan Lain (termometer, timbangan, alat resusitasi, obat-obatan)
- Pencatatan keadaan ibu an bayi setiap hari.

Kapan PMK dimulai?
Masa untuk memulai PMK bergantung pada kondisi ibu dan bayi.
IBU:
- Kemauan ibu untuk melakukan PMK.
- Tersedia waktu yang penuh untuk memberikan perawatan.
- Kesehatan ibu harus stabil.
- Ibu dianjurkan menetap di RS sampai bayi siap dipulangkan.
- Dukungan keluarga.
- Dukungan masyarakat.
BAYI:
- Bayi dengan keadaan sakit berat harus disembuhkan terlebih dahulu
- Keadaan stabil, bernapas secara alami tanpa bantuan oksigen.
- Kemampuan minum dan menelan bukan syarat utama

POSISI KANGURU:
- Bayi diposisikan di antara payudara dalam posisi tegak, dada bayi menempel ke dada ibu.
- Bayi perlu dijauhkan dari kontak kulit langsung hanya pada saat: mengganti popok, perawatan tali pusat, dan pemeriksaan klinis.
- Ibu tidur bersama bayinya dalam posisi berbaring atau setengah tertelentang dalam posisi kanguru.
- Kontak kulit langsung dimulai secara bertahap, perlahan-lahan dari perawatan konvensional ke PMK yang terus menerus.
- Anggota keluarga yang lain dapat menggantikan ibu bila diperlukan (GAMBAR)
Pengawasan Keadaan Bayi:
- Suhu : pengukuran suhu aksila dilakukan setiap 6 jam
- Frekuensi napas dan kondisi kesehatan umum
- Tanda-tanda bahaya

Pemberian minum bayi
- Pemberian minum dilakukan segera bila kondisi memungkinkan, umumnya saat bayi mulai mendapat PMK.
- Bayi < 30 minggu umumnya perlu diberikan minum melalui pipa NGT.- Bayi 30- 32 minggu dapat diberikan minum melalui gelas kecil.- Bayi > 32 minggu sudah dapat menyusu pada ibu.

Pemulangan dan perawatan di rumah
- Kesehatan bayi secara keseluruhan dalam kondisi baik.
- Bayi minum dengan baik, menyusu eksklusif.
- Berat bayi selalu bertambah (sekurang-kurangnya 15 gram/Kg/hari selama minimal 3 hari berturut-turut)
- Suhu stabil dalam posisi PMK.
- Ibu mampu merawat bayi dan dapat datang secara teratur untuk melakukan follow up

PMK di rumah:
- Dua kali kunjungan follow up per minggu sampai dengan 37 minggu usia pascamenstruasi.
- Satu kali kunjungan follow up per minggu setelah 37 minggu.

PERAWATAN METODE KANGURU (PMK) PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH adalah salah satu contoh PERAWATAN METODE KANGURU (PMK) PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online PERAWATAN METODE KANGURU (PMK) PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload PERAWATAN METODE KANGURU (PMK) PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan PERAWATAN METODE KANGURU (PMK) PADA BAYI BERAT LAHIR RENDAH dalam bentuk PDF secara gratis.

kumpulan jurnal keperawatan jiwa, jurnal metode kanguru, sap metode kanguru, jurnal kanker serviks, JURNAL PENELITIAN METODE KANGURU

Perkembangan Lanjutan Metode Skrining Kanker Serviks dan Antisipasinya dengan Vaksinasi HPV di Indonesia

30th November 2011 Cat: Tesis with Comments Off

Perkembangan Lanjutan Metode Skrining Kanker Serviks dan Antisipasinya dengan Vaksinasi HPV di Indonesia adalah salah satu contoh Perkembangan Lanjutan Metode Skrining Kanker Serviks dan Antisipasinya dengan Vaksinasi HPV di Indonesia kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Perkembangan Lanjutan Metode Skrining Kanker Serviks dan Antisipasinya dengan Vaksinasi HPV di Indonesia untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload Perkembangan Lanjutan Metode Skrining Kanker Serviks dan Antisipasinya dengan Vaksinasi HPV di Indonesia full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan Perkembangan Lanjutan Metode Skrining Kanker Serviks dan Antisipasinya dengan Vaksinasi HPV di Indonesia dalam bentuk PDF secara gratis.

1. Pendahuluan
Kanker serviks telah menduduki posisi teratas dari seluruh kanker yang diderita perempuan di Indonesia, dan fakta menunjukkan sekitar dua pertiga kasus kanker serviks yang datang ke klinik, telah berada dalam fase lanjut. Berdasarkan data patologi kanker di berbagai negara, kasus kanker serviks juga menempati peringkat utama. Sementara itu, insidensi kanker serviks sendiri terus meningkat dari sekitar 25 per 100.000 pada tahun 1988 menjadi sekitar 32 per 100.000 pada 1992. Dari seluruh gambaran dan data global mengenai kanker serviks, penyakit ini memiliki indeks rasio yang lebih tinggi hingga 5 sampai 6 kali pada negara-negara berkembang.

Deteksi dini secara gencar mulai dilakukan di berbagai rumah sakit dan unit kesehatan masyarakat atau klinik-klinik yang memiliki kompetensi dalam bidang kanker. Sejak dibentuk dan dinasionalisasikannya badan kanker Indonesian Cancer Foundation pada tahun 1977, program skrining kanker serviks segera dimulai. Namun, program yang telah disusun tidak sistematis, menyebabkan keuntungan yang diperoleh kecil, yang tampak dari sedikitnya penurunan insidensi dan derajat mortalitas kanker serviks.

2. Pembentukan National Cancer Control Program (NCCP) dan program Skrining

Melalui dukungan WHO, Indonesia kemudian membentuk National Cancer Control Program (NCCP) pada tahun 1989, dan termasuk satu dari 19 negara yang juga memiliki NCCP. Skrining kanker serviks kemudian menjadi prioritas utama dan program kerja badan kanker nasional lainnya mengikuti standar baku yang telah ditetapkan NCCP. Untuk mendukung kinerja dan perencanaan program kontrol kanker, Menteri Kesehatan juga mengorganisir National Commitee for Cancer Control yang diwakili oleh Menteri Kesehatan, tim rumah sakit pendidikan pemerintah, dan organisasi non-pemerintah terkait, yaitu Indonesian Society for Oncology, Indonesian Cancer Foundation, dan Family Welfare Movement (PKK). Komite tersebut telah menyusun suatu program yang dinamakan Total Integrated Cancer Control Program yang menekankan program berbasis masyarakat. Melalui pendekatan sistem ‘ten hemmet’, Family Welfare Movement (PKK) akan menunjuk satu kader yang bertanggungjawab terhadap 10 rumah tangga yang berada di lingkungannya. Melalui kerjasama ini, Indonesian Foundation Cancer akan semakin mudah mencapai target populasi secara efektif.

Proyek demonstrasi WHO untuk skrining kanker serviks menggunakan standar tes pap smear yang telah sepenuhnya dikerjakan di Sidoarjo, Jawa Timur dari tahun 1994 hingga 1995. Program khusus untuk kontrol kanker berbasis masyarakat yang didemonstrasikan di Sidoarjo ini kemudian dipresentasikan di Jakarta International Cancer Conference pada tahun 1995. Pada kesempatan yang sama, dalam workshop UICC juga telah dideklarasikan “Jakarta Statement on Cancer Control” yang juga termasuk program kontrol kanker berbasis masyarakat. Program skrining kemudian disebarkan ke lima provinsi lainnya yang memiliki cabang Indonesian Cancer Foundation.

Sebagai lanjutan kerjasama dengan WHO, Indonesian Cancer Foundation berkolaborasi dengan Program for Appropriate Technology in Health (PATH) – organisasi yang juga memperhatikan masalah kontrol kanker secara umum – untuk membuat brosur informatif yang mencakup edukasi kanker pada orang dewasa dan anak. Brosur tersebut dilengkapi dengan leaflet dan flipchart yang ditujukan untuk digunakan oleh pembuat informasi kanker. Program ini akan diujikan dan ditinjau ulang ke sejumlah provinsi sebelum dipublikasikan dan didistribusikan ke seluruh wilayah.

Melalui kerjasama antara PATH dan Bank Dunia, metode visual menggunakan gineskopi, dengan lensa magnifikasi 2,5, setelah aplikasi asam asetat (VIA= visual inspection after acetic acid), telah diuji oleh tim dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Indonesian Cancer Foundation. Uji coba khusus dilakukan Dr. Paul Blumenthal yang juga turut terlibat dalam fase penilaian di universitas, sebelum dilakukan uji coba di lapangan. Fase studi lapangan diorganisir oleh Puskesmas Kusuma Buana, yang dikoordinir oleh Dr. Judo Prihartono. Evaluasi yang dilakukan Dr. Vivien Tsu menunjukkan metode tersebut memberikan hasil yang memuaskan dan dapat dikerjakan oleh tenaga non-dokter, seperti bidan. Sebanyak 1.554 wanita diskrining menggunakan gineskopi dan sitologi standar. Dari jumlah tersebut, 150 kasus dinyatakan positif melalui pemeriksaan gineskopi, dan jumlah tersebut menyusut menjadi 30 kasus setelah dikonfirmasi melalui pemeriksaan sitologi.

Tingkat sensitivitas uji adalah sebesar 76,9% dengan spesifisitas 92,0%, dengan nilai preditif positif (PPV) yang rendah (20%) dan nilai prediktif negatif (NPV) yang tinggi (99,4%). Kendala yang paling nyata adalah adanya hasil yang bertentangan antara aplikasi gineskopi dengan sitologi standar, sementara teknik gineskopi jauh lebih mudah diaplikasikan kepada dokter atau bidan/perawat. Hal ini menunjukkan perlunya pelatihan yang lebih baik dan lebih lama untuk memperkecil kemungkinan kesalahan melakukan gineskopi. Namun, kendala lainnya adalah gineskopi relatif mahal bila diaplikasikan untuk skrining skala besar.

Pencegahan sekunder yang dibentuk di 8 provinsi di bawah program CBCC yang menggunakan tes pap smear, juga mendapat dukungan dari Netherlands Royal Cancer Foundation. Program ini masih berjalan hingga sekarang, meskipun dalam evaluasi kerjanya menunjukkan kinerja yang tidak sistematis dan hasil yang kurang memuaskan. Namun, setidaknya program ini telah memenuhi 30-60% hasil kerja dan meminimalisir dampak kerugiannya.

3. Proyek Demonstrasi Awal dengan Pendekatan ‘See and Treat’

Sehubungan dengan pembaharuan metode skrining sitologi yang konvensional dengan metode yang baru, sejak Oktober 2004 hingga September 2006, Proyek Demonstrasi untuk skrining kanker serviks yang menggunakan pendekatan ‘see and treat’ telah dilakukan di 3 provinsi, yaitu Tasikmalaya-Bandung, Jakarta, dan Bali. Ketiga area tersebut mewakili situasi yang berbeda secara geografis, demografis, dan dinamika masyarakat. Tasikmalaya merupakan daerah pedesaan dan agrikultural, dengan etnis Sunda, beragama islam, dan mobilitasnya (migrasi) rendah. Bali memiliki suasana pedesaan yang kurang karena pengaruh turisme, sebagian besar beretnik Bali, beragama hindu, dan juga merupakan masyarakat yang relatif tertutup dalam hal migrasi. Jakarta merupakan kota metropolitan dengan sejumlah area kumuh, dan memiliki percampuran budaya, etnik, dan agama yang beragam. Tim multidisiplin yang mencakup kelompok universitas dan dua tim kerja lapangan difasilitasi dengan klinik yang fleksibel / mobile untuk menjalankan program skrining ‘see and treat’ di tempat, serta diperlengkapi dengan fasilitas puskesmas.

Tim kerja lapangan terdiri atas dua orang dokter, dua perawat ObGyn, dua perawat puskesmas, dan dua sitoskriner, sehingga memungkinkan skrining dibagi menjadi dua. Pelatihan pusat dilakukan dalam dua minggu, untuk skrining dasar, pemeriksaan klinis, VIA, dan tes pap smear. Kursus selama 64 hari disediakan bagi sitoskriner. Perekrutan wanita dalam kegiatan ini turut bekerja sama dengan kader Family Welfare Movement (PKK) dan Indonesian Cancer Foundation lokal. Sekitar 24.000 wanita diskrining mengunakan inspeksi visual paska-pemberian asam asetat (VIA) dan dikonfirmasi dengan sitologi standar. Selain itu, sel serviks yang diambil dari human papillomavirus (HPV) juga dianalisis. Temuan abnormal dari biopsi akan didiagnosis secara histopatologik.

Wanita yang terbukti menderita kanker invasif segera dikirim ke rumah sakit untuk diterapi sesuai prosedur medik. Dari persiapan evaluasi, terlihat bahwa temuan positif yang ditemukan dengan VIA adalah 4,5%, sedangkan dengan sitologi 2,7%, dengan 2,3% merupakan lesi intraepielial skuamosa derajat rendah atau lebih buruk. Di antara sampel HPV yang diskrining dengan VIA, jumlah yang positif adalah 21,8% (Tasikmalaya), 20% (Bali), dan 17,0% (Jakarta), dan sebagian besar merupakan HPV tipe 16, 18, 51, dan 52. Data awal juga menunjukkan bahwa VIA menunjukkan hasil yang memuaskan sebagai metode skrining alternatif di masyarakat dengan area yang kurang kondusif. Efektivitas krioterapi yang dievaluasi setelah 6 bulan menunjukkan tingkat kesembuhan hingga 88,1% wanita dengan lesi intraepitelial skuamosa derajat rendah dan 74,2% pada wanita dengan lesi intraepitelial derajat tinggi

4. Dukungan Pengembangan Melalui Perluasan Konsep ‘See and Treat’

Berdasarkan pengalaman, sekarang telah dilakukan perluasan proyek skrining kanker serviks dengan metode ‘see and treat’, yang didukung dengan bantuan dana oleh Kementerian Luar Negeri Belanda, selama 4 tahun periode 2007 hingga 2010. Pemberian bantuan dana tersebut bertujuan mendukung program yang sebelumnya telah dilakukan di Tasikmalaya-Bandung, Bali, Jakarta dan kemudian mulai mencakupi 4 wilayah baru, yaitu Medan (Sumatera Utara), Surabaya (Jawa Timur), Banjarmasin (Kalimantan Selatan), dan Manado (Sulawesi Utara). Pemberian bantuan dana juga diberikan kepada dua region di Afrika Selatan. Perluasan proyek hanya mencakup tes VIA dan tatalaksana bedah krioterapi untuk prekanker yang terdeteksi.

Sementara itu, persiapan pembentukan proyek percobaan telah dimulai pada bulan Juni 2007, di 6 provinsi yang diorganisir oleh sub-direktorat kanker, Kementerian Kesehatan, dengan kolaborasi JHPIEGO, dan berhubungan dengan kelompok universitas dan anggota Komite Nasional untuk Kontrol Kanker (NCCC). Proyek skrining akan menggunakan tes VIA yang dikerjakan di Puskesmas yang difasilitasi dengan bedah krioterapi untuk kasus prekanker. Proyek juga melakukan sistem penyerahan kasus kepada rumah sakit daerah yang memiliki fasilitas terapi kanker.

5. Antisipasi Vaksinasi HPV dengan Persiapan yang Lebih Baik

Akhir-akhir ini, sehubungan dengan ketersediaan vaksin baru HPV tipe 16 dan 18 yang diperkenalkan oleh ‘Merc Sharp and Dome’ (MSD) dan ‘Glaxo-Smith Kline’ (GSK), diskusi terbatas mengenai hal ini telah dilakukan oleh wakil-wakil kelompok terkait di Indonesia. Selain itu, isu mengenai vaksin tersebut juga telah didiskusikan dalam pertemuan kecil. Untuk memberikan informasi baik ini kepada masyarakat dan untuk mengenalkan vaksin HPV agar dapat diterima dan diterapkan terhadap target populasi, maka beberapa langkah telah disusun, yaitu:

Pertama, diskusi yang cermat dilakukan dalam workshop terkait dengan program kontrol kanker serviks. Informasi teknis harus diberikan, bahwasanya HPV harus dikonfirmasi sebagai agen penyebab tunggal yang memicu perubahan degenerasi maligna pada kanker serviks dan dengan demikian, cukup memungkinkan bila derivat protein atau peptida dari HPV digunakan sebagai vaksin pencegahan. Protein/peptida serupa-virus (VLPs = Viral like proteins/peptides) HPV 16 dan 18 telah terbukti aman dan imunogenik pada percobaan klinis hewan dan manusia. Rantai akhir protein yang penting adalah L1 dan rantai awalnya adalah E6 dan E7 yang digunakan virus untuk bertransformasi, akan diambil sebagai salah satu strategi yang dilakukan dalam pembuatan vaksin HPV. Epitop imunodominan pada VLPS L1 digunakan sebagai bahan vaksin diketahui mampu memicu netralisasi antibodi untuk tipe virus utama. Oleh karena itu, GSK dan MSD lebih fokus kepada HPV tipe 16 dan 18 yang meliputi 60-70% kasus kanker serviks. Vaksin-vaksin tersebut telah memasuki uji klinis tahap III, vaksin GSK merupakan vaksin bivalen yang terdiri atas VLPs dari HPV 16 dan 18, sementara vaksin MSD merupakan vaksin kuadrivalen, yang terdiri atas VLPs dari HPV 6, HPV 11, HPV 16, dan HPV 18. HPV 6 dan HPV 11 menjadi target karena juga menyebabkan kondiloma akuminata pada genitalia eksterna hingga 90%. Efektivitas vaksin HPV 16 telah diteliti melalui percobaan kontrol secara randomisasi dengan evaluasi jangka panjang, dan dilaporkan oleh Mao et al (2006). VLP L1 pada HPV 16 memiliki proteksi tingkat tinggi untuk melawan infeksi HPV 16 yang persisten dan prekanker terkait-HPV 16 (CIN2-3) hingga 3,5 tahun setelah imunisasi. Dapat disimpulkan bahwa vaksin L1 VLP dengan target HPV 16 memungkinkan penurunan risiko kanker serviks.

Kedua, penyetujuan tipe vaksin mempertimbangkan faktor situasi perempuan indonesia, dalam hal ini mungkin terdapat varian yang unik dan berbeda dari HPV untuk masing-masing kelompok suku dan etnik. Hal ini penting dalam menyediakan vaksin yang sesuai berdasarkan tipe HPV yang relevan di masyarakat, sehingga akan turut membantu menyelesaikan masalah yang ada, khususnya dalam program kesehatan skala besar. Hal ini merupakan sesuatu yang penting.

Ketiga, kehati-hatian dalam menentukan pemilihan vaksin pencegahan pada kelompok berisiko. Vaksinasi HPV telah disetujui diberikan kepada kelompok perempuan muda yang terbukti terinfeksi HPV tipe onkogenik. Sementara itu, kelompok yang lebih tua harus mendapat vaksin secara lebih intensif, sehingga memerlukan pengadaan vaksin yang mencukupi. Vaksin yang tersedia untuk HPV 16 dan HPV 18 diperkirakan akan bekerja secara spesifik untuk mencegah kanker serviks. Vaksin kuadrivalen MSD juga menargetkan HPV 6 dan HPV 11 sehingga memberikan proteksi terhadap infeksi dan lesi jinak. Setelah itu, tentunya akan terjadi ketergantungan akan vaksin dalam mencegah distribusi luas penyakit menular seksual dan ini memungkinkan terjadinya penyalahgunaan vaksin. Sisi positif dan negatif ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk menyusun pedoman tatalaksana yang lebih aplikatif.

Keempat, perlu tidaknya ekspansi program imunisasi (EPI)-WHO, sebagaimana yang telah dibentuk di Mataram (P. Lombok) untuk vaksin hepatitis B. Dasar pertimbangannya adalah untuk mendeteksi dini infeksi hepatitis B yang memiliki prevalensi tinggi di masyarakat. Proses kegiatan ini juga menjadi tanggung jawab Indonesian Commitee for Liver Investigators dan Menteri Kesehatan. Dengan adanya dukungan dari WHO, EPI telah diterapkan. Langkah percobaan vaksin HPV dapat disertakan ke dalam proyek percobaan skrining kanker serviks berikutnya. Efektivitas biaya juga menjadi salah satu hal yang mesti diperhitungkan, khususnya di negara-negara berkembang.

Terakhir, implementasi penilaian kegiatan dapat dikoordinasikan dengan melibatkan National Commitee for Cancer Control Program. Gagasan ini akan mendukung evaluasi kegiatan dengan memperkuat program edukasi dan kesadaran masyarakat untuk lebih antusias dalam melakukan pencegahan primer dan sekunder kanker serviks. Akan lebih baik lagi bila dilakukan pertemuan atau workshop internasional untuk pengambilan keputusan terhadap masalah penting ini. Secara khusus, rencana strategi kontrol kanker serviks – sebagai kanker yang unik dengan definisi fase pre-kanker yang jelas dan telah dapat dideteksi dan diterapi untuk mencegah progresivitas ke arah kanker yang invasif – harus berdasarkan rekomendasi global yang telah disetujui. Dengan penuh harap, sekaranglah saatnya mewujudkan komitmen global untuk mencegah kanker servks, melalui teknik skrining dengan pendekatan baru dan vaksinasi HPV dengan vaksin yang tersedia.

DAFTAR PUSTAKA

1. Planning appropriate cervical cancer control program. PATH, 1997.

2. Alliance for Cervical Cancer Prevention (ACCP). Planing and implementing cervical cancer prevention and control programs. A manual for managers. Seattle, ACCP, 2004.

3. Kitchener HC, Symonds P. Commentary: Detection of cervical intraepithelial neoplasma in developing countries. The Lancet 1999;353:9156-8.

4. Goldie SJ, Gafkin L, Goldhaber-Fiebert JD, Gordillo-Tobar A, Levin C, Mahe C, et al. Cost-effectiveness of cervical cancer screening in five developing countries. N Eng J Med 2005;353:2158-68.

5. Lowy Dr, Schiller JT. Prophylactic human papillomavirus vaccines. J Clin Invest 2006;116:1167-73.

6. Mao C, Koustsky LA, Ault KA, Wheeler CM, Brown DR, Wiley DJ, et al. Efficacy of human papillomavorus-16 vaccine to prevent cervical intraepithelial neoplasia. A randomized controlled trial. Obs Gyn 2006;107:18-26.

7. Pichichero MI. Prevention of cervical cancer through vaccnation of adolescents. Clin Pediatrics 2006;45:393-8.

Perkembangan Lanjutan Metode Skrining Kanker Serviks dan Antisipasinya dengan Vaksinasi HPV di Indonesia adalah salah satu contoh Perkembangan Lanjutan Metode Skrining Kanker Serviks dan Antisipasinya dengan Vaksinasi HPV di Indonesia kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online Perkembangan Lanjutan Metode Skrining Kanker Serviks dan Antisipasinya dengan Vaksinasi HPV di Indonesia untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload Perkembangan Lanjutan Metode Skrining Kanker Serviks dan Antisipasinya dengan Vaksinasi HPV di Indonesia full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan Perkembangan Lanjutan Metode Skrining Kanker Serviks dan Antisipasinya dengan Vaksinasi HPV di Indonesia dalam bentuk PDF secara gratis.

menuju-masyarakat-indonesia, makalah hpv, contoh skripsi kitchen, contoh skripsi vaksinasi HPV, contoh makalah tentang hpv