JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 02

30th November 2011 Cat: Manajemen with Comments Off

JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 02 adalah salah satu contoh JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 02 kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 02 untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 02 full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 02 dalam bentuk PDF secara gratis.


Pengaruh Promosi dan Potongan Harga Terhadap Penjualan Pada Perusahaan Meubel “Putri Bangkit” Maduran Lamongan
(DOWNLOAD LANGSUNG DISINI)

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Penelitian
Mengingat semakin pesatnya pertumbuhan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh konsumen, semakin bertambah banyak, baik dalam jumlah maupun jenisnya. Hal ini mendorong perusahaan-perusahaan saling berpacu agar dapat memuaskan kebutuhan konsumen dengan cara menghasilkan barang dan jasa sesuai dengan keinginan konsumen. Keadaan ini mengakibatkan terciptanya persaingan sesama perusahaan yang menghasilkan barang dan jasa yang sejenis.
Untuk menghadapi persaingan ini memaksa perusahaan untuk berorientasi pada kegiatan pemasaran. Kegiatan yang dilakukan perusahaan harus dapat memberikan kepuasan kepada konsumen. Sehingga dapat dikatakan bahwa pemasaran memegang peranan penting dalam menunjang kegiatan perusahaan di dalam meningkatkan penjualan.
Agar tujuan perusahaan untuk meningkatkan hasil penjualan tercapai maka perusahaan harus mempunyai cara-cara atau metode-metode yang digunakan sebagai pedoman terutama dalam bidang pemasaran. Strategi pemasaran adalah cara yang paling tepat dalam upaya meningkatkan penjualan, caranya ialah dengan menetapkan harga, promosi serta saluran distribusi, terhadap barang dan jasa yang bisa memberikan kepuasan kepada konsumen.
Dari beberapa strategi pemasaran tersebut di atas, promosi dan kebijakan harga dalam hal ini adalah pemberian potongan harga merupakan bagian yang penting serta berpengaruh terhadap peningkatan hasil penjualan. Promosi dapat menambah serta mempengaruhi konsumen terhadap nilai pada barang atau jasa yang sedang diedarkan di pasaran. Kegiatan ini mendorong dan mengarahkan konsumen untuk membeli, sehingga penjualan akan meningkat sesuai tujuan yang diharapkan, selain itu pula pemberian potongan harga kepada pelanggan maupun pada saat pembelian dalam skala yang lebih besar sedikit banyak akan dapat menambah bahkan mempertahankan minat konsumen untuk melakukan pembelian terhadap produk yang ditawarkan perusahaan.
Dengan adanya promosi dan kebijakan harga dalam hal ini adalah potongan harga yang diberikan oleh perusahaan diharapkan penjualan akan dapat ditingkatkan. Agar perusahaan dapat menggunakan promosi dan harga secara efektif, maka sebelum mengadakan kegiatan tersebut hendaknya diadakan suatu perencanaan yang baik dengan memperhatikan segala faktor yang berkaitan dengan promosi dan kebijakan harga sehingga apa yang dilaksanakan dapat berhasil dengan baik. Tentu saja hal ini harus disesuaikan dengan maksud dari periklanan yang dapat menarik konsumen yang nantinya membuat minat konsumen untuk membeli produk yang ditawarkan perusahaan.
Dari pengamatan yang dilakukan pada perusahaan Meubel “Putri Bangkit” Maduran Lamongan ini kebijaksanaan promosi dan potongan harga yang diberikan kurang mendapat perhatian, pelaksanaan kedua hal tersebut di rasa kurang efektif. Keadaan ini dapat memicu ini selain itu kurang dikenalnya produk-produk yang dihasilkan oleh Meubel “Putri Bangkit” Maduran Lamongan ini oleh masyarakat juga akan dapat mengakibatkan perusahaan sulit bersaing dengan perusahaan sejenis. Kedua hal ini dapat menyebabkan konsumen beralih kepada produk lain yang sejenis. Bila keadaan ini tidak segera mendapat perhatian akan dapat membawa dampak negatif dalam pencapaian tujuan perusahaan.
Pengetahuan akan bauran pemasaran yang baik dalam upaya pelaksanaan kegiatan pemasaran secara intensif menjadi faktor penting yang harus diketahui perusahaan dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan dan menjangkau konsumen sebanyak-banyaknya. Dengan adanya penelitian tentang bauran pemasaran diharapkan bisa membantu untuk mewujudkan suatu tujuan perusahaan.
Berdasarkan hal tersebut maka penulis tertarik mengambil topik dalam penelitian ini adalah “Pengaruh Promosi dan Potongan Harga Terhadap Penjualan Pada Perusahaan Meubel “Putri Bangkit” Maduran Lamongan.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka dirumuskan permasalahannya sebagai berikut:
  1. 1. Apakah Variabel bauran pemasaran yang terdiri dari promosi dan potongan harga secara bersama-sama berpengaruh terhadap penjualan pada Meubel “Putri Bangkit” Maduran Lamongan?
  2. 2. Dari Variabel bauran pemasaran (yang terdiri dari promosi dan potongan harga) manakah yang berpengaruh dominan terhadap penjualan produk Meubel “Putri Bangkit” Maduran Lamongan?
C. Tujuan Penelitian

  • 1. Untuk mengetahui pengaruh dari promosi dan potongan harga terhadap penjualan produk Meubel “Putri Bangkit” Maduran Lamongan.
  • 2. Untuk mengetahui variabel yang dominan pengaruhnya terhadap penjualan produk Meubel “Putri Bangkit” Maduran Lamongan.
D. Kegunaan Penelitian
Dengan adanya penelitian ini diharapkan bisa memberikan masukan bagi pihak-pihak berikut:
  • 1. Bagi penulis
  • Untuk menerapkan teori-teori dan pengetahuan yang didapat di bangku kuliah ke dalam masalah yang sebenarnya terjadi pada suatu perusahaan khususnya mengenai bauran pemasaran yang dilaksanakan pada suatu perusahaan.
  • 2. Bagi Perusahaan
  • Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan masukan bagi perusahaan terutama sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan tujuan jangka pendek ataupun jangka panjang perusahaan khususnya dalam hal pemasaran.
  • 3. Bagi pihak lain
  • Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi maupun sebagai acuan khususnya bagi yang berminat pada permasalahan bauran pemasaran.


BAB II
LANDASAN TEORI
A. Teori Yang Melandasi Penelitian
Dalam upaya untuk memberikan jalan keluar masalah yang dihadapi perusahaan, maka peneliti akan mengemukakan dasar-dasar teori berhubungan dengan masalah. Tujuannya adalah sebagai titik tolak untuk mencari kebenaran atau kaitannya dengan suatu masalah.
Adapun teori yang dikemukakan sesuai dengan permasalahan ini adalah sebagai berikut :
1. Pengertian pemasaran
Pemasaran mengandung arti yang luas karena membahas mengenai masalah yang terdapat dalam perusahaan dan hubungannya dengan perdagangan barang dan jasa.
Menurut Kotler (2002:9) yang diterjemahkan Ancellawati: “Pemasaran adalah suatu proses sosial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain”.
Proses pertukaran melibatkan kerja. Penjual harus mencari pembeli, mengenali kebutuhan mereka, merancang produk yang tepat, mempromosikan produk tersebut, menyimpan dan mengangkutnya, menetapkan harganya, memberikan layanan purna jual dan sebagainya. Kegiatan seperti pengembangan produk, penelitian, komunikasi, distribusi, penetapan harga dan layanan merupakan inti kegiatan pemasaran.
Lebih lanjut mengenai pengertian manajemen pemasaran didefinisikan oleh Kotler (2002:10): “Penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan program-program yang bertujuan menimbulkan pertukaran dengan pasar yang dituju dengan maksud untuk mencapai sasaran perusahaan”
Apabila kedua definisi di atas dibandingkan maka dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa pada dasarnya kegiatan manajemen pemasaran meliputi proses penganalisaan, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan yang dilakukan oleh individu atau kelompok dalam hubungannya dengan produk barang dan jasa untuk memperoleh apa yang diinginkan.
2. Pengertian Bauran Pemasaran
Pada dasarnya bauran pemasaran merupakan variabel-variabel yang dipakai perusahaan dalam kegiatan pemasarannya. Banyak pendapat dari para ahli yang menegaskan hal tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh Kotler dan Amstrong (2001:18): “Bauran pemasaran adalah seperangkat alat taktis dan terkontrol yang dipadukan oleh perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkan pasar sasaran”.


Hal tersebut dijelaskan lebih lanjut oleh Saladin (1995:6): “Bauran pemasaran adalah kombinasi dari empat elemen pokok (product-price-place-promotion) yang terdapat dalam program pemasaran”
Jadi program pemasaran yang efektif memadukan seluruh elemen bauran pemasaran menjadi program yang rekoordinasi yang dirancang untuk mencapai tujuan-tujuan pemasaran perusahaan. Bauran pemasaran memberlakukan sarana taktis perusahaan untuk membangun posisi yang kuat di dalam pasar sasaran.
Berdasarkan uraian-uraian di atas dapat dinyatakan bahwa variabel-variabel dalam bauran pemasaran merupakan sekelompok variabel yang terdiri dari produk, harga, saluran distribusi dan promosi yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam program pemasaran.
3. Tinjauan Tentang Promosi
a. Pengertian promosi
Promosi merupakan salah satu variabel dalam bauran pemasaran yang penting untuk dilaksanakan oleh perusahaan dalam memasarkan barang dan jasa. Kegiatan promosi bukan hanya berfungsi sebagai alat untuk mempengaruhi konsumen, melainkan juga sebagai alat untuk mempengaruhi konsumen dalam kegiatan pemasaran.
Promosi digunakan untuk menginformasikan kepada orang mengenai produk-produk dan meyakinkan para pembeli dalam pasar sasaran suatu perusahaan, organisasi saluran, dan masyarakat umum untuk membeli barangnya. Alma (2000:135) mengatakan bahwa:
“Promosi adalah sejenis komunikasi yang memberi penjelasan yang meyakinkan calon konsumen tentang barang dan jasa”.
Tujuan promosi adalah memperoleh perhatian, mendidik, mengingatkan dan meyakinkan calon konsumen.
Suatu kegiatan promosi jika dilaksanakan dengan baik dapat mempengaruhi konsumen mengenai dimana dan bagaimana konsumen membelanjakan pendapatannya. Keuntungan bagi produsen adalah promosi dapat menghindarkan persaingan berdasarkan harga, karena konsumen membeli barang lebih dikarenakan tertarik dengan merknya.
b. Variabel-variabel promosi
Perangkat promosi yang kita kenal atau biasanya disebut promotional mix adalah terdiri dari periklanan, personal selling, sales promotion, public relation, publisitas, dan direct marketing. Model dari variabel-variabel itu antara lain:


1) Periklanan (Advertising)
Adalah “setiap bentuk presentasi dan promosi ide, barang atau jasa oleh sponsor tertentu”. Carvens (1998:141)
Iklan biasanya bertanggung jawab untuk menciptakan kesadaran akan suatu produk baru.
Peranan periklanan pada pemasaran jasa adalah untuk membangun kesadaran (awareness) terhadap keberadaan jasa yang ditawarkan, untuk menambah pengetahuan konsumen tentang jasa yang ditawarkan, untuk membujuk calon konsumen untuk membeli atau menggunakan jasa tersebut, dan untuk membedakan diri perusahaan satu dengan yang lain (differentiate service) yang mendukung positioning jasa. Lupiyoadi (2001:38).
Adapun keunggulan yang dimiliki periklanan menurut Chandra G. (2002:175) sebagai berikut:
a) Presentasi publik, yaitu menawarkan pesan yang sama kepada banyak orang
b) Pervasiveness, yaitu memungkinkan produsen untuk mengulang pesan berulangkali dan sekaligus memberikan kesempatan kepada audiens untuk menerima dan membandingkan pesan dari sejumlah produsen yang bersaing.
c) Amplified Expressiveness, yaitu memberikan peluang untuk mendramatisasi perusahaan dan produknya melalui pemanfaatan suara, gambar, warna, bentuk dan tata cahaya.
d) Impersonality, artinya audiens tidak merasa wajib memperhatikan atau merespon iklan, karena iklan lebih bersifat monolog.
2) Penjualan langsung (Personal Selling)
“Penjualan adalah presentasi langsung dalam suatu percakapan dengan satu atau lebih pembeli, dengan maksud, untuk mendapatkan penjualan”. Carvens (1998:68).
Sifat personal selling bisa dikatakan lebih luwes karena tenaga penjual dapat secara langsung menyesuaikan penawaran penjualan dengan kebutuhan dan perilaku masing-masing calon pembeli. Selain itu, tenaga penjual juga dapat segera mengetahui reaksi calon pembeli terhadap penawaran penjualan sehingga dapat mengadakan penyesuaian-penyesuaian di tempat itu juga.
Keunggulan dari personal selling ini Chandra G. (2002:176) adalah:
a) Personal confrontation, artinya terjadi relasi langsung dan interaktif antara dua pihak atau lebih dimana masing-masing pihak dapat saling mengamati reaksi masing-masing.
b) Cultivation, artinya memungkinkan terjadinya hubungan yang akrab antara wiraniaga dengan pembeli.
c) Response, yaitu situasi yang seolah-olah mengharuskan pembeli untuk mendengar, memperhatikan, atau menanggapi presentasi wiraniaga.
3) Promosi penjualan (Sales promotion)
Adalah “semua kegiatan yang dimaksudkan untuk meningkatkan arus barang dan jasa dari produsen sampai pada akhirnya”. Lupiyoadi (2001:32).
Promosi penjualan terdiri dari berbagai kegiatan promosi antara lain peragaan penjualan, kontes, pemberian sampel, display titik pembelian, pemberian insentif, dan kupon. Ada tiga manfaat pokok yang ditawarkan promosi penjualan Chandra G. (2002:176):
a) Komunikasi, yaitu memberikan informasi yang dapat menarik perhatian konsumen agar tertarik untuk membeli produk.
b) Insentif, berupa kontribusi, konsesi, atau dorongan yang dapat bernilai tambah bagi pelanggan.
c) Invitasi, yang mengharapkan agar konsumen segera melakukan transaksi pembelian.
4) Public Relation
“Merupakan kiat pemasaran penting lainnya dimana perusahaan itu harus berhubungan hanya dengan pelanggan, pemasok dan penyalur, tetapi ia juga harus berhubungan dengan kumpulan kepentingan publik yang lebih besar”. Lupiyoadi (2001:32).
Public relation berguna bagi program pemasaran antara lain dikarenakan:
a) Membangun citra (image)
b) Mendukung aktivitas komunikasi lainnya
c) Mengatasi permasalahan dan isu yang ada
d) Memperkuat positioning perusahaan
e) Mempengaruhi publik yang spesifik
f) Mengadakan launching untuk produk/jasa baru.
Keunggulan yang dimiliki public relation Chandra G. (2002:176) berupa:


a) Kredibilitas tinggi
b) Kemampuan untuk menjangkau audies yang cenderung menghindari wiraniaga atau iklan.
c) Memungkinkan untuk mendramatisasi perusahaan atau produk.
5) Publisitas
Menurut Tjiptono (2002:228): “Publisitas adalah bentuk penyajian dan penyebaran ide, barang dan jasa secara non personal, yang mana orang atau organisasi yang diuntungkan tidak membayar untuk itu.”
Publisitas merupakan pemanfaatan nilai-nilai berita yang terkandung dalam suatu produk untuk membentuk citra produk yang bersangkutan. Dibandingkan dengan iklan, publisitas mempunyai kredibilitas lebih baik karena pembenaran (baik langsung maupun tidak langsung) dilakukan oleh pihak lain selain pemilik iklan.
6) Direct marketing
“Sistem pemasaran yang bersifat interaktif yang dapat memanfaatkan satu atau beberapa media iklan untuk menimbulkan respon yang terukur dan atau transaksi di sembarang lokasi”. Tjiptono (2002:178).
Dalam direct marketing, komunikasi promosi ditujukan langsung kepada konsumen individual dengan tujuan agar pesan-pesan tersebut ditanggapi konsumen yang bersangkutan baik melalui telepon, pos, atau datang langsung ke tempat pemasar. Meskipun demikian direct marketing juga menghadapi masalah-masalah seperti orang terganggu karena penjualan yang agresif, timbulnya citra buruk bagi industri bila ada salah satu direct marketer yang menipu pelanggannya, mengganggu privasi orang lain, dan kadangkala terjadi pula ada beberapa direct marketer yang memanfaatkan atau mengeksploitasi pembeli impulsif atau pembeli yang kurang mengerti teknologi.
c. Alternatif media
Secara umum media yang tersedia dapat dikelompokkan menjadi media cetak, media elektronik, media luar ruang, dan media lini bawah. Tjiptono (2002:181).
1) Media cetak
Yaitu media yang statis dan mengutamakan pesan-pesan dengan sejumlah kata, gambar, atau foto, baik dalam tata warna maupun hitam putih. Media cetak terdiri atas surat kabar, majalah, tabloid, brosur, selebaran, dan lain-lain.
2) Media elektronik
Yaitu media dengan teknologi elektronik dan hanya bisa digunakan bila ada jasa transmisi siaran. Bentuk-bentuk media elektronik seperti televisi, radio.


3) Media luar ruang
Yaitu media iklan (biasanya berukuran besar) yang dipasang di tempat-tempat terbuka seperti di pinggir jalan, di pusat keramaian, atau tempat-tempat khusus lainnya seperti di dalam bis kota, gedung, pagar tembok, dan sebagainya. Jenis-jenis media luar ruang meliputi billboard, baliho, poster, spanduk, umbul-umbul, balon raksasa dan lain-lain.
4) Media lini bawah
Yaitu media-media minor yang digunakan untuk mengiklankan produk. Umumnya ada 4 macam media yang digunakan dalam media lini bawah, yakni:
a) Pameran, umumnya pameran terdiri atas 2 jenis yaitu pameran sambil berdagang dan pameran tanpa berdagang.
b) Direct Mail, merupakan segala bentuk periklanan yang digunakan untuk menjual barang secara langsung kepada konsumen, baik melalui surat, kupon yang disebarkan di berbagai media cetak, maupun melalui telepon.
c) Point of purchase, merupakan display yang mendukung penjualan dengan tujuan memberi informasi, mengingatkan, membujuk konsumen untuk membeli secara langsung, dan menjajakan produk.
d) Merchandising Schemes, berguna untuk mempertahankan pembelian lewat celah-celah yang dilupakan. Misalnya kepada konsumen yang berbelanja diberikan hadiah ekstra, potongan harga, dan kupon hadiah yang dapat langsung ditukarkan.
e) Kalender, merupakan salah satu media lini bawah yang sangat populer karena memiliki berbagai fungsi diantaranya sebagai penanggalan, mencatat janji, dan untuk menyimpan catatan-catatan penting lainnya. Bentuk-bentuk seperti kalender dompet, kalender meja, kalender buku (agenda), kalender dinding, kalender perdagangan, dan kalender harian.
d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Promosi
Perusahaan dalam menjalankan kegiatan promosi harus mempunyai suatu dasar yang tepat serta sesuai dengan tujuan perusahaan. Namun perlu diketahui agar tujuan promosi perusahaan bisa tercapai haruslah mempertimbangkan beberapa faktor. Menurut Basu Swastha DH (1999:356) faktor-faktor yang mempengaruhi promosi adalah:
1) Dana yang digunakan untuk promosi
2) Sifat pasar
3) Jenis produk
4) Tahap daur hidup produk
Untuk lebih jelasnya penulis menguraikan maksud dari faktor-faktor tersebut.
1) Dana yang digunakan untuk promosi
Jumlah dana atau uang yang tersedia merupakan faktor penting yang mempengaruhi promotional mix. Perusahaan yang memiliki dana lebih besar, kegiatan promosinya akan lebih efektif dan tidak terbatas dibandingkan dengan perusahaan yang dananya lebih kecil.
2) Sifat pasar
Beberapa macam sifat pasar yang mempengaruhi promotional mix meliputi:
a) Luas pasar secara geografis
Perusahaan yang hanya mempunyai pasar lokal sering mengadakan kegiatan promosi yang berbeda dengan perusahaan yang memiliki pasar nasional atau internasional. Bagi perusahaan yang mempunyai pasar lokal mungkin sudah cukup menggunakan personal selling saja, tetapi bagi perusahaan yang mempunyai pasar nasional paling tidak harus menggunakan periklanan.
b) Konsentrasi pasar
Konsentrasi pasar ini dapat mempengaruhi strategi promosi yang dilakukan oleh perusahaan terhadap jumlah calon pembeli, jumlah pembeli potensial yang macamnya berbeda-beda dan konsentrasi secara nasional.
c) Macam pembeli
Strategi promosi yang dilakukan oleh perusahaan juga dipengaruhi oleh obyek atau sasaran dalam kampanye penjualan apakah pembeli industri, konsumen rumah tangga atau perantara dagang. Sering perantara dagang ikut menentukan atau ambil bagian dalam pelaksanaan program promosi perusahaan.
3) Jenis produk
Strategi promosi yang akan dilakukan oleh perusahaan dipengaruhi juga oleh jenis produknya, apakah barang konsumsi atau barang industri. Dalam mempromosikan barang konsumsi juga macam-macam, apakah barang konvenien, shoping atau barang spesial. Pada barang industripun juga demikian, cara mempromosikan instalasi akan berbeda dengan operating supplies. Untuk barang konvenien biasanya perusahaan menggunakan periklanan. Hal ini begitu memerlukan demonstasi atau penerangan. Sedangkan strategi promosi untuk barang industri seperti instalasi atau barang industri yang berharga cukup tinggi biasanya menggunakan personal selling.
4) Tahap daur hidup produk
Dalam hal ini siklus kehidupan barang melalui beberapa tahap, yaitu:
a) Tahap Awal, pada tahap ini, barang mulai dipasarkan dalam jumlah yang besar walaupun volume penjualannya belum tinggi. Barang yang dijual umumnya barang baru, karena masih berada pada tahap permulaan biasanya ongkos yang dikeluarkan tinggi terutama biaya periklanan. Promosi yang dilakukan memang harus agresif dan menitik beratkan pada merk penjual. Disamping itu, distrbusi barang tersebut masih terbatas dan laba yang diperoleh masih rendah.
b) Tahap pertumbuhan
Dalam tahap pertumbuhan ini kurve penjualan dan kurve laba semakin meningkat dengan cepat. Karena permintaan sudah sangat meningkat dan masyarakat sudah mengenal barang bersangkutan, maka usaha promosi yang dilakukan perusahaan tidak seagresif tahap sebelumnya. Disini pesaing, sudah mulai memasuki pasar sehingga persaingan menjadi lebih ketat. Cara lain yang dapat dilakukan untuk memperluas dan meningkatkan distribusinya adalah dengan menurunkan sedikit pada harga jualnya.
c) Tahap kedewasaan dan kejenuhan
Pada tahap ini penjualan masih meningkat dan pada tahap berikutnya tetap. Dalam tahap-tahap ini kurve laba mulai menurun baik laba produsen maupun laba pengecer. Persaingan harga menjadi sangat tajam sehingga perusahaan perlu memperkenalkan produknya dengan model yang baru. Penjualan dengan cara tukar tambah sering pula terjadi. Usaha periklanan biasanya mulai ditingkatkan lagi untuk menghadapi persaingan dan pada tahap kejenuhan, perusahaan sudah lebih banyak mempertimbangkan usaha periklanan produk baru. Disini penggunaan penyalur yang baik juga sangat menentukan.
d) Tahap kemunduran
Hampir semua jenis barang yang dihasilkan oleh perusahaan selalu mengalami keusangan dan harus diganti dengan barang yang baru. Dalam tahap ini, barang baru harus sudah dipasarkan untuk menggantikan barang yang lama. Meskipun jumlah pesaing sudah berkurang, tetapi pengawasan biaya menjadi sangat penting karena permintaan sudah jauh menurun. Apabila barang yang lama tidak segera ditinggalkan tanpa mengganti barang-barang baru, maka perusahaan hanya dapat beroperasi pada pasar tertentu yang sangat terbatas. Alternatif-alternatif yang dapat dilakukan oleh manajemen pada saat penjualan menurun antara lain:
(1) Memperbaharui barang (dalam arti fungsinya)
(2) Meninjau kembali dan memperbaiki program pemasaran serta program produksinya agar lebih efisien.
(3) Menghilangkan ukuran, warna dan model yang kurang baik
(4) Menghilangkan sebagian jenis barang untuk mencapai laba optimum pada barang yang ada.
(5) Meninggalkan sama sekali barang tersebut.
4. Tinjauan Tentang Kebijakan Harga
Harga memegang peranan penting dalam pemasaran baik itu bagi penjual maupun pembeli. Untuk lebih jelasnya dibawah ini akan dikemukakan pengertian tentang harga yang dikemukakan oleh para ahli:
Menurut Kotler (2001:114) mengatakan bahwa: “Harga yaitu jumlah uang yang harus dibayar pelanggan untuk produk itu”.
Menurut Swastha (1999:211) pengertian harga adalah: “Sejumlah uang (ditambah beberapa barang kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi barang beserta pelayanannya”.
Menurut Alma (2000:79) bahwa: “Harga adalah nilai suatu barang yang dinyatakan dengan uang”.
Berdasarkan pendapat dari para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa harga adalah merupakan alat tukar untuk mengukur suatu nilai uang yang terkandung dalam suatu barang atau jasa, sedangkan yang dipakai sebagai alat pengukur adalah uang.
Dari pengertian di atas, timbullah pengertian tentang kebijakan harga, dimana dalam pelaksanaannya akan diikuti oleh kebijakan harga tertentu yang sebelumnya diputuskan oleh perusahaan. Kebijakan harga tersebut dimaksudkan dengan langkah guna mendukung dan mengarahkan harga agar tercipta suatu hubungan antara produsen dan konsumen.
Untuk memperjelas tentang kebijakan harga harga, disini akan dikemukakan pendapat menurut Effendi (2001:197), yaitu:
Syarat-syarat ketetapan harga terpisah dan berbeda dari penentuan tingkat harga, karena kebijakan harga yang ada dapat sama untuk harga yang berlainan dan perbedaan kebijakan merupakan suatu perhatian sebagai keputusan rutin mereka membantu sebagai jalan bagi pimpinan perusahaan dalam mengikuti penentuan keputusan harga.
Menurut Tjiptono (2002:203) mengenai: “Kebijakan harga adalah suatu keputusan-keputusan mengenai harga-harga yang akan diikuti untuk suatu jangka tertentu”.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan harga yang ditetapkan oleh perusahaan, biasanya kebijakan harga tersebut berlaku untuk sementara waktu saja selama masa menguntungkan perusahaan. Oleh karena itu perusahaan harus mengikuti perkembangan harga dan situasi pasar. Unsur harga tersebut dalam waktu tertentu dirubah atau tidak. Apabila selama batas waktu tertentu keadaan menguntungkan, maka kebijakan harga harga tersebut ditinjau kembali apabila situasi dan kondisi perusahaan mengalami perubahan, sehingga tidak mungkin lagi untuk dipertahankan agar produsen maupun konsumen tidak saling dirugikan.
a. Tujuan Kebijakan harga
Pada umumnya perusahaan dalam mengadakan kebijakan harga mempunyai beberapa tujuan. Tujuan kebijakan harga tersebut dikemukakan sebagai berikut:
Menurut Lamarto (1999:314), yaitu:
1) Berorientasi pada laba, untuk:
a) Mencapai target laba investasi atau laba penjualan bersih
b) Memaksimalkan laba
2) Berorientasi pada penjualan untuk:
a) Meningkatkan penjualan
b) Mempertahankan atau meningkatkan pangsa pasar
3) Berorientasi pada status quo, untuk:
a) Menstabilkan harga
b) Menangkal persaingan
Selanjutnya akan diuraikan mengenai tujuan kebijakan harga sebagai berikut:
1) Berorientasi pada laba
a) Mencapai target laba investasi atau laba penjualan bersih:
Perusahaan menetapkan harga produknya atau jasa yang diberikan atas dasar sasaran pencapaian prosentase tertentu untuk pengembalian investasi atau laba penjualan bersih. Sasaran seperti ini menjadi kacau baik bagi perusahaan maupun pialangnya.
b) Memaksimalkan laba
Sasaran penetapan harga atau dasar menghasilkan uang sebanyak-banyaknya mungkin merupakan sasaran yang paling banyak dianut oleh perusahaan. Dalam teori ekonomi atau praktek bisnis, tidak ada yang salah dengan sasaran seperti ini. Secara teoritis apabila laba menjadi terlalu besar karena penawaran lebih kecil dibandingkan permintaan, modal baru akan tertanam dalam bidang usaha ini. Dengan sendirinya hal ini akan mengurangi laba sampai setingkat normal.


2) Berorientasi pada penjualan
a) Meningkatkan volume penjualan
Sasaran penetapan harga biasanya dinyatakan dalam prosentase kenaikan volume penjualan selama periode tertentu. Katakanlah satu tahun atau tiga tahun. Para pengecer mendayagunakan sasaran semacam ini. Sewaktu mereka berusaha meningkatkan penjualan tahun lalu dengan prosentase tertentu. Namun untuk meningkatkan volume penjualan mungkin bisa atau tidak bisa taat dengan konsep pemasaran yang dianut volume penjualan yang menguntungkan. Di satu pihak, sasaran perusahaan bisa meningkatkan volume penjualan tetapi dengan tetap mempertahankan tingkat labanya. Disegi lain, manajemen bisa memutuskan dan meningkatkan volume penjualannnya melalui strategi penetapan harga yang agresif dengan kerugian. Dalam hal ini manajemen bisa memutuskan untuk pendek dengan perhitungan bahwa melalui peningkatan volume penjualan dapat menancapkan kakinya dalam pasar.
b) Mempertahankan atau meningkatkan pangsa pasar
Perusahaan yang mempunyai sasaran penetapan harga tipe ini memutuskan perhatian pada upaya mempertahankan atau meningkatkan pangsa pasar. Satu sektor yang membuat sasaran ini tercapai adalah perusahaan biasanya dapat menentukan pangsa pasar apa yang diinginkan. Dalam beberapa hal, pangsa pasar merupakan indikator kondisi perusahaan yang lebih baik dibandingkan dengan target laba investasi artinya, sasaran penetapan harganya yang lebih baik. Hal ini bisa terjadi terutama pada waktu pasar total sedang berkembang dan perusahaan bisa memperoleh laba yang bisa diharapkan. Akan tetapi jika manajemen tidak mengetahui bahwa pasar sedang berkembang, akibatnya pangsa pasar perusahaan bisa mengalami kemunduran.
3) Berorientasi pada status quo
a) Menstabilkan harga
Stabilitas harga sering menjadi sasaran industri-industri yang mempunyai pemimpin harga (price leader)
b) Menangkal persaingan
Banyak perusahaan, tidak tergantung dari besar kecilnya, secara sadar memberi harga produknya untuk memenangkan persaingan. Meskipun perusahaan sudah besar, hanya mempunyai peranan yang kecil dalam menentukan harga pasar.
Dari pendapat yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan ditetapkannya kebijakan harga, maka tujuan yang hendak dicapai adalah:
1) Mencapai target laba atau laba tertentu
2) Memaksimalkan laba
3) Meningkatkan penjualan
4) Mempertahankan dan meningkatkan pangsa pasar
5) Mentabilkan harga
6) Menangkal persaingan.
b. Macam-Macam Kebijakan Harga
Kebijakan harga dapat dibedakan menjadi beberapa macam, seperti yang dikemukakan oleh Lamarto (1999:350), yaitu:
1) Potongan dan kelonggaran (discount and allowance)
2) Strategi penetapan-penetapan harga geografis
3) Strategi harga tanggal lawan strategi harga variabel
4) Penetapan harga unit (unit pricing)
5) Strategi lini harga (price lining)
6) Sarana pengendalian harga eceran
7) Penetapan harga pelopor dan undang-undang
8) Penetapan harga psikologis
9) Penetapan harga dimasa inflasi
10) Persaingan harga lawan persaingan non harga
Berikut ini merupakan penjelasan dari macam-macam kebijakan harga harga tersebut di atas:
1) Potongan dan kelonggaran (discount and allowance)
Potongan dan kelonggaran adalah hasil pengurangan dari harga dasar atau harga tercatat atau harga terdaftar (list prices)


2) Strategi penetapan-penetapan harga geografis
Dalam menetapkan harga produk, seorang penjual harus mempertimbangkan pula biaya angkutan dari pabrik sampai ke pembeli. Faktor ini menjadi bertambah penting, karena biaya angkutan sekarang dimasukkan ke dalam biaya variabel total. Kebijakan harga penetapan harga bisa mencakup tiga variasi: pembeli menanggung seluruh biaya angkutan, atau penjual menanggung seluruh biaya angkutan atau dapat juga ditanggung kedua belah pihak.
Strategi apa yang dapat dipilih bisa sangat mempengaruhi:
a) Batas tempat fasilitas produksi
b) Lokasi tempat produksi
c) Sumber bahan baku produksi
d) Daya saing dalam berbagai pasar
3) Strategi harga tanggal lawan strategi harga variabel
Sebelum menentukan strategi penetapan harga apa yang dianut oleh perusahaan, manajemen perlu terlebih dahulu mengkaji dengan cermat dua pilihan, strategi tunggal atau strategi harga variabel.
Menganut strategi yang satu bukan berarti membuang jauh-jauh strategi yang lain, meskipun biasanya penentuan strategi apa yang akan didayagunakan bersifat mengikat. Dengan strategi harga tunggal, perusahaan menetapkan harga sama atau harga ke seluruh pelanggan yang membeli produk dalam kualitas sama. Di bawah strategi harga variabel, perusahaan akan dapat menjual produk dengan harga yang berlainan meskipun transaksi dilakukan dalam kuantitas sama dengan pembeli yang sama. Kebijakan harga tunggal bisa membina kepercayaan konsumen kepada penjual tingkat eceran, grosir atau pabrik. Pembeli yang kurang pandai menawar tidak perlu kuatir akan tertipu. Kebijakan harga variabel juga mempunyai kelebihan, misalnya penjual bisa membeli konsensi harga kepada pembeli agar penjual bisa memberi harga khusus pada pembeli yang mempunyai potensi menjadi pelanggan besar.
4) Penetapan harga unit (unit pricing)
Penetapan harga unit adalah strategi pelaporan informasi tentang harga eceran yang sampai sekarang tetap didayagunakan secara luas oleh rangkaian pasar raya atau super market. Walaupun demikian, metode penetapan harga tipe ini bisa diadaptasikan ke berbagai tipe toko dan produk lainnya. Sebagai strategi ia merupakan reaksi bisnis terhadap proses-proses konsumen mengenai pemakaian ukuran kemasan.
Praktek-praktek yang ada membuat konsumen sukar membandingkan harga produk-produk serupa. Latar belakang pemakaian strategi ini didasarkan atas harapan bahwa konsumen diharapkan makin sadar dan memahami strategi ini. Biaya yang dikeluarkan untuk mempraktekkan strategi ini diimbangi oleh manfaat yang dapat dipetik dari masyarakat.
5) Strategi lini harga (price lining)
Penetapan lini harga banyak didayagunakan oleh para pengecer pakaian jadi. Pada intinya strategi ini menyeleksi harga yang terbatas jumlahnya yang akan dicapai untuk setiap lini barang dagangan, misalnya sebuah toko sepatu menjual lini produk yang terdiri dari beberapa model sepatu seharga Rp. 15.000,- sepasang, lini model lain seharga Rp. 20.000,- dan lini termahal dengan harga Rp. 30.000,- sepasang. Bagi konsumen, keuntungan utama dari penetapan lini harga adalah penyederhanaan keputusan beli. Dari sudut pengecer strategi ini juga menguntungkan karena membantu perencanaan dan membelanjakan di toko. Kendala yang mungkin dihadapi oleh strategi lini, perubahan lini harga yang harus selalu dilakukan setiap kali biaya naik sehingga pengecer akan bingung. Keseringan merubah lini harga akan merusak citra toko. Apabila situasi harga tetap, margin laba ditekan serendah mungkin, pengecer bisa selalu mencari harga produk yang tidak terlalu tinggi. Pihak produsen juga bisa menolong para pengecer melalui penyederhanaan kemasan atau kualitas produk (berarti biaya lebih murah) pengecer bisa mempertahankan harga pada tingkat yang tetap.
6) Sarana pengendalian harga eceran
Beberapa pabrik ingin mengendalikan harga eceran produknya, ada yang mencantumkan pedoman harga-harga eceran yang diajukan oleh produknya, ada juga yang secara tegas mencantumkan harga eceran tinggi, mereka yang melanggar bisa dicabut hak menjual produknya. Kebijakan yang memperbolehkan pengecer menambah atau mengurangi dengan potongan harga. Kebijakan yang kedua harga bisa jalan untuk produk yang laku.
7) Penetapan harga pelopor dan undang-undang
Gagasan yang mendasari adalah pelanggan ke toko membeli produk dengan harga pelopor dan kemudian tertarik untuk membeli produk lain dengan harga biasa. Hasil diharapkan bisa berupa laba total dan volume penjualan total. Tujuan umum dari undang-undang ini baik, yaitu mencegah praktek penurunan harga seenaknya sendiri. Namun demikian undang-undang ini masih mengijinkan praktek banting harga sebagai strategi promosi dan strategi harga. Lagi pula tujuan daripada bisnis adalah menghasilkan laba dari operasi total tidak perlu dari setiap penjualan masing-masing produk.


8) Penetapan harga psikologis
Ditingkat penjualan eceran, strategi bagi penetapan harga psikologis adalah memberi harga dengan gasal seperti misalnya permen coklat seharga Rp. 5.995,- dan buku seharga Rp. 6.000,-. Beberapa studi lapangan kurang mendorong keyakinan di atas, harga gasal kurang disenangi toko-toko yang eksekutif.
9) Penetapan harga dimasa inflasi
Infalsi yang melanda ekonomi sebagian besar melanda negara di dunia selama beberapa tahun ini belum terlihat tanda-tanda akan mereda. Bagi eksekutif pemasaran terutama dalam penetapan harga inflasi memaksa mereka untuk mengembangkan strategi penetapan harga yang kreatif dan inovatif.
10) Persaingan harga lawan persaingan non harga
Di dalam upaya mengembangkan program pemasaran manajemen mempunyai pilihan antara penekanan persaingan harga atau persaingan non harga. Pilihan dapat mempengaruhi bagian-bagian lain dari sistem pemasaran perusahaan. Dengan harga yang rendah biasanya pelayanan yang ditawarkan juga menjadi berkurang. Dahulu rangkaian toko dan pusat-pusat penjualan dengan potongan harga selalu bersaing dengan cara seperti ini. Dari sebuah perusahaan juga mendayagunakan harga dalam persaingan melalui:
a) Perubahan harga
b) Reaksi terhadap perubahan harga yang dilakukan oleh para pesaingnya.
Persaingan non harga makin banyak digunakan dalam program pemasaran paling tidak ingin menentukan jalannya sendiri. Dalam persaingan non harga, dasar pandangan seperti ini bisa terjadi karena posisi perubahan sebagai penjual tidak terlalu berubah, meskipun pesaing mulai banting harga. Juga kesetiaan pembeli terhadap produk akan tetap terjaga, karena harga bukan satu-satunya ciri pembeda perusahaan. Dengan strategi persaingan harga pembeli akan setia pada perusahaan selama perusahaan dapat menawarkan produk dengan harga rendah.
Dua metode utama persaingan non harga adalah promosi dan pembeda produk. Selain itu juga perusahaan yang akan menekan keragaman dan kualitas pelayanan perusahaan pada pelanggan. Salah satu bentuk persaingan non harga (diluar promosi dan pembedaan produk) adalah kartu dagang atau kartu yang dapat ditukarkan dengan uang atau hadiah-hadiah lain.


5. Jenis-Jenis Potongan
Untuk memperoleh gambaran secara lebih jelas mengenai teori di atas maka sesuai dengan pemecahan masalah yang ada, dibawah ini akan diuraikan tentang maam-macam atau jenis-jenis potongan (discount) menurut Lamarto (1999:350) sebagai berikut:
a. Potongan kuantitas (quality discount)
b. Potongan dagang (rate discount)
c. Potongan atau rabat kontan (cash discount)
d. Potongan musiman (seasonal discount)
e. Pencatatan maju (forward discount)
f. Kelonggaran promosi (Promotional discount)
Berikut ini akan dijelaskan jenis-jenis potongan harga sebagai berikut:
a. Potongan kuantitas (quality discount)
Potongan kuantitas adalah pengurangan dari harga tercatat yang ditawarkan oleh seorang penjual untuk menarik seorang pelanggan membeli dalam jumlah yang lebih besar dari biasanya. Potongan berdasarkan pada jumlah pembelian dalam rupiah atau dalam unit. Potongan kuantitas dapat dilakukan dengan menggunakan dua cara yaitu:
1) Potongan non kumulatif
2) Potongan kumulatif
b. Potongan dagang (trade discount)
Potongan dagang kadang-kadang disebut potongan fungsional, merupakan potongan dari harga tercatat (daftar harga) yang ditawarkan ke pembeli yang diharapkan akan mempunyai fungsi pemasaran. Contohnya produsen memberikan potongan kepada agen 15 % dengan syarat yang 10% diberikan kepada pengecer.
c. Potongan atau rabat kontan (cash discount)
Potongan kontan merupakan potongan harga yang diberikan kepada pembeli karena membayar kontan atau membayar dalam jadwal pelunasan yang telah ditetapkan sebelumnya. Potongan dihitung dari nilai sisa setelah dikurangi potongan kuantitas dan potongan dagang dari harga dasar.
Setiap potongan kontan mencakup tiga unsur:
1) Potongan prosentase
2) Jadwal pembayaran untuk memperoleh potongan
3) Batas akhir waktu pelunasan hutang
Setiap industri biasanya menerapkan sendiri ketiga unsur tersebut diatas.
d. Potongan musiman (seasonal discount)
Potongan musiman merupakan korting yang biasa dipakai oleh para produsen musiman seperti payung hujan. Misalnya pembeli yang memesan sejumlah payung hujan di musim panas akan menerima potongan sebesar 5%, 10% dan 15%. Pesanan-pesanan yang tiba diluar musim (off season) membantu pabrik tetap mendayagunakan produknya.


e. Pencatatan maju (forward discount)
Potongan tipe ini merupakan kombinasi antara potongan kontan dengan potongan musiman. Misalnya pabrik peralatan memancing mencari pesanan daripada grosir dan pengecer selama musim salju. Tetapi tagihan akan diberikan tanggal 1 April tahun depan, kondisinya 2/10 dan n/30. Pesanan yang diberikan dalam musim dingin ini (Desember/Januari) membantu effisiensi operasi produksi perusahaan. Tagihan yang diberi catatan maju (tagihan mundur) memungkinkan pengecer menunggu membayar hutangnya setelah musim salju tiba dan beberapa barang mulai laku.
f. Kelonggaran promosi (promotional allowances)
Kelonggaran promosi merupakan potongan harga yang diberikan oleh penjual sebagai imbalan promosi yang dilakukan oleh pembeli. Misalnya pabrik alat-alat besar bangunan membeli beberapa jenis barang gratis untuk para penyalur sebagai imbalan pemeragaan produk eceran teratur. Atau pabrik akan menanggung 50% biaya iklan toko pengecer yang mengiklankan produknya.
Dari uraian di atas disimpulkan bahwa jenis potongan harga dapat digunakan sesuai dengan jenis perusahaan dalam memilih jenis potongan harga.


6. Tujuan Penetapan Harga
Tujuan penetapan harga perlu ditentukan terlebih dahulu, karena tujuan perusahaan dapat tercapai. Hal ini penting karena tujuan perusahaan merupakan dasar atau pedoman bagi perusahaan dalam menjalankan kegiatan pemasaran termasuk kebijakan penetapan harga. Tujuan ini berasal dari perusahaan itu sendiri yang selalu berusaha menetapkan harga barang dan jasa setepat mungkin.
Adapun dari penetapan harga menurut Assauri (2001:204):
a. Memperoleh laba yang maksimum
b. Mendapatkan share pasar tertentu
c. Memerah pasar (market skimming)
d. Mencapai tingkat hasil penerimaan penjualan maksimum pada waktu itu.
e. Mencapai keuntungan yang ditargetkan
f. Memproduksikan produknya.
7. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Harga
Dalam kenyataan, tingkat harga yang terjadi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut Swastha (1999:242) antara lain:
a. Keadaan perekonomian
b. Penawaran dan permintaan
c. Elastisitas permintaan
d. Persaingan
e. Biaya
f. Tujuan perusahaan
g. Pengawasan pemerintah


8. Konsep Penjualan
Menurut Sigit (1999:55): “Penjualan adalah sasaran inti di antara kegiatan-kegiatan lainnya, sebab disini dilakukan perundingan persetujuan tentang serah terima barang serta pembayaran”.
“Konsep penjualan menyatakan bahwa konsumen jika diabaikan biasanya tidak akan membeli produk organisasi dalam jumlah cukup. Karena itu organisasi harus melakukan usaha penjualan dan promosi yang agresif.” (Kotler, 2002:16).
Konsep ini mengasumsikan bahwa konsumen malas atau enggan melakukan pembelian dan untuk itu harus didorong. Juga diasumsikan bahwa perusahaan memiliki cara penjualan dan peralatan promosi yang efektif untuk merangsang lebih banyak pembelian.
Kegiatan penjualan atau selling adalah merupakan kegiatan terakhir dari kegiatan-kegiatan pemasaran lainnya. Tetapi bagian terpenting dalam pemasaran bukanlah menjual. Menjual hanyalah puncak dari gunung es pemasaran. Seseorang dapat mengasumsikan bahwa penjualan selalu tetap dibutuhkan, namun tujuan pemasaran adalah membuat kegiatan menjual berjalan lancar. Dalam hal ini adalah mengetahui dan memahami para pelanggan dengan baik sehingga produk atau jasa yang dihasilkan perusahaan cocok dengan mereka dan dapat terjual dengan sendirinya. Idealnya, pemasaran harus menghasilkan pelanggan yang siap untuk membeli sehingga yang tinggal hanyalah bagaimana membuat produk atau jasa tersebut tersedia.
9. Hubungan antara Promosi dan Potongan Harga dengan Penjualan
Bauran pemasaran merupakan variabel-variabel yang dipakai oleh perusahaan dalam kegiatan pemasarannya, seperti yang diungkapkan oleh Kotler dan Amstrong (2001:18) “Bauran pemasaran adalah seperangkat alat taktis dan terkontrol yang dipadukan oleh perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkan pasar sasaran”.
Sedangkan konsep penjualan sendiri adalah bahwa konsumen jika diabaikan biasanya tidak akan membeli produk organisasi dalam jumlah cukup. Karena itu organisasi harus melakukan usaha penjualan dan promisi yang agresif.” (Kotler, 2002:16).
Dengan demikian hubungan antara bauran pemasaran yang berupa potongan harga dan promosi sangat berperan untuk kelangsungan penjualan perusahaan karena penjualan tanpa adanya bauran pemasaran tidak akan terjadi suatu penjualan.
B. Hipotesis
Hipotesis ini merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya masih harus diuji secara empiris.
Menurut Sugiyono (1999:57) : “Hipotesa adalah pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan masih perlu dibuktikan kenyataannya”. Dari pendapat tersebut, maka suatu hipotesis yang dikemukakan nantinya bukanlah suatu jawaban yang benar secara mutlak, tetapi dipakai sebagai jalan untuk mengatasi permasalahan yang ada, dan masih harus dibuktikan kebenarannya.
Dari perumusan masalah, tujuan penelitian, landasan teori dan telah dijelaskan di atas, maka dapat ditarik hipotesis sebagai berikut:
1. Diduga bahwa promosi dan potongan harga berpengaruh secara signifikan terhadap penjualan produk Perusahaan Meubel “Putri Bangkit” Maduran Lamongan.
2. Diduga bahwa variabel promosi yang berpengaruh dominan terhadap penjualan produk Perusahaan Meubel “Putri Bangkit” Maduran Lamongan.
BAB III METODE PENELITIAN…… dst

(MOHON MAAF!! TAMPILAN TABEL, GAMBAR, DAN RUMUS MENGGUNAKAN EQUATION KESULITAN UNTUK BISA DI UPLOAD)
KLIK DISINI UNTUK SYARAT MENDAPATKAN 100% GRATIS

PROPOSAL LENGKAP DALAM FORM PDF/WORD

JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 02 adalah salah satu contoh JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 02 kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 02 untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 02 full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 02 dalam bentuk PDF secara gratis.

contoh makalah direct marketing, contoh skripsi pemasaran biaya distribusi, judul skripsi front office, contoh skripsi direct marketing, proposal skripsi penelitian ums

JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 03

30th November 2011 Cat: Manajemen with Comments Off

JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 03 adalah salah satu contoh JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 03 kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 03 untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 03 full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 03 dalam bentuk PDF secara gratis.

PENERAPAN STRATEGI MARKETING GUNA MENINGKATKAN VOLUMEPENJUALAN PADA PR.“GUDANG KAYU” MALANG
(DOWNLOAD LANGSUNG DISINI!!)


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Setiap perusahaan selalu berusaha agar produksinya laku di pasaran. Pada dasarnya misi perusahaan adalah memproduksi barang atau jasa yang dapat memenuhi selera konsumen dengan tujuan mencapai target penjualan dan memperoleh laba yang diinginkan.
Keadaan yang menonjol terlihat pada dunia bisnis dewasa ini yaitu persaingan, perubahan dan ketidakpastian yang sangat mempengaruhi aktivitas dari perusahaan tersebut. Oleh sebab itu setiap perusahaan harus mampu mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan sesuai dengan misi dan tujuan dari perusahaan.
Tumbuh dan berkembangnya perusahaan-perusahaan yang ada dapat menimbulkan persaingan yang tajam dapat dilihat dari jumlah pesaing yang ada dan volume produk yang mengalami peningkatan secara pesat. Selain itu juga adanya perkembangan teknologi dapat mempengaruhi pasar bagi para konsumen.
Teori pemasaran mengemukakan bahwa kunci sukses sebuah organisasi tergantung pada kemampuan untuk berinteraksi secara dinamis terhadap kondisi lingkungan yang semakin kompleks dan selalu berubah-ubah. Perubahan tersebut ditandai dengan naik-turunnya penjualan produk yang disebabkan oleh faktor ekstern seperti keadaan perekonomian, perubahan selera konsumen dan persaingan, serta faktor intern seperti naik turunnya penjualan produk oleh perantara dan penyedia, keterbatasan sumber-sumber teknologi dan motivasi manajemen.
Dalam hal ini perusahaan harus selalu lebih tanggap dalam memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Untuk dapat meningkatkan volume penjualan dalam kondisi seperti sekarang ini, maka perusahaan dapat menerapkan strategi pemasaran meliputi produk, saluran distribusi, promosi dan harga. Aktivitas strategi marketing ini sangat berpengaruh terhadap perubahan penjualan dan profitabilitas yang dicapai oleh perusahaan.

B. Permasalahan
Permasalahan yang dihadapi pada perusahaan rokok “Gudang Kayu” Malang yaitu : “Penerapan strategi marketing yang bagaimana agar volume penjualan meningkat sehingga target produksi dapat tercapai”.

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui strategi pemasaran yang telah diterapkan oleh perusahaan rokok “Gudang Kayu” dalam meningkatkan volume penjualan.
2. Menganalisa strategi yang telah digunakan oleh perusahaan Gudnag Kayu Malang.
3. Untuk memformulasikan strategi pemasaran pada perusahaan rokok “Gudang Kayu” Malang

D. Kegunaan Penelitian
1. Diharapkan dapat membantu perusahaan memberi masukan-masukan dalam menerapkan strategi pemasaran sehingga target penjualan dapat tercapai.
2. Diharapkan dari penelitian ini dapat diterapkan teori pemasaran yang diperoleh selama perkuliahan.
3. Diharapkan dapat berguna bagi penelitian selanjutnya.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Strategi
Strategi merupakan sebuah rencana yang luas dari suatu tindakan organisasi untuk mencapai suatu tujuan.
Menurut Glueck (2006:9), strategi didefinisikan sebagai rencana yang disatukan, luas dan terintegrasi, yang menghubungkan keunggulan strategi dengan tantangan lingkungan dan yang dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama perusahaan dapat dicapai pelaksanaannya yang tepat dalam organisasi. Dari kedua definisi tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Strategi perusahaan adalah suatu kesatuan rencana perusahaan yang terpadu dan diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan.
2. Dalam menyusun strategi perlu dihubungkan dengan lingkungan perusahaan karena faktor lingkungan menentukan kekuatan dan kelemahan perusahaan sehingga dapat disusun kekuatan strategi perusahaan.

1. Pentingnya strategi perusahaan
Dalam mempelajari strategi perusahaan, kita perlu mengetahui arti penting dan manfaat strategi perusahaan.
Menurut Supriyono (2005:9) berpendapat bahwa banyak sekali arti penting dan manfaat mempelajari strategi perusahaan, antara lain :
a. Strategi merupakan suatu cara untuk mengantisipasi masalah-masalah dan kesempatan-kesempatan masa depan pada kondisi perusahaan yang berubah-ubah cepat.
b. Strategi dapat memberikan tujuan dan arah perusahaan di masa depan dengan jelas kepada semua karyawan. Dengan tujuan dan arah perusahaan di masa depan dengan jelas kepada semua karyawan. Dengan tujuan dan arah perusahaan yang jelas, bermanfaat pada semua karyawan untuk :
1) Dapat mengurangi konflik yang timbul karena strategi yang efektif mengarahkan para karyawan untuk mengikutinya.
2) Memberikan semangat/dorongan pada para karyawan dan manajemen dalam mencapai tujuan.
3) Menjamin adanya dasar pengendalian manajemen dan evaluasi.
c. Memberikan informasi kepada manajemen di dalam merumuskan tujuan akhir dari perusahaan dengan memperhatikan etika masyarakat dan lingkungan.
d. Perusahaan yang menyusun strategi umumnya lebih efektif dibandingkan dengan perusahaan yang tidak menyusun strategi.

2. Manfaat strategi
Menurut Saladin (2005:14) manfaat strategi itu meliputi:
a. Untuk mengantisipasi perusahaan-perusahaan yang terjadi, mengarahkan dan mengatasi jalannya perusahaan ke arah yang lebih baik.
b. Apabila setiap orang yang terlibat dalam perusahaan telah mengetahui tujuan dan arah masa depan perusahaan, maka hal ini:
1) Mengurangi konflik yang terjadi di antara mereka.
2) Memberikan dorongan/semangat kerja
3) Memudahkan mengambil tindakan
4) Memudahkan pengontrolan
5) Mengurangi resiko yang terjadi
6) Mendidik manajer menjadi pembuat keputusan yang baik.

Dengan demikian, manfaat dari strategi adalah membantu pihak manajerial dalam mencapai tujuan perusahaan yang telah ditetapkan dengan cara melibatkan semua pihak dari perusahaan yaitu para karyawan untuk turut serta memecahkan masalah yang ada guna mencapai tujuan tersebut.
3. Tujuan penetapan strategi
Banyak pendapat mengenai definisi strategi perusahaan yang ditulis oleh beberapa ahli misalnya yang dikemukakan oleh Ansoff, Uyterhoeven, Newman dan Logan, Christenser, Chandler serta Glueck yang dikutip oleh Supriyono (2005:9) merangkum sebagai berikut:
a. Strategi perusahaan adalah suatu kesatuan rencana yang komprehensif dan terpadu yang diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan.
b. Dalam menyusun strategi perlu dihubungkan dengan lingkungan perusahaan karena lingkungan menentukan kekuatan dan kelemahan perusahaan sehingga dapat disusun kekuatan strategi perusahaan.
c. Dalam mencapai tujuan perusahaan terdapat berbagai macam cara/alternatif strategi yang harus dipertimbangkan dan dipilih.
d. Strategi yang dipilih akan diimplementasikan oleh perusahaan dan akhirnya memerlukan evaluasi terhadap strategi tersebut..

Dari penjelasan didapat diketahui bahwa perencanaan strategi mempunyai arti yang penting bagi suatu perusahaan seperti yang dikemukakan oleh Supriyono (2005:9-10) :
a. Strategi merupakan cara untuk mengantisipasi masalah-masalah dan kesempatan masa depan pada kondisi perusahaan yang berubah dengan cepat.
b. Strategi dapat memberikan tujuan dari arah perusahaan di masa depan dengan jelas kepada semua karyawan. Dengan arah dan tujuan masa depan yang jelas, bermanfaat pada semua karyawan untuk :
1) Mengetahui apa yang diharapkan dari para karyawan dan kemana arah tujuan perusahaan.
2) Dapat mengurangi konflik yang timbul karena strategi yang efektif mengarah kepada karyawan untuk mengikutinya.
3) Memberikan semangat dan dorongan kepada para karyawan dan manajemen untuk mengikutinya.
4) Menjamin para eksekutif puncak mempunyai kesatuan opini atas masalah strategi dan tindakan-tindakan
c. Pada saat ini strategi banyak dipraktekkan di dalam industri karena membuat tugas para eksekutif puncak menjadi mudah dan kurang beresiko.
d. Strategi adalah kacamata yang bermanfaat untuk memonitor apa yang dikerjakan dan apa yang terjadi dalam perusahaan sehingga dapat memberikan sumbangan terhadap kesuksesan perusahaan dengan memperhatikan etika masyarakat dan lingkungannya.
e. Memberikan informasi pada manajemen di dalam merumuskan tujuan akhir dari perusahaan dengan memperhatikan etika masyarakat dan lingkungan.
f. Strategi dapat membantu praktek-praktek manager.
g. Perusahaan yang menyusun strategi pada umumnya lebih efektif dibandingkan dengan perusahaan yang tidak menyusun strategi.

Dari definisi di atas dapat ditarik beberapa kesimpulan pokok, yaitu:
a. Strategi perusahaan merupakan satu kesatuan yang komprehensif dan terpadu yang diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan.
b. Dalam penyusunan strategi perlu dihubungkan dengan lingkungan perusahaan karena lingkungan dapat menentukan kekuatan dan kelemahan perusahaan.
c. Strategi dapat memberikan tujuan dari arah dapat bermanfaat bagi perusahaan.

B. Analisa SWOT
Menurut Boseman (2006:6) pengertian analisis SWOT adalah sebagai berikut:
Proses penarikan kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman dalam organisasi dan dunia bisnis dikenal sebagai penaksiran/analisis SWOT. Analisis SWOT memberikan kepada para pembuat keputusan organisasi suatu informasi yang dapat berfungsi sebagai dasar pengambilan keputusan dan tindakan yang jika dilaksanakan secara efektif akan memungkinkan perusahaan tersebut mencapai tujuan-tujuannya. Analisis SWOT memungkinkan suatu organisasi untuk memanfaatkan kesempatan yang akan datang sambil melawan ancaman dan masalah dan melakukannya melalui strategi-strategi secara konseptual dimulai dengan penaksiran SWOT, karena SWOT sebuah organisasi mungkin akan menyarankan perubahan dalam misi, tujuan, kebijaksanaan atau strategi perusahaan. Sebuah perusahaan mendapatkan banyak keuntungan dari analisis yang bagus/trampil tentang kesempatan dan ancaman yang ada dan mengkaitkannya dengan penaksiran yang obyektif dari kekuatan dan kelemahan sendiri.

Dengan demikian analisis SWOT merupakan identifikasi terhadap kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman yang dimiliki serta mengelilingi perusahaan.
Proses analisis SWOT diawali dari penilaian kekuatan yang dimiliki serta mengelilingi perusahaan.
Proses analisis SWOT diawali dari penilaian kekuatan yang dimiliki perusahaan atau industri sekaligus penilaian tentang kelemahan-kelemahan, kesempatan-kesempatan dan ancaman-ancaman pada suatu perusahaan industri.
Untuk lebih jelasnya, analisis SWOT dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Analisis Strengt (kekuatan) dan Weakness (kelemahan)
Menurut Suwarsono (2008:85), pengertian analisis kekuatan dan kelemahan ialah :
Disebut kekuatan jika variabel internal yang dievaluasi mampu menjadikan perusahaan memiliki keunggulan tertentu. Perusahaan mampu mengerjakan sesuatu dengan lebih baik atau lebih murah dibanding dengan pesaingnya. Paling variabel tersebut menjadi determinan utama untuk mempertahankan – lebih baik jika mampu mengambangkan – kinerja (performance) masa lalu. Disebut kelemahan jika perusahaan tidak mampu mengerjakan sesuatu yang ternyata dapat dikerjakan dengan baik dan lebih murah oleh pesaingnya.

Kotler (2007:399) memberikan penjelasan mengenai analisis kekuatan dan kelemahan perusahaan sebagai berikut :
Satu hal lain lagi yang harus diidentifikasikan seorang manajer adalah kekuatan dan kelemahan merupakan faktor-faktor dalam atau intern. Kekuatan perusahaan menunjukkan kemungkinan-kemungkinan adanya beberapa strategi tentang yang akan berhasil, sedangkan kelemahan perusahaan menunjukkan bahwa terdapat hal-hal yang harus diperbaiki.

Dari dua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kekuatan dan kelemahan merupakan faktor intern dari perusahaan yang harus dapat diidentifikasi oleh manajer. Manajer harus menunjukkan kemungkinan yang dimiliki oleh perusahaan karena hal itu dapat dijadikan senjata untuk memperoleh suatu keunggulan dalam persaingan. Begitu pula dengan kelemahan perusahaan harus dianalisis untuk diadakan perbaikan-perbaikan agar pesaing tidak mudah melakukan penyerangan terhadap perusahaan.
2. Analisis opportunity (peluang) dan Threat (ancaman)
Kotler (2007:398) memberikan pendapat tentang analisis peluang dan ancaman yaitu sebagai berikut :
Di sini seorang manajer akan berusaha mengidentifikasi peluang dan ancaman apa saja yang sedang dan akan dihadapi. Kedua hal ini merupakan faktor luar yang dapat mempengaruhi masa depan bisnis, sehingga memang perlu dicatat. Dengan demikian setiap yang berkepentingan akan terangsang untuk menyiapkan kemungkinan tindakan. Baik peluang maupun ancaman perlu diberi urutan sedemikian rupa sehingga perhatian khusus dapat diberikan kepada yang lebih penting dan mendesak.

Dari pendapat ini digaris bawahi bahwa analisis peluang dan ancaman yang merupakan faktor luar perusahaan harus mendapat perhatian khusus, karena sangat berpengaruh terhadap masa depan perusahaan dalam usaha mencapai tujuannya.

C. Analisis Portofolio Bisnis BCG
Analisis ini pertama kali dikembangkan oleh BCG (Boston Consulting Group). Teknik ini mengarahkan pada pengembangan suatu seri atau rangkaian matrik untuk menganalisa multiple product perusahaan. Matrik tersebut memberikan keputusan-keputusan diagnostik sehingga perusahaan dapat menyalurkan sumber-sumbernya pada produk-produk dan jasa-jasa yang lebih produktif.
Matrik pertama BCG adalah bisnis portofolio atau matrik growth-share, dan memberi istilah : stars, cahs cows, dogs dan question mark.
Dan arti istilah tersebut menurut Supriyono (2005:134) adalah:
1. Stars
Stars adalah produk yang tumbuh dengan cepat, memerlukan jumlah kas yang banyak untuk memelihara posisinya, produk tersebut sebagai pemimpin dalam bisnisnya dan menghasilkan jumlah kas yang banyak. Aliran kas akan seimbang dan menggambarkan kesempatan besar bagi perusahaan dalam pertumbuhannya dan investasi.
2. Cash cows
Cash cows adalah pertumbuhan produk atau deviasi yang lamban atau rendah, bagian pasar produk atau jasa tinggi, biayanya rendah dan menghasilkan kas. Karena pertumbuhan rendah, cost reinvestasi juga rendah. Cash cows membayar overhead, dan investasi atas istirahatnya perusahaan. Sifat-sifat tersebut adalah dasar perusahaan.
3. Dogs
Digs adalah produk dengan pertumbuhan yang rendah, bagian pasar yang rendah dan oleh karena itu miskin laba. Mereka memerlukan kas untuk bertahan hidup dogs akan diminimumkan dengan likuidasi atau meninggalkan bisnis.
4. Question mark
Question mark adalah produk atau devisi yang pertumbuhannya tinggi tetapi bagian pasarnya rendah. Kondisi mereka adalah paling buruk, mereka membutuhkan kas yang tinggi tetapi hanya menghasilkan kas yang rendah. Pada pertumbuhan tinggi, bagian pasar mudah ditingkatkan dibandingkan dengan dogs. Sehingga keadaan ini akan diubah menjadi stars dan kemudian cash crows. Strategi akan diarahkan pada kas aliran pendek juga aliran kas yang paling positif dalam jangka panjang. Kegagalan mengubah keadaan akan mengakibatkan sebagian perusahaan meninggalkan bisnis.

Dari pengertian di atas pada prinsipnya analisa portofolio BCG terbagai atas dua garis yaitu garis vertikal dan horisontal dan menjadi empat (kuadran) daerah yakni kuadran star, cash cow, dog, question marce. Garis horisontal menggambarkan posisi relatif dari pangsa psar yang dikuasai perusahaan dan garis horisontal menggambarkan tingkat pertumbuhan pangsa pasar.

D. Pengertian Marketing
Dalam suatu perusahaan, marketing menghasilkan pendapatan yang dikelola oleh orang-orang keuangan serta didayagunakan oleh orang-orang produksi guna menciptakan suatu produk dan jasa. Tantangan bagi marketing adalah menghasilkan pendapatan dengan memenuhi keinginan para konsumen pada tingkat laba tertentu.
Menurut Stanton (2006:7) :
“Marketing adalah sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang-barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan pembeli yang ada maupun pembeli potensial”.
Menurut Nitisemito (2008:2) : “Semua kegiatan yang bertujuan untuk memperlancar arus barang dan jasa dari produsen ke konsumen secara efisien dengan maksud untuk menciptakan permintaan efektif”.
Menurut Manullang (2006:3) :
Berbagai kegiatan yang langsung bertalian dengan upaya-upaya yang dilakukan badan usaha untuk merangsang permintaan. Kegiatan-kegiatan ini saling bertalian dan berinteraksi sebagai komponen-komponen dari keseluruhan sistem, dengan mana perusahaan berkembang dan membuat produk-produknya tersedia, mendistribusikannya melalui jalur-jalur marketing, mempromosikan, dan menetapkan harga.

Dari hal ini, kita meninjau marketing sebagai suatu sistem dari kegiatan-kegiatan yang saling berhubungan ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang-barang dan jasa kepada konsumen.
Dari pengertian-pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pemasaran tersebut pada intinya adalah keinginan perusahaan untuk memuaskan kebutuhan konsumen dengan berbagai cara pemasaran yang meliputi manfaat yang ditawarkan, harganya, promosi dan pendistribusiannya sehingga tujuan dari perusahaan dapat terealisir.
Pada dasarnya kegiatan pemasaran mencakup :
1. Menyediakan dan mengetahui apa yang diinginkan konsumen
2. Kemudian merencanakan dan mengembangkan sebuah produk yang akan memenuhi konsumen tersebut.
3. Dan kemudian memutuskan cara terbaik untuk menentukan harga, promosi dan mendistribusikan produk tersebut.

E. Konsep Marketing
Menurut Swastha (2007:8) ada 3 faktor dasar yang merupakan titik berat dari konsep pemasaran yaitu :
1. Seluruh perencanaan dan kegiatan perusahaan harus berorientasi pada konsumen/pasar.
2. Volume penjualan yang menguntungkan harus menjadi tujuan perusahaan.
3. Seluruh kegiatan pemasaran dalam perusahaan harus dikoordinasikan dan diintegrasikan secara organisasi

Definisi tersebut mempunyai konsekuensi bahwa semua kegiatan perusahaan tersebut yang meliputi produksi, teknik, keuangan dan pemasaran harus diarahkan pada usaha mengetahui kebutuhan pembeli, kemudian memuaskan kebutuhan tersebut dengan mendapatkan laba yang layak dalam jangka panjang.
Konsep marketing menurut Swastha (2007:44) : “Sebuah falsafah bisnis yang menyatakan bahwa konsumen merupakan syarat ekonomi dan sosial bagi kelangsungan hidup perusahaan”.

F. Fungsi Pokok Marketing
Menurut Swastha (2007:18), fungsi pokok marketing meliputi:
1. Pembelian
2. Penjualan
3. Pengangkatan/transportasi
4. Standarisasi
5. Pembelanjaan/financing
6. Penanggungan resiko
7. Informasi pasar

1. Pembelian
Yang dimaksud dengan pembelian ialah proses kegiatan yang mendorong untuk mencari penjual. Kegiatan ini merupakan timbal-balik daripada penjualan, oleh karena itu perlu dimengerti proses/kegiatan apa yang mengakibatkan/mendorong untuk melakukan pembelian.
2. Penjualan
Penjualan adalah refleksi daripada pembeli, merupakan lawan daripada pembelian. Pembelian tidak akan terjadi tanpa penjualan dan penjualan tidak ada tanpa pembelian. Di dalam pembelian dan penjualan itu terjadi saling mendekati, melakukan tawar-menawar, berunding, membentuk harga dan penyerahan hak pemilikan.
3. Pengangkatan/transportasi
Pengangkutan merupakan fungsi pemindahan barang dari tempat barang dihasilkan ke tempat barang konsumsi. Dalam kegiatan dan proses pemindahan ini dipersoalkan bagaimana caranya : apakah menggunakan mobil, KA, truck, kapal laut, kapal udara atau dibawa oleh orang.
4. Penyimpanan/pergudangan
Penyimpanan merupakan fungsi pemindahan barang-barang pada saat barang selesai diproduksi sampai pada saat barang dikonsumsi. Penyimpanan dapat dilakukan oleh produsen, perantara atau konsumen sendiri. Adapun alasan-alasan untuk mengadakan penyimpanan tersebut adalah :
a. Produsen bersifat musiman, sedangkan konsumen terus-menerus, misal : buah-buahan, beras, dan sebagainya.
b. Konsumen bersifat musiman, sedangkan produksi terus-menerus sepanjang tahun, misalnya : payung, jas hujan.
c. Spekulasi, yaitu dengan membeli dan menimbun barang-barang untuk dijual pada waktu harga sudah baik.
d. Penyimpanan memungkinkan pembelian dalam jumlah besar dan pembelian dalam jumlah besar memungkinkan untuk memperoleh potongan harga.
5. Standarisasi
Apabila barang-barang/jasa berpindah tempat atau berpindah milik biasanya diperlukan ketentuan-ketentuan tertentu. Standarisasi meliputi penentuan standar pokok, pemeriksaan produk untuk menentukan termasuk standar yang mana (ini disebut inspection) dan menjeniskan barang ke dalam kelompok-kelompok standar yang telah di tentukan (ini disebut sorting). Pelaksanaan daripada inspection dan sorting sekaligus disebut “grading”. Arti pentingnya standarsisasi adalah oleh adanya penjualan-penjualan yang dilakukan dengan inspection, sample (contoh) atau cukup memberikan gambaran atau uraian saja.
6. Pembelanjaan/financing
Di dalam kegiatan pembelian, transportasi, pergudangan dan sebagainya diperlukan uang/dana untuk pembiayaan, kegiatan daripada penyediaan dana yang di perlukan oleh produsen, perantara, maupun konsumen sendiri, untuk kepentingan proses marketing itu disebut fungsi financing.
7. Penanggungan resiko
Penanggungan resiko merupakan fungsi menghindari dan mengurangi resiko yang berkaitan dengan pemasaran barang. Tiap-tiap perusahaan menghadapi macam-macam resiko antara lain :
a. Resiko yang ditimbulkan oleh alam, seperti gempa bumi, banjir dan lain-lain.
b. Resiko yang ditimbulkan oleh manusia seperti kebakaran, pencurian, tidak dibayarnya utang oleh pembeli.
c. Resiko yang ditimbulkan oleh pasar seperti merosotnya harga penjualan. Sedangkan merosotnya harga jual dapat disebabkan oleh situasi pasar seperti perubahan kesukaan konsumen, persaingan.
Resiko terhadap tidak dibayarnya utang oleh pembeli dapat dijalankan dengan politik kredit penagihan yang efektif. Resiko penurunan harga dapat diatasi dengan memperkecil jumlah persediaan.
8. Informasi pasar
Dalam fungsi ini termasuk pula pengumpulan dan penafsiran keterangan-keterangan tentang macam-macam barang yang beredar di pasar, jumlahnya, macam barang yang dibutuhkan konsumen, harganya dan sebagainya. Disamping itu dikumpulkan pula data tentang jumlah konsumen dan tempat tinggal mereka, daya beli konsumen dan kesukaan mereka, keterangan-keterangan ini semuanya diperlukan oleh pengusaha untuk menentukan tindakan-tindakan guna mencapai keuntungan maksimal.

G. Strategi Marketing
Strategi marketing menurut Winardi (2007:46) : “Keseluruhan tindakan-tindakan yang ditempuh oleh sebuah perusahaan untuk mencapai sasaran-sasarannya yang merupakan hasil dari perpaduan marketing mix (produk, harga, distribusi, dan promosi)”. Salah satu strategi marketing untuk meningkatkan volume penjualan digunakan strategi marketing mix yaitu rencana yang menyeluruh dan terpadu menghubungkan keunggulan strategi dengan tantangan lingkungan dihadapkan pada variabel-variabel produk, harga, saluran distribusi dan promosi.
Menurut Agustinus (2003:47-53) adalah : “Keberhasilan dan pertumbuhan usaha tergantung pada kemampuan mengadakan penyesuaian-penyesuaian secara dinamis terhadap kondisi lingkungan ekstern maupun intern”.
Disini dapat dijelaskan bahwa :
1. Lingkungan ekstern
a. Ekonomi sosial
Keadaan ekonomi saat sekarang dan yang akan datang dapat mempengaruhi kehidupan dan kelangsungan usaha.
b. Pemerintah
Pemerintah disertai peraturan-peraturan dan kebijaksanaan dapat mempengaruhi kegiatan perusahaan, kebijaksanaan pemerintah dapat memberikan peluang dan atau ancaman usaha serta dapat kedua-duanya.
c. Pasar dan persaingan
Dalam menyusun strategi, manajemen perlu menganalisa terhadap perubahan-perubahan pasar dan persaingan yang akan mempengaruhi strategi perusahaan pada waktu yang akan datang. Setiap strategi yang disusun harus memperhatikan adanya kesempatan yang disesuaikan dengan permintaan dan luasnya pasar. Permintaan pasar yaitu menyangkut kebutuhan jumlah konsumen dan karakteristik produk, sedangkan luasnya pasar menentukan jumlah kebutuhan pasar.
d. Pemasok dan teknologi
Dalam menyusun strateginya harus mempertimbangkan pemasok terhadap faktor-faktor produksi seperti bahan baku dan tenaga kerja langsung. Barang-barang yang timbul akibat adanya penyediaan faktor produksi harus dipertimbangkan seperti penambahan tehnologi dapat memberi dampak terhadap efisiensi produk dan pengembangan produk baru. Dengan menganalisa jenis-jenis lingkungan ekstern tersebut, manajemen dapat mengetahui adanya kesempatan dan ancaman bisnis. Dengan demikian manajemen dapat memproduksi hal-hal yang mungkin terjadi dengan mempertimbangkan resiko ekstern secara optimal.
2. Lingkungan intern, meliputi :
a. Pemasaran dan distribusi
Perusahaan-perusahaan yang mempunyai kekuatan dibidang pemasaran dapat memberikan keunggulan strategi sehingga dapat meningkatkan penjualan dengan meluncurkan produk-produk baru dan memperluas bagian pasar. Agar kebutuhan konsumen dapat menjangkau pasar yang luas maka perlu ditunjang sistem distribusi yang efektif. Dalam hal ini, strategi memiliki peran utama mengatasi adanya persaingan pasar. Dua strategi pendekatan dalam mengatasi persaingan yaitu segmentasi pasar dan bauran pasar sehingga menentukan berbagai alternatif strategi seperti menjual produk berkualitas tinggi dengan harga tinggi/kualitas dengan harga rendah.
b. Produksi dan operasi
Pentingnya manajemen memperhatikan peranan produksi dan operasi dalam hubungannya dengan kekuatan dan kelemahan perusahaan adalah faktor kualitas, produktivitas dan efisiensi perusahaan. Dengan peningkatan kualitas produk dan efisiensi perusahaan, maka perusahaan mampu bersaing di pasar. Dengan demikian, perlu dilakukan evaluasi terhadap fasilitas pabrik dan pembaharuan mesin-mesin agar dicapai efisiensi produksi.
c. Riset dan pengembangan
Dengan kuatnya kegiatan riset dan pengembangan akan dicapai keunggulan strategi, sebab perusahaan akan mengalami kemajuan-kemajuan hasil penemuan baru dari produk yang dipasarkan. Kelemahan pada riset dan pengembangan akan menyulitkan perusahaan, karena perusahaan tidak dapat menjual produknya sesuai dengan selera dan kebutuhan konsumen.
d. Sumber daya manusia
Sumber daya manusia saat ini sudah dianggap aset perusahaan, bukan faktor produksi lagi. Dengan memiliki sumber daya manusia yang baik berarti memberikan keunggulan strategis, sebab materi karyawan dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan perusahaan.
e. Keuangan dan akuntansi
Faktor keuangan menentukan kekuatan dan kelemahan perusahaan. Apabila perusahaan memiliki kemampuan keuangan dan akuntansi, maka perusahaan dapat merubah strateginya. Selanjutnya, dengan mendiagnosis kekuatan dan kelemahan perusahaan, kemudian dihadapi pada kesempatan dan ancaman terhadap perusahaan, manajemen akhirnya dapat mengevaluasi profil keunggulan strategi yang cepat.
Dengan lingkungan ekstern dan intern, maka perusahaan harus mengadakan penyesuaian untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang ada pada perusahaan tersebut pada dasarnya lingkungan ekstern dan intern sangat berpengaruh dalam pencapaian strategi marketing.

H. Formulasi Strategi Pemasaran
Tujuan menunjukkan apa yang ingin dicapai unit bisnis. Strategi menunjukkan bagaimana cara mencapainya. Setiap bisnis harus menetapkan strategi untuk mencapai tujuannya.
Menurut Agustinus (2003:82-85), walaupun banyak jenis strategi, M. Porter telah merangkum menjadi jenis dasar yang memberikan titik awal bagi pemikiran strategis:
1. Diferensiasi (differentiation)
Pada prinsipnya strategi deferensial adalah mengambil pelanggan sebagai titik perhatian utama. Strategi ini menitikberatkan pada membangun persepsi pembeli akan keunggulan kualitas, disain produk, teknologi ringan distribusi, image besar bahan atau pelayanan.
2. Kepemimpinan biaya menyeluruh
Strategi ini lebih memperhatikan para pesaing daripada pelanggan. Perusahaan yang menerapkan strategi ini memfokuskan pada harga jual yang murah kepada pembeli.
3. Fokus
Strategi ini dipakai oleh bisnis yang ingin menghindarkan dari konfrontasi langsung dengan para pesaingnya dengan cara mengkonsentrasikan diri pada pangsa pasar yang lebih kecil.

I. Posisi Perusahaan Dalam Persaingan
Posisi perusahaan dalam persaingan menurut Tjiptono (2005:293) terdiri dari :
1. Market leader (pemimpin pasar) adalah perusahaan yang diakui oleh industri yang bersangkutan sebagai pemimpin. Karakteristik dari market leader adalah:
a. Memiliki pangsa pasar yang terbesar (40%) dalam pasar produk relevan.
b. Lebih unggul dari perusahaan lain dalam hal pengenalan produk baru, perubahan harga, cakupan saluran distribusi dan intensitas promosi.
c. Merupakan pusat orientasi para pesaing (diserang, ditiru atau dijauhi).
2. Market challenger (penantang pasar) adalah perusahaan yang secara konstan mencoba memperbesar pangsa pasar mereka yang dalam usaha tersebut mereka berhadapan secara terbuka dan langsung dengan market leader. Karakteristik market challenger adalah:
a. Biasanya merupakan perusahaan besar dipandang dari sudut volume penjualan dan laba (± 30%).
b. Selalu berupaya menemukan kelemahan pihak market leader atau perusahaan lainnya, dan kemudian menyerangnya baik secara langsung ataupun tidak langsung.
c. Market challenger biasanya juga memusatkan upaya mereka pada tindakan mengambil alih perusahaan-perusahaan yang lemah.
3. Market follower (pengikut pasar) adalah perusahaan yang mengambil sikap tidak mengusik market leader dan hanya puas dengan cara menyesuaikan diri terhadap kondisi-kondisi pasar.
Karakteristik market follower terdiri atas:
a. Selalu mencoba menonjolkan ciri khasnya kepada pasar sasaran, seperti lokasi, pelayanan, keunggulan produk, dan sebagainya.
b. Memilih untuk meniru produk atau strategi market leader dan market challenger daripada menyerang mereka.
c. Biasanya memperoleh laba yang tinggi karena tidak menanggung beban pengeluaran yang tinggi untuk inovasi.
4. Market nicher (penggarap celah pasar) adalah perusahaan yang mengkhususkan diri melayani sebagian pasar yang diabaikan perusahaan besar, dan menghindari bentrok dengan perusahaan besar.
Karakteristik market nicher antara lain :
a. Biasanya berspesialisasi secara geografis.
b. Merupakan perusahaan yang daya beli dan ukurannya cukup besar agar bisa menguntungkan.
c. Memiliki potensi untuk berkembang.
d. Memiliki ketrampilan dan sumber daya yang memadai untuk memenuhi kebutuhan celah tersebut secara efektif.
e. Mampu mempertahankan diri dari pesaing besar dengan customer goodwill yang dibinanya.

J. Marketing Mix
Menurut Swastha (2007:78) : “Marketing mix adalah kombinasi dari empat variabel/kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan yakni produk, harga, kegiatan promosi dan sistem distribusi”.
Keempat unsur yang terdapat dalam kombinasi tersebut saling berhubungan. Kegiatan-kegiatan ini perlu dikombinasikan dan dikoordinir agar perusahaan dapat melakukan tugas pemasarannya seefektif mungkin.

K. Strategi Produk
Menurut Winardi (2007:50) strategi produk dinyatakan sebagai sebuah strategi pemasaran yang tidak dideferensiasi, dalam arti bahwa ia berupaya untuk mengembangkan sebuah ramuan pemasaran yang menarik bagi banyak segmen berbeda dari pasar yang ada.
Setiap perusahaan yang umumnya menghasilkan suatu produk tentu mengharapkan hasil yang telah ada tersebut disukai/dinikmati oleh para konsumen. Sehingga dengan keadaan yang demikian diharapkan perusahaan akan mendapatkan titik terang untuk mencapai tujuan yang direncanakannya semula. Untuk mewujudkan kepuasan konsumen tersebut banyak kegiatan yang bisa dilakukan diantaranya dari segi produk itu sendiri.
1. Pengertian produk
Menurut Kotler (2007:9) memberikan definisi mengenai produk sebagai berikut :
“Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kepada pesanan untuk diperhatikan, dibeli, digunakan/dikonsumsikan. Istilah produk mencakup benda-benda fisik, jasa-jasa, kepribadian, tempat organisasi dan ide-ide”.
Menurut pendapat Swastha (2007:9) :
“Produk adalah suatu sifat yang kompleks baik dapat diraba maupun tidak dapat diraba, termasuk bungkus, warna, prestise perusahaan dan pengecer, pelayanan perusahaan dan pengecer yang diterima oleh pembeli untuk memuaskan keinginan/kebutuhannya”.
Dari pendapat para ahli di atas maka dapatlah ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut :
a. Produk adalah hasil daripada aktivitas proses produksi.
b. Produk merupakan tujuan daripada proses produksi yang dipakai untuk memenuhi kebutuhan manusia sehari-hari.
Adapun produk pada umumnya dapat di golongkan menjadi beberapa golongan menurut tujuan pemasarannya, penggolongan tersebut yaitu :
a. Barang konsumsi
b. Barang industri
Keterangannya adalah sebagai berikut :
a. Barang konsumsi
Adalah barang-barang yang dibeli dikonsumsi secara langsung tanpa harus memilih proses lebih lanjut.
Barang konsumsi dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) golongan, yaitu:
1) Barang konvinien (convinien godds)
Adalah barang yang sering dipakai, membelinya dapat di sembarang tempat dan pada setiap waktu. Misalnya : rokok, sabun, dan sebagainya.
2) Barang spesial (specialty goods)
Adalah barang yang mempunyai ciri khas dan hanya dapat dibeli pada tempat tertentu saja. Dalam hal ini, pembeli yang ingin mendapatkannya harus melalui pengorbanan yang istimewa. Contohnya: barang antik di toko seni tertentu.
3) Barang shopping (shopping goods)
Adalah barang yang harus dibeli dengan mencari dahulu dan didalam membelinya harus mempertimbangkan masak-masak misalnya dengan membandingkan harga, kualitas, bentuk dan lain-lain sebelum ia memutuskan untuk membelinya, misalnya : tekstil, perhiasan, perabotan rumah tangga.
b. Barang industri
Adalah barang-barang yang dibeli untuk diproses lagi untuk kepentingan industri, jadi pembeli barang ini adalah perusahaan, lembaga atau organisasi.
Barang-barang dapat digolongkan menjadi beberapa golongan :
1) Bahan baku
Adalah merupakan bahan pokok untuk membuat barang lainnya. Misalnya, kapas untuk membuat benang, jerami untuk membuat kertas.
2) Komponen dan barang setengah jadi
Adalah barang-barang yang pernah mengalami suatu produk, tetapi masih memerlukan proses lebih lanjut untuk dijadikan barang jadi yang kemudian dikonsumsi dengan konsumen akhir. Misalnya benang untuk membuat tekstil.
3) Perlengkapan operasi
Adalah barang-barang yang fungsinya sebagai perlengkapan untuk memperlancar proses produksi maupun kegiatan-kegiatan lain dalam suatu perusahaan. Misalnya : kertas dan pensil untuk membuat catatan.
4) Instalasi
Adalah barang-barang yang merupakan peralatan utama dalam sebuah perusahaan dan dapat dipakai untuk jangka waktu lama. Misalnya : gerobak alat angkut lainnya, mesin cetak pada perusahaan percetakan dan lain-lain.
5) Peralatan ekstra
Adalah alat-alat yang dipakai untuk membantu instalasi, seperti alat angkut dalam pabrik.
2. Pengertian product development
Dengan semakin berkembangnya sistem perdagangan/teknik berproduksi dengan cara yang lebih baik serta modern, mengakibatkan aktivitas perdagangan berubah pula. Kalau dilihat keadaan sekarang menunjukkan adanya perkembangan yang cukup pesat dimana produk yang diperdagangkan selalu berubah-ubah baik bentuk, kualitas, packaging maupun aktivitas-aktivitas yang dipakai dalam usaha untuk memasarkan produk tersebut. Kebijaksanaan produk ini harus mengikuti perkembangan yang ada dalam masyarakat, megikuti selera konsumen yang selalu mengalami perubahan-perubahan sehingga perusahaan dapat menentukan/membuat produk yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen.
Pengertian produk menurut Stanton (2006:199) adalah : “Pengembangan produk merupakan kegiatan atau aktivitas yang dilakukan dalam menghadapi kemungkinan perubahan suatu produk ke arah yang lebih baik, sehingga dapat memberi daya guna maupun daya pemuas yang lebih besar”.
Menurut Kotler (2007:376-379) berpendapat bahwa : “Pengembangan produk bisa tercapai karena upaya perusahaan untuk meningkatkan penjualan dengan mengembangkan produk baru menyempurnakan produknya bagi pasaran yang sekarang”.
Pengembangan produk ini menyangkut penawaran produk baru/produk yang diperbaiki/disempurnakan untuk pasar yang telah tersedia. Dengan mengadakan pengembangan produk, perusahaan telah dapat memahami kebutuhan dan keinginan pasar serta telah melihat kemungkinan penambahan/perubahan ciri-ciri khusus atau tertentu dari produk, menciptakan beberapa tingkat kualitas/mutu atau menambah tipe maupun ukuran untuk lebih dapat memuaskan pasar yang telah tersedia.
Dalam pengembangan produk, penyempurnaan dan perbaikan yang dapat dilakukan mutu, corak, penampilan dan sebagainya. Pada umumnya kegiatan pengembangan produk mempunyai hubungan erat dengan kegiatan inovasi sehingga unsur-unsur teknologi memegang peranan yang cukup menentukan dalam kegiatan pengembangan produk.
Kegiatan pengembangan produk ini merupakan unsur usaha yang direncanakan dan dilakukan secara sadar untuk memperbaiki produk yang ada/menambah banyaknya ragam produk yang dihasilkan dan dipasarkan. Pengembangan produk biasanya dilakukan secara terus menerus/kontinyu, dimulai dari produk apa yang dihasilkan perusahaan dan yang perlu diadakan sampai kepada keputusan untuk menghilangkan suatu produk tertentu.
3. Product life cycle (siklus kehidupan produk)
Siklus kehidupan produk atau PLC didasarkan pada asumsi bahwa tiap produk yang dipasarkan mengalami empat tahap perkembangan. Tahap-tahap itu dimulai pada saat pembuatan produk itu dan diperkenalkan ke pasar hingga saat produk itu menjadi tidak diperlukan lagi, menurun kegunaannya, atau tidak diminati lagi oleh konsumen.
Tahap siklus kehidupan menurut Agustinus (2003:106-107) dapat dikelompokkan menjadi 4 tahap yaitu :
a. Tahap I : Tahap Pengenalan atau Introduction
Dalam tahap ini produk pertama kalinya diperkenalkan ke pasar. Jumlah penjualan sedikit dan perkembangan pasar lambat. Diperlukan investasi besar, baik untuk pengembangan produk, promosi maupun biaya-biaya pemasaran lain. Karena itu tahap ini produk belum dapat diharapkan menghasilkan laba.
b. Tahap II : Tahap pertumbuhan atau growth
Produk sudah dikenal di pasar dan mulai dikenal konsumen. Permintaan melonjak tajam dan laba terus meningkat. Persaingan mulai melemparkan produk yang sama ke pasar.
c. Tahap III : Tahap kematangan atau pendewasaan atau maturity
Permintaan pada produk tetap tinggi, tetapi perkembangan pasar sangat lambat. Persaingan makin ketat dan pasar menjadi jenuh. Setelah menjadi titik puncak jumlah penjualan mulai menurun.
d. Tahap IV : Kemerosotan atau penurunan atau decline
Permintaan terhadap produk makin menurun, penjualan dan laba merosot drastis.
Daur hidup produk (PLC) merupakan konsep yang penting dalam pemasaran karena memberikan pemahaman yang mendalam mengenai dinamika bersaing suatu produk.
Pada tahap perkenalan biasanya hanya beberapa orang saja yang membeli. Bila ternyata produk tersebut memuaskan kebutuhan, sejumlah pembeli lainnya akan membeli juga.
Pada tahap berikutnya lebih banyak pembeli lagi yang masuk ke pasar tetapi juga diikuti dengan masuknya para pesaing. Kemudian laju pertumbuhan mulai menurun pada saat jumlah pembeli baru yang potensial menyusut. Penjualan menjadi mantap disebabkan oleh stabilnya tingkat pembelian ulang. Namun akhirnya akan tiba waktunya penjualan menjadi menurun karena munculnya kelompok produk baru, bentuk produk baru atau merk baru yang mulai menyita perhatian konsumen dari produk yang sedang beredar.

L. Strategi Harga
Menurut Tjiptono (2005:126) ada beberapa strategi mengenai harga yaitu:
1. Penetration pricing, yaitu strategi perusahaan dalam memperkecil suatu produk baru dengan harga rendah dengan harapan akan memperoleh volume penjualan yang besar dalam waktu relatif singkat.
2. Skimming pricing, yaitu strategi penetapan harga untuk produk baru/inovatif selama tahap perkenalan kemudian menurunkan harga tersebut pada saat persaingan mulai ketat.
Strategi ini baru bisa berjalan dengan baik, jika konsumen tidak sensitif terhadap harga, tetapi lebih menekankan pertimbangan-pertimbangan kualitas, inovasi dan kemampuan produk tersebut dalam memuaskan kebutuhannya. Bila sekmen pasar yang tidak sensitif terhadap harga ini telah terpuaskan (dilayani dengan baik) maka perusahaan akan menurunkan harganya untuk menarik segmen pasar lainnya, yakni segmen yang lebih sensitif terhadap harga. Kadang kala penurunan harga ini diikuti pula dengan sedikit modifikasi produk.
3. Prestise pricing, adalah strategi menetap, harga tinggi sehingga konsumen yang sangat peduli dengan status akan tertarik dan membelinya. Produk-produk yang sering dikaitkan dengan prestise pricing antara lain permata, berlian, porselin, limousin, dan lain-lain. Produk-produk ini malah sulit laku jika dijual dengan harga murah.
4. Pricing lining, harga untuk lini produk tersebut bisa bervariasi dan ditetapkan pada tingkat harga tertentu yang berbeda. Kriteria yang mendasari perbedaan tersebut adalah warna tertentu yang berbeda.
5. Odd-Even Pricing, adalah strategi penetapan harga yang besarnya mendekati jumlah genap tertentu.

Agar dapat sukses dalam memasarkan suatu barang atau jasa, maka setiap perusahaan harus menetapkan harganya secara tepat.
Harga merupakan satu-satunya unsur bauran pemasaran yang memberikan pemasukan atau pendapatan bagi perusahaan, sedangkan ketiga unsur lainnya (produk, distribusi dan promosi) menyebabkan timbulnya biaya (pengeluaran).

M. Strategi Distribusi
Menurut Kotler (2007:188), untuk menentukan jumlah perantara ada 3 strategi, yaitu :
1. Distribusi intensif, yaitu perusahaan menggunakan jumlah penyalur (terutama pengecer) sebanyak mungkin untuk mencapai konsumen.
Barang-barang yang disalurkan melalui distribusi insentif ini adalah :
a. Barang konsumsi jenis convinience.
b. Barang industri jenis perlengkapan operasi barang-barang standar yang lain seperti obeng, minyak pelumas.
Keuntungan dari strategi ini adalah produk perusahaan tersedia luas di pasar.
2. Distribusi selektif, yaitu produsen menggunakan sejumlah pedagang besar dan atau pengecer yang terbatas dalam daerah geografis tertentu.
Saluran ini dipakai untuk memasarkan barang baru, barang shopping dan barang spesial.
Keuntungan dari strategi ini adalah mampu mendapatkan cakupan pasar yang cukup luas tingkat pengendalian yang besar tanpa biaya tinggi. Disamping itu strategi ini juga memberikan laba yang cukup bear bagi produsen dan perantara itu sendiri. Adapun kerugian dari strategi ini adalah apabila gagal memperoleh cakupan pasar bagi produk, maka resikonya tinggi.
3. Distribusi eksklusif, yaitu produsen hanya menggunakan satu pedagang besar atau satu pengecer di daerah pasar tertentu.
Pada umumnya saluran ini dipakai untuk memasarkan barang-barang spesial.
Keuntungan distribusi eksklusif meliputi:
a. Loyalitas perantara yang tinggi sehingga perusahaan dapat memperoleh dukungan penjualan yang bear dan data-data yang diperlukan untuk forecasting dan riset pasar.
b. Meningkat citra produk sedangkan kerugian distribusi eksklusif adalah volume penjualan rendah.

Pemilihan saluran distribusi yang tepat memudahkan perusahaan dalam menentukan jumlah perantara yang digunakan untuk mendistribusikan barang dari produsen ke konsumen.

N. Strategi Promosi
Menurut Swastha (2007:343), strategi promosi ada 4 bentuk, yaitu:
1. Periklanan, yaitu bentuk presentasi dan promosi non pribadi tentang ide, barang dan jasa yang dibayar oleh sponsor tertentu.
2. Personal selling, yaitu presentasi lisan dalam suatu percakapan dengan satu calon pembeli atau lebih yang ditujukan untuk menciptakan penjualan.
3. Publisitas, yaitu mendorong permintaan secara non pribadi untuk suatu produk, jasa atau ide dengan menggunakan berita komersial di dalam media masa dan sponsor tidak dibebani sejumlah bayaran secara langsung.
4. Promosi penjualan, yaitu kegiatan promosi yang mendorong pembelian konsumen dan efektivitas pengecer, misalnya: peragaan, pertunjukan, eksp dan demonstrasi.

Didalam strategi promosi sendiri terdapat beberapa bagian yaitu:
1. Periklanan
Periklanan memiliki empat fungsi utama, yaitu:
a. Menginformasikan khalayak tentang seluk beluk prduk.
b. Mempengaruhi khalayak untuk membeli
c. Menyegarkan informasi yang telah diterima khalayak
d. Menciptakan suasana yang menyengkan sewaktu khalayak menerima dan mencerna informasi.
2. Personal Selling
Aktivitas personal selling memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai berikut:
a. Mencari pembeli dan menjalin hubungan dengan mereka.
b. Memberikan informasi mengenai produk perusahaan kepada calon pembeli.
c. Mendekati, memprestasikan dan mendemonstrasikan, mengatasi penolakan serta menjual produk kepada calon pembeli.
d. Memberikan berbagai jasa dan pelayanan kepada calon pembeli.
e. Menentukan calon pembeli yang akan dituju.
3. Publisitas
Publisitas dapat memberikan informasi lebih banyak dan lebih terperinci daripada iklan dan publisitas tidak mungkin dapat diulang-ulang seperti iklan.
4. Promosi Penjualan
Tujuan promosi penjualan antara lain:
a. Menginformasikan, dapat berupa :
1) Menginformasikan pasar mengenai produk baru
2) Memperkenalkan cara pemakaian yang baru dari suatu produk.
3) Menjelaskan cara kerja produk.
b. Membujuk para pelanggan atau calon pembeli untuk :
1) Mengalihkan pilihan ke merk lain
2) Mendorong pembeli untuk membeli saat itu juga
c. Mengingatkan
1) Mengingatkan pembeli bahwa produk yang bersangkutan dibutuhkan dalam waktu dekat.
2) Mengingatkan pembeli akan tempat-tempat yang menjual produk perusahaan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan strategi promosi menurut Basu Swastha (2007:355-357) adalah :
“1. Jumlah dana
2. Sifat pasar
3. Jenis produk
4. Tahap-tahap dalam siklus kehidupan”
Adapun penjelasan dari keempat faktor di atas adalah sebagai berikut :
1. Jumlah dana
Perusahaan yang memiliki dana lebih besar, kegiatan promosinya akan lebih efektif di bandingkan perusahaan yang mempunyai sumber dana lebih terbatas.
2. Sifat pasar
Beberapa sifat pasar yang mempengaruhi yaitu :
a. Luas pasar secara geografis
Bagi perusahaan yang memiliki pasar lokal mungkin sudah cukup menggunakan personal selling saja, sedangkan perusahaan yang memiliki pasar nasional paling tidak harus menggunakan periklanan.
b. Konsentrasi pasar
Konsentrasi pasar ini dapat mempengaruhi strategi promosi yang dilakukan oleh perusahaan terhadap: jumlah calon pembeli, jumlah pembeli potensial yang macamnya berbeda-beda dan konsetras secara nasional.
c. Macam pembeli
Strategi promosi yang dilakukan oleh perusahaan juga dipengaruhi oleh obyek atau sasaran dalam kampanye penjualannya, apakah pembeli industri, konsumen rumah tangga atau pembeli lainnya. Seringkali pedagang ikut menentukan dalam pelaksanaan program promosi penjualan.
3. Jenis produk
Apakah jenis produknya barang industri atau barang konsumsi. Secara keseluruhan dapat dikatakan bahwa personal selling sangat penting di dalam pemasaran

BAB III METODE PENELITIAN…… dst

(MOHON MAAF!! TAMPILAN TABEL, GAMBAR, DAN RUMUS MENGGUNAKAN EQUATION KESULITAN UNTUK BISA DI UPLOAD)
KLIK DISINI UNTUK SYARAT MENDAPATKAN 100% GRATIS

PROPOSAL LENGKAP DALAM FORM PDF/WORD

JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 03 adalah salah satu contoh JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 03 kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 03 untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 03 full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 03 dalam bentuk PDF secara gratis.

makalah pemeriksaan akuntansi, artikel jurnal skripsi tentang pemasaran, jurnal definisi strategi, judul makalah strategi untuk memproduksi suatu produk, judul jurnal skripsi marketing

JUDUL PEMASARAN 11

30th November 2011 Cat: Manajemen with Comments Off

JUDUL PEMASARAN 11 adalah salah satu contoh JUDUL PEMASARAN 11 kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online JUDUL PEMASARAN 11 untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload JUDUL PEMASARAN 11 full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan JUDUL PEMASARAN 11 dalam bentuk PDF secara gratis.


PENGARUH KUALITAS PELAYANAN
TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN
PADA HOTEL KALPATARU MALANG

BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah Penelitian

          Kegiatan pemasaran saat ini menjadi sangat penting bagi usaha perhotelan, karena perhotelan merupakan salah satu usaha jasa pelayanan yang cukup rumit pengelolaannya dan menyediakan berbagai fasilitas yang dapat digunakan oleh tamu-tamunya selama 24 jam. Disamping itu, usaha perhotelan juga dapat menunjang kegiatan para usahawan yang sedang melakukan perjalanan usaha atau para wisatawan yang melakukan perjalanan untuk mengunjungi daerah-daerah tujuan wisata, membutuhkan tempat untuk menginap, makan dan minum serta hiburan. Oleh karena itu, hotel merupakan salah satu bentuk usaha bidang jasa yang mengedepankan kualitas pelayanan bagi para pelanggannya.
             Semakin tinggi tingkat persaingan, tingkat kompleksitas pasar dan tamu yang semakin kritis akan pasar mengakibatkan kegiatan pemasaran pada dunia bisnis perhotelan perlu dikelola secara profesional. Karena keberhasilan perusahaan di bidang jasa khususnya hotel, bergantung pada kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan dan selanjutnya untuk memuaskan konsumen. Pada awalnya setiap tamu memiliki kebutuhan, keinginan, dan tujuan yang berbeda. Kenyataan ini mendorong timbulnya konsep pangsa pasar. Artinya kita berusaha mendapatkan sekelompok orang di pasar sasaran untuk memasarkan produk dan/atau jasa pelayanan hotel sesuai dengan harapan tamu sehingga konsumen akan merasa puas, dan akan terus menerus mengkonsumsi jasa pelayanan dari hotel tersebut.
                     Kepuasan pelanggan adalah tingkat kesesuaian antara produk dan/atau jasa pelayanan yang diinginkan dengan kenyataan yang diterima. Tingkat kesesuaian tersebut adalah hasil penilaian yang dilakukan oleh tamu berdasarkan pada pengetahuan dan pengalamannya. Kepuasan pelanggan ditentukan oleh kualitas jasa yang dikehendaki sehingga jaminan kualitas menjadi prioritas utama dan dijadikan tolok ukur keunggulan daya saing perusahaan. Untuk memperoleh gambaran tentang kepuasan konsumen, maka perlu diketahui arti kualitas pelayanan.
                    Kualitas pelayanan adalah sesuatu yang komplek terdiri dari lima unsur, yaitu: Reliabilitas, Responsiveness, Assurance, Empathy, dan Tangible. Buruknya kualitas jasa yang diberikan penyedia jasa kepada pelanggan telah disadari mengakibatkan banyaknya kerugian yang dialami oleh perusahaan. Mereka yang kecewa tidak hanya meninggalkan perusahaan, tetapi juga akan menceritakan keburukan jasa yang diterima kepada orang lain. Selain itu perusahaan akan lebih banyak mengeluarkan biaya untuk mendapatkan satu orang pelanggan baru. Kurangnya kualitas jasa dibidang ekonomi merupakan harga tertinggi yang tumbuh sangat cepat, dari pada harga produk nyata.
                  Bila dalam usaha perhotelan mampu menciptakan kepuasan pelanggan, maka kepuasan pelanggan dapat memberikan manfaat diantaranya hubungan antara perusahaan dan pelanggannya menjadi harmonis, memberikan dasar yang baik bagi pembelian ulang dan terciptanya loyalitas pelanggan, serta membentuk suatu rekomendasi dari mulut ke mulut (word of mouth) yang menguntungkan bagi perusahaan.
                  Hal ini disebabkan konsumen yang datang ke Hotel Kalpataru mempunyai motivasi atau pendorong yang berbeda dalam memanfaatkan produk jasa yang ditawarkan apakah menyewa kamar, memanfaatkan fasilitas yang ada seperti fasilitas rapat, hiburan dan lainnya, keistimewaan-keistimewaan yang ditawarkan oleh pihak Hotel nantinya akan menjadi suatu indikator bagi kepuasan konsumen sehingga pihak perusahaan perlu meningkatkan kualitas jasanya.
               Berdasarkan latar belakang tersebut, maka judul penelitian adalah “Analisis Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Kepuasan Konsumen Pada Hotel Kalpataru Malang”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apakah Variabel kualitas pelayanan yang terdiri dari: (Reliabilitas, Responsiveness, Assurance, Empathy, dan Tangible) berpengaruh terhadap kepuasan konsumen pada Hotel Kalpataru Malang ?
2. Di antara variabel tersebut yang meliputi (Reliabilitas, Responsiveness, Assurance, Empathy, dan Tangible) manakah yang berpengaruh dominan terhadap kepuasan konsumen pada Hotel Kalpataru Malang ?
C. Tujuan Penelitian
Agar peneliti mempunyai arah yang jelas, maka ditetapkan tujuan penelitian sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan yang terdiri dari: (Reliabilitas, Responsiveness, Assurance, Empathy, dan Tangible) terhadap kepuasan konsumen pada Hotel Kalpataru Malang?
2. Untuk mengetahui variabel kualitas pelayanan manakah yang berpengaruh dominan terhadap kepuasan konsumen pada Hotel Kalpataru Malang?
D. Kegunaan Penelitian
1. Bagi Penulis
                  Untuk mengetahui penerapan teori yang diperoleh dibangku kuliah dengan realita yang terjadi di lapangan, mengenai masalah-masalah yang ada dalam pemasaran khususnya tentang variabel pelayanan yang berpengaruh terhadap kepuasan pelanggan.
2. Bagi Perusahaan
                     Sebagai bahan pertimbangan bagi perusahaan dalam membuat kebijaksanaan untuk memecahkan masalah kualitas pelayanan yang sedang dihadapi perusahaan.
3. Bagi Peneliti Lain
                    Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi atau acuan bagi peneliti berikutnya dan menindaklanjuti dengan penelitian yang baru.
DOWNLOAD 123 doc/pdf file disini

JUDUL PEMASARAN 11 adalah salah satu contoh JUDUL PEMASARAN 11 kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online JUDUL PEMASARAN 11 untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload JUDUL PEMASARAN 11 full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan JUDUL PEMASARAN 11 dalam bentuk PDF secara gratis.

jurnal penelitian perhotelan, makalah tentang pemasaran hotel, artikel jurnal pemasaran tentang kepuasan konsumen, contoh jurnal perhotelan, contoh makalah pemasaran hotel

JUDUL PEMASARAN 12

30th November 2011 Cat: Manajemen with Comments Off

JUDUL PEMASARAN 12 adalah salah satu contoh JUDUL PEMASARAN 12 kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online JUDUL PEMASARAN 12 untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload JUDUL PEMASARAN 12 full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan JUDUL PEMASARAN 12 dalam bentuk PDF secara gratis.

PELAKSANAAN SALES PROMOTION YANG EFEKTIF GUNA MENINGKATKAN VOLUME EKSPORT ROTAN PADA PT. “FENDI MUNGIL” GRESIK

A. Latar Belakang Masalah

Dalam masa sekarang ini telah banyak perusahaan yang menghasilkan produk yang beraneka ragam guna memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen yang berbeda-beda, serta adanya suatu kenyataan bahwa semakin banyaknya macam barang baik jumlah maupun jenisnya yang ditawarkan pada masyarakat atau konsumen dan semakin sulitnya dalam memberikan penilai atas barang yang ditawarkan tersebut.

Kondisi diatas disebabkan oleh situasi pasar yaitu adanya persaingan antara perusahaan sejenis yang semakin ketat serta adanya keinginan untuk menguasai pasar. Pengetahuan mengenai pemasaran khususnya promosi penjualan sangat penting bagi produsen sebagai salah satu sarana dan kegiatan yang berhubungan dengan pemindahan barang dari produsen ke konsumen. Memuaskan kebutuhan pembeli/konsumen merupakan suatu prasyarat untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu meningkatkan keuntungan dan kelangsungan hidup sektor usaha suatu perusahaan.

Dengan semakin ketatnya persaingan dalam dunia usaha, maka perusahaan harus menciptakan keunggulan marketing dengan menjajaki apa yang harus di deferensikan agar dapat memenangkan persaingan dan memperbesar kesempatan usaha yaitu apakah diferensiasi dalam bentuk servis, varitas produk, harga, kualitas teknologi dan sebagainya serta pangsa pasar yang akan diliputi.

Menyadari keadaan diatas, maka menerobos pasar di luar negeri menjadi penting guna memanfaatkan peluang pasar untuk menjual barang. Keadaan pasar diluar negeri sangat ditentukan oleh laju pertumbuhan ekonomi negara-negara maju. Dalam memasuki pasar luar negeri ini tidaklah mudah, disamping menemukan peluang untuk memasarkan produk ke negara lain juga ketatnya persaingan dalam memasuki pasar tersebut. Sebagai obyek penelitian PT. Fendi Mungil merupakan suatu perusahaan yang hasil produksinya sebagian besar untuk ekspor. Perusahaan melihat adanya peluang yang dapat dimanfaatkan untuk memasuki pasaran luar negeri guna meningkatkan volume penjualan perusahaan sekaligus meningkatkan ekspor non migas.

Selama ini upaya yang dilakukan perusahaan untuk memasuki pasar luar negeri dengan mengadakan promosi penjualan dalam bentuk pameran, sponsor, hadiah/souvenir. Dimana dalam kurun waktu terakhir ini perusahaan menghadapi permasalahan pemasaran yaitu menurunnya volume penjualan.

B. Permasalahan

Untuk mencapai tujuan tertentu sering sekali timbul suatu kendala yang menghambat tercapainya tujuan tersebut. Setiap perusahaan tidak terlepas dari suatu masalah sehingga dalam mencapai tujuan yang ditetapkan masih ditemukan suatu hambatan atau rintangan. Hambatan dan rintangan menggerakkan pihak manajemen untuk memecahkan masalah agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Sedangkan masalah yang dihadapi PT. Fendi Mungil Gresik adalah kurang efektifnya pelaksanaan sales promotion.

Adapun perumusan masalah yang akan penulis kemukakan adalah “Bagaimana cara melaksanakan sales promotion yang efektif agar dapat meningkatkan eksport rotan pada PT. Fendi Mungil Gresik”.

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab permasalahan di bidang pemasaran yang ada dalam perusahaan ini, khususnya mengenai sales promotion sehingga dapat diambil suatu pemecahan masalah.

2. Untuk mengetahui pengaruh dan hubungan mengenai sales promotion yang dilakukan oleh perusahaan ini dalam usaha meningkatkan volume penjualan.

D. Kegunaan Penelitian
1. Untuk menerapkan ilmu yang diperoleh dalam perkuliahan untuk praktek dunia usaha yang nyata, khususnya managemen pemasaran.
2. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dan pertimbangan dalam mengatasi masalah pemasaran yang sedang dihadapi perusahaan.
3. Dapat diperoleh sumber-sumber informasi data yang dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan.

DOWNLOAD PDF/DOC BAB SELANJUTNYA DISINI!!

JUDUL PEMASARAN 12 adalah salah satu contoh JUDUL PEMASARAN 12 kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online JUDUL PEMASARAN 12 untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload JUDUL PEMASARAN 12 full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan JUDUL PEMASARAN 12 dalam bentuk PDF secara gratis.

judul pemasaran, kumpulan jurnal-jurnal pemasaran, contoh jurnal yang berhubungan dengan marketing, artikel kumpulan jurnal pemasaran, judul jurnal pemasaran

JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 04

30th November 2011 Cat: Manajemen with Comments Off

JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 04 adalah salah satu contoh JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 04 kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 04 untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 04 full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 04 dalam bentuk PDF secara gratis.

Analisis Pengaruh Atribut Produk Terhadap Keputusan Pembelian Krupuk Cap Bandeng Pada UD. Subur Jaya Lamongan 
(DOWNLOAD LANGSUNG DISINI!)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Jumlah penduduk Indonesia yang besar menjadi pasar yang sangat potensial bagi perusahaan-perusahaan yang memasarkan produk-produk mereka. Perusahaan-perusahaan asing maupun dalam negeri berusaha mendirikan bisnis dan menciptakan jenis-jenis produk yang nantinya akan digemari oleh konsumen di Indonesia. Banyaknya perusahaan ini menciptakan adanya persaingan bisnis yang ketat. Perusahaan bisa menjadi pemenang dalam persaingan bisnisnya apabila perusahaan mampu menjaring konsumen sebanyak-banyaknya. Jika perusahaan bisa menjaring konsumen sebanyak-banyaknya tentu perusahaan tersebut bisa meraup laba yang besar pula.
Untuk memenangkan persaingan pasar tersebut, perusahaan harus dapat melakukan bauran pemasaran yang sempurna antara lain dengan menciptakan barang yang dihasilkan dengan meningkatkan kualitas produk, maupun harga yang beragam sehingga dapat bersaing dengan harga dipasaran yang tentunya tidak mengurangi kualitas dari produk yang dipasarkan.
Pemasaran adalah proses sosial dan manajerial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan memperkenalkan produk yang bernilai dengan produk lain. Masing-masing pihak saling diuntungkan, dimana pembeli dapat terpenuhi kebutuhannya dan penjual mendapat laba. Konsep bauran pemasaran terdiri dari produk, harga, promosi dan tempat.
Salah satu konsep inti dari pemasaran adalah produk. Produk diartikan sebagai segala sesuatu yang ditawarkan untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Dengan semakin banyaknya produsen yang menawarkan berbagai produk dan jasa maka konsumen memiliki banyak pilihan produk atau jasa yang sesuai dengan kebutuhan dan seleranya. Agar produk yang dihasilkan dapat diterima oleh konsumen maka produsen harus memberi kepuasan yang tinggi kepada konsumen dengan menciptakan produk dan jasa yang berkualitas dengan harga bersaing.
Persaingan bisnis yang semakin komplek akan menimbulkan keanekaragaman produk yang akan ditawarkan. Ada berbagai macam produk yang beredar dipasar yang menawarkan harga, kualitas yang beragam. Untuk itu setiap produsen berusaha untuk membuat produk yang dapat menarik perhatian konsumen untuk melakukan pembelian. Produk dirancang sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi kebutuhan akan selera konsumen.
Seorang konsumen membeli produk, tidak hanya sebatas membeli produk yang dapat memenuhi kebutuhan saja, tetapi juga membeli produk yang menawarkan atribut produk yang terbaik. Dalam konsep ini konsumen akan menyukai produk yang menawarkan mutu, kinerja dan pelengkap inovasi yang terbaik.
Karena pentingnya atribut produk bagi konsumen, maka perusahaan perlu memperhatikan kualitas produk beserta atributnya. Atribut produk yang melekat pada barang merupakan masalah yang harus dibuat strateginya dalam menggaet konsumen. Kadang alasan konsumen membeli suatu produk kurang begitu diperhatikan oleh produsen, padahal alasan tersebut merupakan titik awal dari permasalahan. Alasan-alasan konsumen memilih suatu produk yang ditawarkan mungkin karena konsumen tertarik pada merek, warna dan desain rasa dan atribut produk lain, dengan demikian atribut produk dianggap penting. Perusahaan perlu memahami perilaku konsumen agar dapat mengetahui kebutuhan yang sedang diinginkan.
Produk krupuk sebagaimana diketahui adalah salah satu produk pelengkap dari makanan yang semakin lama semakin banyak digemari masyarakat karena rasa maupun harganya yang murah dan mudah didapatkan. Dengan semakin banyaknya produk yang ada di pasaran berarti memberikan keleluasaan bagi konsumen untuk memilih produk krupuk yang sesuai dengan keinginannya. Dengan banyaknya produk krupuk yang ada di pasaran akan mendorong perusahaan bersaing mendapatkan calon konsumen melalui berbagai strategi yang tepat, misalnya mengubah kemasan, warna, aroma, label dan sebagainya. Lebih jauh lagi produsen dalam mendistribusikan produknya ke pasar konsumen, berusaha agar produknya dapat diterima sesuai dengan apa yang diinginkan konsumen.
Perusahaan sebaiknya cepat mempelajari dengan mencari jawaban atas pertanyaan mengenai apa yang dibeli konsumen, dimana mereka membeli, serta mengapa mereka membeli (Kotler dan Amstrong terjemahan Bakowatun, 2001:143).
Berdasarkan pada konsep pemikiran di atas maka peneliti ingin meneliti tentang: “Analisis Pengaruh Atribut Produk Terhadap Keputusan Pembelian Krupuk Cap Bandeng Pada UD. Subur Jaya Lamongan”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana atribut produk yang terdiri dari merek, mutu produk, sifat produk, kemasan dan label berpengaruh terhadap keputusan pembelian krupuk Cap Bandeng Pada UD. Subur Jaya Lamongan?
2. Dari variabel atribut produk yang terdiri dari merek, mutu produk, sifat produk, kemasan dan label manakah yang berpengaruh dominan terhadap keputusan pembelian krupuk Cap Bandeng Pada UD. Subur Jaya Lamongan?
C. Tujuan Penelitian
Untuk menganalisis pengaruh atribut produk yang terdiri dari merek, mutu produk, sifat produk, kemasan dan label terhadap terhadap keputusan pembelian krupuk Cap Bandeng Pada UD. Subur Jaya Lamongan.
2. Untuk menganalisis dari variabel atribut produk yang terdiri dari merek, mutu produk, sifat produk, kemasan dan label, variabel mana yang berpengaruh dominan terhadap terhadap keputusan pembelian krupuk Cap Bandeng Pada UD. Subur Jaya Lamongan.
D. Kegunaan Penelitian
Dengan adanya penelitian ini diharapkan bisa memberikan masukan bagi pihak-pihak berikut:
1. Bagi penulis
Untuk menerapkan teori-teori dan pengetahuan yang didapat di bangku kuliah ke dalam masalah yang sebenarnya terjadi pada suatu perusahaan.
2. Bagi Perusahaan
Hasil penelitian ini diharapkan bisa menjadi bahan masukan bagi perusahaan terutama sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan penentuan atau perancangan atribut produk yang tepat.
3. Bagi pihak lain
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi khususnya bagi yang berminat pada permasalahan bauran pemasaran khususnya mengenai atribut produk serta pengaruhnya terhadap keputusan pembelian.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Yang Melandasi Permasalahan
Dalam landasan teori ini peneliti akan membahas mengenai teori-teori yang berhubungan dengan masalah yang dibahas dalam penelitian ini yang terdiri dari:
1. Pengertian Bauran Pemasaran
Pada dasarnya bauran pemasaran merupakan variabel-variabel yang dipakai perusahaan dalam kegiatan pemasarannya. Banyak pendapat dari para ahli yang menegaskan hal tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh Kotler dan Amstrong (2001:18) terjemahan Bakowatun: “Bauran pemasaran adalah seperangkat alat taktis dan terkontrol yang dipadukan oleh perusahaan untuk menghasilkan respon yang diinginkan pasar sasaran”.
Hal tersebut dijelaskan lebih lanjut oleh Rismiati dan Bondan (2001:190), “bauran pemasaran dapat juga diartikan sebagai kombinasi dari kegiatan perusahaan yang merupakan sistem inti dari sistem pemasaran perusahaan, yakni produk, struktur harga, sistem distribusi dan kegiatan promosi”.
Berdasarkan uraian-uraian di atas dapat dinyatakan bahwa variabel-variabel dalam bauran pemasaran merupakan sekelompok variabel yang terdiri dari produk, harga, saluran distribusi dan promosi yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam program pemasaran.
2. Pengertian Produk dan Atribut Produk
a. Produk (product)
1) Pengertian produk
Pada dasarnya sebagian besar keuntungan yang didapat oleh perusahaan berasal dari kepuasan konsumen dalam menikmati produknya. Konsep produksi berpendapat bahwa konsumen akan menyukai produk yang berkualitas dengan harga yang relatif murah. Untuk itu perusahaan dalam proses kegiatan produksi haruslah mengerti dan tahu dengan benar akan arti dari produk itu sendiri.
Kotler yang diterjemahkan Herujati (2000:212) mengemukakan bahwa produk adalah: “Segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk menarik perhatian, dimiliki, digunakan atau dikonsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan”.
Selanjutnya produk itu dijelaskan lebih lanjut oleh Lamb, Charles W. et. al yang diterjemahkan Tjiptono (2001:414): “Produk didefinisikan sebagai segala sesuatu baik yang menguntungkan maupun tidak yang diperoleh seseorang melalui pertukaran”.
2) Penggolongan produk
Produk tidak hanya diciptakan menurut definisi produk itu saja. Perusahaan di dalam menghasilkan produk juga harus memperhatikan penggolongan produk itu sendiri yang dapat digolongkan menjadi beberapa bagian menurut tujuan pemakaiannya. Penggolongan produk menurut Kotler et.al dalam Bakowatun (2001:215-218) dibagi menjadi:
a) Klasifikasi Barang Konsumen (Consumer Goods)
Barang konsumen dapat dikelompokkan berdasarkan kebiasaan berbelanja konsumen menjadi:
(1) Barang konvenien (convenience goods)
Adalah barang yang biasanya sering dibeli oleh pelanggan tanpa membutuhkan banyak pertimbangan dan hanya membutuhkan sedikit usaha. Contohnya adalah produk tembakau, sabun, dan surat kabar.
Barang konvenien dibagi menjadi:
(a) Barang kebutuhan sehari-hari (staple goods)
Contohnya pasta gigi, mie instan dan lain-lain.
(b) Barang impulse (impulse goods)
Contohnya surat kabar di samping kasir, dan lain-lain
(c) Barang emergensi (emergency goods)
Contohnya payung, lilin, senter dan lain-lain.
(2) Barang shopping (shopping goods)
Adalah barang yang selama proses pemilihan dan pembelian, pelanggan biasanya melakukan pembandingan berdasarkan beberapa kriteria seperti kesesuaian, kualitas, harga dan gaya. Contohnya perabot rumah, pakaian, mobil bekas, dan perkakas utama. Barang shopping dibagi menjadi dua:
(a) Barang shopping yang homogen, yakni barang shopping yang memiliki kesamaan dalam kualitas tetapi berbeda dalam harga dan mendorong pembeli untuk melakukan pembandingan.
(b) Barang shopping yang heterogen, yakni barang shopping yang segi-segi produk seringkali lebih penting bagi konsumen dari pada harga.
(3) Barang spesial (Speciality Goods)
Adalah barang yang memiliki karekteristik unik atau pengenalan merk sehingga untuk itu sekelompok pembeli terbiasa untuk melakukan upaya pembelian khusus. Contoh barang-barang kegemaran yang memiliki merk dan jenis tertentu, mobil, komponen stereo, peralatan fotografi dan lain-lain.
(4) Barang yang tidak dicari (Unsought Goods)
Adalah barang yang tidak diketahui oleh konsumen atau kalau diketahui biasanya tidak terpikirkan untuk dibeli. Contohnya asuransi jiwa, batu nisan dan lain-lain.
b) Klasifikasi Barang Industri (Industrial Goods)
Barang industri dapat dikelompokkan berdasarkan bagaimana mereka memasuki proses dan kemahalan relatifnya. Barang industri dapat dibedakan menjadi:
(1) Material dan suku cadang
Adalah barang yang secara utuh memasuki produk pemanufaktur dan dapat dikelompokkan menjadi:
(a) Bahan baku
Terdiri dari dua kelas utama, yakni produk pertanian dan produk hasil alam.
(b) Material dan suku cadang jadi
Terdiri dari material komponen dan suku cadang komponen.
(2) Barang modal
Adalah barang-barang yang dapat digunakan untuk jangka waktu lama (long lasting) yang memudahkan pengembangan dan atau pengolahan produk jadi. Ada dua kelompok yaitu:
(a) Instalasi
Terdiri dari gedung dan peralatan
(b) Peralatan
Terdiri dari peralatan dan perkakas pabrik yang portabel, serta peralatan kantor.
(3) Persediaan dan layanan (Supplies and service)
Adalah barang-barang yang tidak dapat dipakai untuk jangka waktu lama yang memudahkan pengembangan atau pengelolaan produk jadi. Persediaan terdiri dari persediaan operasi dan barang untuk perawatan dan perbaikan. Sedangkan layanan terdiri dari layanan perawatan dan perbaikan serta layanan konsultasi bisnis.

b. Atribut Produk
Atribut produk merupakan unsur-unsur produk yang dipandang penting oleh konsumen dan dijadikan dasar pengambilan keputusan pembelian. Menurut Tjiptono (2002: 104-108) atribut produk antara lain meliputi:
a) Merk
Merk merupakan nama, istilah, tanda, simbol/lambang, desain, warna, gerak, atau kombinasi atribut-atribut produk lainnya yang diharapkan dapat memberikan identitas dan diferensiasi terhadap produk pesaing.
b) Pembungkusan/kemasan
Pengemasan (packaging) merupakan proses yang berkaitan dengan perancangan dan pembuatan wadah (container) atau pembungkus (Wrapper) untuk suatu produk. Tujuan penggunaan kemasan antara lain meliputi:
(1) Sebagai pelindung isi (protection), misalnya dari kerusakan, kehilangan, berkurangnya kadar/isi, dan sebagainya.
(2) Untuk memberikan kemudahan dalam penggunaan, misalnya supaya tidak tumpah, sebagai alat pemegang, mudah menyemprotkannya (seperti obat nyamuk, parfum) dan lain-lain.
(3) Bermanfaat dalam pemakaian ulang (reusable), misalnya untuk diisi kembali (refill) atau wadah lain.
(4) Memberikan daya tarik (promotion), yaitu aspek artistik, warna, bentuk, maupun desainnya.
(5) Sebagai identitas (image) produk, misalnya berkesan kokoh/awet, lembut dan mewah.
(6) Distribusi (Shipping), misalnya mudah disusun, dihitungh, dan ditangani.
(7) Informasi, yaitu menyangkut isi, pemakaian, dan kualitas.
(8) Sebagai cermin inovasi produk, berkaitan dengan kemajuan teknologi dan daur ulang.
c) Label (Labelling)
Label merupakan bagian dari suatu produk yang menyampaikan informasi mengenai produk dan penjual.
d) Layanan-layanan pelengkap (Supplementary supplies)
Layanan pelengkap dapat diklasifikasikan menjadi:
(1) Informasi, misalnya jalan/arah menuju tempat produsen, jadwal atau skedul penyampaian produk/jasa, harga dan lain-lain.
(2) Konsultasi, misalnya pemberian saran, auditing, konseling pribadi dan lain-lain.
(3) Order Taking, meliputi aplikasi (keanggotaan di klub atau program tertentu), order entry, dan reservasi.
(4) Hospitality, diantaranya sambutan, food and beverage, toilet dan kamar kecil, dan lain-lain.
(5) Caretaking, terdiri dari perhatian dan perlindungan atas barang milik pelanggan yang mereka bawa dan barang yang dibeli pelanggan.
(6) Exception, meliputi permintaan khusus sebelum penyampaian produk, menangani komplain/pujian/saran, pemecahan masalah, dan sebagainya.
(7) Billing, meliputi laporan rekening periodik, faktur untuk transaksi individual dan lain-lain.
(8) Pembayaran, berupa swalayan oleh pelanggan, pelanggan berinteraksi dengan personil perusahaan yang menerima pembayaran dan sebagainya.
e) Jaminan (Garansi)
Jaminan adalah janji yang merupakan kewajiban produsen atas produknya kepada konsumen dimana para konsumen akan diberi ganti rugi bila produk ternyata tidak bisa berfungsi sebagaimana yang diharapkan atau dijanjikan.

Menurut Kotler dalam Herujati (2000:62) “Komponen pokok suatu atribut produk yang dihasilkan oleh perusahaan terdapat lima unsur pokok yang mempengaruhi keputusan pembelian dari konsumen yaitu merk, mutu produk, sifat produk, kemasan dan label”. Penjelasan dari kelima unsur tersebut akan diuraikan di bawah ini:
1) Merk
Merek adalah nama, istilah, tanda, simbol atau rancangan atau kombinasi hal-hal tersebut, yang dimaksud untuk mengidentifikasi barang atau jasa dari seseorang atau kelompok penjual dan untuk membedakannya dari produk penjual (Kotler terjemahan Herujati, 2000:63).
Dalam melakukan pembelian konsumen tidak hanya memperhatikan macam dari produk. Tapi juga merek dari produk tersebut , merek lebih dari sekedar simbol, merek dapat memiliki 6 tingkatan perhatian sebagai berikut (Kotler, 2000:63) dalam Herujati:
a) Atribut
Merek mengikat pada atribut-atribut tertentu. Atribut merupakan suatu tanda atau simbol yang memberi identitas untuk suatu barang atau jasa yang dapat berupa kata-kata, gambar, atau kombinasi.
b) Manfaat
Suatu merek lebih dari serangkaian manfaat.
c) Nilai
Merek menyatakan sesuatu tentang nilai produksen. Mercedes menyatakan kinerja tinggi, keamanan porche dan lain-lain. Pemasar merek harus dapat mengetahui kelompok pembeli mobil dimana mencari-cari nilai.
d) Budaya
Merek mewakili budaya tertentu.
e) Kepribadian
Merek mencerminkan kepribadian tertentu.
f) Pemakai
Merek menunjukkan jenis konsumen yang membeli atau mempergunakan produk tersebut.

Merek yang baik adalah merek yang mempunyai karakteristik-karakteristik tertentu, adapun karakteristik merek yang baik adalah (Stanton, dalam Lamarto 1996:271):
a) Mengingatkan suatu tentang karakteristik produk dan kegunaannya
b) Mudah dieja, dibaca dan diingat
c) Bisa diadaptasi oleh produk-produk baru yang mungkin ditambahkan dilini produk
d) Bisa didaftarkan dan dilindungi hak paten

Suatu produk akan memiliki merek yang baik jika mereknya mempunyai karakteristik-karakteristik tertentu. Karakteristik tersebut tentunya harus mempunyai manfaat dan memberikan nilai bagi produk tersebut. Selain itu, karakteristik merek yang baik adalah yang mempunyai ciri khas tersendiri sehingga konsumen dapat membedakan yang mana merek produksi yang baik mana merek produksi yang kurang baik.
Produsen membuat suatu merek untuk produknya karena ada tujuan-tujuan tertentu yang dapat diambil manfaatnya oleh penjual (produsen) maupun pembeli (konsumen), ada banyak manfaat dari pencantuman merek pada suatu produk. Manfaat dari pencantuman merek adalah (Kotler, 2000:66) dalam Herujati:
a) Nama merek mempermudah penjual untuk memproses pesanan, menelusuri dan menemukan masalah
b) Nama merek dan tanda merek memberi perlindungan pada kenaikan produk dan pemalsuan oleh yang lain
c) Merek memberi penjual kesempatan untuk menarik konsumen yang loyal dan menguntungkan
d) Merek membantu penjual untuk melakukan segmentasi pasar
e) Merek yang kuat membantu membangun citra perusahaan

2) Mutu Produk

Mutu adalah salah satu alat penting bagi pemasar untuk menetapkan posisi mutu produk, berarti kemampun produk itu untuk meleksanakan fungsinya, termasuk didalamnya keawetan, keandalan, ketepatan, kemudahan dipergunakan untuk diperbaiki. Serta atribut bernilai yang lain (Kotler dan Armstrong, dalam Bakowatun 2001:279).

Masih menurut Kotler dan Amtrong, menjelaskan bahwa mutu produk mencantumkan kemampuan produk atau menjalankan fungsinya meliputi daya tahan, keandalan, kekuatan, kemudahan, penggunaan danreparasi produk serta ciri-ciri bernilai lainnya (Kotler dan Armstrong dalam Bakowatun, 2001:274)
Pada awalnya kebanyakan produk dipasarkan dengan salah satu derajat mutu. Tujuan pokok penentuan mutu produk adalah untuk mengurangi kerusakan produk dan meningkatkan nilai pelanggan melalui peningkatan kepuasan konsumen. Dalam mengevaluasi kepuasan terhadap produk dan jasa atau perusahaan tertentu konsumen hendaknya mengacu pada berbagai faktor atau dimensi.
Pada awalnya kebanyakan produk dipasarkan dengan salah satu derajat mutu. Tujuan pokok penentuan mutu produk adalah untuk mengurangi kerusakan produk dan meningkatkan nilai pelanggan melalui peningkatan kepuasan konsumen. Dalam mengevaluasi kepuasan terhadap produk dan jasa atau perusahaan tertentu konsumen hendaknya mengacu pada berbagai faktor atau dimensi.
Faktor yang sering digunakan dalam mengevaluasi kepuasan terhadap suatu produk manufaktur menurut Tjiptono (2002:225) antara lain:
Kinerja (perfomance) karakteristik operasi pokok dari produk ini (core produk) yang dibeli
Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (features) yaitu karakteristik sekunder penyiap, misalnya kelengkapan interior dan eksterior
Keandalan (realibility) yaitu kemungkinan kecil akan mengalami kerusakan atau gagal dipakai
Kesesuaian dengan spesifikasi (comformance to specifications), yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya
Daya tahan (durability) berkaitan berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan
Serviceability, meliputi kecepatan, kompetisi, kenyamanan, mudah direparasi serta penanganan keluhan yang memuaskan
Estetika yaitu daya tarik produk terhadap panca indera, misalnya betuk fisik, mobil yang menarik, model atau desain yang artistik, warna dan sebagainya
Kualitas yang dipersepsikan (perceived quality) yaitu, citra dan reputasi produk serta tanggung jawab perusahaan terhadapnya. Biasanya karena kurangnya pengetahuan pembeli atau atribut / ciri-ciri produk yang akan dibeli, maka pembeli mempersepsikan kualitasnya dan aspek harga, nama merek, iklan, reputasi perusahaan, maupun negara pembuatnya.

3) Sifat Produk

Sifat produk disebut juga dengan istilah ciri produk yang dalam bahasa inggris disebut produk feature. Suatu produk dapat ditawarka dalam berbagai sifat, sebuah model “Polos” produk berupa tambahan apapun merupakan titik awal. Perusahaan dapat menciptakan model dari tingkat lebih tinggi dengan menambahkan beberapa sifat.
Sifat adalah alat bersaing untuk membedakan produk perusahaan dengan produk pesaing (Kotler and Amstrong, dalam Bakowatun 2001:281). Menjadi produsen yang pertama yang memperkenalkan sifat baru yang dibutuhkan dan nilai tinggi oleh pelanggan adalah salah satu cara yang paling efektif untuk bersaing. Produsen tidak perlu menawarkan produk yang nilainya rendah bagi pelanggan dalam hubungan dengan biaya sebaliknya. Sebaliknya sifat-sifat produk yang sifatnya tinggi bagi pelanggan dalam hubungan dengan biaya perlu untuk ditambahkan.
4) Kemasan
Kesadaran akan pentingnya kemasan yang menarik dan baik semakin meningkat. Karena pentingnya fungsi kemasan dalam pemasaran dan merupakan atribut yang dilihat konsumen paling awal. Tidak jarang konsumen bersedia membayar lebih untuk memudahan penampilan, kehandalan dan prestise dari kemasan yang lebih baik. Faktor lainnya adalah makin meluasnya penjualan dengan sistem swalayan (self service), makin meningkatnya standar kesehatan dan sanitasi yang dituntut masyarakat.
Dalam pemasaran suatu produk, pemberian wadah atau kemasan dapat memainkan peran kecil, misalnya paku, sekrup atau peran yang penting, misalnya pada kosmetika. Masalah kemasan dirumuskan sebagai segala kegiatan merancang dan memperbaiki kaidah atau bungkus suatu produk (Kotler dalam Herujati, 2000:119)
Kemasan juga didefinisikan sebagai seluruh kegiatan merancang dan memproduksi bungkus atau kemasan suatu produk. Ada tiga alasan mengapa kemasan diperlukan
Kemasan memenuhi sasaran, Keamanan (safety) dan kemanfaatan (utilitarian)
Kemasan bisa melaksanakan program pemasaran perusahaan
Manajemen bisa mengawasi produknya sedemikian rupa untuk meningkatkan perolehan laba (Stanton dalam Lamarto, 1996:278).

Dengan adanya keamanan dan kemanfaatan kemasan, produk akan terlidungi selama dalam perjalananya dari produsen kekonsumen, bahkan terahir dipakai oleh konsumen selain itu dengan adanya kemasan, identifikasi produk menjadi lebih efektif dan dengan sendirinya mencegah pertukaran oleh produk pesaing. Kemasan juga perlu ditawarkan dengan bentuk dan ciri yang demikian menariknya sehingga konsumen bersedia membayar lebih mahal hanya untuk memperoleh kemasan yang lebih baik.
5) Label
Para penjual sebaiknya juga merancang label bagi produk-produk mereka, label adalah bagian dari produk yang membawa informasi verbal tantang produk atau tentang penjualannya. Label biasanya dalam merek tingkatan atau deskriptif, yaitu :
a) Label merek, merupakan merek yang dilekatkan pada produk atau kemasan
b) Label tingkatan kualitas, yaitu mengidentifikasi kesan kualitas produk melalui huruf, angka, abjad
c) Label deskriptif, menjadi informasi objektif tentang penggunaan, kontruksi,pemeliharaan, penampilan dan ciri-ciri lain produk (Stanton dalam Lamarto, 1996:282)

Perusahaan atau penjual harus memutuskan fungsi mana yang akan dipakai. Fungsi-fungsi tersebut antara lain:

Label mengidentifikasi produk atau merek
Label berfungsi menggolongkan produk, seperti halnya buah persik dalam kaleng yang diberi golongan A,B,dan C
Label berfungsi beberapa hal mengenai produk, yaitu siapa yang membuat, dimana dibuat, kapan dibuat, apa isinya, bagaimana harus digunakan, bagaimana cara mengunakan dengan aman
Label berfungsi sebagai alat promosi (Kotler, dalam Herujati 2000:120)

3. Pengertian perilaku konsumen
Perilaku konsumen menyangkut masalah keputusan yang diambil seseorang dalam persaingannya dan penentuan untuk mendapatkan dan mempergunakan barang dan jasa.
Konsumen mengambil banyak macam keputusan membeli setiap hari. Kebanyakan perusahaan besar meneliti keputusan membeli konsumen secara amat rinci untuk menjawab pertanyaan mengenai apa yang dibeli konsumen, dimana mereka membeli, bagaimana dan berapa banyak mereka membeli, serta mengapa mereka membeli. Pemasar dapat mempelajari apa yang dibeli konsumen untuk mencari jawaban atas pertanyaan mengenai apa yang mereka beli, dimana dan berapa banyak, tetapi mempelajari mengenai alasan tingkah laku konsumen bukan hal yang mudah, jawabannya seringkali tersembunyi jauh dalam benak konsumen.
Pengertian perilaku konsumen seperti diungkapkan oleh Mowen dalam Nugroho (2002:6) mengatakan: “Studi tentang unit pembelian (buying unit) dan proses pertukaran yang melibatkan perolehan, konsumsi dan pembuangan, barang, jasa, pengalaman serta ide-ide”.
Swastha dan Handoko (2000:10) mengatakan:
Perilaku konsumen (consumer behavior) dapat didefinisikan sebagai kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan menentukan kegiatan-kegiatan tertentu.

Dari pengertian di atas maka perilaku konsumen merupakan tindakan-tindakan dan hubungan sosial yang dilakukan oleh konsumen perorangan, kelompok maupun organisasi untuk menilai, memperoleh dan menggunakan barang-barang serta jasa melalui proses pertukaran atau pembelian yang diawali dengan proses pengambilan keputusan yang menentukan tindakan-tindakan tersebut.
4. Perspektif riset perilaku konsumen :
Perspektif riset perilaku konsumen menurut (Mowen dalam Nugroho, 2002:6):
a. Perspektif pengambilan keputusan (decision making perspective)
Menggambarkan seorang konsumen sedang melakukan serangkaian langkah-langkah tertentu pada saat melakukan pembelian. Langkah-langkah ini termasuk pengenalan masalah, mencari evaluasi alternatif, memilih dan evaluasi pasca perolehan.
b. Perspektif pengalaman (Experiential perspective)
Atas pembelian konsumen menyatakan bahwa untuk beberapa hal konsumen tidak melakukan pembelian sesuai dengan proses pengambilan keputusan yang rasional. Namun, mereka membeli produk dan jasa tertentu untuk memperoleh kesenangan, menciptakan fantasi atau perasaan emosi saja. Pengklasifikasian berdasarkan perspektif pengalaman menyatakan bahwa pembeliaan akan dilakukan karena dorongan hati dan mencari variasi.
c. Perspektif pengaruh perilaku
Mengasumsikan bahwa kekuatan lingkungan memaksa konsumen untuk melakukan pembelian tanpa harus terlebih dahulu membangun perasaan dan kepercayaan terhadap produk. Menurut perspektif ini, konsumen tidak saja melalui proses pengambilan keputusan rasional, namun juga bergantung pada perasaan untuk membeli produk dan jasa tersebut. Sebagai gantinya tindakan pembelian konsumen secara langsung merupakan hasil dari kekuatan lingkungan, seperti sarana promosi penjualan, nilai-nilai budaya, lingkungan fisik dan tekanan ekonomi.

5. Model Tingkah laku konsumen
Rangsangan pemasaran terdiri dari empat P: Product, Price, Place dan Promotion (Produk, harga, distribusi dan promosi). Rangsangan lain mencakup kekuatan dan peristiwa besar dalam lingkungan pembeli: ekonomi, teknologi, politik dan budaya. Semua input ini memasuki kotak hitam pembeli, dimana semuanya itu berubah menjadi respons pembeli yang dapat diamati: pemilihan produk, pemilihan merk, pemilihan agen, saat membeli dan jumlah yang dibeli.
Pemasar ingin memahami bagaimana rangsangan diubah menjadi respons dalam kotak hitam konsumen, yang mempunyai 2 bagian. Pertama, karakteristik pembeli yang mempengaruhi bagaimana dia menerima dan bereaksi terhadap rangsangan. Kedua, proses keputusan pembeli itu sendiri yang mempengaruhi tingkah laku pembeli.
Adapun untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan gambar di bawah ini:

Sumber : Kotler dalam Herujati (2000:143)

6. Karakteristik yang mempengaruhi tingkah laku konsumen
Menurut (Kotler dalam Herujati, 2000:144), pembelian konsumen dapat dipengaruhi oleh karakteristik sebagai berikut:
a. Faktor budaya
b. Faktor sosial
c. Faktor pribadi
d. Faktor psikologis.
Gambar 2
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkah Laku Konsumen

Sumber : (Kotler dalam Herujati, 2000:144)
Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
a. Faktor budaya
Faktor budaya memberikan pengaruh paling luas dan dalam pada tingkah laku konsumen. Pemasar harus mengetahui peran yang dimainkan oleh:
1) Budaya
Budaya adalah kumpulan nilai-nilai dasar, persepsi, keinginan dan tingkah laku yang dipelajari oleh seorang anggota masyarakat dari keluarga dan lembaga penting lainnya.

2) Sub budaya
Sub budaya adalah sekelompok orang dengan sistem nilai terpisah berdasarkan pengalaman dan situasi kehidupan yang umum
3) Kelas sosial
Kelas sosial adalah divisi masyarakat yang relatif permanen dan teratur dengan para anggotanya menganut nilai-nilai, minat dan tingkah laku yang serupa.
b. Faktor sosial
Kelas sosial ditentukan oleh satu faktor tunggal, seperti pendapatan, tetapi diukur sebagai kombinasi dari pekerjaan, pendapatan, pendidikan, kekayaan dan variabel lain. Dalam beberapa sistem sosial, anggota dari kelas yang berbeda memelihara peran tertentu dan tidak dapat mengubah posisi sosial mereka.
Tingkah laku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, yaitu:
1) Kelompok
Kelompok adalah dua orang atau lebih yang berinteraksi untuk mencapai sasaran individu atau bersama. Beberapa merupakan kelompok primer yang mempunyai interaksi reguler tapi informal-seperti keluarga, teman, tetangga dan rekan sekerja. Beberapa merupakan kelompok sekunder, yang mempunyai interaksi lebih formal dan kurang reguler. Ini mencakup organisasi seperti kelompok keagamaan, asosiasi profesional dan serikat pekerja.
2) Keluarga
Keluarga adalah organisasi pembelian konsumen yang paling penting dalam masyarakat dan telah diteliti secara mendalam, pemasar tertarik dalam peran dan pengaruh suami, istri dan anak-anak pada pembelian berbagai produk dan jasa.
3) Peran dan status
Peran terdiri dari aktivitas yang diharapkan dilakukan seseorang menurut orang-orang yang ada disekitarnya. Setiap peran membawa status yang mencerminkan penghargaan yang diberikan oleh masyarakat. Orang seringkali memilih produk yang menunjukkan statusnya dalam masyarakat.
c. Faktor pribadi
Keputusan membeli juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi, yaitu:
1) Umur dan tahap daur hidup
Orang mengubah barang dan jasa yang mereka beli selama masa hidupnya. Selera akan makanan, pakaian, perabot dan rekreasi sering kali berhubungan dengan umur. Membeli juga dibentuk oleh tahap daur hidup keluarga, tahap-tahap yang mungkin dilalui oleh keluarga sesuai dengan kedewasaannya. Pemasar seringkali menentukan sasaran pasar dalam bentuk tahap daur hidup dan mengembangkan produk yang sesuai serta rencana pemasaran untuk setiap tahap.
2) Pekerjaan
Pekerjaan seseorang mempengaruhi barang dan jasa yang dibelinya. Pemasar berusaha mengenali kelompok pekerjaan yang mempunyai minat di atas rata-rata akan produk dan jasa mereka. Sebuah perusahaan bahkan dapat melakukan spesialisasi dalam memasarkan produk menurut kelompok pekerjaan tertentu.
3) Situasi ekonomi
Situasi ekonomi sekarang akan mempengaruhi pilihan produk. Pemasar produk yang peka terhadap pendapatan mengamati kecenderungan dalam pendapatan pribadi, tabungan dan tingkat minat. Bila indikator ekonomi menunjukkan resesi, pemasar dapat mengambil langkah-langkah untuk merancang ulang, memposisikan kembali dan mengubah harga produknya.

4) Gaya hidup
Pola kehidupan seseorang yang diwujudkan dalam aktivitas (pekerjaan, hobi, berbelanja, olahraga, kegiatan sosial), minat (makanan, mode, keluarga, rekreasi) dan opini yang lebih dari sekedar kelas sosial dan kepribadian seseorang, gaya hidup menampilkan pola bereaksi dan berinteraksi seseorang secara keseluruhan di dunia.
5) Kepribadian dan Konsep Diri
Kepribadian setiap orang jelas mempengaruhi tingkah laku membelinya. Kepribadian mengacu pada karakteristik psikologi unik yang menyebabkan respons yang relatif konsisten dan bertahan lama terhadap lingkungan dirinya sendiri. Kepribadian biasanya diuraikan dalam arti sifat-sifat seperti rasa percaya diri, dominasi, kemudahan bergaul, otonomi, mempertahankan diri, kemampuan menyesuaikan diri, dan keagresifan. Kepribadian dapat bermanfaat untuk menganalisis tingkah laku konsumen untuk pemilihan produk atau merek tertentu.
d. Faktor psikologis
Pilihan barang yang dibeli seseorang lebih lanjut dipengaruhi oleh faktor psikologi yang penting:
1) Motivasi
Kebutuhan yang cukup untuk mengarahkan seseorang mencari cara untuk memuaskan kebutuhan.
Dalam motif pembelian produk menurut Engel (2000:285) adalah dengan mempertimbangkan dua manfaat yaitu: “Manfaat utilitarian merupakan atribut produk fungsional yang obyektif. Manfaat hedonik, sebaliknya mencakup respon emosional, kesenangan panca indera, mimpi dan pertimbangan-pertimbangan estetis”.
2) Persepsi
Persepsi adalah proses yang dilalui orang dalam memilih, mengorganisasikan dan mengintepretasikan informasi guna membentuk gambaran yang berarti mengenai dunia.
3) Pengetahuan
Menurut Kotler dalam Herujati (2000:157) menyatakan:
Pembelajaran menggambarkan perubahan dalam tingkah laku individual yang muncul dari pengalaman. Ahli teori pembelajaran mengatakan bahwa kebanyakan tingkah laku manusia dipelajari. Pembelajaran berlangsung melalui saling pengaruh dorongan, rangsangan, petunjuk respon dan pembenaran.

4) Keyakinan dan sikap
Melalui tindakan dan pembelajaran, orang mendapatkan keyakinan dan sikap. Keduanya ini, pada waktunya mempengaruhi tingkah laku membeli. Keyakinan adalah pemikiran deskriptif yang dimiliki seseorang mengenai sesuatu. Keyakinan didasarkan pada pengetahuan yang sebenarnya, pendapat atau kepercayaan dan mungkin menaikkan emosi atau mungkin tidak.
Menurut Kotler menurut Herujati (2000:157) :
Keyakinan adalah pemikiran deskriptif yang dimiliki seseorang mengenai sesuatu. Keyakinan ini mungkin didasarkan pada pengetahuan sebenarnya, pendapat atau kepercayaan dan mungkin menaikkan emosi dan mungkin tidak.

7. Jenis-jenis tingkah laku keputusan pembelian
Semakin kompleks keputusan yang harus diambil biasanya semakin banyak pertimbangannya untuk membeli. Menurut (Kotler dalam Herujati, 2000:160): adapun jenis-jenis tingkah laku membeli konsumen berdasarkan pada derajat keterlibatan dan tingkat perbedaan antara merek, yaitu:
a. tingkah laku membeli yang komplek
b. tingkah laku membeli yang mengurangi ketidakcocokan.
c. tingkah laku membeli yang mencari variasi
d. tingkah laku membeli yang menjadi kebiasaan.
8. Proses Keputusan Membeli
Menurut (Kotler dalam Herujati, 2000:162) tahap-tahap yang dilewati pembeli untuk mencapai keputusan membeli melewati lima tahap, yaitu:
a. Pengenalan kebutuhan
b. Pencarian Informasi
c. Evaluasi alternatif
d. Keputusan Membeli
e. Tingkah laku pasca pembelian.

Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
a. Pengenalan kebutuhan
Proses membeli dimulai dengan pengenalan kebutuhan dimana pembeli mengenali adanya masalah atau kebutuhan. Pembeli merasakan perbedaan antara keadaan nyata dan keadaan yang diinginkan.
b. Pencarian informasi
Seorang konsumen yang sudah terkait mungkin mencari lebih banyak informasi tetapi mungkin juga tidak. Bila dorongan konsumen kuat dan produk yang dapat memuaskan ada dalam jangkauan, konsumen kemungkinan akan membelinya. Bila tidak, konsumen dapat menyimpan kebutuhan dalam ingatan atau melakukan pencarian informasi yang berhubungan dengan kebutuhan tersebut.
c. Evaluasi alternatif
Tahap dari proses keputusan membeli, yaitu ketika konsumen menggunakan informasi untuk mengevaluasi merk alternatif dalam perangkat pilihan. Konsep dasar tertentu membantu menjelaskan proses evaluasi konsumen. Pertama, kita menganggap bahwa setiap konsumen melihat produk sebagai kumpulan atribut produk. Kedua, konsumen akan memberikan tingkat arti penting berbeda terhadap atribut berbeda menurut kebutuhan dan keinginan unik masing-masing. Ketiga, konsumen mungkin akan mengembangkan satu himpunan keyakinan merek mengenai dimana posisi setiap merek pada setiap atribut. Keempat, harapan kepuasan produk total konsumen akan bervariasi pada tingkat atribut yang berbeda. Kelima, konsumen sampai pada sikap terhadap merek berbeda lewat beberapa prosedur evaluasi. Ada konsumen yang menggunakan lebih dari satu prosedur evaluasi, tergantung pada konsumen dan keputusan pembelian.
Pemasar harus mempelajari pembeli untuk mengetahui bagaimana sebenarnya mereka mengevaluasi alternatif merek. Bila mereka mengetahui proses evaluasi apa yang sedang terjadi, pemasar dapat membuat langkah-langkah untuk mempengaruhi keputusan membeli.
d. Keputusan membeli
Dalam tahap evaluasi, konsumen membuat peringkat merek dan membentuk niat untuk membeli. Pada umumnya, keputusan membeli konsumen adalah membeli merek yang paling disukai, tetapi dua faktor dapat muncul antara niat untuk membeli dan keputusan untuk membeli. Faktor pertama adalah sikap orang lain, yaitu pendapat dari orang lain mengenai harga, merek yang akan dipilih konsumen. Faktor kedua adalah faktor situasi yang tidak diharapkan, harga yang diharapkan dan manfaat produk yang diharapkan. Akan tetapi peristiwa-peristiwa yang tak diharapkan bisa menambah niat pembelian.
e. Tingkah laku pasca pembelian
Tahap dari proses keputusan pembeli, yaitu konsumen mengambil tindakan lebih lanjut setelah membeli berdasarkan pada rasa puas atau tidak puas. Yang menentukan pembeli merasa puas atau tidak puas dengan suatu pembelian terletak pada hubungan antara harapan konsumen dengan prestasi yang diterima dari produk. Bila produk tidak memenuhi harapan, konsumen merasa tidak puas, bila memenuhi harapan konsumen merasa puas, bila melebihi harapan konsumen akan merasa puas.
Konsumen mendasarkan harapan mereka pada informasi yang mereka terima dari penjual, teman dan sumber-sumber yang lain. Bila penjual melebih-lebihkan prestasi produknya, harapan konsumen tidak akan terpenuhi dan hasilnya ketidakpuasan. Semakin besar antara kesenjangan antara harapan dan prestasi, semakin besar ketidakpuasan kosumen. Hal ini menunjukkan bahwa pembeli harus membuat pernyataan yang jujur mengenai prestasi produknya sehingga pembeli akan puas.
B. Penelitian Terdahulu Yang Relevan

Hasil penelitian Ferrinadewi, Erna (2005) dari Universitas Kristen Petra Surabaya yang mengambil judul “Atribut Produk yang Dipertimbangkan dalam Pembelian Kosmetik dan Pengaruhnya pada Kepuasan Konsumen di Surabaya”.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan atribut produk manakah yang dinilai konsumen menjadi atribut terpenting dalam pemilihan konsumen, dan kemudian dianalisis lebih lanjut untuk mengetahui hasilnya terhadap kepuasan konsumen.
Studi ini menggunakan analisa faktor untuk kemudian dianalisis lebih lanjut dengan menggunakan regresi sederhana untuk mengetahui pengaruh setiap faktor terhadap kepuasan konsumen. Hasilnya terdapat 3 faktor atribut yang dinilai penting oleh konsumen dalam pemilihan produk kosmetik yaitu faktor kualitas, resiko dan merek. Faktor kualitas dan faktor merek berpengaruh lebih besar terhadap kepuasan konsumen kosmetik daripada resiko.
Selanjutnya hasil penelitian Nully Ratih, W (2006) dari Universitas Merdeka Malang dengan Judul: “Analisis Pengaruh Atribut Produk Terhadap Keputusan Pembelian Produk Kaos Joger Bali” penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh atribut produk (yang terdiri dari merek, mutu produk, sifat produk, dan kemasan) terhadap keputusan pembelian produk kaos Joger Bali serta mengetahui variabel atribut (yang terdiri dari merek, mutu produk, sifat produk, dan kemasan) yang berpengaruh dominan terhadap keputusan pembelian produk kaos Joger Bali.
Dengan menggunakan analisis regresi linier berganda di dapatkan hasil penelitian bahwa variabel merek, mutu produk, sifat produk, dan kemasan, berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian produk kaos Joger, dari hasil analisis juga terbukti variabel sifat produk berpengaruh dominan terhadap keputusan pembelian produk kaos Joger. Dari hasil analisis diperoleh nilai adjusted R square (R2) sebesar 0,936 hal ini menunjukkan bahwa variabel bebas (X1, X2, X3, dan X4) secara bersama-sama memberikan kontribusi terhadap keputusan pembelian produk kaos Joger sebesar 93,4% dan setelah disesuaikan nilai sisanya sebesar 6,3% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini.

C. Hipotesis
Hipotesis ini merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang kebenarannya masih harus diuji secara empiris.
Dari perumusan masalah, tujuan penelitian, landasan teori dan telah dituangkan dalam kerangka pikir, maka dapat ditarik hipotesis sebagai berikut:
1. Diduga atribut produk yang terdiri dari merek, mutu produk, sifat produk, kemasan dan label, berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian krupuk Cap Bandeng Pada UD. Subur Jaya Lamongan.
2. Diduga variabel mutu produk berpengaruh dominan terhadap keputusan pembelian krupuk Cap Bandeng Pada UD. Subur Jaya Lamongan.

BAB III METODE PENELITIAN…… dst

(MOHON MAAF!! TAMPILAN TABEL, GAMBAR, DAN RUMUS MENGGUNAKAN EQUATION KESULITAN UNTUK BISA DI UPLOAD)
KLIK DISINI UNTUK SYARAT MENDAPATKAN 100% GRATIS

PROPOSAL LENGKAP DALAM FORM PDF/WORD

JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 04 adalah salah satu contoh JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 04 kumpulan tugas akhir skripsi tesis tugas kuliah secara online JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 04 untuk SMU SLTA SMK MA S1 S2 S3 artikel paper karya ilmiah makalah tugas akhir skripsi tesis. Anda bisa mendownload JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 04 full content lengkap atau artikel yang berkaitan dengan JUDUL SKRIPSI PEMASARAN 04 dalam bentuk PDF secara gratis.

contoh jurnal skripsi tentang memperkenalkan penawaran produk baru, kerangka proposal skripsi, skripsi tentang radio farm forum, contoh skripsi jadwal perkuliahan, makalah pengelolaan jasa usaha makanan